Kisah Untuk Sagara & Angkasa

Kisah Untuk Sagara & Angkasa
BAB 51 Titik Keberanian


BULAN. baru saja keluar dari bilik kamar mandi sambil mengikat rambutnya dengan karet rambut berwarna Pink yang terselip di antara bibirnya. Setelah mengikat rambutnya menjadi ikat satu tinggi. Bulan langsung melipat baju seragamnya sambil melihat Pantulan dirinya di kaca besar Cewek itu sudah lengkap dengan Pakaian olahraga dan sepatu Nike berwarna Putih


" Bulan, Tungguin gue ! Aluna berteriak dari bilik kamar mandi sebelah


" iya Cepetan Aluna ! kita Udah telat banget nih, " Bulan balas berteriak. Kini suara krasak-kresek terdengar lalu Aluna keluar dengan menenteng satu tas besar berisi seragamnya ketika Bulan memasukkan seragamnya ke dalam tote bag hitam. mereka terburu-buru berjalan keluar kamar mandi untuk menuju ke kelas dan menaruh barang-barang mereka di kolong bangku


Bulan menarik tangan Aluna dan kedua Perempuan itu menuju ring basket tempat Pak Beni sedang duduk dan memberikan pengarahan. kening Bulan mengerut tipis melihat kelas XII IPA 2 duduk bersebelahan dengan anak-anak kelasnya. Pasalnya hanya kelas Bulan merupakan Kelas XII Bahasa 3 yang seharusnya Olahraga di hari ini. Tapi sepertinya ada kelas lain yang ternyata ikut gabung juga.


" Maaf Pak kami terlambat, " Bulan ngos-ngosan ketika ia dan Aluna sudah berada dekat dengan Pak Beni. semua mata memandang kedua perempuan itu


" Oh, kalian. Loli sudah kasih tahu kalau kalian Bantu Bu Maya periksa jawaban Ulangan, " katanya dengan jelas membuat Aluna dan Bulan mengangguk


Kemudian dari arah yang berlawanan, datang seorang laki-laki yang sudah menggunakan baju olahraga dengan nafas tersengal-sengal saat terkena sinar matahari, rambutnya tampak sedikit kemerahan meskipun sesungguhnyaia berambut berwarna hitam


" Maaf Pak saya terlambat, " Angkasa berkata sopan. sekarang dialah di yang Pandang oleh semua siswa-siswi


" Kenapa kamu terlambat, "


" Di hukum Pak Handoko tuh Pak ketahuan ngerokok, " kata Roni lalu gelak tawa terdengar membuat Angkasa menatap satu persatu temen-temennya yang menertawakanya. Tawa mereka dengan Cepat setelah Angkasa melempar tatapan sebagai tanda bahwa ia tidak suka ditertawakan


" Kamu merokok lagi Angkasa ? jangan merokok di sekolah image sekolah bisa rusak gara-gara kamu kalau masyarakat lihat kamu dan temen-temen kamu sering merokok, ! kata Pak Beni terdengar marah, " Berhentilah merokok. Merokok itu tidak bagus untuk kesehatan kamu apalagi kamu itu masih muda. "


Angkasa hanya diam. Wajahnya tidak merunduk, tetapi Tatapannya lurus kepada Bulan yang juga menatapnya


" Kamu dikasih hukuman apa, "


" Disuruh berdiri di ruang kepala sekolah Pak, " jawab Angkasa


" Mundur enam langkah. " Perintah Pak Beni membuat Angkasa mengerutkan keningnya, " Ayo enam langkah kamu tidak dengar, ! Dengan berdecak malas. Angkasa mengikuti instruksinya


" Dua langkah lagi, " katanya hingga Angkasa berada tepat di belakang garis


" Berdiri di sana. jangan ke mana-mana Kamu tidak boleh ikut pelajaran saya ngerti Angkasa. " Angkasa mendengus. Baru saja ia di hukum di ruang kepala sekolah. ini di hukum lagi oleh Pak Beni.


" kalau kamu melanggar, hukuman kamu akan saya tambah, "


" iya, Pak, iya, Galak banget sih, " Angkasa mencibir


" ANGKASA, "


" iya, Pak, iya, " Angkasa menjawab dengan cepat. Tidak mau Perpanjang Permasalahan


Guru bertopi Putih itu memberinya Peringatan lewat Tatapannya


" Kalian berdua lari dulu Pemanasan keliling lapangan sepuluh kali, " Pak Beni menyuruh Bulan dan Aluna. Pak Beni menghimbau yang lainnya untuk segera berdiri karena akan ada pergambilan nilai permainan bola voli


" Panas di sana Angkasa ! Mendingan di sini ngadem sama kita-kita, " kata Leo di sebelah Roni yang berada di bawah Pohon.


