
Bara, Bara, Bara selalu nama itu. Tidak Pernah dia
" Mau jadi apa kamu nanti kalau kamu kayak gini terus, " Hardi memperkuat cengkeraman sebelah tangannya
" Mas Udah, Kasihan Angkasa, " Saphira terus membela Angkasa ia menarik Hardi agar ke belakang, memberi ruang untuk Angkasa Hardi menatap anak bungsunya itu dengan tatapan nyalang dan akhirnya melepaskan tangannya dari jaket Angkasa. Tidak sampai dua detik Pegangan itu terlepas, Hardi langsung menghajar Angkasa dengan keras memberi Pukulan di wajah yang membuat Saphira terpekik kaget, Bara mendekati cowok itu tidak bisa diam saja. Angkasa bisa mati di tangan ayahnya karena adiknya itu memilih diam tidak membalas
Bara kembali merasa terlempar ke masa lalu. Angkasa pernah diperlakukan seperti ini juga saat awal ajaran tahun baru kelas sebelah karena adiknya itu terus berbuat masalah disekolahnya. Angkasa waktu itu sudah babak belur di tangan Hardi. ia sudah tidak bisa berontak karena sudah kelelahan. Kalau saja Bara waktu tidak Pulang ke rumah Angkasa Pasti sudah habis di tangan ayahnyas
selaput bening melapisi kedua mata Angkasa. Angkasa terus diam tidak melawan. Biarpun sakit, Angkasa tidak boleh menangis Tidak boleh kalau ia menunjukkan sikap itu, ayahnya akan terus memukulnya tanpa ampun. wajah Angkasa sudah berdarah di mana-mana tambah berdarah. Luka yang sudah mengering itu lagi-lagi mengeluarkan darah segar karena Hardi terus memukulnya tanpa ampun. kepalan tangan itu benar-benar ringan memukul dadanya yang sudah berdetak bertalu-talu di dalam sana karena menahan rasa Perih yang terus berdenyut.
" PA, " Bara menghentikan serangan sepihak itu. ia berdiri di depan Angkasa, Untuk menghalangi Hardi untuk tidak memukul Angkasa lagi, " Udah, Pa, Udah, kasihan Angkasa, "
" Minggir kamu Bara ! anak kurang ajar ini harus tahu sopan santun, "
Angkasa yang sudah tersungkur di bawah memejamkan matanya sekilas karena Penglihatannya berkunang-kunang karena efek Pukulan itu benar-benar hebat. ia juga susah bernafas Paru-parunya serasa sesak karena menerima Pukulan Angkasa di dadanya
" Papa sama Mama itu Malu gara-gara kamu Angkasa kena surat Peringatan di terus dari sekolah kamu Guru-guru kamu bahkan udah nyerah ngurusin kamu Angkasa " Hardi terus-terusan menyerang Angkasa. ia menyingkirkan Bara dengan kasar ia merunduk dan mengangkat jaket Hoodie Angkasa hingga Kepalanya menengadah menatap Hardi
Hardi ingin menghajarnya lagi terdiam karena Angkasa tidak membalasnya. Tatapan anak lelakinya ini mampu membuat Hardi langsung tertegun. ada rasa rindu di matanya tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. sudah lama ia tinggal di luar negeri demi pekerjaan, meninggalkan Angkasa di rumah. kalau Hardi di rumah, ia selalu pulang larut malam hingga mereka susah bertemu. sekadar untuk menyapa saja rasanya susah padahal kamar mereka bersebelahan
Angkasa tiba-tiba Terkekeh yang membuat ketiga orang yang ada di depannya ini menatapnya
" Kenapa Papa, diem aja " Tanya Angkasa, " Pukul aja Angkasa sepuas yang Papa mau. Inget Pa semua yang Papa lakuin enggak bakalan bisa ngembaliin keluarga Angkasa kayak dulu, apa angkasa harus begini dulu baru Papa mau Pulang, "
...••••...
Angkasa memasukkan beberapa bajunya dengan asal ke dalam tas. ia sudah melepas baju Sekolahnya dan memakai kaus hitamnya Saat itu Pukul ,8 malam ketika Angkasa keluar kamar dan menuruni tangga. ia melihat Bi Asri yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa iam mengerti. selama berada di rumah, hanya Bi Asri-lah orang yang paling setia menemaninya meski Angkasa tidak sadar diri
" Den Angkasa mau ke mana, " Tanya Bi Asri sedih melihat Angkasa seperti mau Pergi jauh
Sementara Saphira yang melihat mereka, hanya berdiri kaku menatap gamang di dekat dapur. Angkasa bahkan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada pembantunya, memperlakukannya seperti ibunya sendiri
" Angkasa Pergi dulu Bi, Angkasa janji Angkasa bakalan Pulang setelah hati Angkasa tenang, "
" Jangan Pergi Den ini kan udah malem, Nanti Aden kenapa-kenapa, "
" Bibi enggak usah khawatirin Angkasa, Angkasa udah biasa kok, Angkasa Pergi dulu, "
Bi Asri tidak bisa mencegahnya. Angkasa sama keras kepala dengan Papanya sejak kecil, Angkasa dikenal tidak suka di Paksa Angkasa juga sangat susah dibujuknya
Angkasa melewati Saphira. ia sama sekali tidak menoleh bahkan bersalaman seperti yang ia lakukan kepada pembantu rumah tangganya Saphira bahkan iri dengan kedekatan Pembantu rumah tangganya dan anaknya tersebut. semuanya sudah Hancur susah untuk mengembalikan kepercayaan anaknya itu kepadanya
" Angkasa kamu mau ke mana, " tanya mamanya setelah berhasil mengejar Angkasa. Rupanya mobil ayahnya sudah tidak ada
" Urusannya sama Mama apa, "
" Mama Tahu kamu marah sama Mama sama Papa Angkasa Tapi bukan dengan cara kayak begini, kamu enggak bisa terus-terusan berkelahi kamu udah besar, "
" Terus kenapa Ma, seberapa besar Pun Mama Peduli sama Angkasa, semua udah nggak bakalan sama kayak dulu lagi, Mama yang udah buat aku kayak gini, "
" Angkasa, Mama tahu kamu sedih tapi Cara yang kamu ambil salah, "
" Tahu apa Mama tentang Angkasa Dari dulu sampe sekarang aja Mama enggak Pernah Peduli sama Angkasa. Yang ngasuh Angkasa dari kecil itu Tante Mona. Bukan Mama. Bahkan buat dateng ke sekolah karena Panggilan guru BK Angkasa aja. Mama enggak bisa Mama itu selalu sibuk sama selingkuhan Mama itu, "
Angkasa memalingkan wajahnya. lalu menghidupkan sepeda motornya ia sudah tahu mau Pergi ke mana. ia sama sekali tidak menghiraukan Mamanya yang menatapnya sendu. Perempuan itu untuk tahu bagaimana harus membela dirinya sendiri. Langit sudah gelap Cowok itu memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi di jalan ia berusaha melebur Pikirannya Pada keramaian kota.