Kisah Untuk Sagara & Angkasa

Kisah Untuk Sagara & Angkasa
BAB 87 khawatir


DI SMA GANESHA


" Turun Lo Rio Jangan buat gue ke sana untuk nyeret Lo ke sini, "


semua tahu bahwa merusak kesenangan Angkasa sama saja mengibarkan bendera perang Kepadanya dan Rio serta kawan-kawan telah melakukan hal terlarang tersebut


" Rame juga ya, Tiger, " Ucap Rio


" Turun buruan Dasar kampungan, " Teriak Angkasa


Gerombolan The Calm turun dari atas motor


" Kenapa Lo ngerusak basement Tiger, " Tanya Angkasa ia tidak mau buang-buang waktu setelah Rio berdiri di depannya kalimat itulah yang ingin ia tanyakan, " Budeg Lo ! jawab ?


" Tenang Angkasa ! jangan Pake urat dulu kalau ngomong " ibarat kerajaan. Sagara selalu bisa jadi Penasihat Angkasa yang dibantu Loli


" Tahan diri Lo Angkasa Kontrol dikit, "


Angkasa diam setelah Dylan menyuruhnya Tenang


" jadi bener Lo yang udah ngerusak Markas Tiger karena apa ? karena Lo dendam kalah tanding basket atau karena Angkasa mukul Lo pas itu, " Tanya Dylan, " Tinggal lo jawab aja iya apa enggak, "


" Kalau iya emangnya kenapa, " Rio bertanya balik membuat Angkasa murka


Cowok yang menjadi pusat Tiger itu langsung menonjok Rio disusul tendangan. Tidak hanya itu Para anggota Tiger dan The Calm mulai saling serang. Adegan demi adegan kekerasan terus terjadi di lingkungan sekolah SMA Ganesha membuat sekolah itu jadi makin Panas Karenanya


Angkasa bergulat. ia duduk di atas tubuh Rio Memukulnya tanpa perasaan. Angkasa tidak mau lagi menggunakan Perasaannya saat memukul Rio. Kali ini Angkasa tidak akan merasa kasihan hanya karena Rio saudara jauhnya


" Hancur aja Lo di tangan gue sekarang, bangsat, " Angkasa seperti kesetanan. Tidak ada yang menghentikannya


Hingga salah murid berteriak bahwa satpam sekolah dan seorang guru menuju ke sini, " WOI GURU SAMA SATPAM SEKOLAH MAU MENUJU KE SINI'


Angkasa terhenti setelah mendengar teriakan itu. Tangannya mengepal di udara Seolah melayang. Rio Sudah babak belur di tangannya. Begitu mengenaskan Rio memang selalu Kalah bila Angkasa menghajarnya. Angkasa bangkit ia benar-benar Puas melihat wajah Rio yang sudah tunduk kepadanya sekarang cowok itu sudah tumbang. Angkasa mengajak teman-temannya agar segera pergi dari sini.


" Cabut Woi Cabut, "


seperti mendengar ancaman. mereka semua langsung kabur. keluar dari SMA Ganesha dan menaiki sepeda motor mereka yang terparkir di tembok SMA Ganesha. Tanpa basa-basi mereka langsung Pergi dari sana tanpa harus bertemu dengan satpam sekolah dan guru SMA Ganesha yang sudah menjadi musuh bebuyutan sekolahnya


Angkasa sempat mendengar Rio berkata, seperti nada ancaman " Tunggu Pembalasannya dari gue, "


...••••...


" Angkasa sebaiknya Pulang Luka Lo harus diobatin, " Rio menyarankan


" Gue enggak apa-apa, "


" Terserah Lo deh Angkasa, "


" Gue sempet denger Rio ancem Lo, " Tanya Sagara


" iya, " Jawab Angkasa


" Gue takut Rio bakalan ngelakuin hal aneh-aneh sama Lo Angkasa termasuk hubungan Lo sama Bulan, "


" Maksud Lo apa, " Sahut Angkasa yang tak mengerti apa maksud dari Perkataan Sagara


" Gue takut Bulan bakal diapa-apain sama Rio, " Sagara menatap Angkasa dengan serius, " Lo pernah mikir dampaknya bakal sampe ke Bulan, "


" Bulan, " Alis Angkasa naik sebelah


" Lo harus mikirin dia juga, Angkasa Biarpun dia mantan Lo. dia satu-satunya senjata buat nyerang Lo sekarang Buat bikin Lo Jatuh sekarang, dia sama Lo udah enggak Pacaran, tetapi semua tahu kalau Lo masih suka banget sama dia, itu artinya Rio masih bisa manfaatin dia lagi,"


seluruh tubuh Angkasa langsung terdobrak dengan kata-kata Sagara


" Bulan Gue enggak mikir sampe sana, Gue harus hubungin dia, " Angkasa langsung mengeluarkan Ponselnya dari saku dan menghubungi seseorang


...••••...


