
Angkasa menyentak tangan Saphira yang memegang tangannya ia sudah keburu emosi melihat ayahnya tadi. Hardi bisa melihat mereka bertiga di atas tangga
" Mama dapet telepon dari guru kamu. katanya kamu bolos, " Angkasa mau Pergi, tetapi Saphira kembali menariknya
" Kamu Kapan dewasanya setiap ada masalah kamu selalu lari kamu selalu saja mencari-cari masalah baru di luar ke mana saja kamu sewaktu bolos Apa kamu enggak Pernah mikirin Perasaan Mama, Angkasa. "
Alis Angkasa jadi menukik. " Mama aja enggak Pernah mikirin Perasaan Angkasa Ngapain Angkasa harus mikirin Perasaan Mama Urusin aja tuh selingkuhan Mama sama Anak kesayangan Mama ini jangan Pernah ngurus hidup Angkasa ! Angkasa menunjuk Bara dengan dagunya
" ANGKASA, " Suara Saphira terdengar keras. sebagai bentuk teguran yang sudah di ambang batas. Angkasa semakin tidak Peduli Cowok itu bahkan tidak takut dengan wajah merah ibunya Bara Pun sudah lelah mengurusinya
" Mama enggak berhak nanya-nanya tentang hidup Angkasa. Mama kan udah ada Bara. Angkasa udah tinggal sama Papa, " Kata Angkasa
" Kamu enggak tahu sopan santun Angkasa Biasanya Cuma bikin masalah dan buat Mama malu apa kamu enggak bisa Contoh Kakak kamu itu. "
Angkasa diam. Urat-urat lehernya menegang kencang. " Angkasa memang enggak Punya sopan santun Angkasa memang kerjanya Cuma bikin masalah Kalau Angkasa nyusahin Mama enggak urus Angkasa, Angkasa udah sering bilang kalau Mama enggak ada hak buat ikut Campur sama kehidupan Angkasa ! Angkasa menegaskan
" Mama Tahu Angkasa jadi berniat bakar rumah ini sekarang karena rumah ini enggak Pantes untuk ditempati, " Angkasa melirik Hardi dan bergegas turun dari tangga. ayahnya tidak melakukan apapun
Angkasa mengajak Bulan Pergi. Bulan mengikutinya ia tidak berani menolak Suara sepeda motornya terdengar memecah keheningan seperti Bom yang tiba-tiba meledak Angkasa mengeluarkan sepeda motornya dari rumah lalu menyusuri jalan.
" Sorry ya, Lo jadi ngeliat drama gue sama Mama, "
" Apa enggak sebaiknya Lo Pulang Angkasa ? Selesaiin masalahnya baik-baik, " Bulan menasehatinya dari balik helmnya, Bulan tahu Angkasa tidak suka dengan apa yang ia ucapkan
" Lo mau makan dulu Gue mau ajak Lo makan mau ? Angkasa mengalihkan pembicaraan mereka sambil Terus mengendarai motornya Meski sangat Sakit hati dengan apa dikatakan Mamanya dan sangat marah atas apa yang dilakukan ayahnya dirumah, Angkasa masih bisa menyembunyikannya serapat mungkin. Dia akan menguburnya dalam-dalam dan menganggap kejadian tadi tidak pernah terjadi.
" Kamu diem aja berarti mau, "
...••••...
