
Hari Angkasa tidak mengikuti Upacara bendera karena terlambat Cowok itu duduk di santai di warung sambil menikmati suara pembacaan UUD 1945 yang terdengar sampai ke tempat ini
Cowok itu tidak bolos sendirian ia di temani Bima dan Roni yang juga datang terlambat. Gerbang sekolah masih terkunci dan mereka pasti tidak akan bisa masuk ke sekolah. Bima sedang menikmati rokok elektriknya hingga aroma buah-buahan beradu dengan udara Pagi yang bersih. Asap tebal memenuhi warung yang sedang mereka tempati.
Roni sedang memegang liquid. Cowok itu sedang mencoba menikmati rokok elektrik sementara Angkasa sedikit terganggu dengan baunya yang semakin menyengat hingga membuatnya sedikit enek. Bahkan seragam sekolahnya mungkin baunya yang sudah seperti aroma asap Vape
" Angkasa Lo mau Coba, " Bima memberi rokok elektrik kepada Angkasa, tetapi ia menggeleng Pelan.
Angkasa termenung melihat Ponselnya ia merunduk dan memegang Ponselnya dengan kedua tangan. Rupanya ada satu Pesan yang mendadak membuatnya kesal
...Rio...
...Bulan Enak buat dijadiin maina kan setelah Citra...
Rahang Angkasa mengeras. Wajahnya berubah semakin kencang dengan urat-urat yang tampak dilehernya
" Angkasa Lo kenapa, ? tanya Bima
" WOI Angkasa, " Roni ikut-ikutan bertanya, tetapi Bima langsung menahannya dengan tatapan. karena mengerti tanda itu Roni Pun mulai ikut serius
" Gue harus ke sekolah, "
Angkasa mengambil tas dan juga jaketnya dengan terburu-buru menuju sekolah dan meninggalkan sepeda motornya di warung
...°°°°...
Angkasa mengikat Jaket yang ia kenakan di lehernya hingga bagian lengan jaket itu menggantung di depan Dada. Pintu gerbang sekolah ternyata terbuka. itu pasti karena banyak murid terlambat dan di bawah ruang BK untuk diminta keterangan kenapa mereka bisa terlambat Angkasa memasuki sekolah dengan cekatan lalu berjalan menuju kelas
saat di Perjalanan, seseorang menempeleng kepalanya dari belakang membuat Angkasa berseru marah, " WOI,"
Angkasa menoleh dan melihat Pak Handoko berada di belakangnya, " WOI-WOI KAMU NGOMONG KAYAK GAK PERNAH DI SEKOLAHIN AJA, "
Pak Handoko melihat Angkasa dengan seksama. Matanya memicing tajam begitu melihat Angkasa sedang menenteng Tasnya, " Kamu Pasti baru datang kan ? Ngaku kami, "
" Enggak, Pak saya habis dari ... "
"ALASAN ! kata Pak Handoko dengan wajah muak dengan muridnya satu ini. Pak Handoko menarik-narik baju seragam sekolah Angkasa yang sedikit robek, " Terus kenapa seragam kamu bisa robek,"
" Itu Pak gara-gara .... "
" RAMBUT KAMU JUGA ! Pak Handoko lagi-lagi memotong Ucapannya dengan Bentakan, " Panjang begini Mau jadi artis kamu, "
" Pak rambut saya Udah ... "
" Sini kamu, " Pak Handoko menarik Seragamnya agar Angkasa tidak kabur. Angkasa berdecak dan mengikutinya saat Pak Handoko menceramahinya, Angkasa memikirkan cara agar ia bisa kabur sebelum Pak Fery melihatnya bisa-bisa orangtuanya di Panggil lagi ke sekolah
" PAK ! BU MAYA ! PAK ! BU MAYA, " Angkasa berteriak dengan gawat membuat Pak Handoko menoleh mengikuti arah Pandang Angkasa. Angkasa langsung menjadikan kesempatan ini untuk kabur darinya. Pak Handoko baru sadar telah ditipu oleh muridnya melihat Angkasa dengan Pandangan marah. Angkasa sudah lari sangat kencang di lorong kelas XI
" ANGKASA, "
Angkasa tidak menghiraukan teriakan Pak Handoko. Laki-laki itu tetep saja berlari sampai di depan kelas Bulan. dari Pintu kelas ia memperhatikan Bulan sedang menghapus Papan tulis.
