
" Bangun Leo, Bukan waktunya jadi orang Pengecut, " Sagara menepuk bahunya, menyadarkan Leo
" Gue takut Sagara, Dirga dulu hampir nusuk gue Pake pisau lipatnya, " Leo masih trauma mengingat kejadian yang hampir kehilangan nyawanya, " Gue enggak berani, "
" kita rame-rame Leo Masa Lo takut Lo jangan Takut, " tanya jackie, sebagai teman Jackie mengerti bagaimana perasaan Leo, Leo memang berdasar karena ia pun menyaksikan sendiri kejadiannya. kalau Angkasa sewaktu itu tidak menolong Leo maka Leo mungkin tidak di sini. Tidak bersama mereka.
" Sini, Lo Jangan jadi besar mulut, Tapi nyali semut, "
Leo menghela nafas. ia mengangguk lalu berjalan di belakang teman-temannya. Leo tidak akan berani di depan. kalau hanya Rio dan yang lainnya. Leo Pasti berjalan di depan Namun, untuk sepertinya ia harus berpikir dua kali untuk melakukannya saat ini
" Apa kabar Lo ? Dirga bertanya begitu mereka semua berhadapan, " ketua geng Tiger Angkasa Awan Aldinata, "
Dirga melempar kunci motornya ke atas dan menangkapnya kembali tepat di depan Angkasa. Dirga memakai kacamata hitam. kabar dia sudah menjadi Ketua Geng motor di Jakarta
" Baik, " Angkasa masih bisa diajak santai saat ini. Namun nanti tidak ada kata toleransi, " sekalinya Pengecut tetep pengecut ya, "kata Angkasa kepada Rio
" Gue bener kan, " tanyanya lagi kepada Rio
" Maksud Lo apa, "
" Kenapa Lo bawa Dirga ke sini ? Dia udah alumni SMA Arwana Lo takut kalah,"
" Gue ke sini karena nggak mau Lo sama anggota Lo nginjek-nginjek The Calm. Gue masih bagian dari The Calm Enggak ada satu pun yang boleh main-main The Calm," Dirga menjelaskan Pandangannya menusuk tertuju Pada Angkasa.
" Kenapa Lo enggak ngajak Fero Juga, " tanya Angkasa kepada Dirga, " Sekalian aja kita reuni di sini, "
" Gue udah di sini, "
seseorang yang baru saja turun dari sepeda motornya. Mata Angkasa menyipit melihat orang baru saja tiba. kedua tangan Angkasa mengepal ketika melihat orang itu.
" Kenapa Lo Takut Angkasa Awan Aldinata, " tanya Rio
" Takut, " Angkasa berkata dengan nada meremehkan, " Sejak kapan gue takut sama Pecundang-pecundang kayak Lo semuanya, "
" Masih bau kencur aja belagu Diem Lo, " Dirga menegaskan
" Lo bukan senior gue lagi dan gue enggak bakalan manggil senior gue buat ikut-ikutan ke sini, " Angkasa masih tetap tenang, " Manggil backing senior cuma Buat orang-orang Pengecut, "
" BANGSAT ! Rio menarik kerah kemeja Angkasa. Rio merasa terhina. Penghinaan tadi akan di bayar mahal oleh Angkasa
" Kenapa Lo marah ? Ngerasa, " Angkasa menaikkan sebelah alisnya. merendahkan Rio ia membiarkan Rio menarik kerah kemejanya, Angkasa Pastikan Pengecut di depannya itu benar-benar kalah. Begitu pun dengan kedua senior mereka. Angkasa tidak mau ambil pusing dengan keduanya.
