
Setelah melihat ketiga sosok pria diatas membuka matanya, Jiang Feng segera mengangkat tangan kanannya untuk memberi tanda pada semua orang yang ada di belakangnya.
"Semuanya bersiap!..." Ucap Jiang Feng dengan lantang.
Semua orang yang mendengar suara lantang dari Jiang Feng pun segera memfokuskan diri mereka lagi dan ikut menatap tiga sosok di langit yang tinggi.
Sementara itu, tetua Agung yang ada di samping Jiang Feng sejak tadi telah menunjukkan sikap yang aneh.
Sejak kemunculan tiga sosok di langit, tetua Agung tampak menyipitkan matanya dan fokus menatap salah satu pria di langit yang memiliki tubuh kurus berambut ungu panjang dengan wajah yang tua.
"Itu... Mengapa sangat mirip?..." Ucap tetua Agung dengan suara yang pelan.
Meskipun pelan, Jiang Feng di sebelah nya tampaknya mendengar perkataan tetua Agung.
Jiang Feng mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah tetua Agung dengan bingung. "Tetua Agung, ada apa? Apa kau mengenal mereka?..." Tanya Jiang Feng, karena bagaimana pun tetua Agung di sampingnya telah hidup sangat lama dan merupakan murid dari kakeknya yang telah menghilang selama dua ratus tahun.
Tetua agung tampak melirik Jiang Feng sedikit dan kembali menatap sosok di langit dengan tajam. "Jika anda melihatnya dengan baik. Bukan kah pria itu sangat mirip dengan kakek anda Jiang Mu Chen?..." Ucap tetua agung dengan pelan.
Menanggapi perkataan tetua agung di sebelahnya, Jiang Feng tak berkata apapun dan ikut menatap sosok yang di tatap dengan tajam oleh tetua agung.
Dalam tatapannya saat ini, Jiang Feng dapat melihat sosok tua berambut ungu dengan penampilan tubuh yang agak kurus.
Saat ia menatap menatap sosok ini, Jiang Feng segera teringat dengan salah sosok sebuah patung batu yang ada di aula leluhur dan patung batu itu adalah patung kakeknya.
Roh hewan buas petir ungu di dalam dantian Jiang Feng kini juga mendapatkan reaksi saat Jiang Feng terus menatap sosok tersebut.
Sementara ada keramaian di bawah langit, tiga sosok yang berdiri di langit yang lebih tinggi tampak menatap semua sosok di bawah dengan bingung.
Sosok pria paruh baya dengan tubuh pendekar pedang dan sebuah pedang panjang di punggung nya segera melipat kedua tangannya di depan dada.
"Orang-orang ini, apakah mereka menganggap kita sebagai ancaman?..." Ucap pendekar pedang ini dengan suaranya yang bijaksana.
"Entahlah. Tapi kenapa aku merasa sepertinya ini adalah Istana Petir Utara yang dulu ku pimpin?..." Ucap sosok tua berambut ungu sedikit ragu.
Seorang pria paruh baya berambut hitam dengan tubuh kekar besarnya segera tersenyum dengan semangat.
"Entah kenapa kita mendarat disini, tapi mereka telah memberikan kita sambutan yang besar? Jadi, kita tak boleh tidak sopan dan mengabaikan hidangan yang diberikan..." Ucap sosok kekar tersebut dengan senyuman yang lebar dan urat-urat besar muncul di lengannya yang terbuka.
Sosok dengan pendekar pedang melirik teman disebelahnya dan menghela nafasnya. "Jangan terlalu keras..." Ucap sang pendekar pedang.
Senyum pria kekar kemudian semakin melebar, dan ia mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan penuh semangat.
"Yah! Aku tahu!..." Ucap si pria kekar dan melesat dengan kecepatan yang gila ke arah sekumpulan orang di bawah sana.
Melihat sosok besar ini mengarah ke arah mereka, semua orang di dalam kerumunan mulai menunjukkan raut wajah serius dan tegang.
Di depan kerumunan, sosok Zhao Yan menatap ke arah Jiang Feng di depannya dengan raut wajah bingung.
"Patriak! Berikan perintahmu!..." Ucap Zhao Yan dengan panik dan tegang tapi Zhao Yan masih terdiam saja melihat langit.
"Patriak!..." Zhao Yan kembali berteriak keras namun lagi-lagi Jiang Feng tidak merespon nya.
"Patriak!!!..." Zhao Yan berteriak kencang dengan tegang.
Melihat Jiang Feng yang tak merespon teriakan Zhao Yan, Tian Lei pun menoleh ke arah Jiang Feng. "Jiang Feng, berikanlah perintah untuk menyerang..." Ucap Tian Lei dengan tatapan tajam.
Jiang Feng yang sedikit kaget melihat ke arah Tian Lei dengan ragu. "Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi, entah mereka teman atau musuh, kita akan menyerang mereka sekarang!..." Ucap Tian Lei dengan tatapan yakin dan serius.
