
Tak berselang lama setelah kepergian mobil keluarga Pattinson, Geraldine dan Mommy Gabby nampak berjalan keluar ke arah parkiran. Kedua wanita itu melihat dari kejauhan kalau ada Gerald yang tengah berdiri di sana. Tapi mereka sengaja tidak menyapa.
Geraldine dan Mommy Gabby berjalan begitu saja melewati pria yang baru resmi menjadi duda. Seakan Gerald tidak pernah ada di hadapan mata keduanya. Acuh, tentu saja, siapa yang tak kesal dengan kelakuan manusia yang satu itu. Sudah diberikan bantuan dan kesempatan emas untuk masa depan yang lebih baik, tapi dilewatkan begitu saja.
Gerald mengepalkan tangan, matanya melotot mengikuti arah dua anggota keluarganya yang berjalan menjauh. Dia kesal karena diabaikan. Buru-buru kakinya membawa tubuh untuk menyusul.
Cekalan begitu kuat segera mendarat di pergelangan tangan Geraldine. Gerald pelakunya, dia menarik paksa kembarannya itu untuk diajak bicara.
“Apa?!” tanya Geraldine dengan sangat ketus. Wajahnya terlihat menantang seakan siap untuk duel sekarang juga. Selagi saat ini masih banyak emosi untuk pria itu.
“Kenapa kau tidak membantuku? Aku hanya memintamu supaya mengulur waktu sebentar saja. Sekarang Cathleen resmi menceraikan aku.” Gerald mencari mangsa untuk meluapkan hatinya yang patah hati. Dia mengomeli kembarannya dan menyalahkan atas keberhasilan perceraian tersebut.
Geraldine mengibaskan tangannya secara paksa hingga terlepas dari cengkeraman kembarannya. Dia tidak menjawab, justru melepaskan sepasang sneakers putih yang membalut kaki. Memberikan benda itu pada Gerald. “Kau bicara saja pada sepatuku.”
Sudah lelah Geraldine membantu kalau pada akhirnya Chloe masih berada di urutan tertinggi. Bahkan dibandingkan keluarga sendiri.
“Ayo, Mom, kita pergi.” Geraldine menggandeng orang tuanya untuk segera masuk ke mobil.
Sebelum meninggalkan putranya, Mommy Gabby menepuk pelan lengan Gerald. “Belajarlah dari kesalahan yang sudah terjadi, apa yang buruk tolong perbaiki. Mommy yakin kalau kau hanya sedang berada di fase bingung ingin melakukan apa, karena semua yang terjadi padamu sangat mendadak dan muncul bersamaan.”
Lagi-lagi Gerald ditinggalkan oleh keluarganya. Dia membanting sepatu yang sedang dipegang. “Argh ... sial! Hidupku kenapa jadi kacau seperti ini!”
Gerald bahkan membanting pintu mobil saat menutup. Dia berteriak sekeras mungkin di dalam sana. Tapi, ia sadar kalau marah-marah saja tak akan menyelesaikan masalah hidup. Maka dari itu, kaki pun mulai menginjak pedal gas untuk pergi mencari ketentraman pikiran.
Sementara itu, Cathleen diajak oleh kedua orang tuanya makan di sebuah restoran mewah untuk merayakan kesendiriannya. Alceena tidak ikut karena dia pergi tak membawa anak sehingga tak tenang kalau keluar terlalu lama.
Jadi, hanya Cathleen, Papa Danzel, Mama Gwen, Edbert, dan Bene saja yang ada di private room restoran itu. Madhiaz tidak bisa datang karena sibuk.
“Meskipun kau janda, semoga selalu diberikan kebahagiaan untukmu,” harap Mama Gwen, begitu juga dengan Papa Danzel.
“Tidak masalah janda, dimataku kau tetap sama,” sahut Edbert seraya mengusap kepala Cathleen yang duduk di sampingnya.
Namun, Cathleen segera menarik kepala ke belakang untuk mengindari usapan mantan kekasihnya. “Terima kasih atas support kalian. Hari ini aku yang akan traktir makan.”
Edbert tidak marah kalau wanitanya tak ingin disentuh. Dia mulai bisa menurunkan emosi supaya tak mudah marah-marah.
Mereka pun makan dengan wajah yang terlihat bahagia bercampur lega. Tapi, ditengah nikmatnya hidangan tersebut, Edbert tiba-tiba berbicara yang membuat perhatian semuanya tersita ke arahnya.
...*****...
...Mau ngaku lu Ed? Roman-romannya dah siap dapet amukan nih...