Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 235


Dirasa situasi sekitar aman, Gerald melangkah seperti seorang maling supaya tidak menimbulkan suara gaduh ketika berjalan. Untung saja rumah itu besar dan sepi saat sudah malam. Ia harus melewati area ruang makan untuk menuju tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Tiba-tiba terkejut saat ada suara orang mengajaknya berbicara.


“Mau ke mana?”


Pertanyaan itu membuat Gerald berhenti melangkah dan berbalik badan. Ternyata Edbert, untung bukan mantan mertuanya yang menegur. “Ke kamar Cathleen.”


“Kenapa kau mau ke sana? Bukankah tak diizinkan?”


“Aku tak bisa tidur, ingin memeluk Cathleen.”


“Oh.” Edbert hanya bertanya saja, dia tidak ada niatan untuk mencegah sedikit pun. Sebab, tahu kalau Cathleen pasti membutuhkan Gerald supaya bisa terlelap.


“Tolong kau jangan katakan pada Tuan Pattinson kalau aku diam-diam ke kamar Cathleen,” pinta Gerald.


“Percuma, di mansion ini ada CCTV.”


“Tak apa kalau aku ketahuan, mungkin justru pernikahan kami akan dipercepat,” ucap Gerald bertujuan ingin pamer pada Edbert kalau dia sudah mendapatkan restu. Kakinya tetap melanjutkan langkah menyusuri anak tangga.


Edbert hanya menatap kepergian Gerald dengan sorot mata yang menyimpan sebuah rahasia. “Sebaiknya ku lakukan sendiri tanpa melibatkan dia,” gumamnya.


Sementara itu, Gerald sudah berhasil sampai di depan kamar Cathleen. Ia tidak mengetuk terlebih dahulu, tapi langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Cath?” panggil Gerald. Suasana kamar itu sangat gelap.


“Hm?” Ternyata Cathleen masih bisa menyahut. Ia menghidupkan lampu berwarna redup yang ada di dekat ranjang.


“Kau belum tidur?” tanya Gerald seraya mengayunkan kaki mendekati Mommy dari anak-anaknya.


Kepala Cathleen menggeleng. “Kau juga?”


“Iya, aku ingin memelukmu.” Gerald memberikan pernyataan. Dia tidak meminta persetujuan Cathleen terlebih dahulu, tapi langsung naik ke atas ranjang dan bergabung di bawah selimut yang sama dengan wanita itu.


Gerald berada di balik punggung Cathleen. “Jangan ditolak, sepertinya aku kecandungan ingin dekat denganmu dan anak-anak ketika tidur,” pintanya seraya melingkarkan tangan ke perut buncit itu.


“Bagaimana kalau Papaku tahu? Nanti kau kena omel.” Meskipun resah karena takut ketahuan, tapi Cathleen tetap menerima sentuhan dari Gerald. Ini yang sangat dia inginkan, perasaan nyaman ketika perut diusap.


Keduanya pun memejamkan mata tanpa ada suara yang keluar. Karena baik Gerald maupun Cathleen sedang menikmati kedekatan tanpa jarak dan gangguan.


“Kira-kira anak kita akan mirip dengan siapa, ya?” tanya Gerald. Suaranya terdengar berbisik seraya jemari menyusup masuk ke balik kain supaya bisa langsung mengusap di permukaan kulit perut Cathleen.


“Siapa saja boleh,” jawab Cathleen. Tangannya ikut bergabung mengusap bagian tubuhnya yang buncit.


Gerald langsng menumpukkan tangan mereka dan menyentuh perut buncit secara bersamaan. “Cath?”


“Hm?”


“Kau ingin tahu hasil percakapanku dengan Papamu?”


“Apa?”


Gerald tidak langsung menjawab, tapi membalikkan tubuh Cathleen secara perlahan supaya menghadap ke arahnya. Kini, kedua bola mata tajam itu bisa menatap wajah cantik yang sudah berhasil mencuri seluruh hatinya.


“Papamu memintaku untuk berhenti menjenguk Chloe. Katanya, dia bukanlah tanggung jawabku. Lalu memberiku pilihan, antara kembali denganmu dan tetap merawat mantan kekasihku.”


“Lalu, apa yang kau pilih?”


“Aku memilih kau,” jawab Gerald seraya menyingkirkan rambut panjang ke balik telinga Cathleen.


“Apa karena anak di dalam kandunganku?”


“Tidak, tapi karena kepribadianmu yang sudah berhasil menyita perhatian dan hatiku.” Gerald melabuhkan kecupan di kening wanita itu, lumayan lama, sebagai bukti keseriusannya.


Cathleen mengulas senyum lega. Dia pikir Gerald bersikap seperti itu karena anak-anak. “Sebenarnya aku sudah tahu kalau kau masih sering merawat Chloe. Tapi, bukan hakku untuk melarang juga. Walaupun sesungguhnya ada rasa tak rela dan cemburu,” ucapnya seraya jemari lentik itu mengusap rahang pria di hadapannya.


“Maaf kalau selama ini aku belum bisa lepas total karena merasa bersalah. Tapi, aku akan mencoba memenuhi janjiku pada Papamu.” Gerald memeluk Cathleen hingga kepala wanita itu disemayamkan pada dada bidangnya. “Apakah keputusanku jahat dan egois?”


“Jika kau bertanya padaku, tentu saja jawabannya tidak. Karena aku pun menginginkan kau tetap berada di sisiku tanpa bayang-bayang masa lalumu. Mungkin, disinilah aku yang egois.”


“Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu. Lebih baik kita tidur saja,” ajak Gerald supaya menyudahi pembicaraan yang sepertinya sensitif.