
"Heh, bahkan orang yang lebih lemah dariku berniat menantang seorang senior. Bagaimana aku tidak? Aku akan menantang semua senior yang tersisa! Apakah tidak apa-apa, tetua?..."
Suara Tian Lei menggema di seluruh ruangan tersebut, mereka yang mendengar ucapan itu langsung melihat ke arah Tian Lei.
"Junior, apakah kau serius? Kami semua berada di tingkat Mahayana. Bukankah kau harus merendah jika tidak memiliki kemampuan?..."
Shi Wujin tampak kesal saat itu karena ia merasa diremehkan oleh seorang junior, sampai-sampai semua senior yang tersisa akan ditantang oleh juniornya tersebut.
"Tidak, aku sama sekali tidak bercanda. Jika masih ada senior lain yang tersembunyi di dalam ruang, maka ajaklah keluar. Aku ingin meregangkan ototku sedikit..."
Tian Lei berucap sambil meregangkan otot-otot pada lengan dan punggungnya.
Shi Wujin menatap Tian Lei dengan dingin lalu menatapnya dengan normal lagi dengan senyuman. "Baiklah. Jika junior ingin menantang kami, maka kami akan menerimanya. Tapi, tetap. Itu semua tergantung pada keputusan tetua..."
Shi Wujin dan Tian Lei dengan cepat mengarahkan pandangannya ke arah Xi Liang, Xi Liang menanggapi tatapan kedua orang itu dengan sebuah helaan nafas.
"Baiklah. Karena kedua belah pihak saling menyetujui, maka aku tidak memiliki alasan untuk tidak menyetujuinya... Sekarang, kalian yang akan saling bertarung harus menyalurkan energi spiritual kalian ke dalam Bola Mutiara Pertarungan ini..."
Xi Liang berucap dan mengeluarkan dua Bola Mutiara Pertarungan di kedua telapak tangannya.
Dai Xian dan DuanXian saling berhadapan lalu saling memasukkan energi spiritual mereka ke dalam Bola Mutiara Pertarungan yang ada di sebelah kiri.
Sementara Tian Lei dan belasan murid senior yang tersisa mereka juga ikut menyalurkan energi spiritual mereka ke dalam Bola Mutiara Pertarungan yang ada di sebelah kanan.
Setelah semua yang akan bertarung telah memasukkan energi spiritual masing-masing, Xi Liang menutup matanya lalu mengaktifkan Bola Mutiara Pertarungan yang mengakibatkan Bola itu bercahaya.
Setelah cahayanya semakin terang dan jelas, masing-masing pihak yang akan bertarung akhirnya menghilang dari tempat mereka dan masuk ke dalam Bola Mutiara Pertarungan.
Hal itu, menyebabkan Bola Mutiara Pertarungan kembali normal seperti semula.
Dari dalam kedua bola tersebut, dapat dilihat kedua pertarungan antara Dai Xian dengan DuanXian dan Tian Lei dengan belasan sebior lainnya.
Tetua Xi Liang melemparkan kedua Bola Mutiara Pertarungan yang ada di tangannya ke udara lalu melambai-lambaikan tangannya secara perlahan.
Kedua Bola Mutiara Pertarungan itu akhirnya mengeluarkan cahaya lagi namun berbeda dari yang tadi. Setelah cahayanya menghilang, Bola Mutiara Pertarungan juga ikut menghilang dan digantikan oleh dua buah cermin yang cukup besar yang melayang udara.
Kedua cermin tadi menggantikan fungsi dari Bola Mutiara Pertarungan sebagai tempat bagi murid-murid lain untuk menonton pertarungan. Bahkan sekarang menjadi semakin jelas.
Semua orang kini memusatkan perhatian mereka pada cermin yang ada di sebelah kanan, yakni tempat Tian Lei bertarung dengan belasan murid dalam.
Mereka benar-benar penasaran dengan kekuatan sebenarnya dari Tian Lei, ia kemarin telah menekan kekuatannya hingga puncak Yin dan Yang, tapi bisa mengalahkan kelima murid teratas di kompetisi murid dalam, yang kemungkinan jika kekuatan mereka digabungkan, maka bisa mengalahkan seorang kultivator Mahayana bintang 3.
Mereka terus menatap cermin yang menggambarkan pertarungan Tian Lei dengan penuh harapan, berharap Tian Lei menang dan murid baru tahun ini tidak akan diremehkan.
..