" Eh buset Bos muka Lo jangan kayak orang mau ajak berantem gitu Bos, " kata Leo membuat Roni tertawa


" Hati-hati Lo Leo dibelakang pas pulang sekolah nanti. Lo kenak amuk Lo, " Roni menepuk pundak Leo membuat Leo bergidik ngeri.


" Maaf Bos gue bercanda kok, " Ujar Leo


" Roni, Leo, " suara Pak Beni membuatnya terdiam


" Mampus Lo, " batin Angkasa


...••••...


" jangan nganggu Angkasa lagi Lebih baik Kalian belajar bola Voli jadi tidak akan mengecewakan saya saat pernilaian nanti, " Leo dan Roni mengambil bola voli yang menganggur dan mulai berlatih sesuai arahan Pak Beni


setelah Bulan dan Aluna Selesai berlari, mereka ikut bergabung dengan yang lain kecuali Angkasa yang masih diam di tempatnya


Mungkin ini firasat Bulan atau bagaimana karena sejak tadi Angkasa terus memperhatikannya. Sejak ia datang ke lapangan, saat ia berlari bersama Aluna dan hingga saat ini Bulan mencoba menolehkan kepalanya secara perlahan benar saja Angkasa sedang memandangnya. Kalua begini bagaimana bisa Bulan berkonsentrasi. Dari Kemarin hingga sekarang. laki-laki itu terus memenuhi Kepalanya


Bulan kaget karena Amanda menarik tangannya sehingga tubuhnya yang tak siap langsung tertuju Pada Bulan. sebuah bola voli terjatuh di dekat mereka


" Eh, sorry ya, " Sagara tahu-tahu ada di sampingnya


" Untung aja bola enggak kena Bulan. Kalau kena Lo mau tanggung jawab, " Amanda tampak judes


" Amanda, " Bulan menegurnya


Amanda menghela nafas. Lain halnya dengan Aluna yang hampir menjerit di tempat karena pujaan hatinya berada saat dekat dengannya


" sekali lagi gue minta maaf, " setelah berkata, Sagara berlari mengambil bola yang dilemparnya tadi dan melakukan servis tangan bawah dari tempatnya berdiri hingga bola berwarna kuning biru itu melambung tinggi dan di smash oleh Dylan


" SAGARA, KOK GANTENG GITU SIH EMAKNYA PAS NGIDAM MAKAN APA YA, " Aluna malah berteriak setelah Sagara Pergi


" Sagara melulu, Lo Aluna "


Hanya kelompok Angkasa yang menguasai bola voli. Tidak ada yang berani merebut atau meminta untuk belajar. Pak Beni lantas menyuruh kelas Bulan dan Angkasa untuk berbaris dan mengambil nilai Pada masing-masing murid tentang bola voli berurut dari nomor absen satu. Mulai dari melakukan Passing, smash dan juga servis setelah semuanya mendapat nilai, mereka boleh bermain bebas. Pak Beni Pun sedang duduk dan sibuk dengan buku nilai yang sedang ia Pegang


Bima tahu-tahu dari gudang dengan membawa dua bola basket di tangannya. ia melempar satu bola basket kepada Dylan lalu menatap kelompok Bulan dan melempar Bola basket sehingga Bulan pun menangkapnya


" Pake, aja, " Bima tidak Peduli dengan tatapan keempat Cewek yang ada di depannya, lalu menuju Teman-temannya


" Woi ketua main sini ! Leo mengajaknya. ia lalu menjemput Angkasa dan lari ke tengah lapangan sambil mengoper bola basket. Leo melirik Pak Beni Gurunya melihat apa yang sedang dilakukan Leo, tetapi Pak Beni kembali sibuk dengan apa yang sedang ia tulis.Tidak ada teguran berarti Angkasa sudah boleh ikut bersama mereka


" Gue duduk aja deh. Pegel, " kata Angkasa


" Gak ikutan main Lo Angkasa, "


Angkasa menggeleng kepada Sagara lalu mencari tempat yang teduh dan duduk di sana. Sagara yang sudah tidak bersemangat lagi bermain ikut duduk bersama Angkasa disusul oleh teman-temannya karena mereka sudah cukup. Mereka duduk sambil memandang anak-anak kelas Bulan yang kini sedang menguasai lapangan


