
terkekeh
" Oh iya kenapa masih ekskul kan udah kelas dua belas Harusnya kelas dua belas enggak terikat ekskul lagi, "
" Senin nanti Upacara terakhir gue jadi pengibar bendera di sekolah makanya gue latihan supaya lebih bagus lagi, "
...•••••...
" Tunggu Gue mau Ngomong sama Lo, David " Ucap Angkasa setelah melihat David masuk kelasnya. Angkasa masih ingat betul bahwa cowok yang ada di depannya ini masih jadi Penghalang hubungan dengan Bula
" Mau Ngomong apa, "
" Lo masih suka sama Bulan, "
" Kenapa Lo nanya kayak gitu ? Bukannya dia Pacar Lo, " Tanya David
" apa salahnya gue bertanya sama Lo,"
" Sebenarnya sih gue masih suka sama Bulan, Tapi gue enggak bakalan ngerebut Pacar orang lain Asal Lo enggak nyakitin Bulan lagi kalua Lo nyakitin Bulan lagi Gue bakalan Pastiin gue bakalan ngerebut dia dari Lo, " David menjelaskan
" Gue enggak akan nyakitin Bulan lagi,"
" Bagus kalau gitu Lagian sekarang gue lagi deketin sama temennya, "
Kening Angkasa mengernyit, " Siapa,"
" Loli, "
...•••••...
Ayah Angkasa telah berpulang
Berita yang membuat Angkasa terpukul sekali lagi Tuhan mengujinya. sekali lagi Angkasa harus merasakan kehilangan di tahun yang sama. Saat langit berpendar Senja hari ; ia terdiam di sebuah kelas kosong Duduk di atas meja dan menundukkan kepalanya Pada kedua kaki yang tertekuk Sunyi dan hening. tetes keringat mengalir di wajahnya, menahan air mata yang siap keluar
Laki-laki Pantang menangis, Angkasa
Suara Ayahnya bergaung di udara. Mengisi seluruh Kepalanya. Angkasa merasa seperti ada yang menggenggam kepalanya kuat-kuat hingga laki-laki itu merasa Pusing. Bara mengabarkan bahwa ayahnya sudah meninggal di rumah sakit. Angkasa tahu hal ini akan terjadi padanya karena ayahnya Pasti akan pergi
Cepat atau lambat ayahnya pasti akan meninggalkannya
" Angkasa ! Gue cari dari tadi ternyata Lo di sini, " Suara Bulan bahkan tidak membuat Angkasa beranjak ataupun menoleh Laki-laki itu tetap bisu tetapi Punggungnya sudah bersandar di dinding dekat jendela
" Angkasa, " Bulan memanggilnya sekali lagi. perempuan itu merasa ada yang tidak beres ia mendekati Angkasa lalu berdiri di sebelahnya
" Angkasa Lo kenapa, "
Angkasa tidak menjawab. Perempuan itu melihat Ponsel Angkasa yang berada di ujung sepatu Converse hitam cowok itu. Layar ponselnya masih menyala dengan menampilkan sebuah Pesan yang membuat Bulan Terdiam lama. ia tidak Percaya dengan apa ia baca
" Kenapa orang-orang yang gue sayang memilih Pergi ninggalin gue, " Monolog itu membuat Bulan semakin bingung harus berbuat apa Angkasa masih merunduk.
