
Tepat sekali setelah Cathleen mengirimkan pesan, layar ponsel Gerald yang diletakkan di atas karpet pun hidup diiringi bunyi notifikasi. Gerald menatap aneh pada wanita yang kini menjadi istrinya walaupun hanya sementara. Namun tangan kekar itu tetap saja mengambil gawai untuk membaca chat dari Cathleen.
Sembari membuka pesan, Gerald berpindah posisi menjadi duduk.
‘Aku hanya menyelimutimu agar tidak kedinginan.’
Begitu kira-kira isi pesan yang dikirimkan oleh Cathleen. Sampai membuat Gerald menaikkan sebelah alis saat menatap wanita tersebut. “Jika kau sariawan, ambil obat di kotak kesehatan, obati mulutmu itu.”
Cathleen nampak mengetikkan balasan pada suami sementaranya melalui aplikasi whatsapp. Dan Gerald lagi-lagi mendapatkan pesan. Pria itu membaca chat dari wanita yang sedang berjongkok di hadapannya.
‘Aku baik-baik saja, tidak sariawan.’
Setelah membaca isi teks itu, Gerald berdecak. “Kau lupa caranya berbicara? Rumit sekali berkomunikasi harus menggunakan chat,” gerutunya.
Tapi, Cathleen masih saja membalas melalui pesan whatsapp.
‘Kau tidak suka jika aku banyak mengeluarkan suara, jadi aku memiliki ide untuk berkomunikasi denganmu menggunakan pesan. Supaya kau tidak pusing mendengar ocehanku.’
“Ck! Dasar wanita, senang sekali mempersulit hidup.” Lagi-lagi Gerald menggerutu. Dia mematikan layar ponsel dan menelungkupkan benda itu di sampingnya. “Kau boleh berbicara.”
Gerald lebih pusing berkomunikasi menggunakan pesan di saat orangnya saja berada di depan mata. Ia malas hidup diperumit dengan setiap kali membuka ponsel ketika Cathleen ingin berbicara.
Cathleen mengulas senyum manis saat suaminya sudah mengizinkan untuk mengeluarkan suara. Ia menaikkan papperbag dari apotik. “Aku membelikanmu obat.”
“Untuk?” Gerald hanya melihat barang yang dibawa oleh Cathleen. Bahkan membiarkan istrinya tetap berjongkok di hadapannya.
“Tidak perlu diobati, nanti sembuh sendiri.” Gerald tidak mengusir atau memberikan perintah supaya Cathleen tidak duduk di sampingnya. Dia masih membiarkan wanita itu berlaku sesuka hati.
Cathleen menggelengkan kepala, tidak setuju dengan sanggahan tersebut. “Kau merasakan nyeri, pusing, atu keluhan lain?” Ia justru semakin menanyakan kondisi Gerald.
Mata Gerald sejak tadi terus mengamati Cathleen dengan tatapan aneh. Padahal ia sudah ketus, dingin, bahkan terang-terangan menunjukkan rasa tidak senang dan tak suka pada wanita itu, tapi Cathleen tetap saja terus bertahan di sampingnya.
“Aku pusing mendengar ocehanmu!” ketus Gerald.
Cathleen tetap mengulas senyum manis pada pria itu. “Mungkin karena kau belum terbiasa mendengar suaraku, jadi membuatmu pusing.”
Gerald belum menjawab. Ia tetap menatap dengan sorot dingin. Wanita satu ini sungguh tidak gentar untuk mencoba mengambil hatinya. Tapi, itu tidaklah mungkin bisa terjadi karena Gerald membentengi diri dengan sangat kokoh dan sulit dirobohkan.
“Ku sarankan padamu supaya tak terlalu dekat denganku. Hiduplah seperti kau seorang lajang, karena kita akan bercerai saat waktunya tiba,” peringat Gerald. Ia tidak mau kalau Cathleen sampai menaruh rasa sungguhan padanya. Bisa rumit urusan jika seperti itu.
“Aku hanya melakukan sesuatu sesuai kata hati. Sekarang kau suamiku, jadi sudah sepantasnya aku mengurus hidupmu,” sanggah Cathleen seraya memencet hingga salep keluar di telunjuknya. Ia hendak mengoleskan itu ke wajah Gerald.
Tapi, orang yang hendak diobati justru menarik kepala ke belakang. “Aku bisa melakukannya sendiri.” Ia mengambil alih obat salep yang ada di tangan Cathleen.
Cathleen tidak memaksa kalau Gerald memang tak mau disentuh. Namun ia tetap berada di sana untuk memastikan lebam bekas tonjokan Edbert itu telah diobati.
...*****...
...Cath, enakan dicintai tau, mending balik sama Edbert aja gih daripada hidup sama manusia Antartika itu. Bisa-bisa kamu beku loh kalo dipaksain kelamaan tinggal di sana...