" Aluna Cantik ya, " Kata Bima membuat Sagara menoleh kepadanya


" Cantikan juga Loli, " Dylan membela Loli


" Gile, lan ! Menang, banyak Lo, " kata Leo sambil melihat loli yang kini sedang mengoper bola dan tertawa bersama teman-temannya


" Lihatin Pacar gue enggak usah segitunya kali, " Dylan memiting leher Leo yang membuat Leo mengaduh keras. Dylan melempaskan Pitingan setelah Leo menyerah. Leo mengusap-usap lehernya dan duduk berjauhan dari Dylan


Angkasa menekuk kedua kakinya sebatas dada melihat Bulan yang tengah tertawa bersama teman-temannya. Bulan melempar bola basket ke Aluna lalu Aluna melempar bola ke Amanda dan kembali lagi ke Bulan. Permainan cewek selalu beda dengan laki-laki. ketika Perempuan suka berebut bola, laki-laki justru lebih mementingkan Bagaimana caranya agar lawan kalah.


" EHHHH, BOLANYA, ! Loli berteriak ketika Bulan melempar bola terlalu jauh hingga bola itu melambung tinggi. Dari sekian banyak orang yang ada di lapangan bola itu terjatuh di depan Angkasa. Angkasa mengambil bola itu dan menatap Bulan dengan sebelah alisnya terangkat


" Ambil, Bulan, " Aluna menyenggol Bulan


" Gue, " Bulan melirik Teman-temannya


" Ya Lo lah ! Masa si Amanda, "


" ih gue enggak berani maap-maap aja, Bulan " Amanda menolak


" Loli Lo aja ya Mumpung ada Dylan di sana lo enggak bakalan diapa-apain sama Angkasa, "


" Enggak gue nggak berani itu kan Angkasa yang Pegang bukan Dylan, Lo aja Bulan yang ambil, "


" KAN, ELO YANG LEMPAR, !" seru ketiga temannya hingga ketujuh cowok sedang duduk itu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan di tengah lapangan


" Enggak mau ambil bolanya, " Ucapan Angkasa membuat keempat Cewek itu melihat Angkasa sedang memainkan bola basket dengan jari telunjuknya


" Sana, Bulan ! Aluna mendesak Bulan


Bulan meliriknya dan menghela nafas dan mengangguk Perempuan itu berjalan menuju Angkasa. Angkasa tidak akan memberikan bola basket yang dipegangnya semudah yang Bulan Pikir.


" Bolanya, " Bulan membungkuk dengan tangan terulur di depan wajah Angkasa


" Mau ambil aja sendiri, " kata Angkasa


" Udah deh jangan main-main, "


" Siapa yang main-main, "


Bulan mulai kesal, " Bolanya, "


" Ambil aja sendiri. kan udah gue bilang,"


Bulan menahan rasa kesalnya yang perlahan timbul dan mendekati Angkasa untuk mengambil bola basket itu. Angkasa berdiri membuat Bulan mundur dua langkah karena jarak mereka begitu dekat


" Sinii bolanya, " kata Bulan


" Mau banget, "


" Udah deh ! kasih bolanya, "


" Ambil aja kalau lo bisa, "


Angkasa menggiring bola basket dengan cara memantulkannya ke bawah. Angkasa membawanya menjauh dari Bulan yang membuat perempuan itu menekuk alisnya dengan wajah kesal setengah mati.


" Enggak mau diambil nih, " Angkasa menggoda. Bulan menghela nafas sambil menutup matanya lalu menghampiri Angkasa. keenam teman Angkasa yang melihat perbuatan Angkasa hanya melempar lirikan penuh arti satu sama lain


" Balikin, "


" Ambil aja, " Angkasa berkata santai


" Wuis, santai, " Angkasa mundur cepat ketika Bulan mendekatinya, " Kan udah gue bilang ambil aja, "


Bulan mencoba maju, tetapi Angkasa makin berkelit dan mundur Hal yang dilakukan Angkasa membuat Aluna jengkel bukan main Hilang sudah kesabarannya.


