
Selepas kepergian Cathleen ke dapur, Papa Danzel dan Gerald terdiam. Keduanya seakan bingung ingin melakukan apa. Tuan rumah di mansion itu masih terasa canggung karena belum pernah berhadapan langsung dengan sang menantu yang mendadak berubah menjadi ramah.
“Em ... ayo kita mengobrol di taman.” Akhirnya, Papa Danzel mengajak Gerald untuk keluar.
Gerald hanya mengangguk sekilas, namun dia langsung berjalan mengikuti sang mertua yang sudah tak menyambut dengan ketus lagi. Tidak seperti dahulu.
Kedua pria itu hanya duduk saja. Bingung ingin membicarakan apa. Gerald yang masih kaku pun pada akhirnya berinisiatif untuk mencari topik.
“Maaf jika pertemuan kita kali ini terasa sedikit aneh. Mungkin karena aku belum terbiasa berhadapan denganmu,” ucap Gerald dengan suaranya yang terkesan kaku tapi tetap mencoba berbicara sopan dan ramah.
“Biasanya kita selalu berdebat, kau yang angkuh, ketus, dan tidak memiliki rasa hormat pada orang tua. Sekarang mendadak berubah drastis. Aku pun terkejut dengan sifatmu sekarang,” balas Papa Danzel.
“Maaf jika kesan pertamaku di mata kalian sangat buruk. Tapi aku tidak menyangkal semua itu. Dahulu memang aku seperti apa yang kau katakan. Tapi, seiring berjalannya waktu, kehadiran Cathleen mulai merubahku.”
Papa Danzel mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. “Bagus jika anakku bisa memberikan perubahan yang baik untukmu.”
Perbincangan yang masih terkesan kaku antara Papa Danzel dan Gerald pun terjeda sejenak karena Cathleen datang membawa minuman. “Maaf mengganggu obrolan kalian. Sebagai teman berbincang.” Dia meletakkan dua cangkir berisi kopi. Menjadi istri Gerald sudah membuatnya sedikit demi sedikit bisa masak karena suaminya lebih senang melakukan semua sendiri dibandingkan menggunakan pelayan.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Gerald seraya mengusap lengan Cathleen dan melemparkan senyuman manis.
Interaksi antara sepasang suami istri itu tak luput dari pengawasan Papa Danzel. Sebagai orang tua, ia lega jika hubungan rumah tangga anaknya baik-baik saja dan harmonis. Sampai tak terasa kalau Tuan Pattinson ikut tersenyum juga.
Kedua bola mata Cathleen berpindah menatap Papa Danzel. “Pa, jangan membuat suamiku tak nyaman berada di sini. Mulailah terima dia sebagai menantumu. Semoga kalian bisa lebih dekat dengan berbincang berdua. Aku tinggal masuk ke dalam.” Harapan seorang anak yang begitu sederhana pada orang tuanya, cukup melihat dua pria yang berharga dalam hidupnya menjadi akur.
Sebelum meninggalkan area taman, Cathleen mengusap kedua pundak lelaki hebat dalam hidupnya.
Sedangkan Gerald menatap punggung sang istri yang mulai menjauh. Dan hal itu tak luput dari pandangan Papa Danzel.
“Apa kau sudah mencintai putriku?” tanya Papa Danzel. Dia ingin mengetahui isi hati menantunya, walaupun jika dilihat dari perlakuan Gerald sudah nampak jelas jika pria itu memiliki rasa pada Cathleen.
Gerald berhenti memandang punggung sang istri, beralih memfokuskan indera penglihatan pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya. “Ya, aku mulai mencintainya.”
“Ku harap rasa cintamu itu selamanya dan tak akan pudar. Sebagai orang tua, aku selalu mendoakan dan berharap kehidupan anak-anakku bahagia. Apa kau bisa berjanji padaku akan selalu membuat Cathleen tersenyum?” pinta Papa Danzel seraya meraih cangkir untuk mulai menikmati kopi pertama buatan Cathleen. Ia menunggu respon dari Gerald yang masih terdiam.
...*****...
...Aduhhh gak yakin aku kalo Gege bisa memenuhi permintaanmu Pa wkwkwk secara yakan ada dua psikopat di cerita ini hahahaha. Salah, yang bener ada tiga, satu lagi authornya...