
Masih dihari yang sama , pukul 06.00 sore Jia mulai merasa bosan dan jenuh harus berbaring dirumah sakit . Bau khas rumah sakit membuatnya sakit kepala dan tak nyaman .
Papa Kendra, Mama Sita , Papa Mahes ,dan Mama Devya sudah kembali dari luar . Mereka kini tengah berada di ruang rawat menemani Jia sembari bercerita ringan antar orang tua .
“Kak Devan “ cicit Jia berbisik kepada Devan yang duduk disamping kasur pasien , Devan tengah ikut mengobrol dengan para orang tua yang tengah duduk di Sofa pengunjung ruangan .
Pandangan Devan teralihkan ketika mendengar wanitanya memanggil namanya .
“Iya sayang , ada apa hmm ? “ tanya Devan lembut .
Jia terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan kenginginannya .
“Aku mau pulang “ ucapnya pelan .
Devan mengerutkan keningnya , matanya menatap Jia tajam .
“Tapi belum bisaa , kata dokter kamu pulang besok aja yah ? “
Jiandra menggeleng dan menutupi hidungnya dengan satu tanganya .
“Mau pulangg , aku gak kuat bau rumah sakit . Lagian aku sudah baik-baik saja . Mau istirahat dirumahh “ rengeknya
Devan menghela nafasnya kasar .
“Ada apa vann ? “ tanya papa Kendra yang sedikit mendengar Jiandra merengek tadi .
Para orang tua mulai menatap Jiandra dan Devan , mereka ingin tau apa yang diminta Jia .
“Ini , Jiandra katanya pingin pulang “ ucap Devan menatap orang tua yang duduk di sofa panjang itu satu-persatu .
Mata Jia juga menatap mama dan papanya , begitupula menatap mama Devya dan papa Mahes . Seperti memohon meminta pertolongan agar Jia diizinkaj untuk pulang hari ini .
“Boleh ya pah , Jia tidak nyaman kalau tidur disini . Baunya bikin eneg , Jia gak kuat “ rengeknya .
“Coba kau tanyakan pada dokter yang menangani Jia van, jika diperbolehkan lebih baik Jia pulang lebih dulu “ ucap papa Mahes menengahi
Mata Jia berbinar mendengar ucapan papa Mahes , Devan menoleh kearah Jia . Wajah Jia masih menelas dan mengangguk-anggukan kepalanya meminta persetujuan dari Devan .
“Baiklahh “ ucap Devan pasrah deselingin dengan desahan nafasnya .
“Terimakasih sayang “ cicit Jia pelan
Devan mengangguk dan segera menelpon dokter untuk datang ke ruang rawat Jia .
...----------------...
Setelah dokter datang dan memeriksa Jia , Jia diizinkan untuk pulang lebih dulu dengan catatan harus beristirahat sementara. Mengingat tak ada luka yang terlalu parah , dokter hanya memberi salep pada Jia agar lukanya lekas mengering .
Seluruh administrasi sudah Devan selesaikan , Devan benar-benar ingin bertanggung jawab akan Jia . Ia bahkan tak memberikan papa Kendra celah untuk mengurus administrasi Jia .
Kini Jia bersiap untuk pulang , wajah berbinar dan bahagia terlihat jelas pada ekspresinya saat ini . Ia bahagia karena tak jad menginap di rumah sakit , meski hanya semalam ia yakin pasti sangat tidak nyaman .
Papa Mahes dan Mama Devya memilih untuk pulang dan berjanji akan menjenguk Jia besok .
Devan meminta papa Kendra dan mama Sita pulang berdua saja , karena Jia akan Devan yang mengantar .
Papa Kendra dan mama Sita pun mengizinkannya , apalagi kebetulan ia harus kembali ke resto lebih dulu karena ada urusan pekerjaan .
“Mahh , pah Jia biar sama Devan saja . “ ucap Devan sembari merangkul Jia yang jalannya sedikit terseok-seok akibat luka pada kaki Jia .
