Oh My Man

Oh My Man
Persiapan Kondangan


2 Hari berlalu , hari ini adalah hari dimana Jia akan melaksanakan ujian semesternya. Bertepatan dengan itu ia juga akan memenuhi undangan pernikahan Dara dan Bryan malam nanti .


Tya dan Jia baru saja menyelesaikan ujian mereka, sembari menunggu jemputan dari Devan karena mereka akan pergi untuk memilih gaun Jia dan Tya memilih untuk berbincang di Kantin kampusnya .


“Gimana ujian lu lancar ? “ tanya Jia sembari menyedot Es jeruk yang ia pesan


Tya mengangguk sembari memakan bakso pedas kesukaannya .


“Sepertinya Dara dan Bryan tidak hadir “ ucap Jia


Tya mengambil tissue dan mengelap dahinya yang bercucuran keringat akibat kepedasan dan mengibas-ibaskan tangannya .


“Gak mungkin lah mereka datang , sibuk mereka menyiapkan acara nikahan “ ucap Tya sembari menahan pedasnya bakso


Jia hanya terkekeh geli melihat Tya .


“Lu tuangin sambel berapa sendok ? “ tanya Jia


“Gak ngitung gue, pusing gue sama ujian belum lagi pusing mikirin sahabat gue hamidun mendadak “ ucapnya Ceplas-ceplos


“Husss mulutlu tuh “ ucap Jia


Tya menghiraukan Jia , ia fokus dengan baksonya membuat Jia tersenyum geli .


Dering ponsel Jia berbunyi, sepertinya yang ditunggu-tunggu sudah sampai .


“Hallo Sayang “ sapa pria diseberang sana


“Iya sayang “ ucap Jia berbinar membuat Tya menoleh


“Uwekkk “ Tya berekspresi seakan ingin muntah membuat Jia menatap Tya tajam


“Aku sudah sampai didepan kampus , kamu keluar ya .. Aku nunggu didepan “


Jia mengerutkan keningnya “Mengapa tak masuk kedalam saja “ batinnya


“Baiklah aku keluar sekarang “ ucap Jia lalu mematikan ponselnya


Ia bergegas hendak pergi


“Tya , gue duluan ya udah dijemput Kak Devan mau cari Gaun pakai nanti malam “


“Sialan lu , ya udah hati-hati gue mau lanjut makan “ ucapnya masih mengaduk-adukan kuah baksonya


“Mau ikut gak lu ? Udah ada gaun ? “ tanya Jia memastikan Tya


“Ogah gue jadi obat nyamuk kalian . Udah pergi aja lu sana , gue udah ada “ ucap Tya mengunyah baksonya


Jia terkekeh melihat ekspresi Tya yang kepedasan , namun apa boleh buat bakso pedas adalah makanan kesukaan Tya . Tya seakan lupa dunia jika sudah berperang dengan bakso pedas


“Yayyaa , gue pergi .. Hati-hati lu pulang nanti “ ucap Jia


Tya hanya melambaikan tangannya , namun mata dan tangannya fokus kepada bihun pada baksonya .


Jia berlari kecil menuju tempat yang Devan katakan . Ketika sudah sampai di gerbang kampus , matanya menyapu kanan dan kiri


“Mana mobil kak Devan “ gumamnya


Pasalnya pagi tadi Devan mengantarkannya ke kampus menggunakan mobil sedannya .


Lalu Jia melihat mobil Alphard hitam , sudah jelas terlihat jika itu adalah mobil papa Mahes karena plat mobilnya “ B 4 MHS “


Melihat itu Jia segera berlari menuju mobil mewah itu , melihat dikaca mobil memastikan apakah ini benar mobil papa Mahes


Devan yang melihat Jia clingak-clinguk kebingungan di luar mobil hanya tersenyum geli . Devan segera membuka kaca mobilnya


“Cari apaa ? “ ucap Devan lembut


Jia terkejut “ Astaga yanggg “ ucap Jiaa merenggut kesal


“Hahaha , ayuk masuk “ ucap Devan


Jia segera membuka pintu mobil itu dan duduk disamping Devan


“Aku bingung nyariin ih , kenapa gak masuk aja sih ? Ini juga mobilnya beda bikin aku tambah bingung “ kesal Jia membuat Devan tertawa


“Hahaha maaf ya sayang “ ucap Devan lalu meraih tangan Jia dan menciumnya ..


“Papa mendadak datang ke kantor bersama mama untuk mengecek keadaan kantor . Tiba-tiba mereka ingin berkencan jadi Papa menukarkan mobil” ucap Devan menjelaskan .