" Cepetan ! Nyebelin banget sih, "


" Nyebelin gini gue udah nganterin Lo Pulang sama ngelin ... "


" Oh jadi Lo nggak ikhlas, " Bulan memotong, " Ya udah ambil aja Tuh bola gue nggak butuh, " Bulan berkata ketus lalu berbalik. Angkasa berlari mengadang jalannya. sinar matahari semakin menyengat kulitnya


" Nih ambil, " Angkasa akhirnya mengalah ia mengulurkan bola basket di tangannya. Bulan tidak merespons apa-apa, " Ambil, " ia terdengar sedikit memaksa


Bulan mengambil bola basket yang dipegang Angkasa. Pada detik ini, Angkasa menarik tangan cewek itu sedikit kasar kearahnya sehingga mereka begitu dekat. seruan Teman-temannya terdengar begitu ramai. Apalagi anak-anak cowok. Mereka tidak menduga Angkasa akan melakukan hal ini


kejadian Begitu Cepat sampai Bulan sendiri baru menyadari apa yang dilakukan Angkasa. sedikit saja Angkasa maju maka pasti hidung mereka akan bertemu. Seruan dari kelompok Angkasa terus-terusan terdengar riuh bahkan teman laki-laki kelas Bulan juga membeo melihatnya. mereka sama sekali tidak menyangka Angkasa si ketua Tiger melakukan hal seperti itu. Bulan bisa merasakan embusan nafas Bulan yang menerpa wajahnya.


Keberadaan Angkasa yang begitu dekat membuat perut Bulan kembali menerjang


" Jangan banyak tingkah, Ntar gue kurung lagi di dalem kelas, " Angkasa berbisik mengancam Bulan


Benar-benar kaget


Angkasa mundur dengan wajah tanpa berekspresi lalu menuju Teman-temannya ia tidak peduli dengan orang-orang memandangnya


Dari tempatnya berdiri, Kirana melihat bagaimana Angkasa memperlakukan Bulan. Kirana tidak pernah melihat Angkasa memperlakukan seorang Perempuan apalagi siswi di sekolahnya seperti tadi. Bahkan Kirana tidak pernah mendapat perlakuan seintens seperti apa yang dilakukan Angkasa kepada Bulan


sementara itu di tengah lapangan, Bulan mencengkram erat-erat bola basket yang ia pegang lalu memantulkannya tinggi-tinggi, bentuk segala rasa kesalnya


" Dasar sinting, "


...••••...


Bulan dan Aluna sedang mengintip Angkasa dan temen-temennya di balik Pohon yang ada jauh di seberang. mereka tidak sengaja lewat dan kebetulan melihat Bima datang dari lorong kiri dengan sebungkus rokok. Leo membawa Teman-temannya. Aluna berdiri di depan sementara Bulan berdiri di belakang tubuhnya mereka juga sedang berada di lantai dua Sekolahnya. tempat yang sangat sepi memang jika sudah masuk kelas. Aluna menggelengkan kepalanya karena Angkasa dan temen-temennya belum juga masuk kelas dan masih menongkrong di sini. Padahal Pelajaran kelas mereka pasti sudah mulai sejak tadi.


" Gimana nih kita ke sana buat ambil sapu di gudang kalau ada Angkasa sama temen-temennya, " Aluna menoleh Pada Bulan, " Gue nggak berani lewat kalua ada mereka, " Aluna berdecak. Bukannya heran dengan Angkasa dan teman-temannya belum Juga masuk, tetapi tetap saja ini sekolah bukan tempat tongkrongan yang bebas mereka gunakan untuk merokok


" iya Parah banget sih ! Ngerokok kok di sekolah, " Bulan menatap Angkasa dan temen-temennya.


" Tapi Bulan, kita kan harus nyapu kelas kotor banget nih, kalau enggak nanti Pak Handoko bakal marah sama kita, " Aluna mengusap keringatnya melihat Cowok-cowok itu tertawa tanpa beban padahal Aluna sudah takut setengah mati Kalau mereka ketahuan mengintip


" Ya udah berani-beraniin aja lewat. Dia sama kita kan sama makan nasi Ngapain takut sama mereka, " Bulan menarik tangan Aluna membuat Aluna mengikutinya dengan pasrah. Cowok-cowok yang sedang duduk di meja menoleh begitu Bulan dan Aluna lewat


" Wuih Panjang umur ! Roni melirik Bulan dan Aluna, " Baru juga diomongin udah dateng aja anaknya. Emang Angkasa kalau jodoh enggak ke mana, "


Bulan mengernyitkan keningnya, berusaha tidak Peduli


" Oh ini Sagara si Aluna yang nembak Lo, tapi Lo tolak, " tanya Bima membuat Aluna dan Bulan menatap tidak percaya kepada Sagara karena Cowok itu bercerita kepada teman-temannya