Papa Kendra mengangguk
“Kalian bisa pulang lebih dulu , papa dan mama akan ke Restaurant sebentar untuk mengecek beberapa hal . Devan papa minta tolong jaga Jia ya “
“Tenang saja pah , Jia aman denganku “ ucap Devan
“Terimakasih van , Jia sayang nanti kamu chat mama ya kalau kamu mau makan sesuatu . Begitupula dengan kamu van “ ucap mama Devya
Jia dan Devan mengangguk bersamaan .
Papa Kendra dan Mama Devya segera meninggalkan Devan dan Jiandra lebih dulu untuk melanjutkan pekerjaannya .
Sementara Jia dan Devan masih berjalan menuju tempat mobil Devan terparkir .
“Kalau seperti ini akan lama kita sampai parkiran “ ucap Devan yang masih merangkul Jia
“Gimana dong ? Kan kakiku masih sakit kalau terlalu menekan saat jalan “ keluh Jia
Devan segera menggendong Jia ala bridal style
“Kakkkk “ pekik Jia yang terkejut
“Kalau seperti ini , kita akan segera sampai dan pulang “ ucap Devan tersenyum
“Isss kalau seperti ini aku mau kak “ cicit Jia
“Ngapain malu ? toh kakimu kan sedang dalam keadaan sakit “ ucap Devan bodo amat dan melanjutkan langkah kakinya menuju tempat mobilnya terparkir
Jia tak mampu menjawab perkataan Devan , sebenarnya ia senang digendong seperti ini . Ini lebih baik untuknya dari pada harus berjalan tertatih-tatih . Jia menyembunyikan wajahnya didada Devan , meskipun senang tapi jika di tonton orang lain ia merasa malu .
Devan membuka pintu mobilnya , dan memasukkan Jiandra dengan sangat hati-hati kedalam mobil . Tak lupa Devan memasangkan seatbelt untuk Jia .
“Terimakasih sayang “ cicit Jia membuat Devan tersenyum dan mengangguk .
Devan segera menutup pintu mobil disamping kemudi dan berlari menuju kursi pengemudi .
“Akhirnya pulang juga “ ucap Jia girang setelah Devan masuk kedalam mobil dan menyalakan mobilnya .
“Bocil ngeyel kayak kamu bisa aja bikin orang lain luluh “ desus Devan yang sebenarnya masih kesal saat Jia meminta untuk pulang lebih dulu . Devan masih ingin Jia mendapatkan perawatan yang baik dirumah sakit .
“Aishh kenyamanan orang sakit lebih utama kak , tapi ngomong-ngomong makasi ya sayaang “ ucap Jia lalu mencium pipi Devan singkat .
Devan tersenyum manis pada Jia dan mengangguk .
Devan mulai melajukan mobilnya menuju rumah Jiandra , selama diperjalanan Jia hanya bergumam menyanyikan lagu-lagu yang Devan putar .
“Oh iya yang , Program magangku gimana ? “ tanya Jia tiba-tiba teringat jika dirinya baru saja memulai program magang dikantor Devan
“Haishhh sial sekali , hari pertama udah kek gini “dengus Jiandra
“Kalau bukan karena nenek lampir nyuruh beli kopi dan sandwich pasti gak akan kayak gini nihhh “ gumam Jia namun masih terdengar jelas oleh Devan .
Devan terkejut dan segera membawa mobilnya kebahu jalan , ini yang Devan tunggu-tunggu . Devan memang sengaja tak menanyakan kejadian yang menimpa Jiandra lebih spesifik , ia takut jika Jia mungkin trauma maka dari itu ia akan menunggu sendiri Jia bercerita tentang apa yang terjadi .
Terlebih ada Rendy dan papanya yang akan menelusuri masalah ini lebih dalam .
