
.
Benar kata Papa Mama itu Wanita murahan ! Mama itu Tukang selingkuh Nyesel gue dilahirkan di keluarga kayak gini ? Apa kurangnya Papa sampai Mama nyari selingkuhan. Ma ? Bara, Bara, Bara Angkasa tahu Bara itu anak kesayangan Mama Tapi apa gak bisa sedikit aja Mama buat sayang sama Angkasa. ? Mama benci ya sama Angkasa ? Mama itu enggak pernah ada buat Angkasa
jeritan-jeritan itu kembali hadir di kepala Angkasa hingga membuat Angkasa serasa di guyur air dingin dari atas kepalanya. Perasaan bersalah itu menghujamnya kuat-kuat. kata-kata Pedas tidak tahu sopan santun yang sering ia lontarkan untuk mamanya benar-benar tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Angkasa Mendongak. seolah ada palu godam yang menghancurkan dinding Pertahanannya dengan sekali Pukul. Cowok itu mengepalkan kedua tangannya semakin keras untuk meredam rasa sakit yang ia rasakan, tetapi Perasaan sesak itu jauh lebih besar. Angkasa mengeratkan gigi gerahamnya yang bergemeletuk menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak keluar dari kedua matanya. Ayahnya selalu mengajarkan prinsip bahwa laki-laki itu tidak boleh menangis. Namun, Prinsip itu Kalah ketika wajah ibunya yang ia buat menangis terbayang oleh Angkasa Linangan air mata akhirnya jatuh dari sudut mata mengalir hingga ke Pipinya
" Kenapa Mama ngelakuin ini, " suara Angkasa melemah. Cowok itu merunduk untuk menghapus air matanya dengan kasar.
sekuat-kuatnya Angkasa berusaha untuk mengabaikan Saphira Angkasa tidak akan berhasil melakukan itu karena dalam tubuhnya mengalir darah yang sama. karena nafasnya juga terbentuk karena Saphira. karena nyawa ini juga karena Saphira
Teman-teman Angkasa baru saja tiba. Mereka berdiri berjajar membelakangi Angkasa. Cowok itu merunduk di tempatnya Merasa kalah oleh kejam dunianya Bara mendekatinya Tidak Pernah mengira kejadian seperti ini terjadi di hidup mereka
Cowok itu memeluk Angkasa. Pelukan Kakak dan adik yang tercipta saat jasad ibunya di bawah keluar oleh petugas rumah sakit. Mereka berpelukan sambil menatap jasad ibunya dibawa Pergi
" Ikhlasin Mama Angkasa, "
Angkasa menutup mata. ia menyesal tidak menggunakan waktu dengan baik. Perasaan kehilangan serta perasaan bersalah ini akan menghantui Angkasa selama-lamanya
...••••...
Hanya ada Angkasa dan anggun di ruangan ini Cowok itu menatap gamang tubuh ibunya yang sudah kaku. Tidak ada lagi kehidupan Pada tubuh ini. Tidak ada lagi wajah hangatnya semuanya sudah hilang digantikan segaris senyum kaku di bibirnya. Wajah tirusnya semakin memucat. Angkasa rindu memeluknya, tetapi cowok itu hanya diam dan bergulat dengan batinnya sendiri. Angkasa rindu suaranya tetapi keinginan itu harus ia tutup rapat-rapat karena Angkasa tidak akan bisa lagi mendengar suaranya
Angkasa menyentuh sebelah tangan ibunya yang dingin. ia menggenggam tangan lemah nan kaku itu dalam tangga hangatnya Hawa Penuh duka benar-benar terasa. Angkasa merunduk lambat-lambat lalu mengecup Punggung tangan ibunya. berjuta Permintaan maaf seolah ingin Angkasa sampaikan
" Mama Angkasa minta maaf atas semua kesalahan Angkasa, Maaf belum bisa buat Mama bangga, " Angkasa Berhenti sejenak ia mengatur nafasnya yang terputus-putus Perasaan ini tidak rela ini terus menyiksa
" Angkasa sayang Mama selalu,"
...••••...
" Angkasa, "
Angkasa tidak juga menoleh. Cowok itu menatap dinding rumah sakit dalam diam. Kedua tangannya berada di atas Paha Cowok itu masih menggunakan seragam sekolah sambil menggenggam erat-erat jam tangan hitam yang merupakan hadiah ulang tahunnya saat Angkasa berumur tujuh belas tahun
Bara memanggilnya lalu duduk di sebelah Angkasa, " Tadi gue ke mobil Bentar. pas Mama ditemuin di kamar Mama udah ditemuin enggak bernyawa Gue Nemu buku Mama di bawah bantal Gue enggak tahu sama sekali tentang buku ini selama tinggal sama Mama, "
Angkasa mulai menoleh Bara sama lelahnya dengan Angkasa, " Mama itu sayang banget sama Lo Angkasa. Dia sayang sama Lo, Dia sayang sama gue cara Mama sama Papa mendidik kita beda. Tapi tetep aja, Angkasa Lo harus tahu Angkasa kalau Lo itu istimewa di mata mama Lo itu Cahayanya Mama Gue enggak bisa bilang banyak Lo bisa baca Semuanya di buku Mama ini, "
" Semuanya udah lewat Angkasa menyesal Pun Percuma, " ucap Bara sambil menghela nafas, " Coba Lo baca ini semoga Pandangan Lo tentang Mama selama ini, berbeda Angkasa, "
Bara memberikan buku bersampul Cokelat itu untuk Angkasa. Cowok itu mengambilnya. Bara lalu berdiri dan menghampiri Kakek dan keluarga besarnya yang masih bersedih di lorong rumah sakit
Angkasa Pun berdiri ia berniat membacanya di tempat lain
...••••...
" Bulan, "
Loli langsung turun dari mobilnya, Membuka gerbang rumah Bulan. Perempuan itu baru saja Pulang diantar Loli itu mengernyit Loli menarik tangan Bulan dengan wajah Pucat nyaris tanpa warna
" Kenapa Lo balik lagi, Loli ? Gak jadi Pulang, "
" Fix Bulan Lo harus ikut gue, "
" kenapa sih Loli kok Lo keliatan Panik banget, "
" Itu Bulan, "
" itu apa sih, "
" Mamanya Angkasa meninggal, "
Bulan seketika Terkejut, " Meninggal, "
Loli menggaguk, " Ayo kita ke rumah sakit, "