...Di dalam Bola Mutiara Pertarungan di sebelah kanan...
Tian Lei membuka matanya secara perlahan dan mulai menyadari bahwa dirinya kini telah berada di sebuah lapangan rumput yang cukup luas, mungkin hampir mencapai luas dari aula yang ia tempati tadi. Tapi, itu benar-benar cocok untuk digunakan sebagai tempat petarungan.
Tian Lei melihat ke arah depan dan melihat Shi Wujin dan teman-temannya yang juga baru saja tersadar setelah memasuki dimensi di dalam Bola Mutiara Pertarungan tersebut.
"Murid baru, apakah kau sudah siap menerima konsekuensi setelah menantang kami bersamaan? Kau tidak memiliki jalan untuk mundur lagi. Bahkan jika kau menyerah, kami akan memberikan pelajaran padamu, bahwa dilangit masih ada langit..." Shi Wujin berbicara dengan lembut namun dapat diketahui bahwa dia sedang mengancam.
"Senior. Aku sebenarnya tidak ingin bersikap tidak sopan pada senior-senior ku. Tapi, aku selalu belajar bahwa jika ingin bertarung, janganlah banyak bicara. Majulah jika memiliki kemampuan, Menyerahlah jika tidak ingin terluka..." Tian Lei berbalik mengancam Shi Wujin.
Dengan kata-kata itu, Shi Wujin hampir saja meledak dengan amarahnya, ini pertama kali baginya bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya menunjukkan wajah aslinya. Terlebih lagi, orang itu adalah seorang junior.
"Baiklah! Tidak usah berlama-lama lagi! Serang dia!...."
Shi Wujin berteriak saat itu juga, ia biasanya menjaga dirinya agar tetap lembut pada semua orang bahkan jika ia marah. Tapi sekarang, dia marah hanya karena perkataan seorang junior? Benar-benar tidak masuk akal!
Begitu kata-kata Shi Wujin tadi telah diucapkan dan melihat belasan senior selain Shi Wujin telah menuju arahnya, Tian Lei tersenyum dan ikut bergegas melesat ke depan.
Tian Lei mengeluarkan begitu banyak energi petir di sekitar tubuhnya dan mulai menjentikkan jarinya.
Ctek!
Drtt!
Setelah suara jentikan jari terdengar, petir-petir hitam yang ada disekitar tubuh Tian Lei menyambar ke arah orang-orang yang menuju ke arahnya secara membabi buta.
"Awas!"
Semua orang berfokus pada petir-petir yang menyerang dari tubuh Tian Lei dan berhasil menghindarinya dengan baik.
"Hehe, tentu saja bisa dihindari. Jika tidak, maka pertarungan ini akan membosankan..." Tian Lei mengeluarkan Pedang Langit Naga Lava dari dalam cincin penyimpanannya dan melesat maju menuju beberapa senior di dekatnya.
Semua orang mengeluarkan senjata atau artefak yang bisa mereka gunakan untuk menahan serangan tiba-tiba dari Tian Lei. Suara dentingan senjata mereka terus terdengar nyaring di telinga penonton diluar sana.
Pada saat yang ia anggap pas, Tian Lei melesat ke atas udara dan melompat ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa tepat di tengah-tengah para murid yang dari tadi ia permainkan.
Tian Lei menghantamkan Pedang Langit Naga Lava ke tanah dan membuat gelombang energi spiritual yang besar dan menerbangkan senior-seniornya ke segala arah.
"Terlalu kuat!"
Semua murid senior yang sedang berhadapan dengan Tian Lei menggertakkan giginya.
Tian Lei tersenyum. "Aku tidak suka hal yang lama. Maaf karena harus menghancurkan wajah senior-senior di depan para murid baru..." Ucap Tian Lei.
Tian Lei mengarahkan tangannya ke arah langit dan mengumpulkan awan hitam yang terus bergemuruh menyambarkan petir hitam kemana-mana.
Tak perlu pikir panjang, Tian Lei menurunkan telapak tangan kanannya ke bawah dan membuat beberapa Sambaran petir menyambar sekitar selusin murid yang ia hadapi dan menyisakan Shi Wujin.
Tian Lei menatap Shi Wujin yang telah siap siaga dengan tatapan tajamnya. Tiba-tiba, Tian Lei menghilang dari tempatnya berdiri dan membuat Shi Wujin panik hingga ia melihat ke segala arah namun masih tidak melihat keberadaan juniornya.
