
"Tentu saja benar, bahkan aku sendiri melihat dengan mata kepalaku wanita itu benar-benar tidak tahu malu. sudah menjengkelkan.. Aku ingin sekali memukulnya dengan salah satu vas bunga yang ada di jalan." ucap Kikan.
"Sarmi memang benar-benar tidak tahu malu.." ucap Aisyah yang membuat Kikan menganggukkan kepalanya.
"Jika dia berani sampai menggoda para pria itu, akan kubuat dia menjadi dendeng panggang dan akan ku berikan dia pada salah satu satpam yang ada di rumah sakit kita." ucap Kikan.
"Memangnya satpam yang mana Mbak?" tanya Aisyah.
"Tuh satpam yang menakutkan itu loh yang menjaga mayat." jawab Kikan yang membuat Aisyah bergidik ngeri.
"Satpam yang mengerikan itu ya..." ucap Aisyah.
"Tentu saja." Jawab Kikan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Semua ini memang benar-benar sangat menyebalkan, Aku pasti akan terus mengawasi Sarmi." ucap Kikan yang kemudian mengajak Aisyah ke sebuah tempat yang ada di rumah sakit.
Di sebuah ruangan terlihat Sarmi sedang duduk sambil menggoda salah satu Dokter muda yang ada di sana, pakaian Sarmi memang bisa dibilang pakaian yang sangat ketat bahkan begitu seksi.
"Apa yang kau lakukan disini Sarmi!" seru Kikan saat melihat wanita itu sedang menggoda salah satu Dokter muda yang ada di rumah sakit.
"Maaf Mbak tadi gadis ini terkilir, Dia meminta tolong pada saya untuk membenarkan kakinya daun dan merawatnya." jawab Dokter muda.
Tatapan mata Kikan menatap Sarmi, tidak ada ada ada goresan luka di kaki Sarmi.
"Tentu saja wanita itu hanya mencari cara untuk para Pria beristri." ucap Kikan.
Aisyah menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian tatapan mata Kikan menatap Sarmi yang tangannya sudah berusaha meraba tubuh Dokter muda.
"Sebaiknya kau segera kembali ke ruangan mu, Dokter. karena tidak baik ke berada di sini sedangkan pasienmu sedang dalam bahaya!!" seru Aisyah yang membuat Dokter itu langsung bergegas.
Sedangkan Sarmi yang mendapat perlakuan seperti itu wanita itu sangat marah karena selama satu minggu bekerja di Rumah Sakit belum ada satu orang pria pun yang dia dapatkan.
"Kenapa sih dua wanita ini sukanya mengganggu aku terus, apa mereka benar-benar ingin menjadi musuhku. lihat aja aku pasti mendapatkan salah satu pria kaya yang ada di rumah sakit ini.. aku benar-benar sudah lelah menjadi wanita miskin." ucap Sarmi yang kemudian melihat Kikan dan Aisyah.
Sore itu Aisyah dan Kikan memang sedang lembur, sedangkan Sarmi yang melihat Mahfud sedang berjalan menuju kantor istrinya.. dengan segera wanita itu berpura-pura untuk terjatuh di depan Mahfud.
bruk..
Auch.. seru Sarmi yang menabrak Mahfud dengan sengaja.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Mahfud yang membantu Sarmi untuk berdiri.
"Tidak apa-apa Dokter, kakiku sedikit terkilir aja." ucap Sarmi yang berbohong lagi untuk mencari perhatian.
Tatapan mata Mahfud menatap Sarmi, tidak ada luka lecet sama sekali,
"Tidak tidak ada luka sama sekali, kenapa kakimu bisa terkilir?" tanya Mahfud yang membuat Sarmi wajahnya langsung memerah.
Ternyata Mahfud bukanlah tipe seorang pria yang bisa digoda oleh gadis muda seperti Salmi.
Tak berselang lama Firdaus sudah datang tempat Mahfud berada.
"Mahfud!" seru Firdaus.
"Firdaus!" jawab Mahfud yang mengajak temannya itu untuk segera masuk ke dalam kantor istri mereka.
"Kenapa wanita itu?" tanya Firdaus kepada Mahfud.
"Tak tahu, tadi katanya terjatuh.. tapi tidak ada luka sedikitpun." jawab Mahfud.
Tatapan Mahfud menatap gadis muda yang ada di depannya.
"Apakah wanita ini yang di katakan oleh istriku kemarin dengan nada yang begitu keras sampai melotot seperti itu." ucap Firdaus dalam hati yang kemudian mengajak Mahfud untuk segera meninggalkan wanita itu. jika kedua wanita itu sampai melihat mereka berbicara dengan Sarmi bisa-bisa nyawa mereka akan dalam bahaya.
** bersambung **