" kembalinya lima ribu ya. Mbak terima kasih, "


" iya sama-sama, "


Bulan baru saja selesai belanja dan keluar dari supermarket ia berjalan sendirian. di tepi Jalan sambil memperhatikan nota belanjaannya. Perempuan itu sedang menggunakan celana jeans Panjang dan baju tipis dengan jaket abu-abu hingga menutupi kedua jemarinya sambil berjalan, acap kali terbayang kejadian saat sekolah tadi dalam kepalanya


Bagaimana keadaan Angkasa


apa cowok itu baik-baik sekarang


Hubungan mereka telah berakhir, tetapi Bulan susah untuk tidak memikirkan Angkasa. Cowok itu sedang berada di mana sekarang sedang melakukan apa atau sudahkah dia Pulang ke rumahnya ? Bulan tidak tahu. ia hanya tahu bahwa Angkasa Pergi ke SMA Ganesha dan sama sekali tidak ada kabar apa pun setelah itu


seharusnya Bulan tidak memikirkannya lagi setelah apa yang laki-laki itu perbuat Kepadanya. Namun, rasanya susah untuk mengenyahkan Angkasa dalam Pikirannya, dibutuhkan tekad yang kuat agar Bulan benar-benar tidak bergantung kepada Angkasa lagi. Bulan Sekarang Paham sebagain besar hidupnya sudah bergantung kepada cowok itu


Bulan mengambil Ponselnya yang berdering, menandakan ada yang menghubunginya. perempuan itu melihat nama yang ada di Ponselnya


Angkasa Awan Aldinata 📞


Awalnya Bulan ragu menerima Panggilan itu, tetapi mengangkatnya


" Halo, "


" Lo di mana sekarang, "


Bulan mengernyit karena Angkasa langsung bertanya keberadaannya dengan nada suara yang dalam. jelas tidak baik-baik saja perempuan itu mengamati sekitarnya


" Di jalan mau Pulang, "


" Habis dari mana ? Sama siapa, "


" kenapa, " Bulan malah bertanya balik, Kepada Angkasa " Panik banget, "


" Cepat Pulang jangan ke mana-mana, Di rumah lo enggak ada Abang Lo kan, "


" Enggak kok, Lo Tahu, "


" Buruan Pulang jangan banyak tanya,"


Lalu sambungan telepon tertutup begitu saja. Bulan memandang Ponselnya dengan menganga. benar-benar sebal


" Dasar aneh, "


saat Bulan menyebrangi jalan, perempuan itu merasa seperti ada yang mengikutinya. Kepala Bulak menoleh mulanya ia biasa aja, tetapi saat menoleh untuk yang kedua kalinya, Bulan tahu ada mobil yang sedang mengikutinya


Bulan memelotot kaget saat kaca mobil terbuka menampakkan wajah Rio yang memandangnya dari dalam mobil


" kebetulan banget kamu di sini, "


...••••...


Bulan meronta di dalam Mobil. mulutnya ditutup dengan lakban hitam. kedua tangannya diiikat dengan tali ke belakang. Gadis itu menangis sambil menatap Orang-orang yang menculiknya saat Pulang ia tidak kenal dengan mereka Takut. itulah yang dirasakan Bulan sekarang.


" Bisa diam nggak sih Lo ? Bentak salah satu seorang dari mereka yang membuat Bulan semakin takut


Bulan hanya bisa menangis dan berharap Angkasa datang menolongnya setelah ia mengirimkan Pesan kepada Angkasa saat ia dikejar-kejar anak buah Rio sementara itu Angkasa sedang mengendarai motornya


...••••...


Angkasa benar-benar mengebut membawa sepeda motor seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Cowok itu membuka kaca helmnya dan melihat rumah Bulan yang ternyata sepi dari luar gerbang. Lampu tamannya bahkan tidak hidup. Angkasa mencoba menghubungi Bulan berkali-kali tidak Peduli hujan sedang mengguyur badannya.


...Rio Mahendra...


