
Cathleen mengernyitkan kening, untuk apa calon mantan suaminya dateng ke sana? Ia menatap kedua orang tuanya dengan sedikit kekhawatiran, takut saja kalau Papa dan Mamanya akan membenci Gerald dan melarangnya untuk tidak bertemu.
“Biar aku saja yang menemui,” ucap Papa Danzel.
Benar seperti dugaan Cathleen, Papanya sudah mengambil langkah untuk berdiri mendahului. “Jangan, Pa, aku yang dia cari.” Ia mencekal tangan orang tuanya supaya tak jadi berjalan.
“Apa kau yakin masih kuat bertemu dengannya?”
Cathleen mengangguk pelan dan segera berdiri. “Papa di sini saja.”
“Tidak, aku akan ikut denganmu.” Papa Danzel tetap ngotot ingin menemui Gerald juga.
Tapi, Edbert sudah menghadang tubuh Tuan Pattinson saat hendak menyusul Cathleen. “Biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya, kita tidak perlu ikut campur. Cathleen pasti tahu apa yang terbaik untuk hubungannya.”
Papa Danzel menghela napas, ia menepuk pundak Edbert dengan tekanan yang terkesan tegas penuh kepercayaan pada pria itu. “Seharusnya kau yang sejak awal menikahi putriku itu, pasti dia tak akan sakit hati karena kau tidak pernah melirik wanita lain kecuali Cathleen.”
“Sudah jalannya seperti ini, aku akan berusaha untuk mengambil hati dan kepercayaannya lagi.”
“Semoga masih ada cinta untukmu di hati Cathleen.”
Papa Danzel pun tak jadi menyusul putrinya. Walaupun ia sangat penasaran dengan perbincangan yang dilakukan oleh Cathleen dan Gerald, tapi berusaha untuk di tahan. Tetap duduk di ruang keluarga bersama Edbert dan istrinya.
Sedangkan Cathleen, dia menemui Gerald tanpa mengajak pria itu untuk masuk ke dalam. Keduanya berdiri berhadapan di depan pintu. Jika di hadapan calon mantan suami, Cathleen memperlihatkan sosok dirinya yang tegar. Bahkan kedua bola matanya berani menatap ke arah pria yang ada satu meter di depannya.
“Ada apa mencariku?” tanya Cathleen. Meskipun ada hati yang retak tapi ia masih bisa ramah.
“Karena kita akan berpisah, jadi aku memutuskan untuk keluar dari apartemenmu. Daripada aku terus sakit hati, hidup satu atap denganmu tapi tak pernah dianggap ada.”
Mendengar penjelasan itu barulah Gerald mengayunkan kaki satu langkah hingga jarak dengan Cathleen kian terkikis. Ia meraih tangan wanita itu untuk digenggam, tapi istrinya sudah menarik lengan terlebih dahulu hingga hanya udara yang bisa diraih.
Gerald menghela napas berat, sepertinya Cathleen memang sudah berada di tahap sakit hati sampai menghindari saat hendak disentuh olehnya. “Aku minta maaf, akan ku perbaiki semua kesalahanku itu. Pulanglah ke apartemen, tidak akan ku abaikan kau lagi.”
Permintaan itu langsung dijawab berupa gelengan kepala diiringi sebuah senyuman manis nan lembut dari Cathleen. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah memutuskan untuk berpisah denganmu.”
“Kau sungguh-sungguh saat mengajakku bercerai?”
Anggukan kepala sebagai jawaban dari Cathleen. “Ya.”
Tadi Gerald tidak memaksa saat istrinya tak mau disentuh. Kali ini ia langsung meraih dan menggenggam tangan Cathleen sampai wanita itu tidak bisa menghindar. “Tolong, urungkan niatmu itu. Kita bisa perbaiki semuanya.” Sorot dari kedua bola matanya memancarkan sebuah permohonan.
Cathleen melepas perlahan genggaman tersebut sembari tersenyum. “Ada orang yang lebih membutuhkanmu daripada aku, yaitu Chloe, kekasihmu. Aku masih bisa hidup sendiri tanpa bantuanmu.” Dia mengembalikan kata-kata yang sudah pernah dilontarkan oleh Gerald.
...*****...
...Sukurin wkwkwk dibalikin kan kata-katamu hahaha. Mulutmu harimaumu, mamam noh...