
“Sekretarisku, security, keluargaku, kau, dan Edbert,” jawab Cathleen. Tapi ia tak berburuk sangka pada salah satu dari orang yang disebutkan karena setiap kali mereka datang, tidak ada yang mencurigakan, dan pasti ada tujuan jika menemui di ruang kerja.
Gerald menaikkan sebelah alis saat mendengar mantan kekasih istrinya juga pernah diberikan akses keluar masuk. “Edbert?”
“Ya, tapi sudah lama dia tak datang ke sini. Terakhir kali ketika membawaku pergi ke danau, dan Edbert tak mendekati letak kamera tersembunyi tadi.”
Wajah Gerald langsung berubah pias, entah kenapa firasatnya mengarah pada mantan kekasih Cathleen. Tapi untuk motif apa? Dan apakah benar dugaannya?
“Berikan aku salinan rekaman CCTV milikmu, akan ku cari orang yang berani menguntitmu!”
Gerald memungut semua kamera pengintai berukuran kecil yang sudah rusak dan tak berbentuk. Ia tak membuang itu, tapi dimasukkan ke dalam saku celana.
Pria itu mengikuti Cathleen, duduk di depan komputer kerja dan menyalin seluruh file rekaman sejak pertama kali Edbert datang ke perusahaan tersebut.
Gerald tak mungkin mengecek dari pertama kali CCTV terpasang. Ia hanya menduga saja kalau pelaku adalah Edbert, sehingga untuk memastikan, dia harus melihat rekaman pada tanggal kedatangan mantan kekasih Cathleen itu.
“Kau ada MacBook?” tanya Gerald setelah selesai menyalin file yang dia inginkan.
“Ada.” Cathleen menarik sebuah laci dan memberikan barang yang diminta suami. “Ini.”
“Aku pinjam sebentar, kau selesaikan saja pekerjaanmu. Tak perlu takut ada penguntit, aku akan menjagamu.” Gerald mengusap puncak kepala Cathleen terlebih dahulu sebelum ia berpindah duduk di sofa dan fokus menyaksikan setiap rekaman dari layar MacBook.
Jika Gerald sedang mencari dalang yang memasang kamera pengintai di ruang sang istri, berbeda dengan pelakunya. Kebetulan sekali Edbert sedang menyaksikan Cathleen dari layar ponsel, namun tiba-tiba sudah tak terhubung lagi.
Pyar!
Bene, sekretaris Edbert itu mendengar sang tuan berteriak pun langsung masuk ke dalam. “Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?”
“Matamu buta? Telingamu tuli? Jelas aku berteriak dan membanting barang-barang karena kesal!” Edbert justru menyembur Bene dengan segala umpatan, menyalurkan segala amarah yang disulut oleh Gerald.
“Maaf, Tuan.”
“Maaf! Maaf! Mana agen rahasia yang ku bayar mahal itu? Belum selesai juga dia mencari kekasih si pria sialan itu? Lama sekali!”
“Akan saya hubungi lagi, Tuan.”
“Argh ....” Edbert mengacak-acak rambut karena segala kehidupan yang dijalani tak pernah sesuai dengan keinginannya. Dia ingin hidup bahagia, tapi seakan semesta dan orang-orang disekelilingnya tak ada yang mendukung.
...........
Setelah seharian penuh Gerald tak bermain game karena sibuk melihat rekaman CCTV, bahkan ketika sudah sampai di apartemen pun masih berkutat di depan layar, akhirnya ia mendapatkan bukti kalau Edbert adalah pelakunya. Pria itu menunjukkan pada Cathleen saat tangan Edbert seperti menempelkan sesuatu di titik tempat dirinya menemukan kamera kecil yang sangat tersembunyi.
“Selama ini kau diawasi oleh Edbert, apa kau tak sadar?” tanya Gerald seraya menunjuk informasi tanggal kejadian, ternyata sudah lebih dari satu tahun silam.
...*****...
...Nah loh nah loh, ayo perang ayo perang. Aku akan sediakan parang buat kalian adu jotos hahahaha...