Amanda yang baru saja mau keluar kelas jadi mengurungkan niatnya ketika melihat Angkasa berdiri tak jauh darinya
" Gue mau ngomong Bulan sebentar,"
Amanda tiba-tiba kikuk mendengar ucapan Angkasa. Amanda menoleh cepat kepada Bulan yang sudah menatapnya dengan tangan yang masih memegang penghapus papan tulis
Angkasa mengangguk membuat Bulan yang tanpa disuruh langsung menghampirinya. Amanda Pun pergi karena ada urusan tersendiri
" Kenapa, "
" Enggak di sini ikut gue, "
...••••...
mereka sedang berada di ujung sekolah. Angkasa bersandar di dinding dan Bulan sedang berdiri tepat di depannya. sebelah kaki Angkasa memainkan kursi yang sedang rusak di sebelah Bulan
" Apa Bentar lagi mau Bel masuk, " Bulan mulai membuka suara, Angkasa masih diam yang membuat Bulan jadi tidak sabar menghadapinya, " Kalau cuma buat basa-basi kayak kemarin mending enggak usah deh, "
Bulan hendak Pergi, tetapi Angkasa menarik tangan Bulan hingga cewek itu melotot Kepadanya, " Aduh, "
" Gue baru mau ngomong, "
" Sakit tahu ! Bulan menjauh dari Angkasa
" Maksud Lo apa basa-basi kemarin, " Angkasa bertanya demikian. ia tidak meminta maaf atas perbuatannya tadi
" Udah deh jangan dibahas yang kemarin, " Bulan berdehem, " jadi Lo mau ngomong apa, "
Alis Angkasa terangkat sedikit, ia tahu Bulan mengalihkan Pembicaraan. Angkasa Terdiam sebentar, seperti menimbang-nimbang Ucapan apa yang akan ia keluarkan
" Kalau Rio, ketua The Clam macem-macem sama Lo, Lo harus ngomong sama gue, "
Kening Bulan mengernyit, " Macem-macem ? Ke gue, " Bulan mengerutkan keningnya, " Kok, Lo ngomong gitu, "
" Gue Pernah nolong Lo waktu Lo ditawan mereka. Rio benci sama gue karena selama Citra Pacaran sama Rio, dia malah suka sama gue, Gue nggak mau Lo jadi Umpan anak-anak The Calm buat mancing gue, khususnya Rio,"
" Citra, "
" Dia temen masa kecil Gue, "
Angkasa mendekati Bulan lalu menaruh tasnya di bawah dan melepaskan ikatan lengan jaket yang ada di depan Dadanya jaket itu lalu di Pasangkan pada Punggung Bulan dan mengikat bagian lengan jeans itu di depan badannya hingga menutupi rambut dan leher Bulan. persis seperti Angkasa memakainya tadi. Hal itu membuat Bulan menahan nafasnya selama beberapa detik tidak tahu harus menolak atau bagaimana, Wajah Bulan berubah seperti tomat
" Gue Enggak Pernah ngerasa kayak gini sebelumnya Bulan, Gue ngerasa enggak tenang. Gue takut Lo diapa-apain sama Rio, Meskipun Rio itu saudara gue, tetap aja gue enggak bisa cegah dia. Dia orangnya nekat Enggak pernah peduli apa dampaknya. Gue denger juga Rio baru gabung sama geng motornya Dirga Ketua The Calm sebelumnya Geng motor Dirga lebih bahaya dari The Calm kalau sampe Rio minta backing-an mereka semua,"
Bulan merinding saat mendengarnya, " Terus kenapa Lo masang jaket lo ke gue,"
" Lo Pake aja, " Angkasa memegang kedua lengan Bulan, " Gue enggak pernah percaya takhayul semacamnya. Yang jelas gue selalu beruntung Pake jaket itu,"
" jadi, Maksud Lo, "
" Lo salah satu kelemahan gue, "
...••••...
Di sepanjang lorong, Bulan berjalan dengan Pikiran yang tak menentu. sebentar-sebentar ia teringat perkataan Angkasa lalu ia memikirkan bagaimana reaksi teman-temannya nanti kalau tahu ia memakai jaket milik cowok itu di dalam kelas. sejak bersekolah di SMA Arwana Bulan sering melihat Angkasa menggunakan jaket ini sebelum ia bergabung dengan Tiger, jaket inilah yang selalu di Pakai Angkasa.
