
Kedua tangannya segera mencengkeram tangan Mo Wei dengan erat dan kedua kakinya menahan perut Mo Wei sebagai pijakan.
Srak!!
Dalam satu tarikan yang kuat, kedua tangan Mo Wei segera lepas dari tubuhnya dan darah menyembur ke udara.
Beberapa noda darah tak tertahankan untuk tidak menghiasi wajah bersih Tian Lei dan memberikannya tampilan sebagai pembunuh yang sadis.
"Bajingan kecil! Apakah kau tahu siapa yang kau singgung?!!..."
Mo Yun tampak meninggalkan singgasananya dan melesat ke arah Tian Lei.
Tapi, hanya dalam beberapa saat, dirinya telah di hadang oleh Zui Zhang Li di udara.
"Saudara Mo, bukankah anda sendiri yang bilang takkan ikut campur..." Ucapnya dengan dingin.
"Zui Zhang Li! Sekte kalian akan berakhir ketika orang itu marah!!..." Bukannya memberikan alasan atas pelanggarannya, Mo Yun malah berteriak untuk mengancam.
"Sekte kami akan melindungi murid kami apapun yang terjadi!..." Ucap Zui Zhang Li dengan pelan.
"Ba Gong! Aku akan melawan bajingan tua ini, kau bunuh anak sialan itu!..." Mo Yun kembali berteriak marah dan melesat untuk berhadapan dengan sosok tua di depannya.
Sosok dibelakang singgasan Mo Yun segera mengangguk dan mengambil langkah untuk mengambil nyawa Tian Lei.
Tapi, sama seperti sosok pertama, dirinya juga dihadang, dan yang menghadangnya adalah Xi Liang.
"Ingin mengambil nyawanya? Langkahi dulu mayatku..." Ucap Xi Liang dengan tenang dan keduanya juga mulai beradu pukulan.
Sementara itu, semua pihak yang menonton tampak tegang dengan adegan ini.
Baik itu para tamu ataupun murid sekte naga biru sendiri, semuanya tampak bingung harus bagaimana.
"Apakah kita akan bertindak juga?..." Sosok patriak dari Istana Lima Raja Pembunuh bertanya pada sosok di sebelahnya.
Sosok di sebelahnya menggeleng. "Aku tidak tahu, keduanya adalah sekte yang kuat. Tapi, lebih baik untuk menahan tindakan kita..." Ucap patriak Rumah Dagang Semesta.
Di tengah-tengah kerumunan murid sekte naga biru, Mu Qinlong berlutut dan menghadap Zui Zhang Li.
"Patriak, apakah kami akan bertindak pada murid sekte darah?..."
Zui Zhang Li melirik tajam dan mengangguk pelan. "Jika kalian memiliki keberanian, maka lawanlah untuk membela sekte kalian. Sejak Tian Lei melukai saint mereka, bahkan jika bukan sekarang, perang tetap akan terjadi..." Ucapnya.
Mu Qinlong mengangguk dan menunjukkan senyuman di wajahnya, dia berdiri dan menangkap kepalan tangannya di depan dadanya.
"Haha, aku dari awal pertandingan sudah muak dengan hinaan yang mereka teriakkan. Jika bukan karena tak boleh merusuh, aku mungkin sudah mematahkan semua kaki mereka..." Ucapnya dengan senyuman dingin.
"Haha, ternyata saudara Qinlong memiliki pikiran yang sama juga denganku..." Xiang Shen Yi mengambil langkah maju dengan wajah bersemangat, tampaknya kedua sosok ini adalah rekan psikopat yang serasi.
"Saudara-saudara sekte naga biru! Yang memiliki keberanian, Tunjukkan kita untuk melawan musuh sekte!..." Mu Qinlong dengan semangat menunjuk ke arah pihak murid sekte darah.
"Ya!!!" Tak sedikit dari pihak sekte naga biru yang berteriak dengan semangat.
Tampaknya, meskipun banyak karakter yang lemah dan sikap mereka tak sedikit yang buruk, mereka tetaplah akan sehidup semati pada sekte yang membesarkan mereka.
Di samping para siswa yang bersemangat untuk membalas penghinaan, Ning'er berdiri dengan rasa cemas di hatinya.
Raut wajahnya begitu cemas dan terlihat takut dengan situasi ini, bukan berarti dirinya takut terluka dan sebagainya.
Tapi, hati kecilnya sangat cemas dengan sosok kekasihnya yang sebenarnya menjadi pemeran dan sasaran utama dalam masalah.