" Bulan, Bulan, ! Masa Tadi si Angkasa bilang mau PDKT ke Lo, " Dylan menyerangi


" Bohong, jangan Percaya, " Angkasa lansung membantah


" Bener kok Bulan ! Nih Lo tanya si Sagara aja !" Dylan memanggil Sagara yang duduk di lorong buntu Pada kursi Panjang kayu cokelat, " Tadi Bos Angkasa bilang mau PDKT sama Bulan, kan " Angkasa masih memperhatikan Dylan yang sedang mencari bantuan Pada Sagara. Sagara hanya bergumam menjawabnya


" Ngapain Lo berdua masih di luar, Wah Lo berdua bakal juga ya Lo berdua bolos," tanya Roni


Bulan menekuk alisnya, " Kami enggak kayak Lo semua kali kami mau ngambil sapu ke gudang sekolah soalnya sapu di gudang bawah sama di kelas gue habis,"


" Oh kirain mau ikut bolos. kalau Lo bolos juga kan seru tuh, Ntar ada berita cewek juara umum sekolah kita bolos sama anak-anak Tiger. Widih mantap tuh, "


" Udah deh Roni. Minggir sana keburu bel masuk ntar nanti Pak Handoko mau dateng ke kelas gue, "


" Pak Handoko kan lagi di kelas gue tuh Ah, tuh guru ngebosenin banget kalau lagi ngajar. nggak asyik, "


" Lo enggak takut ! tanya Aluna, " kalau Pak Handoko sampai tahu Lo bisa dihukum udah tahu kalau Pak Handoko itu galak kayak Pak Joko sama Bu Maya,"


" Tenang aja, kalau ketahuan ya kabur aja apa susahnya sih ," Jackie Tertawa geli


Aluna menggeleng aneh, " Ya udah yuk Bulan Ngapain juga kita ke sini, "


" Minggir deh gue mau lewat, " Bulan hendak maju, tetapi Angkasa yang sejak tadi duduk di atas meja berdiri dan menghadangnya


" Mau lewat, Lo harus bayar dulu baru Lo bisa lewat, " Angkasa menyerangi


" Bayar, " tanya Bulan kaget


" Kenapa ? Lo keberatan, " Angkasa bertanya dengan badan yang berada sangat dekat dengan Bulan. Bulan meneguk ludahnya. ia jadi deg-degan seperti ada memukul-mukul Permukaan dadanya


" Kalau Lo bayar, baru Lo bisa lewat kalau Lo enggak bayar ya, enggak boleh lewat,"


" Emangnya sekolah ini Punya nenek moyang lo, " Bulan membentak membuat Bima refleks berdiri dari tempat duduknya hendak memukul Bulan karena kata-kata kurang ajarnya, tetapi Angkasa menahannya Bulan bertambah kaget karena Angkasa menahan Bima begitu kuat bahkan membuat Bima meringis karena Tangan Angkasa mencengkram lengan atasnya


" ini urusan gue sama Cewek nih Bim, Lo nggak usah ikut campur, " Angkasa menyuruh Bima duduk. Bima tak duduk-duduk juga membuat Angkasa mendorong tubuhnya hingga cowok itu ke belakang dan duduk di bangku Panjang


" Ya udah buat Lo gratis. lewat aja, " Angkasa lalu berubah pikiran, " Kenapa enggak lewat Udah gue kasih gratiskan, " kata-kata Angkasa membuat Bulan mengepalkan kedua tangannya. Bulan tahu gratis yang dimaksud Angkasa lebih rendah


Kedua cewek itu menuju ke gudang dengan gerak cepat mengambil dua sapu lantai dan menutup Pintu kembali. mereka berdua melewati Angkasa dan para pengikutnya. Tidak ada yang melakukan apapun untuk keduanya karena Angkasa yang melindunginya. Padahal Bulan dan Aluna melihat wajah-wajah teman Angkasa yang ingin menerkamnya


setelah sudah jauh Bulan mengembuskan napas lega. ia tidak pernah mau terjebak di situasi seperti tadi lagi


...••••...