Tian Lei tiba-tiba berada di depannya dan menghantamnya dengan sebuah pukulan yang sangat keras, terlebih lagi setelah di lapisi energi petir hitam.
Shi Wujin menahan pukulan itu dengan kedua tangannya yang telah ia silangkan, tapi ia masih harus terpental karena tak bisa menahan dorongan dari pukulan itu.
Shi Wujin menggertakkan giginya. "Petir-petir yang ada di sekitar tubuh bocah ini agak aneh. Petir apa itu?..."
Di saat Shi Wujin berfikir keras, Tian Lei telah berada di belakangnya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah punggung Shi Wujin.
"Senior, apakah anda akan menyerah dengan mudah, ataukah masih memiliki perlawanan yang berarti?..."
Kata-kata Tian Lei tadi sungguh membuat hati Shi Wujin terasa sakit, seolah dia sedang diremehkan saat ini. Tapi, kekuatan Tian Lei dapat diarahkan lebih kuat darinya.
Shi Wujin menghela nafasnya, ia mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aku menyerah..." Ucapnya dengan rasa sakit dihati.
Di dalam aula tempat berkumpulnya murid-murid dalam yang baru, terdengar suara-suara yang begitu bersemangat dengan kemenangan Tian Lei.
Mereka begitu bersemangat karena Tian Lei telah membuktikan bahwa murid baru bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
"Tian Lei benar-benar hebat!..."
"Dengan ini, kita tidak akan terlalu diremehkan saat mencapai halaman dalam nantinya!"
"Hahaha! Tian Lei akan menjadi motivasiku mulai sekarang!..."
"Hm, anak ini benar-benar layak menjadi penerus dari Tian Jiulong. Bahkan aku yakin bahwa kehebatannya melebihi leluhurnya..." Xi Liang berucap sambil mengelus janggut panjangnya.
Sementara itu, di tempat pertarungan antara Dai Xian dan DuanXian, mereka berdua tampak masih bertarung dengan sengit.
Mereka bertarung dengan kecepatan yang luar biasa, mereka berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya, jika tidak memiliki kultivasi yang lebih tinggi, orang-orang akan menganggap itu sebagai teleportasi.
Di puncak pertarungan, Dai Xian yang telah bersusah payah akhirnya berhasil mengalahkan DuanXian dengan serangan terakhirnya yang menghabiskan banyak energi Spiritualnya.
..
Beberapa saat kemudian, Xi Liang mengeluarkan semua murid yang melakukan pertarungan di dalam Bola Mutiara Pertarungan.
Xi Liang lalu menjentikkan jarinya dan membuat kartu poin kontribusi dari Tian Lei dan Dai Xian bersinar terang, mungkin ini adalah pemberian hadiah pada keduanya karena telah memenangkan pertarungan.
Setelah cahaya tadi hilang, poin kontribusi milik Dai Xian yang semulanya hanya 80, langsung berganti menjadi 1.080 poin.
Sedangkan Tian Lei, ia melihat angka yang ada di permukaan kartu poin kontribusi yang diberikan Xi Liang padanya dengan alisnya yang terangkat karena ia merasa heran akan sesuatu.
"Tetua..." Tian Lei memanggil.
Xi Liang melihat ke arah Tian Lei. "Ada apa? Apakah poinnya kurang?..."
"Tidak, tapi bukankah hanya akan mendapatkan 1.000? Kenapa di kartu yang anda berikan ada 20.000?..." Tanya Tian Lei yang langsung bertuju pada pokok yang ingin ia tanyakan.
Xi Liang samar-samar tersenyum. "Kau mengalahkan 14 murid senior mu, artinya kau mendapatkan 14.000 poin kontribusi. Dan untuk sisanya anggap saja pemberian dariku. Aku memiliki sedikit hutang dengan leluhurmu di masa lalu..."
Tian Lei sedikit menyipit. "Hm? Apakah kaisar Jiulong lagi? Apakah dia pernah kemari sebelum pergi ke benua tengah? Ah, yang sudah tidak ada tidak perlu di pikirkan..." Tian Lei menggelengkan kepalanya perlahan dan menghela nafasnya.
Kemudian, Xi Liang mulai berbicara lagi. "Semuanya! Aku mewakili sekte naga biru menyambut kalian untuk memasuki wilayah dalam!..."
Ucapan Xi Liang itu mendapatkan respon murid-murid yang bersorak semangat di aula tersebut.