
Sedangkan Lia, wanita itu harus kebingungan untuk mengelola bisnis suaminya juga merawat anaknya. tentu saja dengan senang hati Dokter Syah menerima anak-anak Jonathan berada di rumahnya.
Kehidupan Aisyah dan Kikan sekarang menjadi seperti drama dalam televisi. Bagaimana tidak, mereka harus terus berakting di hadapan orang-orang yang menjadi musuh Mahfud, bahkan di depan Husein pun mereka harus berpura-pura tidak mengetahui kalau Mahfud masih hidup.
Husein adalah pria yang sangat jeli, namun saat berada bersama dengan Aisyah pria itu akan menjadi pria yang sangat bodoh. dirinya tidak mengetahui kalau Aisyah dan yang lain sudah mulai curiga padanya.
Pagi ini Aisyah sengaja makan bersama dengan Husein dan Kikan di kantin rumah sakit. setelah hilangnya Mahfud Husen selalu berada di rumah sakit seperti seorang pria yang tidak mempunyai pekerjaan sama sekali.
"Kau makan apa?" tanya Husein kepada Aisyah.
"Aku tadi sudah memesan makanan." jawab Aisyah.
"Kamu pesan apa tanya Husein.
"Aku pesan nasi campur." jawab Aisyah.
"Kau pesan apa Kikan?" tanya Husein.
"Sama." jawab Kikan yang sedikit tidak ikhlas Saat ditanya oleh pria itu.
"Baiklah kalau begitu, aku juga makan nasi campur saja." terlihat Husein sudah memesan beberapa makanan. bahkan pria itu memesan ikan rendang dan sambal terasi kesukaan Aisyah. Kelihatannya tidak cocok banget ya, masa ada rendang tapi ada sambal terasi. Ya udah pokoknya seperti itu.
"Kau minum apa, Aisyah?" tanya Hussein kembali.
"Nih orang ingin ku timpuk wajahnya dengan nampan ini." guman Kikan dalam hati saat melihat Husein terus-menerus mencoba mendekati Aisyah.
"Aku minum es teh, Mas." jawab Aisyah.
"Kau?" tanya Husein yang belum sempat berbicara langsung dipotong oleh Kikan.
"Tidak usah tanya padaku, aku minum es jeruk." jawab Kikan dengan nadanya yang seperti biasa sangat ketus kepada orang yang tidak dia sukai.
"Baiklah kalau begitu aku Aku pesan es campur aja deh, biar tidak dikatakan ngikut terus." ucap Husen sambil melihat menu makanan yang ada di meja tersebut.
"Oh ya, kalian nanti pulang jam berapa?" tanya Husein.
"Kami nanti lembur mau mengerjakan sesuatu, soalnya ayah mertua ku meminta beberapa berkas di selesaikan secepat mungkin." Jawab Kikan.
"Ya sudah kalau gitu, lebih baik kalian jaga diri kalian baik-baik. karena aku lihat terkadang kalian bekerja sampai larut malam." ucap Husein yang kemudian memakan pesanan yang tadi dia minta.
Ketiga orang itu terlihat seperti seseorang yang tidak saling mengenal satu sama lain, namun Aisyah harus selalu berhati-hati jika dirinya tidak ingin terjebak pada permainannya sendiri. Aisyah menghembuskan nafasnya, dia benar-benar merindukan sosok suaminya yang sekarang harus melakukan terapi agar cepat sembuh.
"Iya Mas, aku lagi mikirin anak-anak." jawab Aisyah.
"Kapan-kapan mau ya kalau aku ajak jalan-jalan sama anak-anak." pinta Husein. Aisyah hanya tersenyum sembari menatap Kikan.
"Kalau kau mengajaknya sendiri Akan Ku bantai kau, Kalau kau mengajak mereka bersamaku mungkin akan ku pertimbangkan!" seru Kikan sambil menuju ke wajah Husein dengan garbu yang ada di tangannya.
"Ini wanita lahir dari apa sih.. kok galak amat." guman Husein dalam hati-hati sambil menatap Kikan yang dari tadi terus-menerus nyerocos.
"Pasti kamu lagi bergumam dalam hati dan membicarakan aku ya!" seru Kikan yang membuat Husein langsung menelan ludahnya sendiri.
"Dia pasti punya ilmu supranatural yang bisa membaca pikiranku." jawab Husein dalam hati.
Sedangkan di tempat lain, Jonathan dan Firdaus harus benar-benar berusaha untuk membuat Mahfud benar-benar bisa kembali seperti semula.
Beberapa dokter telah menyarankan agar pria itu melakukan terapi di luar negeri, namun Mahfud tidak ingin pergi jauh dari sang istri, karena terkadang Mahfud selalu meminta Kikan untuk mengirimkan video keseharian istri dan anak-anaknya.
Ingin sekali Mahfud segera pulang dan memeluk keluarganya, Namun semua kejadian itu membuat dirinya benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. langkah kaki Mahfud mencoba untuk terus berjalan, sekarang Mahfud tubuhnya bisa digerakkan dengan normal, hanya pria itu masih harus menggunakan penyangga kayu untuk menyangga dirinya.
"Bagaimana, Apakah kau bisa menggerakkan kaki mu?" tanya Firdaus.
Mahfud tetap menggelengkan kepalanya.
"Sampai kapan kau tidak bisa berbicara seperti ini, Mahfud. Apakah kau tidak ingin menelpon Istri dan anakmu?" tanya Jonathan yang membuat pria itu langsung meneteskan air matanya.
"Aku ingin sekali berteriak kepada Tuhan, aku ingin sekali mengatakan dan meminta suaraku dikembalikan. namun apa dayaku jika Tuhan masih belum memberikan aku kesempatan untuk berbicara." guman Mahfud dalam hati. mulut Mahfud memang bisa bergerak, namun suaranya tidak keluar sama sekali. bahkan terlihat mulut pria itu sedikit miring akibat kecelakaan itu, bisa dikatakan seperti stroke.
Terkadang Aisyah ingin sekali pergi ke Bandung untuk mencari keberadaan sang suami, namun demi keselamatan suaminya wanita itu harus rela untuk menahan rindunya.
"Bagaimana, apakah dia ada kemajuan?" tanya Jonathan dalam beberapa waktu in.
"Dia benar-benar mengalami kemajuan pesat, Namun kita harus memberikan dia support agar dia tidak patah semangat di tengah jalan." jawab Firdaus.
"Aku tidak pernah mengira kalau rencana Tuhan harus seperti ini." ucap Jonathan yang membuat Firdaus benar-benar menepuk dadanya.
"Apakah harus seperti ini?" ucap Jonathan.
"Kita hanya bisa pasrah dan meminta bantuan kepada Tuhan." jawab Firdaus yang kemudian memberikan suntikan ke tubuh Mahfud. karena suntikan itu untuk merangsang beberapa otot Mahfud yang tidak bekerja dan beberapa bagian tubuh Mahfud yang yang cedera karena kecelakaan dan ledakan mobil tersebut.
** bersambung **