
" Gue enggak tahu Loli gue bingung banget, "
" Lo aja bingung apalagi gue, "
" Lo tuh harusnya beruntung Angkasa suka sama Lo, "
Amanda merangkul Bulan
" Beruntun, Maksud Lo. "
" Gue itu sebenarnya Pernah suka Sama Angkasa Pas kelas sepuluh, " Kata Amanda
" Lo Pernah suka sama Angkasa, " Bulan kaget setelah mendengar Ucapan Amanda
" Angkasa itu sebenarnya orangnya baik banget, Biarpun dia nakal Angkasa Pernah nolongin gue, "
" Apa masih Suka sama dia, "
" Enggak Bulan, itu kan udah lama banget Waktu itu gue suka sama dia sebentar aja. Gue sadar kali mana mungkin Angkasa Suka sama gue, " kata Loli
" Lo Percaya kan sama gue jangan mikir macem-macem deh Gue enggak mungkin suka sama Angkasa lagi, "
" iya gue Percaya kok, " Bulan mengganguk
" Lo nanya kayak gitu Berarti Lo suka sama dia ? Ayolah Bulan ngaku aja bahwa Lo juga suka sama Angkasa kan ngaku " Amanda makin sangat mendesaknya, " Jangan munafik gini, Lo enggak mau ngomong suka sama dia, Tapi kelakuan Lo udah beda sama dia kalau gitu kenapa juga repot-repot marah tadi ke Angkasa,"
" Jangan sampe Lo Nyesel kalau dia milih orang lain,"
Bulan menatap nanar Pintu kantin. Angkasa baru saja datang cowok itu datang sendirian. ia langsung menuju Teman-temannya yang sudah dari tadi berkumpul di meja Tiger. Tanpa basa-basi Angkasa duduk di sebelah Jackie Pandangan cowok itu terlihat tidak bersahabat
Bulan tidak bisa menoleh ke belakang karena Posisinya membelakangi posisi Cowok-cowok yang duduk jauh di pojok kantin. Bulan beruntung karena ia tidak mau melihat Angkasa
" Tuh orangnya Dateng, " bisik Loli
" Gimana rasanya Angkasa dilempari sepatu sama Bulan, " Meski niatnya bercanda Tetap saja Angkasa tidak suka mendengar Perkataan Leo
" Lo bisa diem enggak Gue lempar kursi tahu Lo rasa Lo, " Suara Angkasa terdengar marah membuat Leo langsung terdiam.
" Santai dong Bos Gue kan cuma bercanda, "
" Lo enggak terima ke kelas sana,"
Leo ingin membalasnya lagi, tetapi Angkasa sudah dahulu menyudahi pertikaian kecil mereka.
Bulan menoleh sebentar. Angkasa menatapnya Laki-laki itu bersandar Pada dinding. Bulan berbalik badan lagi. ia meneguk ludah Perempuan itu gelisah karena seperti ada yang mengintainya di belakang. Tatapan cowok itu seperti laser yang membuat Punggungnya Panas. Bulan tidak bisa berlama-lama berada di sini. Dia butuh Udara untuk menyejukkan pikirannya
Bulan berdiri. " Gue kelas duluan, " Bulan berkata kepada teman-temannya
Bulan berpasasan dengan Kirana dan Marissa di Pintu kantin. Marissa melirik Bulan sebentar tanpa minat sedangkan Kirana memberi Peringatan lewat matanya. Perempuan itu dengan sengaja menabrak bahu Bulan. Bulan tidak membalas Dia lebih memilih diam dan menuju kelas Secepatnya mungkin karena di sana tempat yang Paling aman saat ini
...••••...
Bulan keluar kelas untuk mengisi tinta spidol papan tulis di meja Piket. perempuan itu tidak sengaja melihat Kirana dan Angkasa duduk di dekat UKS lalu mereka berjalan menuju lorong. Angkasa bahkan merangkul Kirana mendekat kepadanya yang membuat Bulan mempercepat langkah agar bisa Cepat-cepat melewati mereka
Saat ketiganya berjalan tidak searah, Bulan sengaja mempercepat langkah kakinya agar sampai di meja Piket. Angkasa dan Kirana sama-sama berlalu darinya. Bahkan cowok itu menyapanya sama sekali Bahkan meliriknya tidak. Bulan menghela nafas. Perasaannya jadi sesak setelah apa yang ia lakukan dan juga semua kejadian yang terjadi pada mereka, Bulan masih berharap Cowok itu meliriknya ?
" Bulan Lo kenapa bengong ? tanya David yang baru saja keluar dari ruangan guru. Bulan menggeleng tidak menjawab Perkataan David, " itu Tintanya tumpah di meja, "
Bulan mengelap tinta yang jatuh di meja Piket dengan kertas koran yang ada di sana
" Mau gue bantuin, "
" Enggak usah, " Bulan menolak. Perempuan itu masih mencuri Pandang Pada Angkasa dan Kirana yang sudah masuk ke lorong kelas dua belas. ada Perasaan tidak rela melihatnya
sekarang, keadaan jadi berubah seperti ini ?