
, ibu, Angkasa dan Bara
Dengan nafas memburu, cowok itu membuka bagian akhir Angkasa melihat sebuah surat yang terselip di sana
" Gak usah sok tahu, "
" Masih aja galak, " jawaban Bulan membuat wajah Angkasa yang tadinya datar langsung melunak. Tanpa memberikan ruang gerak untuk Angkasa menjauhinya, Bulan mendekat ia mau memeluk Angkasa tetapi Angkasa sudah lebih dahulu melakukan itu. kepala laki-laki itu tenggelam Pada bahu Bulan
" Kenapa Lo harus ada Lo di sini ? Angkasa menggerutu, membuat senyum masam Bulan timbul Cowok itu masih memeluk Bulan, " Gue nyesel karena udah nyia-nyiain kesempatan yang gue punya dulu. sekarang udah enggak ada harapan lagi buat gue karena mama gue udah enggak ada Gue enggak sempet minta maaf sama Mama tentang Perbuatan gue yang kelewat batas ke dia, "
Pelukan itu lepas beberapa menit
" Lo cowok kuat yang pernah gue kenal. Lo harus kuat ngadepin semua ini, Gue ngerti perasaan Lo sekarang, Angkasa Gue banyak belajar dari Lo, "
Angkasa hanya mendengarkan Bulan berkata-kata memang tidak ada yang mengerti Angkasa sebaik Bulan. Cowok itu bungkam sambil menatap Bulan seperti perempuan itu adalah miliknya
Bulan memegang kedua tangan Angkasa. kedua telapak tangan Angkasa berada di atas Sementara kedua tangan perempuan itu ada di bawah
" kedua tangan ini pernah memukul banyak orang. kedua tangan itu pernah menolong gue, sekarang gue kasih tahu sebelum semuanya terlambat. Perbaiki apapun yang bisa Lo Perbaiki. perbaiki apa yang telah Lo rusak, "
Bulan lalu melingkupi tangannya Pada tangan Angkasa hingga kedua cowok itu tertutup, " Masa lalu seseorang tidak menentukan masa depan. Angkasa Lo masih bisa mengubah semuanya, "
Pandangan Angkasa tidak main-main kepada Bulan. Tiap kata dari perempuan itu langsung cowok itu simpan dalam lemari Kepalanya
" Makasih ya Angkasa, Karena Lo gue bisa belajar buat menerima baik buruknya seseorang. Makasih karena Lo gue belajar menerima orang pada adanya, "
...••••...
" Gue turut berduka cita, " Dylan menghampiri Angkasa. Cowok itu baru saja berjalan di lorong rumah sakit.
" Kenapa Lo bisa di sini, Bulan, " Tanya jackie kepada Bulan yang berdiri di sebelah Angkasa
" Oh dia, sama gue jackie, " Loli berbicara setelah datang dari arah pintu rumah Sakit
" Lo yang sabar Angkasa Lo harus bisa nerima apa yang udah terjadi, " ucap Sagara
" Gue Juga Turut berduka cita Lo yang tabah, " Roni ikut menyemangati
" Lo Jangan sedih terus Angkasa. Gue turut berduka cita, " Kata Bima
" Lo harus kuat Angkasa, gue Juga Turut berduka cita, " ucap Leo
" Gue beruntung Punya teman-teman Kayak Lo semua. Makasih karena udah jadi sahabat dan keluarga gue di sekolah," Kata Angkasa
...••••...
Bara menahan Angkasa yang ingin Pergi dari kamarnya. Cowok itu baru saja ganti baju. Wajahnya terlihat sudah lebih segar dari saat mereka berada di rumah sakit. Hari ini rumahnya, ramai dengan orang-orang yang suka membicarakan hal buruk tentang mamanya dulu. Mereka datang untuk mengucapkan bela sungkawa
" Mama gegar otak dan depresi, Angkasa "Pertanyaan Angkasa itu di jawab gumaman Bara., " Ternyata gue terlalu sibuk sama diri gue sendiri sampai-sampai gue enggak tau tekanan batin, "
" Apa Mama gegar otak akibat kecelakaan mobil karena gue dulu Waktu sama Tante Mona, " Tanya Angkasa
" iya Angkasa, semua juga karena gue, karena tekanan dari gue, Angkasa jangan nyalahin diri sendiri. Mama cuma ngerasa enggak ada yang mendukung. Lo tau kan Papa juga benci banget sama Mama, "
" iya gue tahu. Cuma Lo yang ada di pihak Mama, "
" Lo baik-baik aja, " Tanya Bara. Angkasa menggeleng. kenapa Angkasa bisa iri terhadap orang yang selalu baik kepadanya Padahal Angkasa terus-terusan bersikap sinis kepada Bara ?
" Enggak. Lo juga kan, Bang, "
Bara tertegun dan mengulang Perkataan akhir Angkasa, " Bang, "
" Gue bakalan manggil Lo Abang, lagi, "
" Kenapa, " Bara malah bertanya alasannya. Cowok itu kaget meski Bara lihai menutupinya
" Lo Kakak gue. saudara kandung gue cuma Lo, "
" jadi Lo mau .. berdamai, "
" iya, " Angkasa menjawab tegas, " Udah saatnya kita berdua saudara lagi. Gue pengin kita berdamai setelah apa yang udah gue lakuin ke elo Gue tahu pasti Lo bakal susah buat lo maafin gue, gue bakalan berusaha mengubah apa yang telah gue rusak. Apa Lo mau maafin gue Bang, "
Bara Terdiam. tak menyangka Angkasa berkata seperti itu kepadanya
" Kenapa enggak ? Dari dulu gue juga Pengin akur sama Lo, " kata Bara
Angkasa Merasa lega karena Bara mau memafaatkannya dengan mudah Padahal Angkasa terus-terusan bersikap tidak baik kepadanya
" Lo siap buat nganter Mama ke tempat peristirahatan terakhir Mama hari ini, "
" Gue siap Bang, Tapi sama Lo juga kan kita harus tunjukin ke Mama bahwa kita udah akur, "
Bara menonjok bahu Angkasa. Tidak terlalu keras tetapi sanggup membuat keduanya tersenyum. senyum yang rasanya sudah sangat lama Angkasa lihat dari wajah Bar