...Bulan ada sama gue di Markas The Calm...


Angkasa mengeratkan kepalan tangannya. Rio tidak tahu dia sedang berurusan dengan siapa Rio kini sedang berurusan seseorang monster


...••••...


" Bulan, "


Tidak ada yang menyahut. Angkasa memasuki gudang besar itu Gudang serta tanah ini adalah Markas The Calm. gelap dan juga bocor Air hujan bebas masuk ke tempat ini. Angkasa semakin masuk ke dalam sambil menyingkirkan tabung-tabung besi yang ada di dekatnya agar ia dengan mudah menemukan Bulan. Namun tetap saja tidak ada di sini


" Bulan, " Angkasa hidupkan Ponselnya dan menerangi jalan dengan senter dari Ponselnya, " Bulan


Dingin dan tidak ada yang menjawab


saat Angkasa melangkah naik ketika sampai di dekat tangga Angkasa mendengar suara. saat Angkasa mengarahkan senter ke arah sana, Angkasa tahu ada orang di sini selain dirinya ke mana Rio dan temen-temennya ? Apa Angkasa di jebak ? Angkasa Pun tanpa rasa takut menajamkan Pendengarannya


" Bulan, "


..." Siapa itu, " suara perempuan. seperti merintih Angkasa kenal itu suara Bulan...


Angkasa akhirnya menghampiri Bulan ia melepaskan ikatan tali Pada kedua tangan Bulan dan kaki. Dengan Perlahan ia melepaskan lakban hitam di bibir gadis itu Pucat tubuhnya terasa dingin.


" Bulan, "


Bulan langsung memeluk tubuh Angkasa Awalanya Angkasa tidak membalas Pelukan itu semakin erat Angkasa yakin bahwa ini nyata


saat mengetahui ada yang menyakiti Bulan. Angkasa sudah ingin menonjok satu persatu orang yang telah melakukan ini. Tidak peduli saudara sendiri. Rio


" aku takut Angkasa, aku takut kamu enggak bakalan dateng, aku juga takut kamu pergi ninggalin aku, "


" itu enggak mungkin Bulan gue Pasti dateng nolongin, Lo, " Angkasa mencoba menenangkan Bulan


" Lo enggak di apa-apain kan sama mereka, " Tanya Angkasa. Bulan menggeleng sehingga membuat Angkasa mengembuskan napas lega kalau Rio sampai melakukan ini kepada Bulan, sudah Pasti Angkasa tidak bisa memanfaatkan dirinya sendiri. semua ini salahnya Angkasa


Angkasa mengurangi Pelukan. Dia melepaskan jaketnya yang basah Dan memasangkannya kepada Bulan


" Sorry jaket gue basah bagian luarnya, Tapi bisa nutup badan Lo. Lo tenang aja ada gue, "


Angkasa menarik rislesting jaket sampai bagian bawah dagu Bulan. jaket ini sangat besar di tubuhnya


" Ayo buruan keluar dari sini, "Angkasa memapah Bulan keluar dari Pintu tinggi gudang yang menyeramkan seperti ini. Tangannya memegang erat lengan Bulan.


" Gue tahu Lo Pasti bakalan dateng ke sini, " Ada suara di belakang tubuh Angkasa. Belum sempat Angkasa menoleh untuk melihat siapa yang berbicara tonjokan keras mengenai kepala Angkasa membuat cowok itu jatuh. Bulan yang sama terkejutnya masih diam di tempat


" Angkasa, "


" Mundur, " Angkasa membuat Bulan langsung mundur menjauh. Angkasa berdiri Pakaian sekolahnya saat kotor Bercak darah campur tanah dan air menyatu di seragam sekolahnya yang putih


" Lo emang ada dendam pribadi sama gue Cuma karena Citra suka sama gue, " tanya Angkasa kepada Rio


Rio mendekat. Angkasa membiarkan Rio mencengkram kerah seragamnya, " iya kenapa bisa semua orang suka sama Lo sementara Lo sama sekali enggak ngelakuin apa-apa ke mereka siapa Lo emangnya tanpa Tiger, "


" Kenapa Lo sirik sama gue, " Angkasa menantang


" Kalau berani hadepin gue langsung jangan nyakitin cewek, "


" kalau gitu ayo sekarang Lo buktiin omongan Lo, "