" Gue bisa aja manggil senior-senior gue ke sini sekarang juga Tapi sayangnya gue bukan orang manja kayak Lo dan gue enggak bakalan sudi minta belas Kasihan senior supaya mereka dateng dari backing gue di sini, "
...••••...
satu Pukulan kuat mengenai rahang Angkasa yang membuat cowok itu mundur ke Belakang dan di tangkap Sagara serta Dylan. Angkasa mengusap pipinya yang berdenyut dengan ibu jari Dia hanya terkekeh Pelan, tahu kalau Rio benar-benar malu dengan perkataannya kemarahannya menunjukan bahwa dengan Ucapannya
" Kenyataannya emang Lo tuh manja buktinya Fero sama Dirga ikut ke sini, "
" jadi Lo ngomong kalau Rio itu Manja Coba Lo ngomong lagi di depan gue, " kata Dirga Kepada Angkasa
Angkasa diam melihatnya
" EH GAGU ! Bentakan Dirga membuat Angkasa maupun yang lain kaget, " Kenapa Lo diem, "
" Karena gue udah ngomong itu tadi apa kurang jelas, " tanya Angkasa
" KURANG, "
" ANAK-ANAK ITU THE CLAM, MANJA, " Angkasa membentak sambil menarik jaket Dirga
" LO DENGER MANJA ? Pertama the Clam nantangi Tiger kedua, mantan Geng Lo ini dengan sok banget nantangi gue DAN YANG KETIGA THE CLAM ITU CUPU, SEMUA " Angkasa mendorong Dirga ke belakang setelah ia melepas kasar cengkeraman tangannya Pada kaus Dirga
" Cukup ngomong-ngomongnya maju sekarang, " Angkasa menantang
...••••...
" ITU MEREKA YANG SERING BERANTEM DI SINI, PAK IYA-IYA ITU MEREKA YANG SERING TAWURAN DI SINI, " suara ibu-ibu membuatnya semuanya menoleh ke belakang barisan Tiger dan melihat masyarakat datang dengan Pak RT dari arah Lapangan
" Sial " kata Fero lalu berlari menuju sepeda motornya. Fero tidak mau tertangkap konyol ia memilih untuk pergi secepatnya dari sana. Mereka semua Panik Tiger tidak mungkin ke sana. semua motor mereka berada di Parkiran lapangan Benteng anak-anak The Calm sudah kabur dengan sepeda motor mereka. Angkasa mulai berpikir dengan keras
" JANGAN LARI KALIAN, "
" Angkasa gimana nih, " kata Bima semakin membuat mereka Panik
" Enggak ada cara lain Bim. KABUR, " kata Dylan
Kabur Benar. Mereka harus Kabur
" Terus kita mau ke mana Angkasa Motor kita Gimana, " tanya Bima
" MENCAR, " Angkasa memberi komando," Mencar Lo semua Motor nanti Malem bisa kita ambil. Bubar, " Ada yang lari menuju ke jalur besar atau jalur SMA Arwana ada yang juga yang melewati jalan di depan Sekolahnya. Angkasa hendak melanjutkan untuk kabur saat ia melihat Bulan
" Lo ngapain di sini, " Angkasa bertanya dengan keras ketika melihat Bulan masih dengan Pakaian sekolahnya sedang menatapnya di dekat Poster besar yang ada di depan sekolah Cewek itu sepertinya benar-benar kaget. Angkasa menoleh ke belakang dan melihat orang-orang hendak menuju ke arahnya
" Ikut sama gue, " Angkasa menarik tangan Bulan membuat cewek itu ikut berlari bersamanya, " Anjing jalannya ditutup, " katanya begitu melihat jalan yang ada di depannya ditutup karena ada perbaikan jalan
" Eh Lo ngapa ngapain ngajak gue kita mau kemana, "
