
Hari demi hari kondisi Brian belum ada kemajuan.
"Kelihatannya dia belum sadar dari koma." ucap Firdaus.
"Serasa dia tidak mempunyai tanda-tanda kehidupan." jawab Mahfud.
"Kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan." ucap Firdaus yang kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Kau benar." jawab Mahfud yang kemudian meninggalkan ruangan Brian.
Aisyah dan ke-empat anaknya mendatangi ruangan tempat Brian.
"Oya Mam, kenapa Mama mengajak kami ke tempat pria itu?" tanya Yusuf.
"Bagaimanapun dia adalah Paman kalian, saudara Ayah kalian.." jawab Aisyah.
"Tapi kami benar-benar tidak ingin melihat pria itu Mam, pria itu telah membuat Papa hampir kehilangan nyawa." jawab Yusuf.
"Dengarlah Sayang, mengapa kalian harus dendam hingga membuat kata maaf tidak terucap? hal itu benar-benar sangat tidak baik cobalah kalian untuk memaafkan pria itu dan bisa menerimanya sebagai saudara kita. walaupun dia seperti itu dia sebenarnya adalah pria baik, dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari orang-orang sekitarnya." jawab Aisyah.
"Mengapa Mama selapang itu, Mengapa juga mama mau memaafkan pria itu. pria itu adalah pria yang mencoba untuk menghancurkan keluarga Mama?" tanya Malik kepada Mamanya.
"Mengapa kita harus mendendam sayang, memangnya apa yang didapat dari pendendam dan tidak memaafkan. kebencian hanyalah sesuatu yang akan terus menggerogoti hati dan pikiran kita, Mama bisa sakit hati padanya dan dendam kepada pria itu, namun saat Mama merasakan dendam itu semakin lama semakin besar maka rasa sakit hati Mama juga akan semakin membesar. Apakah kalian tahu apa hasil dari perasaan itu?" tanya Aisyah kepada anak-anaknya.
Ke-4 anak Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Rasa sakit itu semakin lama semakin membesar hingga membuat dada Mama terasa sakit." jawab Aisyah.
"Aku akui Mama mempunyai maaf yang sangat besar, namun Bisakah kami memupus benci itu sedikit demi sedikit. karena rasa sakit hati kami belum bisa kami hilangkan Mam." ucap Yusuf.
"Tidak apa-apa, kalian cobalah untuk menghilangkan dendam itu. berikanlah Paman kalian perhatian dan kasih sayang, dia adalah pria yang tidak pernah mendapatkan hal itu." jawab Aisyah.
Emilia melihat pria yang terbujur kaku di atas ranjang Rumah Sakit tersebut, tatapan matanya seolah mengisyaratkan rasa kasihan yang begitu besar.
"Mengapa pria ini begitu benci dengan Papa?" tanya Emilia.
"Terkadang kebencian itu tiba-tiba muncul tanpa bisa disadari Sayang." jawab Aisyah.
"Karena Maaf adalah kelapangan dan ketenangan, obat yang paling berharga." jawab Aisyah.
Ke-empat anak Aisyah terlihat menatap ibunya, sesakit hati apa pun wanita itu kepada orang lain namun Aisyah masih bisa memaafkan orang tersebut. bahkan Iqbal yang pernah menyakiti Aisyah demikian rupa kini Iqbal menjadi keluarga Aisyah.
Bahkan Aisyah menetap Iqbal, seperti tidak pernah terjadi apapun kepada dirinya dan mereka berlima terjadi. Ternyata Iqbal juga berada di rumah sakit, pria itu juga ingin melihat kondisi Paman tirinya yang sekarang berada di tempat tersebut.
"Assalamualaikum!!' seru Iqbal yang sudah memasuki ruangan Brian.
"Waalaikumsalam.." jawab Aisyah yang kemudian menatap seorang pria yang datang bersama dengan seorang wanita. Ternyata Iqbal mendatangi rumah sakit tempat keberadaan Bryan.
"Loh Mas, kamu disini juga?" tanya Aisyah kepada Iqbal.
"Iya Aisyah, Aku mau melihat kondisi dari pamanku itu.." jawab Iqbal.
"Masuklah.." jawab Aisyah yang kemudian memeluk istri Iqbal.
"Kau Sudah lama ada disini, Aisyah?" tanya Fatma isteri Iqbal.
"Tidak juga, aku barusan sampai di sini Mbak." Jawab Aisyah.
Ke-4 anak Aisyah mencium tangan Fatma satu persatu, terlihat wanita itu menatap Paman dari suaminya tersebut.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Fatma kepada Aisyah.
"Seperti inilah Mbak kondisinya.." jawab Aisyah.
"Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk yang terbaik." jawab Fatma.
"Kau benar Mbak, kita hanya bisa berdoa semoga keadaannya baik-baik saja dan dia segera mendapatkan kesembuhan." jawab Aisyah.
"Bolehkah aku menyentuh nya Mam?" tanya Yusuf kepada Mamanya.
"Boleh sayang, cobalah kau sentuh dia." jawab Aisyah yang kemudian meminta keluarganya satu per satu untuk melihat kondisi Brian.
** bersambung **