
Setelah menempuh perjalanan panjang dan lama, akhirnya Gerald sampai juga di Taipalsaari. Kini dia tengah mencari lokasi penginapan di dekat danau yang dimaksud oleh Cathleen. Sorot mata berhenti pada satu-satunya bangunan yang tak jauh dari posisi saat ini.
“Sepertinya benar itu rumah yang dimaksud Cathleen,” gumam Gerald saat melihat ada sebuah mobil mewah terparkir di depan bangunan yang dari luar terbuat menggunakan bahan kayu.
Gerald menghentikan kendaraan roda empat miliknya tepat di belakang mobil Edbert. Dia segera turun.
Gerald bisa merasakan kalau udara semakin dingin ditambah sedikit demi sedikit mulai turun salju. Dia tak mempersiapkan pakaian hangat satu pun karena tidak tahu kalau hari ini memasuki winter.
Kaki Gerald berhenti di depan sebuah pintu kayu. Dia menggedor begitu kencang padahal kedatangannya di sana sudah pukul dua dini hari.
“Cath ... buka pintunya,” teriak Gerald tapi tak ada tanggapan apa pun dari orang yang ada di dalam sana. “Aku tahu kau ada di sini. Jangan bersembunyi dan pulanglah bersamaku, kita bisa bicarakan masalah ini dengan pikiran dingin.”
Gerald tak menyerah walaupun teriakannya tak ditanggapi sedikit pun. Jelas saja tidak ada yang menyahut, dini hari sudah waktunya orang istirahat.
Namun Gerald tidak berhenti sampai di situ saja. Ia tetap mengganggu kenyamanan dua orang yang sedang tidur di dalam rumah sederhana itu. Entah tidur terpisah atau bersama, dia hanya ingin segera membawa pulang sang istri.
“Cath! Jika kau tak membukakan pintu, akan ku dobrak sekarang juga!” ancam Gerald dengan suara lantang. Dia yakin kalau orang yang ada di dalam sana pasti mendengar ucapannya.
Tapi bukan Cathleen yang bangun, melainkan Edbert. Pria itu tidur di sofa yang ada di ruang tamu, menghangatkan tubuh di depan tungku api.
“Ck! Pria itu tak bisa membiarkan wanitaku hidup tenang,” gerutu Edbert dengan wajahnya yang nampak kesal.
Karena suara Gerald tak kunjung menghilang dan menganggu kenyamanan, akhirnya Edbert pun bangkit dari sofa. Dia tidak mau tidur Cathleen terganggu karena keributan yang dibuat oleh seseorang di luar sana.
“Ada apa kau ke mari?” tanya Edbert dengan suara ketus. Matanya nyalang dan wajah juga tak bersahabat. Sangat menunjukkan kalau tak senang atas kedatangan manusia yang tak diundang itu.
“Di mana Cathleen? Kau membawa pergi istriku, ‘kan?” Gerald berbicara tak mau kalah angkuh. Bahkan dia menekankan kata istriku agar Edbert sadar kalau wanita yang dibawa adalah pasangan sahnya.
“Apa pedulimu? Kau sudah menyia-nyiakan Cathleen, untuk apa dicari lagi? Sudahlah, tinggalkan saja, biarkan dia tenang bersamaku!” timpal Edbert. Dia tidak berniat sedikit pun untuk menunjukkan atau mengembalikan pujaan hatinya pada Gerald.
Melihat Edbert yang tak bisa diajak kerja sama, Tangan Gerald mendadak menarik kaos yang dipakai. “Apa pantas kau membawa kabur istri orang?!” gertaknya. Sorot mata tajam itu nyalang menghunus pria yang sudah berani mengajak Cathleen pergi jauh.
Edbert tidak takut sedikit pun dengan Gerald. Dia balas menarik kerah kaos polo milik sang rival. “Apa pantas kau membuat istrimu bersedih?!” Matanya juga tak mau kalah hingga kedua pria itu saling melotot.
“Rumah tanggaku bukan urusanmu! Kau tak perlu ikut campur!” sentak Gerald.
Edbert kian mencengkeram pakaian sang rival. “Jelas itu urusanku! Cathleen adalah cintaku, tak ku biarkan satu orang pun membuatnya sakit hati!”
...*****...
...Kalian mau adu tinju? Aku siapin parang nih biar sekalian ada yang koit atu jadi gak bikin aku bingung pilih yang mana...
...Aku tu udah gak holiday frenn, juga gak sakit. Tapi aku gak mau crazy up karena terlalu rajin di NT membuatku patah hati. Perhitungan views lagi gak jelas. Update banyak sama dikit gak ada bedanya sama waktu aku gak update, jadi mendingan aku santai. Please jangan minta crazy up, aku bisa aja update banyak, tapi NT bisa gak balikin perhitungan views kaya dulu lagi?...
...Atuhhh jadi curhat lagi kan, tolong dibaca dan harap maklum ya frennn kalo aku gabisa crazy up. Nanti kalo perhitungan views di NT balik kaya dulu lagi baru aku gencer update...