
4 hari kemudian
Rumah sakit Dokter Sya dipenuhi dengan begitu banyak anak buah dari Bryan yang menyamar menjadi pekerja ataupun orang menjenguk di rumah sakit. entah berapa banyak, tapi Firdaus sudah mengatakan kepada ada Aisyah dan Kikan untuk selalu berhati-hati jika mereka melakukan sesuatu.
Hari ini Kikan dan Aisyah berada di kantin Rumah sakit, Aisyah sudah berpamitan kepada Bryan untuk ke kantin karena dia sangat lapar. bahkan di kantin pun terlihat salah satu anak buah Brian juga mengikutinya.
"Wanita itu berada di kantin Bos," lapor salah satu anak buah Brian.
"Baiklah kalau begitu, tinggalkan dia karena dari tadi dia terus merawatku." ucap Brian yang memerintahkan anak buahnya meninggalkan Aisyah dan Kikan agar tidak diketahui oleh kedua wanita itu.
"Kelihatannya Mereka sudah pergi, Mbak." ucap Aisyah kepada Kikan.
"Aku sampai kesal, kesal, kesal karena begitu banyak anak buah pria Brengsek itu di rumah sakit ini." ucap Kikan yang menahan kesalnya.
"Kita harus bertahan selama mungkin Mbak, dan kita juga harus menahan pria itu di rumah sakit ini selama mungkin. apalagi Dokter penghianat itu juga mengatakan kalau Brian harus berada di rumah sakit ini selama 3 bulan, dengan begitu Itu aku yakin Papa Syah sudah mendapatkan donor untuk suamiku dan dia akan sembuh." ucap Aisyah dengan sangat yakin.
"Kalau tidak demi Mahfud dan dirimu bakal aku telepon para polisi untuk mengeroyok pria itu.' jawab Kokan.
"Kalau mbak melakukan hal itu, maka pria itu dan Jonathan akan mengetahui keberadaan suamiku." ucap Aisyah sambil menundukkan kepalanya.
"Tenanglah, Mbak akan berusaha menahan emosi Ini sekuat mungkin. tapi kalau suamimu itu sudah sembuh bakal ku buat pria itu babak belur seperti nasi goreng." jawab Kikan dengan begitu lantangnya.
"Kau pergilah ke toilet dan teleponlah suamimu, karena aku yakin dia sangat mengkhawatirkanmu." ucap Kikan kepada Aisyah.
"Mbak benar, karena sudah dua hari Papa membawa suamiku pergi dari rumah sakit ini." ucap Aisyah yang kemudian pergi ke toilet. terlihat wanita itu memakai earphone untuk berbicara dengan sang suami.
"Halo, assalamualaikum." ucap Aisyah kepada sang suami. terlihat Papa Syah yang mengangkat ponsel tersebut.
"Waalaikumsalam, Ada apa Aisyah?" tanya papa Syah kepada Aisyah.
"Apakah kau mau menelpon suamimu?" tanya Papa Syah.
"Iya Pa." jawab Aisyah.
"Sebentar akan ku panggilkan dia, karena dia baru diberikan pengobatan kau harus berdoa karena suamimu telah mendapatkan donor jantung itu." ucap Papa Syah.
Aisyah ingin berjingkrak dan berteriak dengan sekeras mungkin. namun hari ini Aisyah harus menahan semua kebahagiaan itu, karena wanita itu tidak ingin ketahuan oleh Brian dan yang lain.
"Hai Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Mahfud kepada sang istri.
"Keadaanku baik Mas." jawab Aisyah.
"Maafkan mas ya, jika Mas membuatmu dalam kondisi seperti ini." ucap Mahfud.
"Mas tidak boleh menyerah, Mas harus secepatnya pulih agar bisa kembali bersama denganku." jawab Aisyah.
"Tentu saja Mas akan berjuang, dua hari lagi Mas akan melakukan operasi pencangkokan jantung. Mas harap kau berdoa untuk mas agar Mas cepat mendapatkan kesembuhan." pinta Mahfud di seberang tempat yang jauh.
Pria itu meneteskan air matanya, karena harus merelakan sang istri berada dekat dengan saudara kembarnya. ingin sekali Mahfud melindungi istrinya, apalah daya keadaannya yang begitu lemah membuat Mahfud tidak bisa melakukan apapun.
"Tenang lah Mas, Mas harus menjaga diri Mas baik-baik. jangan sampai Mas berpikir yang aneh-aneh, karena di sini ada Mas Firdaus dan mbak Kikan yang selalu menjagaku." Aisyah berusaha untuk menenangkan sang suami agar tidak terlalu memikirkannya. karena dia ingin suaminya cepat sembuh dari segala kondisi yang begitu menakutkan.
"Jaga dirimu baik-baik istriku, jangan sampai pria Brengsek itu menyentuhmu atau melakukan sesuatu padamu." ucap Mahfud yang selalu meminta Aisyah untuk menjaga dirinya.
Karena yang terlihat pria itu takut kalau sang suami mengalami sesuatu hingga membuat Dia kehilangan sang istri.
"Aisyah harus kembali ya mas, karena aku takut pria itu akan curiga kepadaku." ucap Aisyah kepada sang Suami.
"Kau harus jaga diri baik-baik, Sayang." pinta Mahfud kepada sang isteri
"Aku akan selalu bersama Mbak Kikan dan mas Firdaus, mas. karena itu percayalah pada kesetiaanku padamu." ucap Aisyah yang kemudian menghela nafasnya secara kasar.
"Tapi mas ingin bersama denganmu." ucap Mahfud.
"Mas harus percaya sama istri Mas ini, karena kita akan berjuang bersama walaupun kita tidak dalam satu tempat." jawab Aisyah yang membuat Mahfud menghela nafasnya.
"Aku begitu mencintaimu, hingga Aku kehilangan separuh jiwaku saat meninggalkanmu." ucap Mahfud.
"Aisyah, sebaiknya kau biarkan suamimu beristirahat karena dua hari lagi Dia harus melakukan pencangkokan." Dokter Syah telah mengambil ponsel yang di di tangan Mahfud.
Karena terlihat pria itu sedikit ketakutan setelah mendengar kabar mengenai Aisyah.
"Aku minta Papa berikan sama suamiku, karena aku ingin mengatakan sesuatu." pinta Aisyah.
"Dengarkan aku suamiku, cintaku akan selalu bersamamu dan aku akan selalu memberikan jiwa ragaku ini hanya untukmu. Kau harus segera pulih dan bersama dengan Ku." ucap Aisyah yang kemudian mematikan ponselnya. wanita itu meneteskan air matanya, begitu berat ketika dia harus berpisah dengan sang suami.
** bersambung **