Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 181


Melihat Geraldine emosi dan hendak menyakiti Gerald, Cathleen segera berdiri dan berlari menuju sepasang saudara kembar itu. Dia menahan tangan sang ipar agar tak melayangkan tinjuan pada wajah tampan suaminya.


Mau bagaimanapun perlakuan Gerald pada Cathleen, wanita itu tak mungkin tega melihat suami di hajar. Apa lagi di depan matanya langsung.


“Jangan sakiti Gerald, tolong.” Cathleen sampai memohon dengan iparnya supaya mengurungkan niat melukai suaminya.


Geraldine menengok ke kanan di mana Cathleen berdiri menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan sorot sangat memohon. “Jangan halangi aku, Cath! Orang seperti Gerald tidak bisa didiamkan terus, dia tak akan mudah sadar.” Dia menghempaskan tangan kuat hingga cekalan dari sang ipar pun terlepas.


Geraldine tetap mau melanjutkan untuk menghajar pria berwajah datar yang mengesalkan di hadapannya. Tidak terima kalau Gerald sampai keterlaluan berani dengan orang tua dan seluruh anggota keluarga. “Sudah bagus kau mendapatkan istri yang mau membelamu disaat seperti ini, tapi otakmu benar-benar bodoh karena terhasut emosi hanya karena kau menemukan Chloe masih hidup!”


“Aku tidak pernah meminta dia untuk membelaku!” sanggah Gerald. Dia masih dikuasai oleh amarah hingga menutup segala aliran kepintaran dalam menghadapi hidup.


“Kau dengar itu, Cath? Lihatlah respon suami yang kau bela ini, tidak ada simpatinya denganmu!” Geraldine menunjukkan wajah kembarannya pada Cathleen, supaya iparnya melihat betapa mengesalkan Gerald.


“Dia sedang emosi, dalam dirinya pasti ada kebaikan dan kasih sayang untuk kita.” Tetap saja Cathleen membela.


“Sia-sia kita semua menjadi garda terdepan ketika kau memiliki masalah, kalau pada akhirnya semua kebaikan tertutup oleh satu kesalahan!” Danesh mengeluarkan suara juga setelah sejak tadi mengamati.


“Akan ku lakukan.” Geraldine kembali mengepalkan tangan, kini dia mencengkeram kedua pipi kembarannya.


Gerald yang datang ke sana dengan segenap amarah dan ingin meluapkan segala rasa kesal pada keluarganya, justru berbalik posisi. Dominique dan Giorgio melawan dan Gerald hanya seorang diri.


“Seburuk-buruknya Gerald, dia adalah suamiku.” Cathleen tiba-tiba berdiri di depan pria yang sejak tadi hanya diam dan terkesan santai walaupun ada tangan hendak mendarat di wajah, mencoba menghalangi dan menjadi tameng.


Cathleen melepaskan cengkeraman tangan Geraldine dari wajah suaminya. Dia berbalik badan untuk menatap pria itu. “Aku tahu kau sedang terluka hatinya dan kecewa dengan kebohongan kami semua. Mewakili keluarga besar ini, aku minta maaf kalau salah padamu. Tapi, kau harus ingat dari mana kau berasal. Siapa yang selalu ada ketika kau senang, sedih, kesulitan, ataupun sakit. Maka, pergilah, tenangkan dirimu, kau butuh waktu sendiri.” Tangannya mengusap dada Gerald, meskipun wajahnya terlihat sedih, namun masih berusaha mengulas senyum untuk suaminya.


Gerald memandang satu persatu orang di sana. Semuanya menatapnya dengan wajah yang sama, datar. Kecuali Cathleen yang masih memberikan senyuman. Tapi benar apa kata istrinya, dia butuh menenangkan diri, dan amarah yang meluap karena mendapati kenyataan pahit secara berdekatan membuatnya kalut.


“Maaf.” Pertama kalinya Gerald menitikan air mata di depan keluarga besar. Dia tidak tahu menyiratkan apa buliran bening itu, entah penyesalan sudah marah-marah pada keluarganya atau kekecewaan. Tapi, berhasil membuat mereka yang melihat ikut merasa bersalah.


...*****...


...Penonton kecewaaaaa, si Kucing ni ah segala dihalangi mau ngehajar Gege. Aturan mah biarin aja babak belur, biar tau rasa tuh manusia Antartika...