
Pada akhirnya, Gerald meyakinkan diri sendiri untuk melanjutkan membuka pintu ruangan di depannya. Perlahan terayun ke dalam, tapi ia mematung tak bergerak sedikit pun kala melihat orang yang ada di sana.
Gerald ingin menampik kalau wanita yang dilihat adalah Chloe mendiang kekasihnya. Tapi, ketika mendapati Tuan Eleanor di sana, ia menggelengkan kepala seolah tak percaya. “Tidak mungkin kau masih hidup,” lirihnya mengeluarkan suara. Matanya bahkan sengaja dikedipkan, siapa tahu hanya halusinasi belaka.
Tapi, tidak, Chloe tetap ada dan terbaring di atas ranjang pasien. Apa lagi tatapan mata wanita itu terlihat berkaca-kaca seolah sedang terharu.
“Ge? Apa itu sungguh kau?” Chloe menitikan air mata. Satu sisi ia senang bisa melihat kekasihnya lagi, tapi di samping itu dirinya juga sedih karena sudah tak seperti dahulu lagi.
Gerald masih terdiam, mencerna setiap situasi yang sedang ada di depan matanya. Jujur, dia sangat terkejut dengan apa yang sedang dialami. Masih setengah percaya kalau Chloe masih bernapas di dunia. “Apa kau sungguh orang yang ku kenal?” tanyanya seraya menutup pintu dan perlahan mendekat untuk lebih memastikan.
Chloe mengangguk lemas, air mata harunya tumpah. “Ya, aku kekasihmu.”
Gerald tidak bisa langsung percaya begitu saja. Tiga tahun hilang di laut, bagaimana bisa masih tetap utuh? Menurutnya itu mustahil. “Bisa kau tunjukkan padaku tanda lahirmu?”
“Andai aku bisa bergerak, sudah ku perlihatkan padamu.”
“Kau lumpuh?”
Chloe mengangguk membenarkan. Rasanya dia ingin membelai wajah Gerald, mengobati rasa rindunya yang selama ini tak pernah bertemu. Tapi apa daya, dia tak bisa apa-apa. Sungguh merasa hidup tak ada gunanya.
“Kalau begitu, biarkan aku melihatnya sendiri.” Gerald berhenti tepat di samping ranjang pasien.
“Lakukanlah jika memang itu membuatmu percaya.”
Gerald menyentuh Chloe, merubah posisi wanita itu menjadi miring. Sedikit menyibakkan baju pasien, dia melihat ada tanda kemerahan di area punggung.
Gerald terasa lemas, dia menghempaskan tubuh, duduk di kursi yang ada di dekat Chloe. ‘Apakah keluargaku berbohong tentang tanda kematian itu?’ ucapnya dalam hati.
“Ge?” Chloe berusaha memanggil karena pria itu terlihat melamun.
Gerald sampai tak bisa berkata apa-apa. Hanya mematung atas keterkejutan itu. Di depannya ada wanita yang dicari selama tiga tahun. Dan itu adalah Chloe asli.
Seharusnya Gerald senang karena Chloe akhirnya ditemukan dengan kondisi hidup. Tapi, hatinya merasa kecewa. Dia justru memikirkan keluarganya yang tega membohongi dirinya.
Gerald ingin sekali berteriak. Kenapa semua orang berbohong pada dirinya? Tapi, berusaha ditahan. Dia pun segera berdiri, belum hilang rasa kecewa terhadap istrinya, sekarang dihancurkan oleh kebohongan keluarganya.
“Ge, kau mau ke mana? Apa kau tak merindukan aku setelah sekian lama tidak bertemu?” tanya Chloe ketika Gerald berjalan menuju arah pintu.
Gerald menyempatkan sebentar untuk berbalik. “Sorry, Chloe, aku harus pergi, ada sesuatu yang perlu ku selesaikan.”
Chloe menghela napas kecewa. “Tiga tahun lebih, ternyata membuatmu banyak berubah, Ge.”
Tapi, Gerald tetap keluar meninggalkan ruang rawat Chloe. Tangannya terkepal kuat sepanjang melangkahkan kaki menuju mobil. Bahkan dia membanting pintu kendaraannya sendiri karena terlalu sakit menghadapi kenyataan atas kebohongan semua orang disekelilingnya.
...*****...
...Dih, si yang paling jujur dan tersakiti aja lu...
...Astaga ... aku ni kan mau berhenti julid, nanti dikata kasar lagi karena suka ngata-ngatain. Padahal aku kan lemah lembut kaya putri kesleo. Dah ah bye, jangan kangen julidan aku, mau insap...