" Waktu itu Mama Sekarang Papa Nanti siapa lagi, ? Kenapa mereka pergi di saat gue mau nunjukin sama mereka kalau gue udah berubah, " Tanya Angkasa
" Tapi kenapa gue gak dapet kesempatan buat memperbaiki apa yang udah gue berbuat ke mereka Apa dosa gue sebesar itu, Bulan, "
" Angkasa, Lo enggak boleh ngomong gitu, Semua orang bakalan Pergi ninggalin Lo. Termasuk gue nantinya, Angkasa Gak ada yang abadi di dunia ini Angkasa, "
" Gue kangen sama Papa di saat gue di rumah sakit Papa selalu tidur Nafas aja susah sampe harus di bantu Pake alat, " Ucap Angkasa
Bulan duduk di sampingnya. Tangan Perempuan itu mengusap Punggung Angkasa berusaha memberinya kekuatan
" Sekarang gue anak Yatim piatu, "
" Lo masih Punya gue, Masih Punya Kakak Lo Masih Punya temen-temen Lo jangan mikirin itu, "
Sesak yang Dirasakan oleh cowok itu terasa sampai tangan Bulan. Punggung cowok itu terus bergetar, seolah menahan dengan keras apa yang sedang ia rasakan sekarang. Bulan ingin bertanya tetapi yang perempuan itu lakukan hanya terdiam
" Waktu Papa kasih hadiah motor. Gue seneng banget Ternyata Papa Peduli sama gue. Tapi setelah itu Papa pergi Dia enggak pulang selama sebulan dan sama sekali enggak pernah nanya keadaan gue Padahal setiap malem gue selalu nungguin Papa. Dia selalu sibuk kerja Pergi keluar kota terus Pas Pulang, dia marah sama gue. Dia bilang kerjaan gue Cuma males-malesan aja. Papa enggak pernah tahu kalau yang bersihin kamarnya setiap dia Pulang kerja itu gue,"
Bulan membiarkan Angkasa berbicara meski suara laki-laki itu semakin Parau. saat ini Angkasa membutuhkan Teman bicara dan juga penyemangat. Maka itulah tugas Bulan sekarang
" kadang-kadang gue benci sama hidup gue. sendiri karena semua gak adil Temen- Temen gue Punya keluarga yang utuh. Yang keadaannya baik-baik sementara gue, ? nggak Punya Bulan, "
" Angkasa, " Bulan menelusupkan tangannya Pada wajah Angkasa Membuat cowok itu mengangkat kepala dan menatapnya. kedua tangan Bulan berada di pipi Angkasa. Tidak ada tangis, Tetapi Bulan tahu Angkasa benar-benar terpukul lewat matanya
" Orang yang Punya keluarga Utuh itu belum tentu baik-baik aja Enggak semua Lo lihat itu benar, Angkasa Apa Lo tau kehidupan mereka di dalamnya kayak apa Sama kayak Orang-orang, termasuk gue, ngira Lo enggak punya kekurangan apapun. Lo sering ngumpul bareng temen-temen Lo. Di sekolah sering tertawa bareng sering keliatan bahagia, Tapi apa mereka tau perasaan Lo sebenarnya, " Tanya Bulan, " Gak ada yang pernah tahu dan ngerti gimana Lo selain diri Lo sendiri, "
" Kalau aja gue dulu lebih sering Perhatian ke Papa dan nyuruh dia berhenti ngerokok Dia enggak bakalan Pergi, " Kata Angkasa
" jangan nyalahin diri sendiri Semuanya bukan salah Lo, "
" Padahal gue Pengin Papa sama Mama dateng Pas rapat orangtua buat persiapan Ujian nanti, " Ucap Angkasa lalu laki-laki itu Terkekeh miris pada dirinya sendiri.
Bulan semakin mendekatkan dirinya Pada Angkasa Cowok itu menatap Ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas meja
" Lo harus bangkit, Angkasa Buat Mama sama Papa Lo. setiap orangtua pasti mau yang terbaik buat anak-anaknya. Mereka enggak dateng di acara-acara besar Lo bukan berarti mereka enggak peduli. Bukan berarti mereka gak Sayang Mereka Peduli, Tapi mereka lebih peduli bagaimana cara supaya Lo bisa makan, sekolah dan hidup sekarang Orangtua Lo pasti sayang sama Lo, "
Angkasa memandang Bulan. Tangan laki-laki itu menyentuh tangan Bulan yang ada di pipinya. Laki-laki itu berhasil mencekal emosi yang tadi ia rasakan. Hanya Bulan perempuan pertama selain ibunya yang berhasil melakukan hal hebat ini
...••••...
Lagi-lagi Angkasa duduk di ruangan Putih ini. di sebelah ayahnya yang sudah tidak bernafas Ruangan ini persis ruangan saat Angkasa menyatakan sayang kepada ibunya. Angkasa memandang wajah ayahnya Wajah yang semakin tua itu pun memutih bibirnya memucat
bekas lipatan kulit di kening ayahnya terlihat. Bekas luka di sudut matanya adalah tanda bahwa Hardi Pernah menyelamatkan Angkasa saat cowok itu berumur tujuh tahun di sebuah taman
Bulan meremas Pundak Angkasa. ia menoleh kepada Bulan perempuan itu tersenyum kepadanya. merelakan itu memang benar susah
" Angkasa tahu Papa Sayang sama Angkasa, Angkasa juga tahu kalau Mama juga sayang sama Angkasa, Maafin Angkasa Pa " Angkasa Berhenti sebentar untuk menenangkan Perasaannya, " Makasih Pa Angkasa bangga punya Papa hebat seperti Papa,"
" Angkasa sayang Papa selalu, "