
Bug..
"Ada apa Paman?!" seru Syahila, Emilia dan Raditya.
"Ini wanita tadi lari dari mana lo non, kok tiba-tiba sudah menabrak mobil kita!!" seru Bimo.
"Kok bisa begitu sih Paman?" tanya Syahila.
"Non kan sendiri tahu, kalau dari tadi tidak ada ada orang bahkan ini bukan lampu merah loh non.
"Jangan-jangan wanita ini mau bunuh diri Paman." ucap Emilia yang membuat Bimo, Syahila dan Raditya saling menatap satu sama lain.
"Bunuh diri itu apaan sih kak?" tanya Raditya.
"Udah anak kecil jangan banyak tanya." jawab Emilia yang membuat Raditya langsung menatap saudaranya itu.
"Lalu bagai mana sekarang non?" tanya Bimo.
"Sekarang Paman turun lalu kita angkat wanita ini, kita masukkan ke mobil." ucap Syahila yang kemudian mengajak Emilia dan Bimo untuk keluar melihat wanita yang tadi sengaja menabrakkan dirinya di mobil mereka.
Tatapan mata Syahila menatap wanita tersebut. tidak ada luka memar atau apapun.
"Aku yakin wanita ini sengaja menabrakkan dirinya ke mobil kami." ucap Syahila dalam hati sambil menatap wanita tersebut.
"Kita hanya menonton saja atau membawa wanita ini masuk ke dalam mobil?" tanya Emilia.
"Tentu saja kita akan membawanya ke rumah." jawab Syahila.
Akhirnya sore itu itu Saya memutuskan untuk membawa wanita itu.
Tatapan mata Aisyah menatap wanita yang tadi dikatakan oleh Syahila dan Emilia.
"Mengapa harus dibawa pulang ke rumah Sayang, kenapa kalian tidak ke rumah sakit saja?" tanya Aisyah.
"kami sudah kebingungan Ma." jawab Emilia.
Berapa lama kemudian ternyata wanita itu membuka matanya, tatapan matanya menatap sebuah rumah yang begitu besar.
"Ini rumah gede banget." ucap wanita itu dalam hati.
"Kau sudah bangun?" tanya Aisyah. si wanita menganggukkan kepalanya.
"Siapa namamu?" tanya Aisyah.
"Nama saya Sarmi." jawab wanita tersebut.
"Saya tidak bermaksud menabrakkan diri saya Nyonya, tadi saya sangat kebingungan Saya tidak melihat kalau ada mobil anak-anak Nyonya." jawab Sarmi.
"Lalu di mana rumahmu?" tanya Aisyah. wanita itu Diam tanpa menjawab pertanyaan Aisyah.
"Aku tanya sekali lagi di mana rumahmu?" tanya Aisyah.
"Rumah saya berada di kampung yang sangat jauh Nyonya." jawab Sarmi. tatapan mata Syahila seperti tidak mempercayai kata-kata wanita itu.
"Kelihatannya wanita itu adalah wanita yang tidak bisa dipercaya." dengan segera Syahila mendekati wanita itu.
"Mama, sebaiknya Mama kasih uang saja setelah itu biarkan dia pergi dari sini!" seru Syahila.
"Jangan mengusir saya Nyonya, Saya tidak punya rumah untuk saya tinggal. saya di punya tempat untuk bernaung." ucap Sarmi.
"Mengapa kami harus memberikan mu tumpangan, Tapi maafkan aku di rumah aku ini sudah begitu banyak pembantu tidak mungkin bagi saya untuk menerimamu bekerja di rumah ini." ucap Aisyah dengan begitu tegas.
Tak berselang lama akhirnya Mahfud mendekati istrinya yang sedang berbicara dengan seorang wanita.
"Assalamualaikum!" seru Mahfud.
"Waalaikumsalam Sayang.." jawab Aisyah
Mahfud mendekati istrinya.
"Siapa wanita ini Sayang?" tanya Mahfud.
Tatapan mata Sarmi menatap seorang pria tampan yang mendekati wanita yang sedang berbicara dengannya.
"Wanita ini tadi menabrakkan dirinya di mobil anak-anak, setelah itu dia meminta untuk tinggal di rumah kita." ucap Aisyah.
"Dirumahkan pembantu sudah banyak sayang, kita tidak akan membutuhkan pembantu lagi kan.." ucap Mahfud.
"Tentu saja Sayang, Apalagi kau tahu sendiri kan kalau di rumah juga tidak terlalu banyak pekerjaan. jika kita memperkerjakan seseorang lagi namanya apa yang mau dia kerjakan." ucap Mahfud. dengan segera Sarmi langsung berakting untuk bersimpuh di hadapan pria tampan yang telah dia tatap itu.
"Kasihanilah aku Tuan, kasihanilah aku.. Aku tidak punya pekerjaan, aku merantau dari tempat yang sangat jauh.." ucap Sarmi.
"Oh ya sayang Bukankah di rumah sakit membutuhkan pekerja, kenapa kita tidak mempekerjakannya menjadi di office girl di rumah sakit aja." ucap Aisyah.
"Itu terserah padamu Sayang." jawab Mahfud yang kemudian mengecup kening istrinya dan anak-anaknya lalu masuk ke dalam kamarnya. tatapan mata sambil menatap Mahfud yang telah meninggalkan ruangan itu, Sedangkan Syahila terlihat Gadis itu begitu geram saat melihat wanita itu terus memperhatikan ayahnya dari tadi.
** bersambung **