Jiang Feng menghela nafasnya dan menunjukkan tatapan tajam sebelum ia mengangguk dengan percaya diri. "Baiklah..." Ucapnya pelan.
"Gunakan serangan terkuat kalian!... Sekarang!!!..." Ucap Jiang Feng dan memberikan aba-aba dengan tangannya.
Semua orang dengan fokus mulai mengeluarkan energi spiritual mereka masing-masing dan mulai menembakkan teknik beladiri terkuat yang mereka punya.
Ratusan teknik beladiri bersatu dan menjadi sebuah gelombang cahaya warna warni yang sangat kuat.
Gelombang cahaya ini segera melesat dengan kecepatan luar biasa menuju ke arah pria berbadan kekar.
Bom!!!!
Serangan yang luar biasa tersebut segera hancur hanya dengan satu pukulan saja dan membuat semua orang terdiam dan membelalakkan matanya.
Di tengah keheningan yang membungkus kerumunan manusia di udara, Tian Lei segera mengepalkan tangannya dengan kuat dan mengeraskan rahangnya.
Bang!
Tian Lei segera memecah udara yang ia pijak dan melesat ke arah pria berbadan kekar.
"Oh? Apakah kau adalah yang terkuat disana?!..." Ucap pria berbadan kekar dengan semangat yang membara setelah melihat Tian Lei menuju ke arahnya.
Bang!!!
Pergelangan tangan Tian Lei dan pria berbadan kekar segera beradu di udara setelah mereka saling menabrak.
"Boleh juga kau nak..." Ucap pria berbadan kekar dengan senyuman di wajahnya saat ia masih beradu pergelangan tangan dengan Tian Lei.
Kedua sosok ini kemudian saling melompat mundur ketika tidak ada diantara mereka yang terlempar ke belakang setelah beradu pergelangan tangan.
Sementara sosok besar tersenyum dengan semangat, Tian Lei di depannya tampak menunjukkan raut wajah serius juga tegang karena merasakan sakit di pergelangan tangannya.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap sosok yang beradu dengan nya itu dengan tatapan tajam. "Orang ini... Kekuatan fisiknya adalah Penguasa Agung bintang 8!.." Ucap Tian Lei dengan pelan.
Saat Tian Lei dan pria berbadan kekar kini tengah berhadapan, tanpa gerakan yang mencolok, dua sosok lain yang ada di langit kini mulai turun untuk menghampiri Jiang Feng dan yang lainnya.
Ketika dua sosok ini sampai ke tempat Jiang Feng dan kerumunan manusia, semua orang segera menunjukkan raut wajah tegang.
Melihat wajah tegang ini, sosok pendekar pedang segera tersenyum lembut dan melambaikan tangannya. "Haha, jangan tegang seperti itu. Kami bukan musuh. Kami pun tak tahu mengapa kami bisa keluar di langit ini..." Ucap pendekar pedang tersebut dengan tegang.
"Jin Yunshang, apakah kau merawat sekte ini dengan baik selama aku pergi?..." Sosok berambut ungu tersenyum lembut melihat ke arah tetua agung.
Tetua agung yang melihat sosok berambut ungu menyapanya pun segera menelan ludahnya. "A... Apakah anda benar-benar patriak Jiang Mu Chen?..." Ucap tetua agung dengan terbata-bata.
Sosok yang bernama Jiang Mu Chen pun tersenyum dan mengangguk pelan. "Apakah muridku ini sudah melupakan gurunya karena sudah tua?..." Ucap Jiang Mu Chen dengan lembut.
Mendengar ini, tetua agung segera membungkuk dengan hormat. "Jin Yunshang memberi hormat pada patriak..." Ucap Jin Yunshang dengan hormat.
Melihat tetua agung yang telah yakin dengan identitas sosok yang tak lain adalah kakeknya, Jiang Feng pun segera membungkuk hormat juga.
"Jiang Feng, cucumu yang tidak kompeten ini member hormat pada kakek. Maaf karena tidak langsung mengenali anda..." Ucap Jiang Feng dengan gugup.
Jiang Mu Chen tersenyum melihat cucunya dan memegang kepala cucunya tersebut. "Apanya yang tidak kompeten? Penguasa Agung bintang 2 dengan umur yang belum menyentuh 100 tahun, ini sudah menjadi bakat yang baik..." Ucap Jiang Mu Chen dengan hangat.
"Terimakasih atas pujiannya kakek..." Ucap Jiang Feng dengan hormat dan kakeknya mengangguk pelan.
"Baiklah, kalian berdua berhenti membungkuk. Dan lagi, Jin Yunshang, jangan memanggilku dengan panggilan patriak lagi. Aku yang sekarang telah melepas status patriak ku..." Ucap Jiang Mu Chen dan kedua sosok yang membungkuk mengangguk lalu kembali berdiri tegak.
Jangan lupa like dan komen.