
Gerald menjemput Cathleen lebih cepat dari biasanya. Satu jam sebelum pulang kantor, ia sudah menginjakkan kaki di perusahaan milik sang istri.
Pria dengan tinggi seratus delapan puluh dua centimeter telah dibalut pakaian tak rapi. Celana panjang yang tak press di kaki, kemeja dengan dua kancing atas sengaja dibuka, membuat aura ketampanannya terpancar. Bahkan karyawan yang melihat kedatangan Gerald pun sampai terpana dengan sosok berkacamata yang tengah berjalan menuju lift.
“Seharusnya aku datang memakai boxer dan kaos saja, agar tak dilihat banyak orang,” gerutu Gerald setelah pintu lift tertutup. Dia tidak senang kalau menjadi pusat perhatian, itulah sebabnya lebih sering berada di dalam apartemen.
Gerald jalan begitu saja melewati sekretaris Cathleen. Padahal seisi gedung itu belum kenal dengan statusnya sebagai suami pemilik perusahaan tersebut.
“Tuan, Anda mau ke mana?” Liliana segera menghadang jalan pria yang dia kenal sebagai putra dari salah satu keluarga terpandang di Eropa.
“Menjemput istriku,” jawab Gerald dengan santai.
Alis Liliana otomatis naik sebelah seolah belum percaya dengan informasi yang baru saja didengar. Dia tidak tahu kalau atasannya sudah menikah. Selama ini hanya mengenal Edbert adalah kekasih Nona Cathleen. “Anda tidak bercanda, ‘kan?”
“Ck! Banyak bertanya.” Gerald malas sekali berinteraksi dengan orang lain, apa lagi wanita. Kalau jalan di hadapannya dihalangi, maka dia melewati yang sebelah karena masih ada ruang kosong.
“Tuan, tolong jangan seenaknya masuk ke dalam ruang CEO.” Liliana masih belum percaya, sekelas keluarga terpandang seperti Giorgio dan Pattinson, sudah pasti kalau menikah akan membuat pesta megah. Dia segera berlari untuk menyusul.
Tapi, Gerald sudah masuk ke dalam ruang CEO terlebih dahulu, dan Liliana harus menjelaskan pada atasannya atas kelancangan tamu yang belum membuat janji.
“Nona, maaf, Tuan ini sudah saya cegah agar tak sembarangan masuk, tapi tak mengindahkan laranganku.” Liliana menundukkan kepala karena merasa bersalah.
“Tak apa, dia suamiku.” Cathleen mengulas senyum pada sekretarisnya yang tengah menunjukkan ekspresi terkejut.
“Ck! Kau terlalu banyak ingin tahu kehidupan orang lain!” Gerald melepaskan kacamata hitam, ia menatap tajam ke arah sekretaris Cathleen. “Kehidupan cinta atasan, bukan urusanmu. Lebih baik kau mengurus perusahaan dengan benar.” Ia mengibaskan tangan agar Liliana pergi.
Cathleen terkekeh pelan melihat suaminya yang kembali dingin dan ketus. Rasanya sudah lama sekali tak menghadapi Gerald yang sulit disentuh.
“Kembali bekerja saja, Li.” Cathleen memberikan perintah dengan lembut.
“Baik, Nona.” Liliana segera keluar meninggalkan ruangan atasannya.
Tersisa sepasang pengantin di sana, Cathleen segera berdiri untuk menghampiri Gerald. “Kenapa sudah menjemputku lebih awal? Bukankah kencan kita masih nanti malam?” Sembari berbicara, ia menggandeng suami untuk diajak duduk di sofa.
“Aku bingung saja ingin melakukan apa di apartemen,” jelas Gerald seraya merapikan anak rambut sang istri yang menutupi kening.
Entah kenapa hati Cathleen merasakan kehangatan. Dia senang kalau diingat saat Gerald sedang bingung melakukan kegiatan. Pertanda sudah ada namanya di dalam pikiran sang suami.
“Tunggu sebentar, ya? Aku harus menyelesaikan pekerjaan. Kau tak masalah, ‘kan?” Cathleen berusaha memberikan pengertian pada Gerald agar tak terburu-buru mengajaknya pergi.
“Tenang saja, lakukan apa pun yang kau inginkan. Aku akan menunggu di sini.” Gerald mengusap pelan puncak kepala Cathleen. Tak lupa senyum manis yang ditunjukkan hanya pada sang istri.
...*****...
...Info kontrakan yang jauh dari manusia bucin dong? Heran banget, di sana sini semuanya pada bucinnnn. Kan asem! Dikira aku nunggak bayar kontrakan apa gimana si? Berasa diusir alus dari bumi...