
Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Aisyah dan yang lain, Bagaimana tidak karena insiden yang ada di ruangan tersebut membuat Aisyah dan yang lain kebingungan. apalagi kalau Mahfud mengatakan saudara kembarnya itu sangat identik dengannya, bahkan tidak ada perbedaan sama sekali Jika Bryan membuat dirinya seperti mungkin dengan dia.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mahfud kepada ada sang istri.
"Aku sangat khawatir dengan apa yang kau katakan tadi suamiku, jika benar-benar saudara kembarmu itu berada di sekitar kita, apa yang harus aku lakukan?" tanya Aisyah kepada sang suami.
Mahfud mengajak sang istri untuk duduk disampingnya, sesaat kemudian pria itu menunjukkan sesuatu kepada sang istri. sebuah tanda yang tidak akan bisa dimiliki oleh kembarannya.
"Apakah kau yakin suamiku?" tanya Aisyah.
Mahfud menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu istriku, karena teknologi sekarang sudah canggih. apalagi jika pria itu melakukan operasi untuk membuat tanda ini Sama persis dengan ku." jawab Mahfud Aisyah semakin ketakutan.
Entah apa yang ditakdirkan oleh Tuhan, namun Aisyah selalu berharap jika Allah akan memberikan petunjuk untuknya agar dia bisa merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan sang suami.
"Lalu mengenai berkas pendonor itu?" tanya Aisyah kepada sang suami.
"Kalau masalah pendonor itu aku yakin kalau itu adalah kelakuan dari Brian. entah apa yang ada dipikiran pria itu dan Entah kenapa dia sangat membenciku." jawab Mahfud.
"Apakah kau pernah bertengkar dengannya?" tanya Aisyah seumur hidupku.
"Aku hanya sekali bertemu dengannya, karena almarhum Papa mempertemukan kami berdua sewaktu ada di Jepang. namun hanya waktu itu saja setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi." jawab Mahfud.
"Lalu mengapa dia begitu membenci mu?" tanya Aisyah.
"Aku tidak tahu." jawab Mahfud.
Aisyah menghela nafasnya dengan begitu kasar, dia selalu berdoa kepada Tuhan agar dia bisa merasakan jika bertemu dengan Brian.
Waktu berlalu hingga tiga hari kemudian, terlihat Aisyah dan Mahfud sedang melakukan joging di sekitar tempat mereka. Aisyah tersenyum dengan begitu cantiknya, sedangkan Mahfud pria itu terus mengabadikan foto-foto sang istri di ponselnya.
"Mas ini lagi ngapain sih, diajak olahraga kok dari tadi motret aku terus." seru Aisyah kepada sang suami
"Ngapain juga aku tidak boleh memotret mu, wajah cantik istriku ini hanya milikku." jawab Mahfud.
Hari ini Mahfud dan Aisyah begitu bahagia, mereka berdua seperti sepasang kekasih yang baru mengalami jatuh cinta. Entah mengapa dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba Mahfud memegang jantungnya. wajahnya langsung pucat pasi.
Aisyah menatap sang suami, senyum yang begitu mengembang dan ceria pun seketika langsung hilang. saat melihat suaminya itu memegang dadanya dan langsung terduduk di tanah. Aisyah berlari mendekati sang suami,
"Mas Ada apa, Mas?!" seru Aisyah.
Mahfud nampak menggelengkan kepalanya, sesaat kemudian Aisyah langsung menelpon Firdaus untuk meminta pertolongan.
"Aku tidak apa-apa." istriku jawab Firdaus.
"Mas jangan bohong!" seru Aisyah yang begitu ketakutan. nampak jelas sekali kalau Mahfud merasakan sakit yang begitu besar.
Tak lama kemudian Firdaus datang dengan begitu tergesa-gesa, yang terlihat di sana pria itu langsung membawa para perawat rumah sakit.
"Aku tidak tahu, Mas. tiba-tiba Mas Mahfud seperti ini." jawab Aisyah.
"Jantungnya bermasalah lagi!" seru Firdaus yang kemudian meminta 2 perawat yang dia bawa untuk menggendong Mahfud ke dalam mobil.
Aisyah menangis tersedu-sedu saat melihat kondisi suaminya seperti itu, dia memasuki mobil ambulans bersama sang suami. tangannya terus memegang tangan Mahfud dengan begitu berat.
"Mas-mas Jangan tinggalin, Aisyah!" seru Aisyah.
Mahfud tersenyum, pria itu mencoba untuk menenangkan sang istri walaupun jantungnya terasa teramat sakit.
"Jangan khawatir, Mas baik-baik saja." Jawab Firdaus dengan menahan rasa sakit yang ada di jantungnya.
"Mas tidak boleh ninggalin Aisyah, mas tidak boleh pergi dari Aisyah!" seru Aisyah.
Berulang kali wanita itu meneteskan air matanya, hingga membuat Firdaus ikut meneteskan air matanya saat melihat kondisi Mahfud seperti itu
"Cepat lajukan mobil ini!" seru Firdaus kepada sopir ambulans.
Entah berapa kecepatan yang digunakan oleh sang sopir hingga membuat Aisah ketakutan saat sang sopir melajukan mobilnya dengan begitu kencang. tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, para perawat langsung mendorong tubuh Mahfud yang berada di ranjang dorong.
Dengan segera mereka membawa ke ruang perawatan Dokter Syah menghampiri mereka.
"Ada apa?!" seru Dokter Syah.
"Papa, jantung Mahfud bermasalah lagi!" seru Firdaus.
Pria tua itu sangat terkejut. Obat penahan rasa sakit dan beberapa alat bantu yang ada di tubuh Mahfud seperti mengalami pemberontakan.
"Cepat bawa dia ke ruang perawatan!" seru Dokter Syah. sesaat kemudian meminta beberapa dokter khusus jantung untuk melihat kondisi Mahfud.
Dokter muda itu mengerang namun dia menahan suaranya saat melihat air mata sang istri terus menetes.
"Aisyah kau tunggu di sini!" seru Dokter Syah yang meminta para dokter untuk masuk.
Air mata wanita itu terus menetes, hatinya berdebar tidak karuan. jantungnya serasa copot, tak berselang lama kikan datang ke tempat Aisyah.
"Ada apa?" tanya Kikan kepada Aisyah.
"Suamiku Mbak, suamiku!" seru Aisyah kepada Kikan. wanita itu langsung memeluk Kikan dengan sangat erat nya. Kikan tahu bagaimanakah kondisi dari Mahfud.
"Tenanglah Aisyah, kita berdoa kepada Tuhan supaya diberikan yang terbaik." ucap Kikan kepada Aisyah.
"Aku takut Mbak.' Jawab Kikan.
Tiba-tiba Kikan juga merasa takut, entah apa yang akan terjadi. namun mereka berdua berdoa agar tidak terjadi sesuatu kepada Mahfud.
** bersambung **