" BERISIK LO, ! bentakan Angkasa membuat Bulan yang kebingungan langsung terdiam. Bulan yang takut setengah mati. Angkasa akhirnya melihat sebuah gedung tua di dekat Jalan raya yang membuat Angkasa mengajak Bulan untuk bersembunyi di sana
" ADUH, " kaki Bulan masuk ke sebuah lubang yang membuat Angkasa menoleh, " Aduh sakit, " kata Bulan membuat Angkasa makin Panik. kaki Perempuan itu lecet dan berdarah. sementara sepatu Putihnya kotor karena kubangan lumpur Angkasa seketika merasa bersalah ketika melihat wajah kesakitan Bulan
" Aduh gue nggak kuat, " Bulan mengangkat kakinya dari kubangan air. Matanya berair tanda bahwa kakinya terasa sangat sakit
" Lo duduk dulu, " Angkasa mulai melunak. Mungkin karena Angkasa menariknya terlalu keras tadi. Angkasa menuntun Bulan untuk duduk di dekat tangga. keadaan gudang yang sedang mereka tempati sekarang tidak terlalu gelap dan juga tidak terlalu terang
" Duh sakit banget, " kata Bulan menahan dirinya agar, tidak menangis tetapi air matanya meluruh membuat ia langsung mengusapnya dengan cepat-cepat. Angkasa menoleh Baru kali ini ia melihat Bulan menangis membuat Angkasa tidak mengalihkan Pandangannya sedikit pun darinya seperti ada magnet yang menarik Angkasa begitu Bulan juga menoleh kepadanya
Angkasa meredakan apa yang sedang ia lamunkan lalu berjongkok di hadapan Bulan. ia melihat kaki Bulan yang lecet akibatnya dan Perasaan bersalah pun mulai muncul
" Kaki Lo berdarah, " kata Angkasa
" ini semua gara-gara Lo ngapain lo ngajak gue lari juga, "
Tiba-tiba, Angkasa melepas sepatu bulan dan kaus kakinya yang Penuh dengan lumpur tanpa ada rasa jijik
" Terkilir, " tanyanya dengan nada suara Pelan sambil menyelonjorkan kaki Bulan. Perempuan itu hanya mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya ekspresinya saja yang menunjukkan Kalau Bulan memang benar-benar kesakitan
" Sakit, banget Ya ampun, " katanya sambil meraba kakinya
" Lo enggak ada lap apa gitu, " tanya Angkasa mendongak menatap Bulan
" Gue ada tisu di Tas. Pake itu aja,"
" Siniiin tas Lo, "
Bulan memberikan Angkasa tasnya lalu laki-laki itu mengambil tisu yang ada di bagian depan tas Bulan. ia menaruh tasnya di dekat Bulan lalu membuka tisu yang sedang ia bawa
" Lo tahan ya, " Angkasa memegang Pergelangan kaki Bulan membuat Bulan memejamkan matanya. Tangan besar Angkasa melakukan gerakan untuk kaki orang yang sedang terkilir
" Aduh sakit banget, Pelan-pelan Dong"
" iya nih Pelan-pelan Lo jangan berisik,"
" Kaki gue sakit banget, "
" iya gue juga tahu, "
Angkasa lalu melakukan pertolongan pertama dengan cara menekan kaki Bulan. Tekanannya cukup keras yang membuat Bulan menggigit lidahnya. menahan sakit yang ia rasakan sekarang Bulan hampir terisak ketika Angkasa memijat lembut kakinya. Angkasa Mendongak kepada Bulan Rambut Perempuan yang ada di depannya sedang terurai membuat Angkasa terpana. Bagaimana jika Angkasa yang membuat perempuan ini berantakan ? Apa masih akan tetep lurus seperti sekarang ?
