
Hidup terasa bagaikan sebuah misteri, sebuah misteri yang terkadang tidak bisa dipecahkan. bahkan jalan keluarnya pun begitu rumit itu bagaikan kehidupan yang dijalani oleh Aisyah dan Mahfud.
"Begitu banyak orang yang selalu ingin memisahkan mereka, orang yang tidak menyukai Mereka pun begitu banyak. entah apa yang membuat mereka tidak menyukai pasangan itu, yang jelas sebuah kata iri adalah garis besar dari semua rasa itu.
"Cie.. cie.. cie.. yang udah belah duren kemarin malam...." canda Kikan kepada Aisyah.
"Apaan sih Kak." jawab Aisyah sambil tersipu malu.
"Kata Mahfud 3 hari yang lalu kalian udah belah duren, maka dari itu 2 hari ini kau tidak masuk kerja." sindir Kikan kepada Aisyah.
Tentu saja wajah Aisyah langsung memerah, karena benar suaminya itu membuat Aisyah sedikit merasakan sakit selama 2 hari ini. karena mereka terus melakukan pertempuran tanpa henti.
"Kalau kau tidak habis belah duren, ngapain juga kau sakit?" tanya Kikan kepada Aisyah.
"Nggak gitu mbak, Lagian kemarin kan aku nggak enak badan. cuma itu aja kok.." jawab Aisyah dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.
"Tuh kan, ketahuan bohongnya." jawab Kikan yang membuat Aisyah menatap Kikan.
"Mbak Kikan ini deh... Nggak ada waktu kalau nggak selalu ngegoda aku, memangnya mbak Kikan nggak pernah ngerasain itu." jawab Aisyah yang membuat Kikan langsung menghentikan tawanya dan menatap Aisyah.
"Marah ya?" tanya Kikan.
Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Pasti." jawab Kikan.
"Udah deh, Mbak. Lagian hari ini Mas Firdaus sama Mas Mahfud mau ada acara rapat di rumah sakit." ucap Aisyah.
"Kok suamiku nggak bilang?" tanya Kikan kepada Aisyah.
"Ya salahin Mas Firdaus, kok tanya sama aku." ucap Aisyah yang membuat Kikan langsung menatap wajah wanita itu.
"Tau nggak gimana kabar Shamila?" tanya Kikan kepada Aisyah.
"Ngapain juga tanya-tanya mengenai wanita itu." jawab Aisyah.
"Kita kepoin aja." jawab Kikan yang kemudian mengajak Aisyah keruangan Shamila. Karena Wanita itu sudah dipindahkan ke sebuah ruangan khusus untuk pasien ketergantungan obat terlarang, juga para dokter pria tidak ada yang berani untuk merawat Shamila. Karena Wanita itu benar-benar sangat berbahaya.
"Kamu tahu kabar sesuatu nggak?" tanya Kikan.
"Memangnya apa?" jawab Aisyah yang tiba-tiba ikut kepo.
"Benarkah?" tanya Aisyah yang sudah ketularan kepo seperti Kikan.
"Tentu saja, Bahkan katanya perawat pria itu hampir diperkosa lo sama Shamila." ucap Kikan dengan menunjukkan ekspresi tiada batas.
"Lalu?" tanya Aisyah.
"Tentu saja para dokter wanita langsung menyuntikkan obat tidur kepada wanita itu. kalau tidak, rumah sakit ini bisa hancur karena berita wanita jahat itu." jawab Kikan dengan wajah yang bisa dikatakan bagaikan reporter dan artis yang sedang berakting.
"Mbak Kikan benar-benar hebat, cocok banget deh jadi artis." ucap Aisyah yang membuat chicken langsung menatap wajah wanita itu.
"Kok gitu?" tanya Kikan.
"Lihat saja Mbak Kikan memperagakan semua yang dilakukan oleh wanita itu, seolah Mbak Kikan itu penjahat dan korbannya." jawab Aisyah Sambil tertawa.
"Sudah-sudah, Lagian aku ini mau mengajakmu ke sana kalau dia mau macam-macam bakal kupukul dia sampai babak belur." terlihat Kikan benar-benar menaruh dendam kesumat kepada Shamila.
"Kelihatannya Mbak dendam banget deh?" tanya Aisyah.
"Gimana nggak dendam, kamu kemarin nggak dengar berita apa apa beberapa hari yang lalu sebelum kamu uwik uwik. wanita itu mencoba memperkosa suamiku, suamimu dan dokter Jodi, tahu!" seru Kikan kepada Aisyah. terlihat Wanita itu sudah menghubungi Ibu seperti seorang jagal.
"Masa bener Mbak?!" seru Aisyah yang begitu terkejut dengan kata-kata Kikan.
"Maka dari itu jangan santai-santai saja, mulai dari saat ini kamu harus mengawasi suamimu itu. kalau tidak, begitu banyak wanita cantik dan dokter cantik di tempat ini!" seru Kikan yang memprovokasi Aisyah. wanita itu benar-benar bisa menjadi racun yang sangat berbahaya.
"Mbak Kikan itu sedang memberi tahu atau memprovokasi?" tanya Aisyah kepada Kikan.
"Keduanya, tahu." jawab Kikan yang membuat Aisyah tersenyum. Tak lama kemudian wanita itu langsung menarik tubuh Aisyah menuju tempat keberadaan Shamila. terlihat disana Shamila di kurung seperti seorang penjahat, Bagaimana tidak.. saat Shamila melihat bayangan seorang pria, tiba-tiba wanita itu langsung liar dan dan seketika menjamah tubuh Para pria yang ada di rumah sakit.
Kalau pria-nya pria sama-sama mempunyai kelainan sih, oke-oke aja. tapi kalau prianya pria baik-baik saja mereka semua pada kabur tanpa ada yang kembali.
"Memang benar-benar cocok deh ubur-ubur tua itu sama nenek peot ini. pasti mereka akan menjadi pasangan Pak sundel dan Buk sundel." ucap kikan yang terus menggerutu. terlihat sekali kalau Kikan benar-benar seperti seorang komedian.
"Lihat deh, wajahnya benar-benar sangat menjengkelkan bahkan dia benar-benar seorang hiperseksual, tangannya seperti itu loh..loh..Lihatlah dia meraba dirinya sendiri sambil menghayal." gerutu Kikan sambil menatap perlakuan Shamila yang ada di ruangannya.
"Pulang yuk, Mbak. ngapain juga kita ke sana." ucap Aisyah.
"Diam aja, aku mau menemui wanita itu.. enak aja!" seru Kikan yang kemudian memasuki ruangan Shamila.
** bersambung **