Kisah Untuk Sagara & Angkasa

Kisah Untuk Sagara & Angkasa
BAB 68 Asing


Citra memanggil Angkasa. ia sedang berada di Pinggir jalan kedinginan tentu saja. Perempuan yang berada di pinggir jalan hanya ditemani lampu yang menyala dari Ponselnya. jalanan ini begitu gelap sudah hampir tengah malam. Angkasa baru saja sampai berkat ciri-ciri tempat yang Citra beri tahu kepadanya


" Akhirnya Lo ketemu juga, Cit Ngapain Lo bisa ada di sini, " Tanya Angkasa membuka kaca helmnya


" Gue habis berantem, "


" Sama ? Siapa ? Rio, " tanya Angkasa. Citra mengangguk Mata cewek itu berkaca-kaca. " Dia ninggalin Lo di sini ? Tanya Angkasa lagi ia tidak habis Pikir mengapa Rio bisa Setega itu


" Buruk banget ya gue keliatannya sekarang Ditinggalin di jalan sama cowok jam sebelas malem. Kayak cewek gampangan, " Kata Citra


" Naik ke motor gue sekarang, Biar Rio gue yang urus, " Angkasa melepas jaket yang ia kenakan, " Nih Lo Pake Jaket gue Rumah Lo jauh banget dari sini Ntar Lo masuk angin Tapi inget, gue enggak mau kejadian kayak gini keulang lagi. Naik, "


Citra mengambil Jaket yang diulurkan Angkasa. ia langsung menggunakan jaket Angkasa " Gimana gue bisa nggak suka sama Lo Angkasa Lo Orang baik dan gue tahu Lo selalu ada di saat gue butuh Lo,"


" Gue Peduli sama Lo bukan berarti gue suka. Buruan naik sebelum gue berubah Pikiran, "Angkasa jadi galak kepada Citra yang menggerutu karena omongannya


...••••...


Murid-murid yang belum mengerjakan tugas langsung membuatnya setiba di kelas. Bulan yang salah menjawab dua soal Pun langsung menggantinya dan menyalin jawaban Loli


" Bulan, bukannya Citra itu mantannya Rio, " Tanya Loli. setelah selesai menggunakan jepit pita kecil di rambutnya, " Tadi Pas gue berangkat bareng Dylan, gue lihat Angkasa di jalan barengan sama Citra. emang Mereka Pacaran," tanyanya lagi.


Bulan yang sedang menulis menghentikan gerakan tangannya perempuan itu tidak menoleh, tetapi dia sedang Terkejut. Bulan hanya diam dan tidak menjawabnya. Pacaran ? Angkasa sama Citra ?


" Ah masa Angkasa pacaran sama mantannya Rio Anak SMA Ganesha juga kan dia, " Kata Aluna


" Gue enggak tahu makannya gue nanya. Gue enggak sempet nanya Dylan tadi. Dia buru-buru mau kelas. katanya mau bantuin Sagara Piket, " Loli ikut menjelaskan, " Kalau diliat dia genit banget sama Angkasa sifatnya emang kayak gitu kali ya, "


" Eh ! Enggak boleh kayak gitu, " Aluna memperingati, " mereka setahu gue kan udah kenal lama jadi ya wajar-wajar aja sih kayaknya, "


" I don't Care, " balas Bulan kembali mengerjakan tugas Loli masih terngiang di telinganya


Angkasa ? Pacaran sama Citra


...••••...


Bulan melewati lorong sekolah yang ramai sendirian. ia mampir ke lokernya untuk mengambil topi upacara agar nanti bisa langsung ke lapangan setelah Pulang sekolah. Bulan membuka lokernya dan mengambil topi setelah menutup Pintu lokernya, ia kembali ke kelas


Dari arah berlawanan, Angkasa beserta keenam temannya berjalan di lorong sekolah. Perhatian orang-orang Tertuju kepada mereka. mereka sedang tertawa Entah menertawakan apa. Bulan yang melirik dari samping lokernya hanya diam. Apa Cowok itu telah melupakannya secepat itu ?