Angkasa membawa kaki Bulan Pada undakan tangga, " Masih sakit, "
" Masih, "
Angkasa akhirnya mengambil botol air minum Bulan yang ada di tasnya Lalu membersihkan kaki Bulan yang kotor
" jangan-jangan itu lagi berdarah jangan dikasih air Ntar tambah Perih Angkasa" Bulan menahan botol yang dipegang Angkasa
" Kalau enggak dibersihin nanti gue susah ngobatinnya, "
" JANGAN, " Bulan masih bersikeras menolak
" Jangan keras kepala, "
" Please, Please Jangan Bakalan nambah Perih ...., " Ucap Bulan membuat Angkasa menghela nafas keras lalu terdiam, " Duh sumpah sakit banget enggak kuat, "
" Makannya gue bersihin Lo gimana sih,"
" jangan marah-marah kenapa, " kata Bulan kesal
" Ya kalau gue enggak marah, luka Lo ini kapan sembuhnya, "
" Tanggung jawab Lo ini sakit banget,"
" Lo tuh kenapa sih ngajakin gue ikutan Lari Pake narik-narik gue segala lagi,"
" Eh bego ! kalau gue enggak ngajakin Lo lari Pasti Lo ngasih tahu siapa gue ke warga sana, "
" Gila ! Lo sempet-sempetnya mikir ke sana, "
" Ya menurut Lo, "
" Udahlah enggak Penting, Gue mau Pulang aja, Tapi ini masih sakit, banget"
" Udah Lo jangan keras kepala, Diem,"
" Eh, eh Lo mau ngapain,"
Angkasa mengambil sikap acuh tak acuh mendengarnya. ia membawa kaki Bulan mendekat padanya kembali lagi lalu membersihkan Darahnya. Bulan memejamkan matanya, menahan perih yang ia rasakan. setelah selesai Angkasa mengelapnya dengan hati-hati dengan tisu bersih yang ia bawa
" Pelan-pelan, "
" iya Bawel, "
karena jarak yang jauh, Bulan memegang kedua Pundak Angkasa. Angkasa masih Fokus dengan luka lantas mengangkat wajah dan menatap Bulan yang juga sedang menatapnya dengan wajah memerah Tatapan mereka berselang tidak terlalu lama dan Angkasa kembali mengelapnya dengan Pelan-pelan, takut Bulan makin kesakitan akibat ulahnya
" Gimana Masih sakit, "
" Lumayan, masih perih, "
" Gue tiup aja ,ya, "
" Hah, "
Angkasa tidak menjawab. ia meniup luka Bulan yang membuat Bulan tidak menyangka. setelah dirasa cukup Angkasa menyudahi apa yang telah dilakukan
" Masih, Sakit, "
" Udah mendingan, "
" ini harus Cepet diobatin. Gue beli obat merah dulu, ya, "
" Lo mau beli ke mana, "
" Ke mana aja, "
" Enggak ada dagang obat di sini,".
" Terus gue harus Gimana ? tanya Angkasa membuat Bulan diam. Angkasa akhirnya memilih duduk di sebelah Bulan lalu mengambil Ponselnya dan menghubungi seseorang. Bulan menoleh kepada cowok yang tengah berkeringat di sebelahnya
" Halo, Bim Lo di mana, "
" Gue ada di rumah Leo sama yang lain Lo ada di mana Angkasa, "
" Gue ada di gudang dekat sekolah. Bekas pabrik yang udah enggak di Pake. Lo tahu kan Gue lagi sama Bulan kakinya berdarah. Lo ke sini sekalian bawa motor gue, "
" Oke, "
Angkasa menutup teleponnya, lalu menatap Bulan yang sejak tadi memperhatikannya
" Kenapa, " tanya Angkasa
Bulan menggeleng, " Enggak, "
mereka Terdiam lama. Angkasa memasukkan kembali Ponselnya ke dalam saku celananya sementara Bulan masih melihat kakinya yang lecet dan luka
" Gue belum pernah kayak gini, " Bulan membuka pembicaraan Angkasa menoleh dan memperhatikannya, " Lo tahu rasanya gue masih kaget banget Lihat Lo sama temen-temen Lo lari kayak tadi. apalagi gue lihat Fero sama Dirga kebut-kebutan naik motor sama Rio. sumpah gue ngeri banget, "
" Lo Kenapa masih di sekolah, " tanya Angkasa
" Gue udah dari tadi mau Pulang, tapi enggak ada yang jemput karena buku catatan buku kimia gue ketinggalan ke kelas jadi gue balik lagi ke kelas buat ngambil buku gue. Pas gue keluar sekolah Lo sama yang lainnya udah lari-lari, " Bulan menjelaskan kepada Angkasa
" Lo kenapa sih doyan banget berantem kayak gitu, " tanya Bulan
" Kenapa, Emangnya "
Bulan diam. ia lupa kalau Angkasa itu ketua Tiger
" Emang Lo dapet apa berantem-berantem kayak gitu, "
" Enggak ada, "
" Rio itu saudara Lo kan, " tanya Bulan
" lebih tepatnya Rio itu sepupu gue, " koreksi Angkasa
" kalau boleh tanya kenapa sih Lo berantem terus sama Rio,kan kalian sepupu, " Ujar Bulan. ia sadar sepenuhnya kalau ia sudah mulai berani bertanya tentang Privasi Angkasa.
