MENIKAHI PAMAN MANTAN SUAMIKU

MENIKAHI PAMAN MANTAN SUAMIKU
Melamar seorang gadis untuk Iqbal


"Aisyah, kamu membuat kue banyak tidak?" tanya Dokter Syah kepada Aisyah.


"Tentu saja akan membuat banyak Pa, memangnya ada apa?" tanya Aisyah.


"Papa mau kau menyisihkan beberapa kue ya." pinta Dokter Syah.


"Tadi Aisyah sama anak-anak membuat kue banyak banget lho Pa." jawab Aisyah.


"Papa nanti minta brownies coklat, kue sus, lapis legit, sama bika ambon Ya." pintar Dokter Syah kepada Aisyah.


"Tenang saja Pa, nanti Aisyah bungkusin yang banyak." jawab Aisyah.


"Papa kalo kesini mintanya dibungkusin kue sebanyak itu, aku kan juga mau Pa. masa semuanya di borong sama Papa!" seru Kikan yang membuat Dokter Syah nampak mencibir menantunya itu.


"Kamu ini Kikan, selalu saja bertengkar sama Papa. apa kamu tidak bisa membuat kue sendiri, sebagai menantu yang pengertian seharusnya Kamu yang membuatkan Papa makanan. malah kamu kalau diminta membuatkan Papa makanan jawabnya selalu tidak ada waktu, tidak ada waktu." jawab Dokter Syah yang membuat Kikan langsung meninggalkan mertuanya itu.


"Tenang aja kek, kalau Emilia sama Syahila libur sekolah kami berdua bakal ke rumah Kakek dan membuatkan Kakek beberapa makanan yang akan membuat Kakek senang." ucap Emilia dan Syahila.


"Benarkah? nginep aja di rumah Kakek, lalu kita membuat barbeque sama makan-makan di rumah kakek." pinta Dokter Syah Kepada Emilia dan Syahila.


"Boleh Kek, kalau hari Sabtu kami berdua akan menginap di rumah kakek Bagaimana?!" seru Emilia.


"Tentu tentu kakek bakal meminta para pembantu membeli makanan dan bahan-bahan pokok lainnya gimana?" tanya Dokter Syah.


"Setuju!" jawab Syahila yang membuat ketiga orang itu saling tos. Aisyah menggelengkan kepalanya, bagaimanapun juga Dokter Syah walaupun bukan Ayah kandung nya. tapi dia adalah Papa angkatnya.


"Oh ya Aisyah, jangan lupa kuenya tadi lo.. dibungkus, dimasukin kotak makanan setelah kita melamar gadis itu. Nanti Papa bawa pulang lho!" seru Dokter Syah yang membuat Kikan terlihat sedikit cemburu karena dirinya tidak mendapatkan kue yang dibuat oleh Aisyah.


Sekitar 15 menit kemudian terlihat Jonathan sudah datang bersama anak serta istrinya.


"Lho..dimana pengantinnya, kok tidak ada?" tanya Aisyah.


"Dia masih pakai bedak biar nggak kelihatan kalau dia itu jelek." jawab Jonathan.


"Kok gitu sih Mas." jawab Aisyah.


"Ya jelaslah..muka kan benyok beberapa minggu yang lalu kan masih nampak sedikit-sedikit tahu." jawab Jonathan. tak berselang lama ternyata Iqbal sudah datang dengan memakai setelan kemeja.


"Bagaimana cocok tidak?" tanya Iqbal kepada orang-orang yang di sana.


"Terima kasih Kakek Dokter." jawab Iqbal.


"Oh ya paman, Kenapa Paman tidak memakai pakaian formal, kenapa malah pakai kaos?" tanya Iqbal.


"pamanmu itu kalau dikasih tahu telinganya nggak nempel Iqbal, telinganya tadi itu ketinggalan di mesin ATM. matanya jelalatan melihat seorang wanita cantik yang bodinya begitu bahenol, bahkan bagian dadanya sangat menonjol." jawab Lia yang membuat Jonathan melirik istrinya.


"Apaan sih sayang.." ucap Jonathan.


"Gitu kan Mas.." jawab Lia yang membuat muka Jonathan langsung bersemu merah.


"Kok kayak gitu lho Mas Nathan.." ucap Aisyah yang menyindir Jonathan.


Tentu saja Jonathan yang mendapat sindiran seperti itu dari Aisyah, seketika dia langsung terdiam. berbeda dengan Jonathan yang memakai pakaian kasual bukan pakaian formal.


Mahfud turun dengan memakai pakaian formal, memakai kemeja dan celana formal yang membuat dirinya terlihat tampan.


"Bagaimana, Apakah kita sudah langsung berangkat?" tanya Mahfud kepada yang lain.


"Tentu saja, sebaiknya kita segera berangkat karena hari ini aku mau mengambil kue sisa dari lamaran ini." ucap Dokter Syah yang memanas-manasi menantunya. memang terkadang Dokter Syah sering berbeda pendapat dengan Kikan.


"Apaan sih Papa, selalu menjengkelkan deh.." jawab Kikan yang kemudian berlalu pergi meninggalkan mertuanya. Firdaus yang melihat hal itu, dia hanya nampak menghela nafasnya secara kasar.


Entah berapa waktu perjalanan yang dibutuhkan, karena kecamatan kota Jakarta hal itu membuat orang-orang yang berada di beberapa mobil itu nampak saling mendumel satu sama lain karena kemacetan kota Jakarta yang begitu luar biasa. apalagi terik matahari sudah mulai menyinari.


Sekitar 30 menit kemudian akhirnya mereka sudah sampai disebuah pondok pesantren. sebuah pondok pesantren yang bisa dibilang lumayan besar.


"Apakah di sini tempatnya Iqbal?" tanya Mahfud .Iqbal menganggukkan kepalanya.


Sesaat kemudian salah satu murid pesantren mendatangi para tamu.


"Ada yang bisa saya bantu, Anda ingin bertemu Siapa? tanya murid pesantren.


"Kami ingin bertemu dengan Pak kyai Amin." jawab Iqbal.


"Mari, silakan." jawab murid pesantren yang masih mengenal Iqbal sebagai salah satu ustad yang ada di sana.


** bersambung **