Angkasa bahkan tidak menoleh kepadanya. Melirik sedikit Pun tidak. Padahal Bulan tahu kalau Angkasa menyadari keberadaannya di sini teman-temannya yang lain saja sadar Bulan di sana secepat itu Angkasa menghilangkan perasaan yang pernah cowok itu ungkapan untuknya ?


Perasaan ini menganggu Bulan. kesal, Penasaran, marah, merasa dipermainkan oleh Angkasa bercampur menjadi satu. seharusnya dia bersikap sama dengan Angkasa melupakan cowok Pemberi harapan itu dengan mudah Namun, Bulan tidak bisa. Perasaannya sudah terikat susah untuk tidak memikirkan Angkasa. apalagi mereka satu sekolah mereka pasti akan sering tidak sengaja bertemu


" YHAAA SEGITU AJA KABUR ! kata Dylan Pada Aldi, " DASAR PENGECUT LO," DILIATIN AJA TAKUT MALU SAMA ANU LO DASAR BENCONG, " Angkasa mengejek dari jauh. Mata cowok itu tertuju Pada Aldi. adik kelasnya itu sendiri Tidak ada Teman-temanya yang menemani membuat cowok itu ketakutan melihat Angkasa dengan pasukannya. Aldi juga tidak membalas Cowok itu masih bisa berpikir rasional untuk tidak cari Perkara pada Cowok-cowok tenar sekolah itu.


" Cewek dia Angkasa ! Mana Punya Anu, Ahhh " Roni menimpali dari samping sambil tertawa geli Cekikikan lalu diikuti Bima dan Leo yang sama-sama terkekeh geli," Masa minumannya susu strawberry AHHH cewek banget kayak Adek gue aja ! Roni berkata demikian setelah melihat isi Plastik yang di bawa Aldi, " Seumuran Lo ya sama Adek gue," lagi-lagi Roni masih tertawa


" ANAK MAMI NIH YEE MINUMANNYA SUSU STRAWBERY, " Celetuk Angkasa sanggup membuat Keenam teman-temannya tertawa puas di lorong sekolah


" Anak Mami kok sok-sokan nantangi kita, " kata Sagara


" Gak berani Lo ya kalau sendiri kalau rame-rame baru berani Lo berani sama kita " tanya jackie. Aldi tidak juga Pergi cowok itu hanya diam seolah ada Paku yang membuatnya bertahan di sana mendengar hinaan-hinaan dari mulut-mulut cowok itu. Tangannya memegang erat-erat Plastik yang sedang ia Pegang ia memang habis dari kantin


" Eh Aldi Ntar Pulang sekolah ngadu Ya ke Abang Lo si Rio, " kata Bima, " kita enggak takut, " katanya lagi


" Makannya dari awal jangan nyari gara-gara kita ! kita enggak bakalan mulai kalau Lo nggak mulai duluan Ya gak, Coy " tanya Leo Pada semua temannya


" Yoai, " balas serempak itu terdengar


" Bilang aja Lo mau masuk ke Tiger kan dari dulu makannya Lo Caper, " Teriak Angkasa


" Sayang banget Tiger nggak butuh orang kayak lo Udah Pengecut berlindung Mulu di ketek Abang Lo Kasian banget gue sama Lo, " kata Angkasa sadis


Aldi berniat masuk namun Angkasa lagi-lagi mengejeknya, " Yah Kabur nggak laki banget Lo, " kata Angkasa lagi


Bulan tidak bisa berlama-lama di sana ia ingin Pergi tapi Perempuan itu marah marah atas kata yang dilontarkan untuk Aldi di depan yang lainnya. Cowok itu menghina harga diri Aldi yang membuat Provokasi ; menghasut dan lainnnya agar ikut-ikutan dengan Teman-temannya. Bulan ada di belakang keenam cowok itu bergerak maju.


Cewek itu maju. Tangannya bersiap mengambil sepatu yang ia gunakan. Dengan memegang sebelah sepatu itu Bulan mendekat Aldi melihat gerakan Bulan dari belakang tidak berniat memberitahu Angkasa. Perempuan itu makin maju hingga jarak Angkasa dan Bulan hanya enam langkah. Perempuan itu lalu melempar lurus sepatunya dengan sekuat tenaga hingga mengenai punggung Angkasa membuat suara beradu terdengar sangat keras dibarengi dengan teriakan tak terima


" WOI, " Cowok itu menoleh ke belakang secara refleks diikuti yang lainnya. Rasa sakitnya di punggung mengalahkan keterkejutan Cowok itu diam tidak tahu harus menyesal atau tidak karena sudah berkata kasar kepada Bulan


" Mulut Lo tuh yang harusnya di Plester Ngomong udah kayak cewek aja malu sama badan Lo ketua geng tapi kelakuannya kayak cewek, "


...•••••...