" Enggak apa-apa, " Angkasa menjawab dengan cepat
Sebenarnya berduaan di tempat seperti ini membuat Bulan takut lagi Pula tempat seperti ini sangat menakutkan. Keduanya pun kembali diam. kembali hening. Tidak ada percakapan yang terjadi keadaan menjadi canggung ketika Bulan melirik Angkasa sebentar karena mata cowok itu tertuju ke depan
" Lo belum pernah pacaran, " Bulan menoleh kaget kepada Angkasa
Bulan menggeleng, " Belum Pernah, kenapa Lo tanya kayak gitu, "
" Kelihatan aja, "
" Pacaran aja gue enggak pernah. Mana ada yang mau sama gue, "
" Lo Curhat, "
" ihhh, "
Angkasa tertawa membuat Bulan sadar kalau kali ini Angkasa tertawa.
" Gue juga belum pernah pacaran, "
" Serius, " Bulan berteriak kaget, " Serius Lo Belum pernah pacaran, "
" Biasa aja kali, "
" Tapi masa sih seorang ketua Tiger enggak Pernah Pacaran Lo kan banyak Fansnya, "
" iya sih Tapi gue nggak suka karena dari semua fans gue nggak ada yang Tipe gue,"
" Emang Lo mau tipe cewek kayak gimana,"
" Kayak Lo Bulan, " Ujar Angkasa membuat Bulan Terdiam
" apa-apaan sih Angkasa, "
" Maaf Gue bercanda kok tadi, "
Ponsel Angkasa bergetar lalu ia pun mengeceknya. Ada satu pesan dari Bima
" Temen-temen gue udah ada di luar, Lo bisa jalan kan,"
" Bisa. Gue kan cuma luka, ".
" Bagus kalau gitu, "
ketika Bulan berdiri dan berjalan Cewek itu masih merasa sakit sehingga Angkasa mau tak mau mendekatinya dan menuntunnya keluar dari gudang
" Kenapa tuh si Bulan bisa sama Lo, " Bima bertanya dengan kebingungan
" Nanti gue jelasin Lo boncengan sama Sagara. Gue mau anterin Bulan Pulang sama beli Obat, "
" Hati-Hati Angkasa,"
" Oke kalau gitu gue Cabut dulu, "
" Lo boncengan cewek aja, "Angkasa menyuruh Bulan
" Pegangan Bulan biar enggak jatuh, " goda Bima Angkasa menoleh untuk melihat Bulan yang berusaha untuk duduk di belakang Angkasa
" Udah belum, "
" Sabar kali, Pelan-pelan, "
Angkasa memilih tidak menjawab,ia hanya mengamati Bulan dari kaca spion
" Udah, " kata Bulan
" Gue duluan, Bim, Sagara, "
setelah Bulan dan Angkasa pergi Bima dan Sagara saling Pandang tetapi tetap diam.