“Kok ke pinggir kak ? “ tanya Jia bingung
“Nenek lampir ? Kopi ? Sandwich ? itu artinya apa ? coba kamu jelaskan ke aku “ tanya Devan to the point sembari menatap Jia lekat
Jia menelan salivanya , ia merutuki mulutnya yang keceplosan . Sebenarnya ia kasihan dengan Rania jika Devan tau alasan Jia keluar kantor hingga tertabrak adalah untuk membelikan pesanan Rania . Jiandra yakin Devan akan marah besar kepada Rania .
Jiandra segera menggelengkan kepalanya
“Tidak-tidak sayang , aku hanya asal bicara “ elak Jia
Devan menatap Jia tajam , satu alisnya terangkat
“Aku tanya sekarang sama kamu Jia , kamu ngapain keluar kantor saat jam istirahat ? Bukankah kantor sudah menyediakan kantin ? “
“Aku h-hanya ingin membeli minuman diseberang “ ucap Jia gugup membuat Devan menelisik wajah Jia , mencari kebenaran dari apa yang Jia ucapkan .
Melihat wajah Jia yang gugup , Devan yakin Jia sedang berbohong .
“Aku mau kamu jujur sayang , aku ingin mendengar dari kamu sebelum Rendy mengatakan yang sebenarnya . Aku bisa mendapatkan kebenarannya sekarang jika aku menelpon Rendy saat ini . “ ucap Devan segera merogoh ponselnya disaku celana
“Jangan, jangan , jangan . “ ucap Jia menggeleng cepat
Devan mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel disakunya .
“Aku akan cerita padamu , tapi kamu janji jangan marah padanya . Aku tak ingin dicap AJI MUMPUNG “
Devan mengernyitkan keningnya bingung .
“Sebenarnya bu Rania memintaku untuk membelikan ia Kopi dan Sandwich diseberang , ia hanya memberiku waktu 20 menit jika tidak , dia tak akan memberiku jam istirahat . Aku tergesa-gesa ia benar namun aku masih sadar dan berhati-hati saat menyebrang . Namun entah motor itu sepertinya sengaja ingin menabrakku “ ucap Jia dengan perlahan dan menunduk .
“Aku minta kamu jangan memarahi bu Rania . A-aku tak mau dianggap wanita pengadu apalagi dianggap karena memilikimu aku bisa seenaknya “ ucap Jia lalu menatap Devan dengan wajah sendu memohon .
Wajah Devan memerah ia sangat marah dengan penuturan Jia , mengapa bisa Rania karyawan yang pintar dan sangat ia percaya ternyata orang yang tidak baik.
Devan menghela nafasnya panjang , ia membelai rambut Jia dan menyelipkan beberapa helai ke daun telinga Jia .
“Tetap saja aku akan menanyakannya pada Rania , ia harus diberi sanksi atas perbuatannya . Bukan karena kamu tunanganku , tapi ini adalah aturan dimana perusahaan yang aku pimpin tidak diperbolehkan ada Senioritas . Yang dimana para senior boleh memerintah anak Magang . “ ucap Devan
“Sejak dulu , aku melarang keras hal itu . Sejak senior dan anak magang datang ke kantorku , semua statusnya sama . Sama-sama bekerja dan belajar . “ ucap Devan lembut
Jiandra segera menarik Devan kepelukannya , Jia memeluk Devan erat . Terbesit rasa takut datang kepadanya mengingat kejadian kecelakaan yang terjadi padanya . Ia was-was pada dirinya sendiri , Jia merasa ada orang yang ingin menyakitinya .
“Aku mencintaiku kak “ ucap Jia
Devan sebenarnya dalam keadaan yang bingung , sepertinya ada yang Jia sembunyikan . Namun Devan akan menanyakannya perlahan .
“Aku juga mencintaimu Jia , sangat mencintaimu “ ucap Devan lalu melepas pelukan jia dan mencium kening Jia dengan lembut dan dalam . Devan mencurahkan semua rasa cintanya .