Bulan mengambil map di meja guru dan merapikan spidol dan buku absensi dan buku tanda tangan untuk guru yang sudah mengajar Ketiga teman-temannya sudah Pulang. Begitu bel Pulang Bulan masih berada di kelasnya yang masih ramai karena Teman-temannya sibuk membahas PR yang diberikan Bu Maya


Bulan keluar kelas sambil memasukkan spidol ke map Tiba-tiba ada yang merangkul Pundaknya dari samping membuat Bulan Terkejut bukan main


" Wih buru-buru banget mau ke mana sih, " tanya Kirana santai tetapi sungguh membuat Bulan langsung Tahu ada yang tidak beres. Perasaannya jadi tidak enak, " Lo ganjen juga ya ke Angkasa, "


" Maksud Lo, "


" jangan pura-pura bego. Lo ngerti maksud gue, " ternyata Kirana tidak sendirian. Ada temen-temen yang mengikuti Bulan. Bulan tidak kabur


" Gue enggak Pernah ganjen sama Angkasa, "


" Tapi cari Perhatian kan, " Kirana Terkekeh sinis, Perempuan cantik itu memperhatikan Bulan dari samping lekat-lekat, " Cantik juga enggak, Pake sok-sokan ngedeketin Angkasa lagi,"


" Gue enggak Pernah ngedeketin Angkasa, "


" Hmm gitu ? Lo enaknya gue apain Lo mau Pilih gunting atau cutter, "


Bulan memelotot karena Pertanyaan Kirana. Bulan menahan nafas sebentar. ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia melawan Kirana.


" Gunting aja deh, ya, " Kirana memutuskan Pilihannya karena Bulan tidak mengatakan apapun, " Lo mau rok atau rambut duluan, "


" Maksud Lo apa, ? tanya Bulan. ia mengerakkan Pundaknya ke belakang membuat Kirana rangkulan Kirana terlepas, " Tolong jangan ganggu gue, Gue mau Pulang, "


Kirana menarik tangan Bulan yang hendak Pergi. wajahnya tampak berubah, " makanya Lo jangan ganjen, "


Kirana menjambak kuncir kuda Bulan membuat Bulan meringis jambakan Kirana begitu kuat. Tangan kanannya menarik kencang-kencang kuncir Bulan ke bawah membuat wajah Bulan mendongak, Lorong sekolah sedang sangat sepi karena. Kirana menatap puas wajah merah Bulan. ketika Bulan ingin melawannya, Kirana menggagalkan tindakannya


" DIEM LO, " Kirana mengecamnya. kedua matanya menyorot kebencian. sebelah tangan Kirana lalu menuding Bulan, " Enggak usah genit deh cuma karena Angkasa nolongin Lo dari anak-anak The Calm ! Angkasa itu cuma kasihan sama Lo Ngerti Lo, " satu jari lentik Kirana turun ke wajah Bulan. Bulan tambah meringis kesakitan karena kuku panjang perempuan itu menancap kukunya.


" Pegangin dia Girls, "


Melody, Wenda dan Devi memegangi kedua tangan Bulan agar ia tidak ke mana-mana. Bulan makin tidak bisa berkutik karena seluruh gerakannya di kunci oleh teman-teman Kirana


" Tolong lepasin gue, "


" Enggak akan sebelum Lo dapet ganjarannya, "


" Please tolong lepasin gue, Kirana ! Gue nggak salah apa-apa ! Gue enggak pernah ganjen ke Angkasa, "


" Diem Lo, ! Banyak omong, "


" WOI NGAPAIN LO DI DALEM " Gedoran dari Pintu luar membuatnya Kirana dan temen-temennya kaget . Gendoran Pintu itu semakin keras namun Bulan kenal dengan Pemilik suara itu ya, suara milik David


" Bukan Pintunya sebelum gue dobrak ini Pintu, " David kembali menggedor Pintu itu. Kirana menatap Bulan memberi Peringatan agar Cewek itu tidak berkata-kata macam nanti


" kalau Lo Sampe Lo ngadu, abis Lo Sama gue ? Kirana melepaskan Cengkraman di leher Bulan ia merasa tertolong oleh David, Kirana membuka pintu Kelas Pasang mata saling bertemu


" Ngapain Lo bawa Bulan ke sini "


" Bukan Urusan Lo " Kirana dan temen-temennya Pergi meninggalkan Keduanya Bulan masih berada di dalam Kelas sedang bersandar di dinding


" Bulan " David masuk ke dalam Kelas "


" Lo nggak diapain-apain kan sama Kirana kan " tanya David


" Gue nggak apa-apa, Gue mau Pulang dulu David, "


" Hati-hati di jalan, "


David merasa gelagatnya sangat aneh Tetapi ia membiarkan Bulan bergegas Pulang, Tidak ada yang lebih melelahkan dari hari ini