Kalua Rio mengincarnya, berarti seharusnya Angkasa tidak memberi jaket ini Kepadanya itu sama aja memancing Cowok itu agar semakin gencar Bukan ? sebenarnya Bulan hanya bingung kenapa cowok itu memberikannya jaket ini kepadanya
Untungnya belum ada guru saat Bulan sampai ke kelasnya Lutfi dan Devan menatap jaket yang sedang Bulan Pegang. Bukan hanya kedua laki-laki, melainkan teman-temannya Pun begitu, Bulan dapat melihat tanda tanya di atas kepala Aluna, Loli dan Amanda sebagian Teman-temannya pasti langsung berspekulasi sendiri dan menebak-nebak apa yang terjadi. kebiasaan manusia yang tidak akan pernah hilang memang seperti itu menebak-nebak tanpa mencari tahu terlebih dahulu
" Bulan, bukannya itu Jaketnya Angkasa kok bisa ke Elo sih, " tanya Lutfi Dion manggut-manggut, Pertanyaan Lutfi sama dengan Pertanyaan yang ingin ia ajukan
Bulan tidak menjawab Dia malah duduk dan menaruh jaket Angkasa secara asal di bangku
Mungkin kalau Kirana dan Marissa tahu. Bulan akan jadi incaran mereka juga
" Bulan, Lo enggak apa-apa kan ,"
Bulan menggeleng, " gue enggak apa-apa kok, "
" Emang Lo Habis dari mana sama Angkasa ? tanya Loli, tetapi Bulan memilih tidak menjawab
" Udah jangan di tanya dulu, " Amanda Berbisik. Mereka mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut, membiarkan Cewek itu terombang-ambing dengan pikirannya
...••••...
" Jadi bazar Tiger buat tahun ini gimana jadi kan, " jackie bertanya ketika cowok itu duduk di sebelah kanan Angkasa dan Sagara. sementara Roni dan Leo, duduk berdampingan di sebelah kiri
" Kita Udah nyiapin ini kan dari sebulan yang lalu, Pasti tinggal minta iuran buat anggota lain, "
" Sagara uang kas ada beberapa, " tanya Angkasa
" Sekitar dua Puluh juta, "
" Nanti gue Tambah, "
" Kayaknya Gue masih nunggak uang kas, " Roni cengengesan, " Enggak apa-apa kan, "
" Selow aja, " Sagara menutup buku kas itu.
" Dylan sama Bima, mana, " jackie bertanya, " Bukannya tadi Lo bareng sama mereka, ke kantin "
" Oh lagi cari Mangsa, " jawab Angkasa
" Mangsa, "
" Siapa, "
" Tuh Orangnya dateng, " Roni menunjuk lirikannya, jackie menoleh. Bima dan Dylan datang di temani seorang adik kelas yang membuat kening jackie mengerut
" Devan ? Ngapain, "
Tak ada yang menjawab
" Lo bisa duduk dulu ? Jangan enggak sopan sama yang lahir duluan, "
Devan akhirnya duduk di depan Angkasa .
" Kami mau ngajak Lo gabung geng Tiger, " Angkasa memulai apa yang ingin ia bicarakan, " sebelum bazar, Gue mau Lo join Geng Tiger tahun ini, "
Devan menatap Angkasa dengan bingung
" Cuma Lo yang ditawarin. Tapi Lo jangan besar kepala dulu Gue ngajak Lo gabung karena Lo berani. Bukan karena Lo istimewa, " kata Angkasa
" Kenapa Cuma Gue, " Devan mencoba mencari tahu kenapa Angkasa tiba-tiba mengajaknya bergabung ke Tiger.
" Gue Enggak suka basa-basi gue Serius,"
Devan mencoba mencari kebohongan di wajah Angkasa. tetapi dia tidak menemukannya apa yang ia cari di sana. seniornya ini susah sekali ditebak
" Gue enggak kasih Lo waktu buat mikir sekarang juga, kalau Lo enggak mau yang enggak apa-apa, "
Devan terdiam
" Gimana Lo mau kan, " Tanya Dylan
Devan menggaguk, " Oke, gue gabung ke geng kalian, "
...°°°°°...
" Aduh, apa sih, " Bulan menoleh jengkel kepada Amanda yang memanggilnya berkali-kali. perempuan itu duduk di sebelahnya. Bahkan mendekat terus lalu tangannya mulai turun ke bawah dan menarik jaket Angkasa yang ada di laci meja
" Eh ngapain Lo ambil, "
" Lihat bentar aja, " Amanda sejak dahulu sangat suka jaket Angkasa ini apalagi kalau cowok itu memakainya di sekolah. Percayalah, Angkasa bertambah dua kali lipat lebih cool setelah memakai Jaket ini.
