
Bryan segera pergi untuk pulang , Bryan memasuki mobilnya
“Hati-hatilah dijalan sayang “
“Baiklah Bry, kau juga hati2 dijalan “
Bryan mengangguk lalu melambaikan tangannya . Mobil Bryan telah berjalan jauh , Jia menatap mobil Bryan yang sudah mulai menghilang .
Keadaan malam ini store Jia telah tutup karena waktu telah menunjukan pukul 10 Malam .
Saat Jia hendak memasuki hendak berjalan memasuki mobilnya tiba-tiba ada segerombolan preman bermotor menghampiri Jia . Jia panik setengah mati lalu bergegas memasuki mobilnya .
Namun preman tersebut terus menggedor kaca mobil Jia .
Jia gemetar didalam mobil
“Apa yang harus gue lakukan “ Jia segera mengambil teleponnya , namun saat hendak menelpon Papa Kendra kaca mobil depan Jia pecah karena preman bergerombol itu melemparkan batu besar ke arah depan mobil
“Arghhhhh “ teriak Jia dari dalam mobil lalu memejamkan matanya . Jia benar-benar takut
Devan yang bereda tak jauh dari mobil Jia tengah membalas email klien . Suara ribut diluar tak didengarnya karena mobilnya tertutup rapat , namun saat mendengar Jia berteriak , Devan langsung mendongakkan kepalanya . Dilihatnya mobil Jia digeromboli preman
“ASTAGA JIAAAAAAA “ teriak devan bergegas berlari menuju mobil Jia
Devan menghajar ke empat preman tersebut .
“SIALANNN “ umpat Devan
Bugh bugh bugh
Devan tak memberikan sedikit celah kepada preman tersebut untuk menghajarnya . Devan yang memang jago berkelahi karena ia pemegang sabuk hitam jadi uruan preman dibantai habis olehnya .
Ke-4 preman tersebut babak belur dan tak berdaya , darah bercucuran . Ke-4 preman tersebut Devan letakkan dipinggir jalan . Segera Devan menelpon Polisi.
Setelah menelpon polisi Devan berdalih mengetuk kaca mobil Jia .
Jia mendongakkan kepalanya , dilihatnya Devan tersenyum padanya . Jia langsung membuka pintu mobilnya lalu memeluk Devan erat
“Hikss hiksss , kak Devannn hiksss a-a-aku takutttt “ Jia menangis sesegukan dipelukan Devan .
“Sudah jangan takut , ada aku disini , lihat ke-4 bajingan itu sudah tak berdaya , sebentar lagi polisi akan datang “
Devan menepuk-nepuk punggung Jia pelan sembari mengelus rambut Jia
“Terimakasih kak “
“Sama-sama Bia “ Devan tersenyum meski hatinya sangat sakit melihat Jia yang ketakutan seperti ini
Devan menghela nafasnya panjang
“Bagaimana jika aku tidak menguntitnya ? Bia pasti dalam bahaya “ batin Devan
Polisi mulai berdatangan .
“Bia , polisi mulai datang, kamu masuklah ke mobil kakak, mobilmu akan dijadikan bukti sementara , untuk itu kakak antar kamu pulang ya ? “
Jia mengangguk ..
Devan merangkul jia untuk masuk kedalam mobilnya . Setelah dirasa aman , Devan langsung menuju ke arah polisi .
Devan berbincang serius dengan sang polisi . Jia memperhatikan Devan dari dalam mobil Devan
“Terimakasih banyak kak , aku tak tau apa jadinya aku jika kau tak ada “ gumamnya lalu air matanya menetes kembali
Ke-4 preman tersebut dibawa oleh polisi dan akan diproses hukum . Polisi juga sudah memfoto mobil Jia untuk dijadikan bukti .
Devan segera menyusul Jia memasuki mobil
“Kau baik-baik saja kan? Mobilmu akan anak buah bawakan ke tempat service ya ? “
“Tak usah kak biar aku saja yang service nanti “
“Tak apa , tempat langganan kakak jago menservice mobil “ alasan Devan .
“Baiklah terimakasih banyak kak, aku berhutang banyak padamu hikss, terimakasih banyak kak , hikss hikss “ Jia kembali menangis
Devan segera menghapus air mata Jia ,
“Sudahlah berhenti menangis , kakak antar kamu pulang ya “
Devan melajukan mobilnya menuju rumah Jia . Selama perjalanan mereka Jia dan Devan hening tak saling bicara .