Di atas panggung, di saat murid yang lain sedang menikmati balas dendam untuk kekesalan yang mereka tahan sejak awal dan dua orang tetua sedang menghadapi kedua sosok besar, Tian Lei berdiri di depan Mo Wei dengan tatapan dingin.
Dirinya kemudian melirik ke arah pertarungan di langit yang memuat empat sosok kuat.
"Patriak dan tetua, kuserahkan yang disana pada kalian untuk sementara..." Gumamnya dan kembali menatap Mo Wei.
Mo Wei yang kesakitan segera bergetar ketakutan ketika matanya menatap tatapan dingin mengerikan dari Tian Lei.
"Ti, Tian Lei... Kita pernah menjadi saudara, tolong jangan bunuh aku..." Ucapnya ketakutan dengan tubuhnya yang masih menggigil.
"Sebelumnya kau memiliki waktu tiga tahun untuk pergi sejauh mungkin dariku. Tapi, kau tidak menggunakan kesempatan ini dan malah mencoba untuk memprovokasi ku lebih jauh lagi..." Tian Lei membalas dengan suara dingin.
Tian Lei mengangkat tangan kanannya ke atas dan sebuah energi spiritual yang sangat tajam dengan baik melapisi tangannya.
Srak!!
"Akhh!!!!"
Tian Lei mengayunkan tangannya ke arah paha Mo Wei dan berhasil memutuskan kedua kaki musuh kecilnya.
Dalam hal ini, teriakan kesakitan dari Mo Wei terdengar menyedihkan di telinga orang-orang yang tak ingin terlibat dengan perang.
Tian Lei masih menatap Mo Wei dengan dingin, tangannya yang masih berlapis energi spiritual tajam ia arahkan ke leher Mo Wei.
"Ada kata-kata terakhir?..." Ucapnya dengan dingin.
"Bajingan! Kau akan menyesali ini! Orang itu pasti akan membalaskan dendam untukku!!..." Mo Wei berteriak dengan keras sebagai upaya terakhirnya.
Tepat setelah ia selesai dengan ancaman tak berarti itu, Tian Lei mengangkat tangannya dan memotong leher Mo Yun.
Tian Lei menghela dengan dingin. "Seharusnya aku membunuhmu tiga tahun yang lalu. Kau tahu? Ini benar-benar merepotkan..." Ucap Tian Lei.
Tepat ketika kata-kata ini selesai, perut dibawah pusar Mo Wei mengeluarkan cahaya merah dengan kekuatan mengerikan.
Seketika, sebuah bola merah darah dengan garis-garis emas dan cahaya darah seukuran bola tenis meja segera muncul dari sana.
"Ternyata benar. Ada seseorang yang menanam benih darah pada dantian sampah ini..." Ucapnya dengan senyuman dan mengambil benih darah itu lalu memasukkannya ke dalam lautan spiritualnya.
Ini karena lautan spiritualnya dan semua bayangan Tian Lei terhubung langsung dengan lautan spiritual Tian Lei.
Dengan ini, Tian Lei yang asli akan mudah mengaksesnya. Lagipula, dirinya samar-samar merasakan bahwa sebentar lagi dirinya akan menghilang.
Setelah berurusan dengan benih darah, Tian Lei duduk bersila di panggung dan menonton pertandingan dilangit.
Dengan kekuatan Xiantian bintang 1 miliknya saat ini, kecuali dengan tubuh utamanya, maka dirinya hanya akan menghilang jika ikut dalam pertarungan di langit.
Ketika dirinya masih menonton, Ning'er dengan wajah yang cemas menaiki panggung dan berjalan ke arahnya.
"Kak Tian Lei, kau tidak apa-apa?..." Ucapnya dengan cemas.
Tian Lei menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Tapi, tak perlu mengkhawatirkan ku, aku hanya tubuh bayangan darinya, bukan Tian Lei yang asli..." Ucapnya.
Mendengar hal ini, Ning'er tampak bingung dan kaget dengan yang dikatakan oleh sosok Tian Lei.
Tapi, yang dikatakan oleh sosok di depannya mungkin bukanlah kebohongan. Ini karena sikap yang ditunjukkan kepadanya juga sangat berbeda dengan Tian Lei yang biasanya.
Karena tampak merasa asing dengan bayangan Tian Lei, Ning'er memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dan ikut menontong pertarungan juga.