MENIKAHI PAMAN MANTAN SUAMIKU

MENIKAHI PAMAN MANTAN SUAMIKU
Suamiku pasti masih hidup


Firdaus telah mendapatkan alamat dari si penulis, alamat yang begitu sulit untuk dicari bahkan Firdaus harus meminta salah satu petugas kantor pos untuk membantunya mengantarkan Firdaus ke tempat itu. tentu saja Pak Pos dan Pak RT bersedia karena dia juga adalah salah satu Dokter yang akan membantu di desa mereka.


"Assalamualaikum!" seru Firdaus yang sudah berada di sebuah rumah yang sangat sederhana. sebuah rumah yang sangat sederhana dengan kebun yang begitu luas dan taman yang begitu asri, tentu saja masih di wilayah Bandung.


Hati Firdaus terus berdebar saat dirinya berada di alamat yang tertera di surat tersebut, sekitar 1 menit kemudian seorang wanita yang sudah berumur sekitar 60 tahun keluar menemui Firdaus.


"Waalaikumsalam, Ada apa nak?" tanya Bu Maryati.


Firdaus tersenyum kepada wanita tua itu, sesaat kemudian tatapan matanya menatap kedalam rumah tersebut.


"Kamu mencari siapa nak?" tanya Bu Maryati kepada Firdaus.


Sesaat kemudian pria itu menunjukkan sebuah surat yang beberapa hari terus dikirimkan ke tempat Firdaus.


Bu Maryati benar-benar terkejut saat seorang pemuda yang ada di depannya itu membawa sepucuk Surat yang ditulis oleh pria yang dia tolong. seorang pria yang berusia setara dengan anaknya jika masih hidup.


"Apakah kau pria yang kami kirimi surat?" tanya Bu Maryati.


Firdaus menganggukkan kepalanya.


"Pria itu juga menulis sebuah kata. "aku akan datang kepadamu dan menjemputmu" tentu saja Bu Maryati percaya wanita itu langsung mengajak Firdaus untuk menemui Mahfud yang sekarang yang belajar untuk berjalan.


Firdaus menatap punggung seorang pria yang memakai kemeja dan celana hitam. tatapan matanya menatap sosok yang begitu dia kenal, Firdaus tiba-tiba meneteskan air matanya hatinya bahagia sekaligus pilu.


"Cah ganteng, lihat siapa yang ada di sini!" seru Bu Maryati kepada Mahfud.


Tentu saja Mahfud yang belajar berjalan menggunakan penyangga kayu itu pun dia menatap ke arah Bu Maryati. Betapa terkejutnya Mahfud saat melihat orang yang begitu dia kenal, Firdaus.


Sedangkan Firdaus yang melihat Mahfud, pria itu sangat terkejut. hatinya teriris pilu saat melihat kondisi Mahfud yang benar-benar sangat mengenaskan, wajahnya sedikit hancur bahkan wajah itu benar-benar sudah tidak nampak seperti Mahfud lagi. tentu saja Mahfud menitikkan air matanya, pria itu dengan segera mengulurkan kedua tangannya hingga membuat penyangga kayu yang menopang tubuhnya terjatuh.


Bruk..


Seketika Mahfud langsung tersungkur di tanah, betapa terkejutnya Firdaus saat melihat wajah Mahfud yang seperti itu. pria itu langsung berlari, air matanya tidak bisa berhenti saat melihat kondisi Mahfud seperti itu dan tidak bisa berjalan. Bu Maryati ikut berlari untuk menolong Mahfud karena Pak Ruslan sedang tidak ada di rumah pria tua itu sedang berada di sawah.


"Kenapa kau tidak pulang, kenapa kau tidak segera kembali kepada kami!" seru Firdaus yang memeluk tubuh Mahfud.


Tentu saja Mahfud tidak akan berbicara sepatah kata pun, karena pria itu tidak bisa mengucapkan sepatah kata dari mulutnya.


"Dia tidak bisa berbicara nak." jawab Bu Maryati.


Firdaus harus terkejut kembali saat mendengar perkataan dari Bu Maryati. Bagaimana tidak, Mahfud tidak bisa berjalan kondisinya sangat mengenaskan tubuhnya dipenuhi luka bakar. sekarang pria itu tidak bisa berbicara, tentu saja hal itu benar-benar menghancurkan hati Mahfud.


"Ya Tuhan.. Kenapa harus seperti ini!" seru Firdaus dengan begitu keras bahkan sangat keras. Firdaus tiba-tiba terduduk lemas di tanah ketika mendengarkan bagaimana kondisi dari adik iparnya itu.


"Kau tidak boleh seperti ini nak, kau akan membuat saudaramu itu terluka." ucap Bu Maryati.


Sesaat kemudian Firdaus menolong Mahfud untuk dibawa kedalam rumah Bu Maryati, akhirnya wanita itu menceritakan seluruh kejadian yang dialami oleh Mahfud. pertama dia menolongnya hingga saat ini.


"Hampir 5 bulan kau tidak ada kabar, Apakah kau tahu Aisyah benar-benar terpukul." ucap Firdaus yang sudah terduduk di lantai sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Mahfud. Mahfud hanya bisa menangis, ingin sekali dia berteriak mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Kalau aku bisa melawan takdir ini, aku tidak ingin melihat istriku menderita seperti ini," guman Mahfud dalam hati sambil menatap Firdaus yang terus menangis di pangkuan nya.


Akhirnya Bu Maryati meminta Firdaus untuk tinggal di sana, Apalagi dia juga adalah salah satu Dokter yang akan membantu di desa tersebut.


"Bagaimana keadaanmu, Apakah begitu sakit?" tanya Firdaus. tentu saja Mahfud menganggukkan kepalanya.


"Apakah kau tidak merindukan kami?" tanya Firdaus kembali. hal sama dilakukan oleh Mahfud. dia ingin mengatakan kalau dia benar-benar merindukan istri dan anak-anaknya juga keluarganya.


"Aisyah benar-benar wanita yang luar biasa, dia tidak pernah menerima kematianmu bahkan di pemakaman mayat orang yang telah dianggap sebagai dirimu itu pun dia tidak pernah mau menemui dan mendatangi makam itu." ucap Firdaus. betapa tersayat hati Mahfud.


Aisyah benar-benar adalah seorang wanita yang sangat istimewa, seorang wanita yang sangat berharga diberikan oleh Tuhan untuknya. Mahfud meneteskan air matanya, sesaat kemudian pria itu menggerakkan salah satu jarinya.


"Kelihatannya dia ingin menulis sesuatu, Karena dia sudah melatih tangannya untuk bergerak beberapa minggu ini." ucap Bu Maryati yang kemudian memberikan sebuah kertas kepada Mahfud.


** bersambung **