" Lo ikut sama gue, "


Angkasa menarik Bulan dengan Paksa menuju keluar dari area yang sedang panas-panasnya itu. Cowok itu mencengkram kuat pergelangan tangan Bulan. ia tidak akan membiarkannya lepas sedikit Pun apalagi sampai kabur. Angkasa butuh ruang untuk bisa bicara berdua dengan cewek ini. Cowok itu menulihkan indera Pendengarannya Pada bisik-bisik di sekelilingnya juga suara Bulan yang terus meronta Untuk lepas darinya. Persetan dengan teman-temannya. persetan dengan semuanya. Cowok itu harus bicara dengan gadis ini sekarang juga


Angkasa masih dengan wajah datar dan keras membawa Bulan ke sebelah tangga sekolah di ujung Kelas X jauh dari jangkauan anak-anak kelas XII yang tadi menonton mereka. Bulan merasa sesak Perempuan itu tidak bisa bergerak secara leluasa. Dia terkunci di sana dengan tubuh Angkasa yang di depannya


Bulan menatap Angkasa Penasaran sekaligus takut karena Angkasa menampilkan wajah yang sangat seram yang pernah Bulan lihat. Selama beberapa detik Angkasa diam Bulan akhirnya sadar bahwa ia tidak boleh terintimidasi. Dengan tubuh tegak Perempuan itu menatap Angkasa. ia menantang matanya. Persis sama dilakukan Angkasa kepadanya. Perempuan itu sedikit mendongak dengan dagu terangkat. Bulan tidak mau kalau Angkasa Pikir ia takut dengan laki-laki ini.


" Maksud Lo apa ? Suara dingin Angkasa keluar. kedua tangannya menggantung di sisi jarit celananya seperti ingin menghantam sesuatu


" Kenapa Lo Marah, " tanya Bulan.


" Mulut Lo tuh emang kayak cewek Ngehina orang seenaknya Lo Pikir yang tadi lucu, hah, " kata Bulan


" Terus apa Urusannya sama Lo, " tanya Angkasa Mulai terselip emosi di suaranya kedua Tatapan menajam Rahangnya mengeras ia tidak Suka dengan kata kasar yang diucapkan Bulan


" Makannya mikir tuh Pake otak Lo udah ngebuat Aldi malu sadar enggak Lo ? Bulan berniat Menyadarkan laki-laki ini kalau apa yang sudah ia Perbuat itu salah Tidak Pantas


" Yang gue Permaluin Aldi bukan Lo kan Kenapa jadi Lo yang ribut, " Angkasa maju mendekati Bulan ia menyudutkan Perempuan ini ke belakang, " Yang gue hina itu Aldi Kenapa jadi Lo yang marah,"


Karena gue Peduli sama, Lo Angkasa


Bulan terdiam. ia tidak mungkin menyuarakan isi hatinya. seluruh syaraf di kepalanya menentang perempuan itu untuk tidak memberitahu hal itu kepada Angkasa. akan terlihat konyol jika ia berkata seperti itu Bisa-bisa dia dihina juga nanti. apalagi teman-temannya Angkasa Mereka semuanya mulutnya berbahaya


Angkasa menunggu Bulan berbicara. Angkasa tidak bodoh ia tahu kenapa Bulan melakukan hal tersebut kepadanya, Tetapi Angkasa ingin mendengar sendiri dari telinganya ia harus memastikan sendiri tanpa adanya Paksaan.