Mereka tiba di sebuah Pedagang makanan sederhana. Angkasa sejak tadi menawari makan di tempat-tempat favoritnya seperti direstoran, tetapi Bulan selalu menolak. Maka Angkasa memutuskan untuk mengajaknya kemari dan Bulan juga tidak protes lagi. mereka memesan dua Porsi sate dan duduk di kursi kerdil yang ada di pinggir jalan di temani temaram lampu jalan
Bulan terus memperhatikan Angkasa. cowok itu lebih banyak diam dan kadang termenung sendiri. Pesanan mereka Pun tiba. Angkasa dan Bulan sama-sama mengucapkan terima kasih kepada Penjual sate setelah menerimanya
" Gue jadi enggak enak sama keluarga Lo Angkasa. Tadi enggak sempet Pamitan, " Bulan mengaduk bumbu kacang dengan kecap yang ada di Piring
" Nggak usah di Pikirin. kejadian tadi Lo lupain aja, " Ujar Angkasa baru saja Bulan ingin mengatakan sesuatu, tetapi Angkasa sudah lebih dahulu berkata, " Please Bulan Jangan nasihatin gue sekarang. Gue enek denger orang-orang nasihatin gue,"
Bulan jadi tertawa, " iya sih, tapi kan emang seharusnya tiap ada masalah Lo enggak Perlu lari kayak tadi, "
" Udah gue bilang jangan nasihatin gue," Kata Angkasa
" ini nih yang enggak gue suka dari Lo Di kasih tahu malah ngeyel. Enggak baik kayak gitu apalagi sama orangtua. Dosa tau Angkasa Ntar yang ada Lo sendiri yang bisa nyesel karena udah bersikap kayak gitu ke mereka, "
" Diem atau gue Cium Lo, "
Bulan memelotot. Mukanya langsung merah merona sampai pada kedua telinganya. Beberapa detik setelahnya, Cewek itu memutar kedua bola matanya karena Angkasa mengatakan hal itu secara enteng. beruntung Angkasa tidak menyadarinya karena sekarang Cowok itu sedang makan
" Kalau enggak digituin Enggak bakalan diem, ya ? tanya Angkasa saat Bulan makan, " seharusnya enggak usah gue kasih tahu aja kali ya, "
" Apa-apaan sih Angkasa, "
Angkasa tersenyum kecil Cowok itu memanggil Penjual sate, " Mas, Mas minta kecapnya lagi, dong. "
Penjual itu membawa sebotol kecap di tangannya dan membukanya untuk Angkasa
" Jangan-jangan banyak Mas, soalnya sebelah saya udah manis banget, "
Penjual sate itu Tertawa ketika mendengar ucapan Angkasa. Lain halnya dengan Bulan yang tersipu malu
Angkasa melirik Bulan. Wajahnya tampak kesal tetapi Angkasa tahu itu hanya buatan saja
" Kok enggak diabisin, " tanya Angkasa
" Udah kenyang, " jawab Bulan
" Yakin Udah kenyang, Lo makanya dikit banget, "
" Udah, "
" Enggak mau nambah Gue beliin deh ntar buat makan di rumah, "
" Enggak, usah Angkasa, "
" Mas Pesen satu Porsi lagi dong terus dibungkus, "
" Angkasa ! Bulan berseru lalu menghela nafas
" Kenapa, "
" Udah dibilang enggak, "
" itu buat gue bukan buat Lo, " Ucap Angkasa. Bulan merasa malu dan memalingkan wajahnya
" Angkasa kalau boleh tahu, kenapa waktu di toilet itu Punggung Lo kayak habis di cambuk ? Di cambuk sama siapa, " Bulan bertanya dengan hati-hati. ia takut Angkasa marah
" Papa, Gue ngebakar berkas kantornya dia,"
" Hah, " Bulan kaget. " Kenapa Lo bakar"
" Gue kesel karena dia enggak pernah Pulang. kerja Mulu sekalian aja gue aja rusakin komputernya,"
Bulan tidak berekspresi saking kagetnya, Ada ya orang kayak Angkasa ?
" Lo lihat enggak tuh motor, " Angkasa menyuruh melihat motor-motor yang sedang berlalu lalang di depannya, " Lihat rodanya, "
" Hidup tuh kayak roda motor berputar. Sekarang gue emang di bawah Tapi gue bakal buktiin ke mereka kalau suatu saat gue bakalan ada di atas. Sama kayak roda motor yang terus berputar Bulan " Ujar Angkasa
" Gue bukan Mama gue yang bisa dengan gampangnya selingkuh dan ninggalin Papa gitu aja. Gue juga bukan Papa gue yang dengan gampangnya jadiin Wanita-wanita bayarannya buat Pelarian setelah bercerai dari Mama gue. Tapi gue Angkasa. Gue udah janji sama diri sendiri buat buat belajar setia sama satu cewek itu sebabnya gue enggak Pernah Punya cewek sampe sekarang, "
" Gue masih sabar nunggu jawaban Lo Bulan, " Ujar Angkasa dengan nada rendah. Cowok itu mengambil satu tangan Bulan. ia mendekatkannya ke depan dada cowok itu.
" Gue tahu Lo pasti enggak mau sama cowok yang selalu bikin masalah kayak gue. Gue juga sadar kalau Lo pasti nyari Cowok yang baik-baik buat jadi pacar Lo Enggak yang modelan kayak gue ini," Kata Angkasa
Bulan menatap Angkasa. ia menyelisik kedua mata cowok itu.