" Ngapain deh Lo Udah sini balikin, "
" Enggak rela ya gue Pegang-pegang, " Amanda menaik turunkan satu alisnya dengan senyum godaan, " Lagian kenapa Angkasa kasih jaket dia ke elo, "
Bulan diam. Dia tidak mungkin bercerita Kepada Amanda karena Cewek ini Pasti akan melakukan kehebohan
" Mana gue tahu, Udah balikin sini Nanti gue kembaliin, "
" Emangnya Angkasa ngomong apa aja ke Lo Cieee Udah ngomong berduaan. Awas deket, "
" Harusnya Lo bilang ada yang marah kali Amanda, " Loli yang duduk di belakang membuat Teman-temannya menoleh, " Lo enggak inget sama Kirana, "
" Oh iya Kirana, " Amanda berseru lagi Bulan menaruh jaket milik Angkasa ke mejanya kembali
" Dia kan Piala bergilir di sekolah jangan lupa, " Aluna menambahkan
" Piala bergilir ? sebutan apa sih, "
" Lah Bulan, Emang bener kan dia Piala bergilir Dia kan Mantannya banyak banget. Baru putus sehari sana cowok yang ini, besok dia udah dapet pacar lagi Yang lebih ganteng lebih keren dan lebih kaya deh Pokoknya dari yang lama Diapain aja dia mau Terus ya kata si Della Dia udah Pernah di Pegang-pegang sama geng Tiger, " Aluna bergidik ngeri, tetapi jijik
" Berarti Angkasa juga pernah dong, " kata Loli
" Enggak tau, Pacar Lo tuh Loli, "
Loli Cemberut mendengar Perkataan Amanda
" Dylan sih katanya udah enggak deket sama Kirana. Tapi gue takut, " Loli mengungkapkan kecemasannya yang memang berdasar, " Kirana, kan gitu Gatel, "
" Tapi bener Della bilang gitu, " Aluna Berbisik takut ada yang mengadu kepada Kirana.
" Kirana tuh kalau Duduk di Pojokan sama yang lain, Ya Lo tahulah dia diapain, "
" Cewek apaan kayak gitu Enggak punya harga diri Dih Najis, " Loli mengetuk meja dengan kepalan tangannya selama tiga kali
" jagain tuh Dylan Cowok Lo kan mata keranjang Lihat cewek dikit langsung seger Apalagi Kirana gitu Ya Lo semua tahu sendiri omongannya jorok gitu, " kata Amanda
" Frontal gitu, kan, " kata Bulan
" Gue kalau jadi Kirana sih malu banget, Dia cantik, tapi kelakuan enggak banget kan Percuma Cantik, ya, "
" Gak boleh gitu Aluna, sifatnya emang gitu, "
" Udah deh jangan suuzzon, " Bulan juga tidak mau memikirkan apa yang di bilang Loli
" Cuma Angkasa sama Sagara yang enggak pernah godain Kirana Mungkin aja nih mereka yang Paling waras, "
" Waras apanya Gila tuh, " ketus Bulan, Angkasa Waras dari mananya, "
" Kalau Lo udah kenal dia luar dalem nih, ya Bulan Lo enggak bakalan ngomong kayak Tadi, "
Bulan mengerdikkan bahunya, acuh tak acuh
...••••...
Angkasa dan temen-temennya turun secara gerombolan dari tangga sekolah. Mereka membawa hawa mengerikan. Terlihat jelas ada perbedaan dari wajah serta gaya tubuh mereka. Mereka terlihat seperti biasanya Angkasa, Bima, Dylan berserta Leo Pun tampak sudah mengikat dasi sekolah di dahi mereka. Mereka berdiri di belakang. Angkasa yang berjalan di Paling depan, ditemani Dylan beserta Sagara sebagai bodyguardnya. Sekarang mereka terlihat sedang menjemput anggota Tiger lainnya untuk ikut bergabung dengan mendatangi satu persatu kelas yang mereka lewati. Jumlah mereka semakin bertambah banyak membentuk kesatuan mereka
Ketika melewati koridor, Bulan dan Aluna Pun merasakan ada suasana yang berbeda. Cowok-cowok yang didominasi berbadan besar itu menuju kelas yang letaknya dekat dengan tangga keempat yang ada di sekolah. Letaknya kelas itu pun menyudut Tidak di belakang, tetapi sedikit tersembunyi Cocok untuk tempat duduk-duduk santai di depannya dengan bersandar di tangga
" Duh kayaknya mereka mau berantem ikut yuk, "
" Aduh enggak deh, Aluna enggak gue berani, " Ucap Bulan
" Ih Bulan sebentar aja kok enggak lama kok, " Aluna masih memaksa
Aluna yang tidak sabar ingin menonton akhirnya menarik Bulan ke sana. Bulan menggerutu karena mau tak mau ia harus menuruti keinginan temannya yang satu ini. Mereka hanya mengintip lewat jendela kelas yang mereka datangi sudah Padat Penonton setia.