“Kenapa ? “ tanya Devan bingung dengan ekspresi Jia yang tiba-tiba tertawa pelan


“Aku hanya membayangkan papa dan mama berkencan “ ucap Jia nyengir


Devan menyentil pelan hidung Jia


“Nakal “ ucap Devan


“Maaf juga bikin kamu jalan jauh , aku sengaja tidak memasuki area kampus . Kalau masuk pasti akan heboh , aku sedang malas untuk berbincang dengan penjilat “ ucap Devan


Jia menganggukan kepalanya , mengerti maksud dari Devan . Sebagai pemilik saham terbesar di Universitasnya , tentu saja banyak orang hendak mencari muka terhadap Devan .


“Kalau mereka tau aku berpacaran denganmu , mungkin saja aku akan memiliki banyak haters “ ucap Jia tertawa


Devan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis .


Mobil yang disopiri-sopir papa Mahes sudah berlaju sedang , menuju butik langganan Mama Devya . Sebelumnya Devan memberi tau mama Devya jika ia dan Jia hendak pergi keacara pernikahan teman Jia dan Mama Devya memberi usul untuk mengajak Jia pergi membeli gaun di tempat langganannya . Tak lupa mama Devya memberi tau sang sopir untuk mengantar Jia dan Devan ke Butik tersebut .


“Ujian tadi gimana ? “ ucap Devan disela-sela keheningan mereka


“Lancar hehe “ kekeh Jia


“Baguslah “ ucap Devan lalu mengacak-acak lembut rambut Jia .


20 Menit membelah jalanan macet ibu kota , panas mentari dan polusi menjadi satu . Untung saja mereka ada didalam keademan AC mobil jadi tak merasakan panas. Mereka telah sampai di Butik langganan mama Devyan .


Kebetulan sekali pemilik butik tersebut sudah mengenal Devan , dan sebelumnya juga mama Devya sudah menghubungi sang pemilik butik jika anak dan menantunya akan datang untuk mencari gaun kondangan . Mama Devya mengatur semuanya dengan baik demi sang menantu tercinta ..


“Silahkan nak Devan dan nona Jia “ ucap sang pemilik butik


Jia terkejut sang pemilik butik mengetahui namanya .


“Devya telah menghubungiku jika anaknya dan menantunya Jia akan datang untuk mencari gaun “ kekeh sang pemilik butik melihat ekspresi Jia


“Oh , seperti itu , terimakasih bu “ ucap Jia sopan membungkukan badannya


“Sama-sama , silahkan kamu pilih dulu ya “ ucap samg pemilik butik lalu meninggalkan Jia dan Devan.


Devan memilih untuk duduk disofa yang tersedia, matanya menatap lekat jia yang kesana kemari mencari gaun yang cocok untuknya . Devan mengambil ponsel di sakunya lalu mengambil beberapa foto Jia yang kebingungan .


“Lucu banget sih “ ucap Devan terkekeh geli melihat gambar yang telah ia bidik .


Karena matanya terlalu fokus pada ponselnya ia tak tau jika Jia telah hilang dari pandangannya .


Devan menyapi seluruh ruangan namun Jia tak ditemukan .


Ia panik dan bergegas berdiri berjalan kesana kemari mencari keberadaan Jia .


“Jiaa “ panggil Devan yang kebingungan


Devan sangat panik ..


Tiba-tiba seorang wanita baru saja keluar dari ruangan untuk mencoba baju


Wanita itu mengerutkan keningnya melihat Devan yang berjalan kesana kemari .


“Kak Devan “ ucap Jia


Devan segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara . Yah , jia baru saja mencoba gaun terlihat ditangannya telah ada gaun biru yang ia pegang


“Jiaa “ Devan segera berlari kearah Jia


“Kenapa sih ka? “ tanya Jia bingung


“Aku panik , aku kira kamu menghilang “ ucap Devan dengan wajah khawatirnya membuat Jia tertawa terbahak-bahak


“Hahahhaa , kakak ada-ada saja ihh . Aku lagi coba gaunn nihh “ tunjuk Jia kepada gaunnya .


Devan sangat malu , ia hanya nyengir mendengar penjelasan Jia .


“Kamu coba gaun kok gak kasi tau aku ? Aku kan pingin lihat gimana bajunya “ Devan merajuk


“Kejutann “ ucap Jia tersenyum manis kepadanya


Devan dan Jia pun segera membayar gaun yang telah Jia pilih . Gaun itu dibayar oleh Devan , meski Jia menolak keras namun Devan dengan kerasnya juga memaksa Jia agar Jia mau dibelikan gaun . Jia akhirnya pasrah dari pada terjadi keributan adu mulut antara dirinya dan Devan di butik itu ..


Devan dan Jia pun kembali hendak pulang .. Devan mengantarkan Jia sebelumnya kerumah lalu berbelok ke rumahnya untuk beristirahat sebelum pergi kondangan malam nanti …