Rio memukul Angkasa hingga membuat cowok itu diam. Rio tahu dia sudah menang kali Karena tenaga Angkasa tidak sekuat tadi. seolah ilmu bela diri Angkasa lupa cowok itu gunakan Lagi-lagi Rio menghajar Angkasa. ia semakin merasa bahwa Angkasa tidak akan membalasnya


Angkasa bergerak, Dengan kasar Cowok itu menarik jaket Rio. Rio tidak sempat melawan hingga Angkasa menghajarnya habis-habisan. Bulan yang menonton gemetar Rasanya ia mau Pingsan.Bukan karena gerimis atau kedinginan tetapi karena Angkasa dan Rio tidak berhenti juga


" Gue gempur Lo di sini Biar Lo enggak macem-macem lagi, "


" Angkasa, Udah, " Bulan berteriak, tetapi Angkasa terus menyerang Rio


" Berani-beraninya Lo nyakitin orang yang gue sayang, "


Angkasa Berhenti menyakiti Rio, ia bangun lalu memperhatikan teman-teman Rio yang tidak bisa menolongnya. Angkasa mendekati mereka semua lalu menghajarnya satu persatu secara gila-gilaan. ia menyerang markas the Clam seorang diri hingga seragamnya tampak berisi percikan darah


" Urusan ini belum selesai ngerti siap-siap Lo mulai dari sekarang, Rio Mahendra " Angkasa menuju ke Bulan. ia mengajak perempuan itu pergi dari sana meninggalkan Rio dan teman-temannya


...••••...


Angkasa dan Bulan tiba di rumah perempuan itu. keadaannya benar-benar gelap Angkasa membuka Pintu depan rumah dan membawa masuk. Rumah itu sepi Lampunya bahkan baru saja Angkasa hidupkan. saat Bulan duduk di sofa, ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya sementara kedua sikunya ada di atas Paha


Angkasa duduk di sampingnya. ia tidak tega dengan keadaan Bulan


" Udah sekarang Lo aman. jangan nangis,"


" Maaf Bulan semenjak Lo kenal gue Lo jadi sering bahaya karena gue, " Angkasa tidak risi sama sekali dengan keadaannya sekarang Bulan masih saja tidak menjawab


" Sebaiknya Lo masuk ke kamar Obatin diri Lo. Gue bakalan jagain Lo di sini. Gue bakalan nungguin Lo di luar Lo tenang aja Ntar kalau Abang Lo udah Pulang, Gue Pasti Pulang, " Angkasa menjelaskan dengan lembut membuat Bulan menoleh


" Tolong jangan bilang sama Abang Satya ya, "


Angkasa menaikkan sebelah alisnya, " Kenapa, "


" Please Angkasa jangan, "


" Dia harus tahu. keluarga Lo juga harus tahu, "


Saat mendengar kata keluarga, Bulan hampir terlonjak jantungnya jadi berdetak lebih cepat seperti habis Ketahuan mengambil sesuatu


" jangan, " Bulan berteriak, " Please Angkasa, "


" Kenapa, "


" Pokoknya jangan Gue enggak mau mereka kepikiran gue. anggap aja udah selesai hari ini, "


Angkasa berdecak, " Emangnya Lo Pikir Rio enggak bakalan ngelakuin ini lagi ke lo Udah gue bilang Rio itu anaknya nekat banget, enggak punya otak senakal-nakalnya gue, gue enggak bakalan bertindak kriminal kayak gitu"


" Please Angkasa Jangan, "


Angkasa mengembuskan napasnya dengan berat, " Oke kalau gitu Gue enggak bakalan ngasih tahu tentang ini sama keluarga Lo, Tapi Lo harus janji Lo harus bisa jaga diri lo baik-baik karena Gue enggak mau lo kenapa-napa lagi, " Angkasa menghapus air mata Bulan


" Bulan gue mau tanya sesuatu sama Lo,"


" Apa, "


" Apa Lo masih sayang sama gue, "


Bulan Terdiam, Angkasa masih tetap Menatapnya Menunggu jawaban keluar dari bibir Bulan


Bulan memegang Pipi Angkasa, " Mana mungkin gue enggak sayang sama Lo, Angkasa, "


ini adalah Kata-kata termanis yang pernah Angkasa dengar dari mulut Bulan. seperti sebuah asa yang diberikan untuk Angkasa, Untuk kejelasan hubungannya


Angkasa memeluknya sambil tersenyum Pelukan yang tidak terlalu lama namun begitu berarti Angkasa merendahkan Pandangannya dan mencium kening Bulan, berbisik pelan


"love you more, "