
Ruang dan waktu di dunia Xuanwu kembali berjalan setelah Tian Yang menjentikkan jarinya, semua penghuni dunia Xuanwu dapat bergerak kembali dan fenomena yang sebelum nya terjadi perlahan mulai menghilang.
Di Istana Petir Utara, dua sosok pria yang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke luar di dalam sebuah ruangan mulai memiliki pergerakan setelah sebelumnya mereka bahkan tak bernafas karena berhentinya ruang dan waktu.
Mereka adalah Jiang Feng dan Xuanming Jiaolong yang sebelumnya sedang membuat persiapan atas apa yang akan terjadi di langit yang mengelilingi empat kota bintang.
Jiang Feng melihat ke langit dan menunjukkan raut wajah bingung saat melihat fenomena yang benar-benar baru saja terjadi mulai menghilang begitu saja.
"Apa ini? Kukira peristiwa dalam ramalanmu akan terjadi saat ini juga..." Ucap Jiang Feng serius.
Sementara Jiang Feng yang memperhatikan fenomena yang menghilang, Xuanming Jiaolong tampak memegang dadanya yang tampak sakit dan menunjukkan raut wajah serius.
Jiang Feng menatap Xuanming Jiaolong dengan serius. "Apa yang terjadi padamu?..." Ucapnya yang agak panik saat ia memegang pundak Xuanming Jiaolong.
Xuanming Jiaolong kemudian tersenyum tegang. "Kalian mungkin takkan percaya ini. Tapi, aku sangatlah faham dengan hukum ruang dan waktu dunia Xuanwu kita..." Ucapnya.
Xuanming Jiaolong lalu menoleh ke arah Jiang Feng dengan tegang dan tatapannya begitu serius. "Baru saja, ada yang menghentikan ruang dan waktu di dunia ini..." Ucapnya.
Mendengar ini, Jiang Feng tampak sangat terkejut juga bingung dengan apa yang di katakan oleh peramal muda di sebelahnya. "Apa maksudmu?! Siapa dia?!..."
Xuanming Jiaolong menggeleng. "Aku pun tak tahu. Tapi, jika orang ini memutuskan untuk menguasai dunia Xuanwu, maka hanya dengan satu jari saja, ia akan membunuh seluruh kehidupan di di dunia kita..." Ucap Xuanming Jiaolong dengan serius dan Jiang Feng menelan ludahnya dengan tegang.
Jiang Feng kemudian menghela nafasnya dan melihat ke langit lagi. "Apapun itu, aku berharap orang yang kau maksud bukanlah musuh kita..." Ucap Jiang Feng dan Xuanming Jiaolong mengangguk.
.
Sementara itu, di kejauhan di dalam wilayah Lingkaran Surgawi, ada sebuah Istana yang tampak mengerikan dengan banyaknya pemandangan darah di sekitarnya.
Di dalam sebuah ruangan yang cukup megah dan gelap, aroma darah di sini sangatlah pekat.
Ada tujuh kursi yang terletak di samping kanan dan kiri dalam ruangan tersebut, juga ada sebuah singgasana darah yang cukup besar di sana.
Di atas singgasana besar, seorang pria paruh baya berambut putih dengan mata darah dan umurnya telah melampaui seribu tahun sedang duduk dengan tatapan serius.
"Apa yang baru saja terjadi. Aku merasakan ada hal yang aneh pada ruang dan waktu..." Ucap pria ini pelan dengan raut wajah yang cukup tegang.
"Xue Dingtian, jangan melakukan pergerakan apapun dalam waktu dekat ini. Sebelum aku benar-benar lepas dari segel, maka jangan ambil pergerakan besar apalagi sampai memulai perang. Sosok yang baru saja muncul, mengingatkan ku pada 'orang itu'. Jadi, ingatlah untuk tidak melakukan sesuatu yang besar sebelum aku keluar..." Suara serak yang datang dari jauh segera membalas perkataan sosok yang sebenarnya bernama Xue Dingtian.
Xue Dingtian kemudian mengangguk. "Baiklah, aku akan mengikuti perintahmu..." Ucapnya.
.
Di Sekte Es Agung yang telah hancur, semua orang yang sebelumnya bersujud kini melihat ke arah Tian Lei dan tak menemukan keberadaan sosok yang menjadi alasan mereka semua bersujud.
Mereka semua kemudian kembali berdiri dan dengan tegang melihat ke sekitar namun tak menemukan keberadaan fenomena dan sosok yang sebelumnya.
