
Pondok pesantren Al-Khasfir
"Selamat siang Pak kyai!" seru Dokter Syah.
Siang itu akan menjadi hari yang tidak terlupakan bagi Iqbal, karena keluarganya telah mendatangi kyai Amin untuk melamar putrinya yang bernama Siti Marwah. siang itu perbincangan terjadi, suara canda tawa dan gelap tawa menyelimuti pembicaraan mereka semua, begitu banyak barang bawaan di bawa oleh pihak dari Iqbal.
Karena tidak mungkin akan membiarkan keponakannya melamar seorang gadis hanya berbekal ucapan saja, begitu pula dengan Aisyah wanita itu memberikan begitu banyak barang, kue dan lain sebagainya.
"Saya berharap anda berkenan menerima lamaran dari keponakan menantu saya ini Dan semoga anda menerima semua permintaan keponakan cucu saya." jawab Dokter Syah.
Akhirnya lamaran itu diterima, kyai Amin langsung menetapkan hari pernikahan untuk Iqbal dan putrinya. seorang gadis yang berusia 25 tahun.
"Baiklah 2 bulan lagi saya akan membawa semua yang telah dipersiapkan oleh bocah ini untuk menikahi putri dari Pak kyai." ucap Jonathan yang kemudian menjabat tangan Pak kyai Amin.
Tentu saja Iqbal yang telah diterima oleh kyai Amin, pria itu sangat bahagia Dia sangat bersyukur karena cintanya benar-benar diterima oleh Marwah.
3 hari kemudian
Seikat Bunga dan sebuah surat cinta sudah sampai di pintu gerbang rumah kediaman Mahfud. satpam yang berjaga langsung memberikan surat itu kepada majikannya.
"Apa ini Pak?" tanya Aisyah.
"Tidak tahu Nyonya, kelihatannya surat ini untuk nona Syahila." jawab Pak satpam.
"Ya udah kalau begitu, terimakasih." jawab Aisyah yang kemudian membawa seikat bunga mawar bersama dengan sebuah surat.
Aisyah sengaja meletakkan surat itu di meja ruang tamu, karena dia harus melanjutkan ritual memasaknya. karena dia tidak ingin telat bekerja.
"Nyonya, apakah Nyonya ingin membuat salad buah?" tanya seorang pembantu.
"Iya nanti bahannya nggak usah di potong semua, potong seperlunya aja. jika kalian nanti mau buat buat aja, Oke. nanti aku mau bawa ke kantor sama buat suamiku." jawab Aisyah.
"Baik nyonya." jawab seorang pembantu.
30 menit kemudian
Tak berselang lama, akhirnya Syahila turun dari kamarnya.
"Hai Mam!" seru Syahila.
"Maaf ya Ma, karena Syahila tidak bisa membantu Mama tadi." ucap Syahila nggak apa-apa sayang. mama tahu kok kemarin malam kamu belajar sampai larut malam." jawab Aisyah.
Sahila sudah duduk manis di ruang makan, sesaat kemudian Aisyah memberikan seikat bunga mawar bersama sebuah surat cinta.
"Untuk apa ini Mam?" tanya Syahila.
"ini adalah bunga untukmu dari seseorang, Mama tidak tahu Sayang." jawab Aisyah.
Akhirnya Syahila membuka sebuah surat yang diberikan untuknya, Syahila membuka surat itu dan membacanya. ternyata surat dan bunga itu berasal dari seorang pria yang bernama Adi. kakak kelas dari dua saudara kembarnya.
"Mau ngapain sih dia memberikan aku surat seperti ini, dasar menyebalkan." ucap Syahila yang terus menggerutu karena dirinya diberikan sebuah surat dan beberapa bunga.
"Ada apa Sayang?" tanya Aisyah.
"Tidak ada apa-apa Mam, hanya surat dari orang yang menyebalkan." jawab Syahila.
"Apakah dari salah satu cowok yang ada di sekolahmu?" tanya Aisyah.
Syahila menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu, cepat Panggil ke empat saudaramu, kalau tidak kalian semua Nanti telat berangkat lo.." ucap Syahila yang kemudian meminta Syahila untuk membangunkan ke empat saudaranya.
"Tapi nggak usah di bangunkan, Radit sudah bangun sendiri!" seru Radit yang sudah turun dari kamarnya.
"Bagus sayang!" seru Aisyah yang sudah mempersiapkan makanan di meja makan.
"Radit makan dulu ya Man." pinta Radit.
"Boleh, silakan. Kalau Radit sudah lapar." jawab Aisyah.
Tak berselang lama Mahfud sudah turun bersama ketiga anaknya yang lain,
"Mereka sudah turun semua." ucap Syahila yang kemudian kembali ke kursinya. ritual makan pagi yang selalu dipenuhi sebuah senyum tanpa keluar sepatah kata pun, karena Mahfud selalu memberikan peraturan di meja makan tidak boleh ada suara sama sekali. hal itu membuat Aisyah dan anak-anaknya tidak pernah membicarakan masalah apapun di atas meja makan. kecuali jika sudah selesai makan.
** bersambung **