" Kenapa Lo jadi diem Tadi Lo udah kayak Pahlawan kesiangan di depan semua orang, " Angkasa masih mendesak Bulan untuk mengatakan apa yang sedang cewek itu rasa. Bulan masih kehilangan kata-kata


" Gue ngebela Aldi karena dia emang Pantes buat dibela, bukannya Lo Udah kelas dua belas, tapi enggak pernah bisa jadi Panutan yang baik, " apa yang dikatakan Bulan membuat Angkasa diam. apa yang Bulan bilang berhasil menampar ketenaran milik Angkasa selama ini Angkasa terkenal bukan karena bagus di mata Lo semua orang di sekolah tapi buruk di mata semua orang di sekolah


Angkasa memalingkan wajah lalu mengusapnya dengan satu tangan kepala cowok itu tertoleh kepada Bulan lagi, " Mau apa Lo ? Jakunnya naik turun menahan gelagak yang siap keluar


" Mau Lo apa ikut Campur, " Tanya Angkasa


Bulan kehabisan kata-kata. Cowok ini memang Pintar membuatnya bungkam dengan beberapa kata saja. Bulan memang marah kepada Angkasa Perasaan ini mendorong cewek itu untuk berbuat sesuatu yang bisa membuat Angkasa membencinya atau malah menjauhinya. ini bukan tentang Aldi saja, tetapi ini lebih kepada dirinya sendiri lebih kepada Urusan mereka berdua yang tidak jelas Bulan ingin bertanya tentang Angkasa dan Citra, tetapi ia tidak mungkin bertanya tentang Angkasa dan Citra dalam situasi mereka seperti ini.


sebenarnya Bulan marah walaupun Bulan tahu ia tidak berhak marah. ia bukan siapa-siapa Angkasa. Buka Pula Pacarnya. Rasanya tidak enak ketika ingin marah tetapi tidak memiliki hubungan apapun dengan Angkasa


" Gue, " Bulan mencoba berbicara, tetapi Pikirannya menjadi dangkal Perempuan itu menggigit bibirnya. ia kehilangan jawaban untuk ini


" Lo sama David Punya hubungan apa ? tanya Angkasa


" Maksud Lo Gue sama David gue sama dia Cuma temen, "


" Temen ? Temen Tapi, mesra maksud Lo, Bulan " Untuk beberapa saat Angkasa diam, " Apa Lo emang suka sama cowok kayak David Yang Pinter kayak dia Yang rajin kayak dia Yang bukan ketua geng Yang anak Paskib bukannya anak nakal kayak gue, " Tanya Angkasa secara beruntun


Bulan melihat mata cowok itu terpukul. ketegangan masih terasa di antara mereka


" Terus Kalau Lo sendiri Lo Pacaran sama Citra, "


" Kalau iya emang kenapa, " tanya Angkasa ragu-ragu


Bulan tidak menjawab Perempuan itu kecewa. Bulan memilih menyingkir dari Angkasa. Cukup sudah Tanpa mengucapkan apapun lagi, Bulan memilih Pergi. Dibukanya gerbang Hitam yang bercelah-celah itu ke depan. Bulan Pergi dari Angkasa yang kurang cepat mencegah Perempuan itu


" Bulan, " Laki-laki itu mengejarnya. Angkasa mengikuti Bulan. Tidak peduli Pandangan adik-adik kelas yang tertuju pada mereka. Angkasa harus menyelesaikan masalah ini. ia berhasil menghadang Bulan perempuan itu menatap Angkasa sarat tanda Permusuhan


" APA ? Puas Lo sekarang Mau sampe kapan Lo mau mainin perasaan gue kayak gini Angkasa, " Kedua tangan Bulan makin mengepal di sisi tubuhnya Menguatkan Perasaannya sebagai perempuan ia tidak boleh kalah, " Kayak kata Lo tadi Gue emang suka cowok pinter, rajin enggak nakal, enggak suka berantem, Bukannya ketua geng kayak Lo, " Kata-kata Bulan menusuk


Angkasa diam. Bukan ini yang laki-laki itu harapkan


" Lo Pasti Bohong kan Bulan, " Angkasa mengingat apa yang sudah Bulan lakukan untuknya, " Lo enggak bisa bohongin gue, Lo Pikir gue percaya dengan kata-kata Lo barusan,"


" Ngapain gue Bohong gue serius dengan ngomong gue barusan, "


" Susah banget sih Bilang kalau Lo juga suka sama gue, "