
Langkah kaki Aisyah berjalan mendekati Mahfud, wanita itu menatap seorang pria yang selalu bersamanya.
"Maafkan aku, jika selama ini aku hanya diam saja. Terima kasih kau telah memberikan ku seluruh cintamu dan terima kasih karena selama ini menjadi pelindung yang selalu menjadi tumpuan Ku." ucap Aisyah kepada Mahfud. pria itu tersenyum sambil membuka cincin yang telah dia beli dari toko perhiasan.
"Lalu, apakah kau menerima lamaran ku?" tanya Mahfud. orang-orang yang di sana nampak menatap sepasang manusia itu.
"Maafkan aku, jika harus mengatakan ini." ucap Aisyah yang membuat Mahfud menghela nafasnya. Dia mengira kalau Aisyah akan menolak cintanya.
"Tentu aku tahu, kau hanya menganggapku sebagai seorang teman tidak lebih dari itu." ucap Mahfud yang kemudian menutup kotak cincin itu.
Orang-orang yang ada di sana nampak sangat terkejut saat melihat mendengar perkataan Aisyah.
"Bagaimana sih Aisyah, kok malah menolak dia!" seru Ririn dan Rina yang bergumam tidak karuan.
Mahfud menaruh kotak cincin itu di sakunya, sedangkan Jonathan.. pria itu sangat bahagia karena dia mengira kalau Aisyah menolak cinta Mahfud.
"Kau mau ke mana?" tanya Aisyah.
"Maafkan aku jika selama ini kau telah terganggu dengan perasaanku." ucap Mahfud.
"Lalu, Apakah kau akan pergi dariku?" tanya Aisyah. Mahfud menatap wanita itu sembari tersenyum sambil meraih salah satu tangan Aisyah.
"Aku akan tetap menjadi temanmu selamanya, aku akan selalu menjadi pendengar mu dan akan selalu menerimamu jika kau membutuhkanku." jawab Mahfud.
"Ternyata kau hanya menganggapku sebagai seorang teman?" tanya Aisyah.
Mahfud menatap wajah Aisyah sembari tersenyum.
"Apa yang bisa aku lakukan jika cinta itu memang bukan untukku." jawab Mahfud.
"Aku belum menjawab semua pertanyaanmu, Lalu apakah lamaranmu tadi itu Cuma bohongan?" tanya Aisyah.
Mahfud kembali tersenyum sembari memegang tangan Aisyah,
"Tentu saja lamaranku adalah lamaran beneran, aku ingin menjadikanmu istriku dan menjadikanmu pelabuhan hatiku." jawab mahfud.
"Kalau itu benar-benar ingin kau lakukan, lalu Mengapa kau masukkan kembali cincin mu?" tanya Aisyah. Mahfud terdiam menatap Aisyah sambil tersenyum kepada wanita itu.
"Maksudmu?" tanya Mahfud.
"Jika kau ingin melamarku.. lalu Mengapa kau memasukkan cincin itu kembali ke sakumu. Lalu, mau kau apakan jariku ini jika sudah ada di tanganmu?" tanya Aisyah yang membuat Mahfudz keheranan.
"Kau saja sudah mengambil tanganku, malah kau memasukkan cincin mu ke saku, Memangnya kau beli cincin untuk siapa? Apakah ada wanita lain selain diriku?" tanya Aisyah yang cemberut kepada Mahfud. pria itu tersenyum sembari menundukkan kepalanya.
"Jadi kau menerima lamaranku?" tanya Mahfud dengan wajah yang begitu merona.
"Tentu saja aku menerimamu, masa aku sudah memberikan tanganku padamu namun dari tadi cincin itu malah kau masukkan ke saku. dan tidak kau masukkan ke jariku." jawab Aisyah sambil mencibir Mahfud yang sudah terlihat malu. wajah pria itu benar-benar merah merona karena kata-kata Aisyah.
"Yeeee!!!"
seru Mahfudz yang kegirangan saat dia sudah mendapatkan jawaban dari Aisyah.
"Firdaus, Kikan, Aisyah menerimaku. Aisyah menerima lamaranku!!" seru Firdaus yang begitu bahagia saat lamarannya diterima oleh Aisyah. Jonathan begitu terkejut saat dia tahu Aisyah menerima lamaran Mahfud di depan matanya.
"Tidak mungkin, Mengapa kau harus menerima lamarannya?!" seru Jonathan kepada Aisyah. yang kemudian menarik tubuh wanita itu, seketika Mahfud sangat marah saat melihat Jonathan dengan kasarnya menarik tubuh Aisyah.
Bug...
"Jangan pernah kau berani kasar padanya, aku tidak akan membiarkan kan kau menyentuh calon istriku!" seru Mahfud.
"Dia bukan calon istrimu, dia akan menjadi istriku!" seru Jonathan. orang-orang yang ada di sana terlihat hanya diam saja. melihat Mahfudz kemudian melihat Jonathan, tengok sana tengok sini seperti melihat adegan sepak bola yang ada di lapangan pertandingan.
"Kau benar-benar tidak tahu malu, berani sekali kau melamar dia dihadapanku!" seru Jonathan.
"Mengapa aku harus malu, mencintai adalah anugerah. dicintai adalah kebahagiaan!" jawab Mahfud kepada Jonathan.
Pria itu benar-benar marah, hatinya begitu sakit saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh saudara tirinya itu.
"Kau tidak ada ubahnya dengan kelakuan ibumu itu, suka sekali mengambil milik orang!" seru Jonathan Mahfud sangat marah ketika Jonathan mengatakan hal itu.
Plakk..
Satu tamparan langsung mendarat di wajah Jonatan. bukan dari Mahfud melainkan dari Aisyah, wanita itu benar-benar marah, matanya sudah memerah saat mendengar Jonathan menghina calon suaminya seperti itu.
"Seharusnya yang malu itu adalah dirimu, Apakah kau tidak berkaca dan lihatlah kelakuanmu itu kau sudah mencampakkanku dan membuangku. namun dia menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihanku, setelah aku menjadi milik orang lain berani-beraninya kau mengakuiku sebagai milikmu. Lalu siapa di tempat ini yang tidak tahu malu!" seru Aisyah dengan sangat lantangnya.
Cafe yang ada di sebelah perusahaan itu bagaikan tontonan drama, bahkan orang-orang yang melihat adegan di dalam cafe itu sampai tidak melanjutkan perjalanan mereka karena melihat tontonan-tontonan yang begitu luar biasa.
"Benar dasar pria tidak tahu malu, setelah dicampakkan sekarang mau mengambilnya lagi!!" seru orang-orang yang ada di luar Cafe.
Betapa terkejutnya Aisyah dan yang lain saat mereka menatap diluar Cafe Ternyata begitu banyak orang yang sudah melihat adegan Mereka. malu, tentu saja Jonathan sangat malu saat dirinya dicaci dan dimaki oleh orang-orang yang lewat di depan Cafe tersebut.
** bersambung **