
Gerald memang memejamkan mata, bahkan lampu kamar pun telah redup. Biasanya ia bisa cepat masuk ke alam mimpi, tapi tidak dengan malam ini. Pikiran Gerald mendadak terus diputari oleh isi pesan Cathleen dan juga wanita yang sepintas ia lihat di sofa lobby apartemen.
“Ck! Menyusahkan.” Gerald berdecak sekaligus menggerutu saat tak bisa tidur nyenyak dikarenakan teringat Cathleen.
Pria keturunan keluarga Giorgio itu segera bangkit dari ranjang. Memakai sandal dan menutup tubuh menggunakan kaos. Ia akan memastikan apakah orang yang menumpang tidur di lobby adalah Cathleen atau bukan. Supaya tidurnya bisa nyenyak, tidak dihantui sosok wanita menyebalkan, banyak bicara, dan berhasil membuatnya pusing. Sebab, berada di dekat Cathleen, ia jadi berbicara lebih banyak dari biasanya.
Dengan boxer dan kaos saja, Gerald turun lagi ke lantai satu. Ia segera mengayunkan kaki mendekati sofa di mana sekelebat melihat wanita tengah tertidur.
Kaki Gerald berhenti tepat di samping sofa. Ia mengamati secara detail terlebih dahulu. Busana yang dipakai oleh wanita itu ternyata sama persis dengan pakaian Cathleen saat menikah dengannya.
Untuk lebih memastikan lagi, Gerald membungkukkan tubuh, menyibakkan rambut panjang hingga kini wajah wanita yang menumpang tidur di sana pun terlihat jelas. Ia menaikkan sebelah alis. “Untuk apa dia menungguku di sini dalam kurun waktu lama?” gumamnya seraya melepaskan tangan dari surai milik Cathleen.
Mata Gerald beralih melihat koper besar yang ada di dekat Cathleen. “Apa dia berniat tinggal bersama denganku?”
Gerald menggelengkan kepala seraya menegakkan tubuh kembali. Tidak ada kesepakatan untuk mereka tinggal bersama setelah menikah. Ia tidak mau diusik ketenangan hidupnya yang sudah damai tinggal sendirian tanpa gangguan siapapun, kecuali saudari kembarnya yang sering mengusik.
Kaki Gerald terayun kembali menuju lift. Ia hendak meninggalkan Cathleen di sana. Tapi, diurungkan, pria itu berbalik badan ketika teringat bahwa isi kesepakatan yang sudah dia ucapkan adalah berjanji untuk menjaga Cathleen setelah menjadi istri.
Memang perjanjian sialan, Gerald seperti selalu diingatkan dengan butir-butir yang telah dia lontarkan sebelum menikah dengan Cathleen.
Gerald tidak langsung membawa Cathleen. Ia ke resepsionis terlebih dahulu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya penjaga resepsionis itu.
“Baik, Tuan.” Pria yang bekerja untuk apartemen Casa Grande itu pun mengikuti Gerald dan melakukan perintah.
Gerald pun kembali mendekati tubuh Cathleen yang seperti nyenyak sekali tidur. Padahal posisi wanita itu sedang duduk. Ia membopong orang yang berstatus sebagai istrinya, membawa wanita tersebut menuju ke dalam lift.
Cathleen masih nyenyak saja tidur walaupun digendong. Sentuhan pertama dari suaminya yang tidak akan dia ingat karena tak sadar.
Gerald juga seperti biasa saja membawa Cathleen dan dilihat oleh beberapa orang yang baru saja pulang. Dia tidak peduli tantang pemikiran orang lain terhadap dirinya. Pria itu masa bodo sekali.
Sampai di depan unit apartemennya, Gerald membuka pintu menggunakan sidik jari karena itu yang lebih mudah saat posisinya membopong Cathleen. Untung saja tempat tinggalnya tak hanya bisa dibuka dengan pasword.
Sebelum masuk, Gerald memberikan perintah pada resepsionis yang membantunya membawakan koper Cathleen. “Letakkan saja koper itu di sini.” Ia menunjuk pintu masuk menggunakan arah mata.
“Baik, Tuan.” Karena tak ada yang perlu dibantu lagi, dia pun kembali ke resepsionis.
Sedangkan Gerald, ia membawa masuk Cathleen. “Badan saja kurus, tapi berat juga.” Ia menggerutu.
...*****...
...Ge, Ge, ngapain repot-repot bawa Cathleen ke apartemenmu sih? Mendingan tinggalin aja, daripada itu orang menyusahkan kamu loh...