" David, " kata Aluna saat melihat David yang masih duduk tenang di bangkunya sementara Angkasa sepertinya sudah kehilangan kesabaran, Angkasa sedang ditenangkan oleh teman-temannya
...David Ketua OSIS Cowok alim dan Paling sok tertib di sekolah....
" GARA-GARA LO RONI DI SKORS TIGA HARI BANGSAT, LO, "
" Gue Enggak salah. itu salahnya dia sendiri karena ketahuan bawa Vape ke sekolah, "
Tiba-tiba Angkasa mendekat dan menendang meja David hingga meja Cokelat itu membentuk dada David. David berdiri wajahnya merah padam. Angkasa telah memulai peperangan. Bulan dan Aluna yang melihat itu pun tahu sakitnya seperti apa di Perlakukan seperti itu
" Seharusnya Lo enggak ngadu ke Bu Maya Bangsat ! bentak Angkasa, hendak memberi satu Pukulan tepat di wajah David
" ANGKASA UDAH, !!!! Teriakan Bulan tanpa sadar membuat semua orang memperhatikan Bulan dengan Pandangan bingung termasuk Angkasa yang tidak jadi memukul David. Wajah memerah Bulan langsung memerah. malu Benar-benar, malu dan langsung merutuki dirinya sendiri karena bertingkah konyol merunduk lalu pergi dari sana dengan berlari, meninggalkan Aluna yang masih bengong di tempatnya
...••••...
Bulan sudah was-was karena melihat Angkasa ada di depan kelasnya saat pulang sekolah. Rasa takut melingkari tubuhnya. Bulan tidak harus bereaksi seperti apa di hadapan cowok itu. apa dia harus mengobrol biasa, menyapa atau malah Cuek ? Bulan menggeleng takut. Susah untuknya mengabaikan tatapan tajam elang Angkasa. rasa, malu Bulan karena hal tadi masih penuh membuat Pikirannya tak tenang. Aluna pun sudah sejak tadi membujuknya berbicara, tetapi Bulan enggan mengatakan sesuatu kepadanya
Kok, dia udah di luar kelas aja sih ? kan belum bel keluar
Bulan bertambah lesu. Pak Handoko menutup kelas setelah bel sekolah berbunyi. setelah mereka berdoa, guru itu keluar kelas. Bulan berharap Angkasa sudah Pergi dari depan kelasnya
mereka berempat melewati Angkasa yang sedang bersandar di dinding sambil memainkan kunci sepeda motor
" Bulan Tunggu, "
Bulan terpaksa berhenti karena panggilan Angkasa, " Lo bertiga duluan aja, "
" ini Beneran Bulan enggak apa-apa, " Aluna bertanya tidak yakin
" Bener, kok santai aja Aluna, " Bulan mengulas senyum tipis kemudian ketiganya pun pergi
" Takut banget sama gue sampe keluarnya lama banget, " Angkasa bertanya setelah dia di sebelah Bulan
" Biasa aja, "
" Lo ngapain sih ? tanya Bulan
" Seharusnya gue yang nanya gitu ke Lo,"
" maksud Lo, " Bulan kebingungan apa yang di ucapkan Angkasa barusan
" Kenapa Lo tadi teriak, "
Bulan diam, " Enggak apa-apa, "
Angkasa tahu, Bulan malu Terbukti dengan Bola mata cewek itu yang melihat ke arah lain, Berusaha menghindari Tatapannya
" jadi Lo cuma mau nanya itu aja kan Gue mau Pulang, "
Angkasa mencegah menarik kardigan hitam yang di gunakan Bulan membuat Bulan berbalik lagi menghadapnya
" Apa lagi, "
" Gue mau ngajak Lo makan ke rumah Mama gue Besok, ".