" Dari sekian banyak cewek, Cuma lo yang bisa bikin gue nyaman Awalnya gue sempat enggak mikir sejauh ini tapi gue enggak bisa ngelak kalau gue suka sama Lo,"
Bulan terbawa suasana dan terenyuh melihat kesungguhan Angkasa. Napasnya cewek itu tersendat-sendat saat Angkasa menyatakan lagi Perasaannya seperti Bungan yang mekar dalam perutnya cuma Angkasa yang bisa membuatnya mendadak jadi orang linglung dalam sekejap
" Kenapa Lo bisa suka sama gue Bukannya waktu itu Lo lihat gue kayak orang yang enggak Paling Lo suka, "
Angkasa mengangkat kedua bahunya Kedua alis Cowok itu terangkat, " Gue juga bingung, Padahal gue bisa aja suka sama Cewek lain, Tapi tetep aja gue pedulinya cuma ke Lo, Gue berharap Lo jadi Pacar gue, Temen Deket juga enggak apa-apa, "
" Gue Pikir-pikir dulu ya Angkasa, "
Angkasa mengangguk Pelan menghargai Keputusan Bulan Bagaimanapun ia tidak bisa memaksa
" Tapi jangan lama-lama ya Nanti keburu gue diambil orang, "
...•••••...
Dari jarak jauh Angkasa melihat Bulan dan David sedang latihan bersama. Dalam Pasukan pengibar bendera disekolahnya. Bulan bertugas membawa bendera. Sebenarnya sangat kelas sepuluh Angkasa sudah kagum dengan perempuan itu sangat upacara Pertamanya di sekolah, tetapi karena mereka tidak saling kenal jadinya Angkasa hanya bisa menyimpan rasa kagumnya hingga sekarang
Angkasa menghampiri mereka. Angkasa tahu ada yang berbeda dari muka David begitu Angkasa ada di sana. Namun, Angkasa memilih mengabaikannya. Tujuannya ke sini hanya untuk Bulan bukan untuk memperlihatkan Permusuhannya dengan David
Ricky memanggil Bulan memberi tahu kedatangan Angkasa
" Gue ke sana ya dulu, ya " ujar Bulan kepada David. Bulan menghampiri Angkasa dengan membuka topi abu-abunya sambil menghembuskan nafas Panjangnya Belakangan cuaca hari ini sangat tidak menentu. Kadang Panas. Kadang mendu
" Angkasa, Ngapain ke sini, " tanya Bulan
" Gue bawain Lo makanan buat Cewek yang gue sayang, "
Mendengar itu tak lantas membuat Bulan senang atau terbawa Perasaan
" Lo tuh butuh makan. Kalau latihan aja Tapi enggak makan, enggak bakalan semangat latihannya apalagi Kalua enggak ada gue yang nonton,"
" Apa-apaan sih Angkasa, "
Biarpun diam dan pura-pura tidak melihat mereka berdua, Ricky tidak pernah menyangka bahwa Angkasa melakukan hal ini untuk Bulan. Biasanya yang ia lihat adalah Angkasa yang sangat garang setiap Pada perempuan tetapi ini berbeda melihat Perlakuannya terhadap Bulan
" Gue mau latihan aja deh, "
" Kalau gitu nasi yang gue bawa gimana dong, "
" Lo Makan aja, ya ?
" Kalau gitu gue buang aja, " Angkasa hendak membuangnya di tempat sampah, tetapi Bulan langsung mencegahnya
" Ih Angkasa jangan di buang, " Bulan berteriak mengambil apa yang Angkasa untuknya, " kan Sayang, "
" iya gue sayang Lo, " Angkasa menahan diri untuk tidak tersenyum
Bulan melengos, " apa-apaan sih Angkasa enggak nyambung banget, " ia duduk di bangku dekat lapangan
" Lo enggak makan, "
" Ntar aja Pas Pelajarannya Bu Maya, "
Bulan geleng-geleng kepala, " Makan dulu sana. Jangan sampe Lo Bolos lagi,"
" iya Tuan Putri Nanti gue makan, "
David masih memperhatikan mereka yang duduk di bangku Pinggir lapangan. Bulan masih berdebat dengan Angkasa. David merenggangkan otot tangan dan juga kepala Untuk Urusan kali ini, David sudah kalah telak dengan Angkasa