"Nak, dimana permata ungu tadi? Dan bagaimana dengan orang itu?..." Ucap tetua kedua yang langsung melihat ke arah Tian Lei.
Tian Lei mengangkat alisnya. "Permata ungu itu kan telah hancur? Kau sendiri juga melihatnya kan? ..." Ucap Tian Lei.
Tetua kedua menggertakkan giginya dan berbicara dengan marah. "Lalu bagaimana dengan orang itu? Juga, bagaimana bisa kultivasimu meningkat hanya dalam beberapa menit?..." Ucap tetua kedua.
Tian Lei mengangkat kedua bahunya dan berbicara santai. "Yah, dia bilang telah menyelesaikan urusannya dan langsung pergi. Mengenai kultivasi ku, itu bukanlah urusanmu..." Ucap Tian Lei dengan dingin saat berkata kalimat terakhir.
"Dasar sialan! Kau pasti menyerap harta kami itu bukan?!..." Tetua kedua melesat ke arah Tian Lei dengan cepat untuk menyerang Tian Lei.
Bak!
Tian Lei mengangkat tangannya dan segera mencekik leher tetua kedua. "Hei, apanya yang harta kalian? Permata ungu itu adalah milik keluargaku. Dan lagi, kau serius? Dengan keadaan sekte mu yang saat ini, kau ingin memulai perang kembali?..." Ucap Tian Lei dengan dingin untuk menanggapi tetua kedua yang sudah tak tahu malu.
Tetua kedua membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Tian Lei, ia menelan ludahnya dengan tegang dan menghela nafasnya.
"Kau benar nak. Turunkan aku dan tolong maafkan orang tua ini..." Ucap tetua kedua yang telah sadar atas apa yang ia lakukan.
Tian Lei mengangguk dan melepaskan cengkraman tangannya pada leher tetua kedua.
Tetua kedua yang telah menyentuh tanah lagi mulai membungkuk untuk meminta maaf. "Nak, sekali lagi tolong maafkan orang tua ini yang telah bertindak bodoh..." Ucap tetua kedua dan Tian Lei mengangguk.
"Yah, lalu untuk menghemat waktu kami, kami akan kembali ke Istana Petir Utara sekarang..." Ucap Tian Lei dan tetua kedua mengangguk setuju.
Kemudian, Xiao Hong, Ni Xien dan Yu'er mulai berjalan ke arah Tian Lei.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi?..." Tanya Xiao Hong yang penasaran dengan suara yang pelan.
Tian Lei menunjukkan raut wajah serius dan menatap ke langit. "Xiao Hong, aku baru saja bertemu dengan ayahku..." Ucap Tian Lei.
Xiao Hong mengangkat alisnya dengan bingung, tapi ia kemudian segera membelalakkan matanya karena paham dengan apa yang Tian Lei maksud.
"Kakak, apakah..." Xiao Hong berkata dengan kaget dan Tian Lei memotong perkataan nya dengan anggukan kepala.
"Ya, aku telah bertemu dengan ayahku yang sebenarnya..." Ucap Tian Lei dengan senyuman dan Xiao Hong tampak semakin penasaran.
Tian Lei kemudian berbalik dan menatap tetua kedua. "Tetua kedua, aku ingin meminta satu permintaan padamu..." Ucapnya.
"Apa itu?..." Tanya tetua kedua dengan serius.
Tian Lei kemudian tersenyum. "Bukan hal yang sulit. Ketika sebuah undangan datang dari Istana Petir Utara, aku ingin kau memenuhi undangan kami itu..."
Tetua kedua kemudian mengangguk. "Baiklah, aku berjanji akan hal itu..." Ucapnya dan Tian Lei tersenyum puas.
"Baiklah. Kurasa kami benar-benar selesai disini. Lalu kami akan pergi sekarang..." Ucap Tian Lei dan mulai merobek ruang untuk menciptakan portal ruang.
Sementara itu, di kejauhan, Zi Bing Yan menatap Tian Lei dengan ragu. Ia seperti ingin mengungkapkan perasaan nya pada Tian Lei untuk yang kedua kalinya.
Tapi, Zi Bing Yan tak kunjung melakukan hal tersebut sampai akhirnya Tian Lei dan yang lainnya masuk ke dalam portal ruang.
Ia memutuskan untuk mundur dan akan mencoba untuk membalas perasaan Fang Yuan yang telah berkorban untuknya.