Kisah Untuk Sagara & Angkasa

Kisah Untuk Sagara & Angkasa
BAB 130 Maaf


" Seneng kan Kakek liat aku sama Bulan Kayak gini, " suara Angkasa memecah keheningan di rumahnya


" Ngadu apalagi Kinan sama Kakek," tanya Angkasa


Keduanya sedang duduk berhadapan di meja makan


" Enggak ada, " sahut kakeknya


" Kamu Pertimbangin lagi Kinan. Atau sama yang lain. Kakek Yakin banyak yang suka sama kamu, " Ucap kakeknya memaksa tanpa menoleh Pada Angkasa


" Kalau Angkasa Cuma mau sama Bulan gimana " Tantang Angkasa


" Atau kamu fokus sekolah aja dulu jangan Pacaran, " sahut kakeknya terdengar ketus


" Terus nanti ketika Angkasa Udah lulus. kerja dan mateng Angkasa bakal cari Bulan. Angkasa bakal lamar dia," Ucapan Angkasa membuat kakeknya Berhenti mengoles selai lalu menatap Angkasa


" Kamu masih kecil. Belum tau apa-apa kamu benar-benar seperti ayah kamu Hardi keras kepala, Nekat dan dulu kakek melarang Papa kamu untuk Nikah sama Saphira Mama kamu sekarang lihat ? keadaan jadi begini itu karena dia tidak menuruti apa kata kakek, " Ucap Arman, kakeknya


" itu artinya kakek terlalu ngekang kami Angkasa udah besar kek. Apa salah kalau Angkasa sama Bulan Pacaran ? Angkasa yakin kalau Kakek kenal dia. kakek juga suka sama Bulan," Ucap Angkasa


" Bulan bahkan lebih baik sama daripada kinan, " tambah Angkasa ddsengaja


" Tetap Pada apa yang sudah Pernah Kakek Bilang, " kata kakeknya terdengar kasar membuat Angkasa berdiri


Bara yang baru saja masuk ke dalam rumah kakeknya hanya terpaku setelah mendengar semua itu. saat Angkasa ke depan pun sama terkejutnya dengan Bara. kedua mata Abangnya menuntut Penjelasan dan Angkasa tidak bisa lagi menyembunyikan sendiri


...••••...


Begitu menjelaskan semuanya di halaman rumah mereka Pada Bara Tentang apa yang sudah ia lakukan Pada Bulan. Abangnya itu langsung saja menghajar wajahnya Bara yang tenang, Pendiam dan juga bisa mengontrol dirinya kali ini benar-benar kalap bahkan sampai memaki Angkasa di depan wajah cowok itu


" Gue gak Pernah ngajarin Lo jadi Cowok bangsat kaya gitu Angkasa Gue Abang Lo kenapa gue baru tau kalau Lo gituin Bulan, " maki Bara


" Kenapa diem, "


" Gue Terpaksa Bang, " Ucap Angkasa


" Terpaksa apanya Lo, " Bara menarik kerah kemeja Polo Angkasa dengan marah


" Urusan sebesar ini Lo mau hadepin sendiri kenapa Lo baru nanya Pendapat gue saat semuanya Udah kejadian Di mana Otak Lo saat Lo gituin Bulan," Tanya Bara murka


" Kenapa Lo sewot banget Tentang Bulan, " Tanya Angkasa


Bara mencengkram erat kemeja Angkasa, " Karena gue udah anggep Bulan adik gue sendiri kenapa Lo tega nyakitin perasaan Bulan, " tanya Bara membuat Angkasa membeku


" Gue minta maaf Bang,"


" Bukan sama gue seharusnya Lo itu minta maaf sama Bulan, " sergah Bara Pada Angkasa


" Kalau Lo enggak bisa bahagiain dia Lebih baik Lo Putus aja sama Bulan Angkasa " Bara langsung menghempaskan tubuhnya Angkasa ke lantai


" Lo mau ke mana ? tanya Bara Pada Angkasa saat cowok itu mengambil kunci motornya


...••••...


Angkasa masuk ke sebuah gang sempit Di Ujung gang ada rumah Bulan rumah kecil yang Jauh dari kata layak namun Angkasa yakin rumah itu cukup nyaman untuk tinggali berdua. Saat Angkasa ingin membuka gerbangnya suara-suara orang sedang bertengkar mulai terdengar. itu suara Bulan dan Bang Satya


" Enggak Bang ! itu uang sekolah Bulan," itu suara Bulan


" Sini, " Paksa Satya


" Enggak mau makannya Abang tuh kerja jangan ngadelin uang yang dikirim Tante aja,"


Lalu ada bunyi kaca yang Terdengar membentur sesuatu lalu sampai ke dinding. Nafas Angkasa langsung memburu saat itu juga. Otaknya bekerja menebak apa yang sedang terjadi kedua tangannya mengepal


Marah namun entah kenapa Angkasa marah Pada dirinya sendiri Angkasa memasukkan motornya ke halaman rumah seseorang lalu mengintip. Derung suara motor terdengar. Satya baru saja keluar dari rumahnya


Angkasa memberanikan diri untuk masuk. Kedua kakinya melangkah ke dalam rumah Bulan. suara milik Bulan membuat kedua telinga Angkasa Panas saat melihat Bulan sedang duduk dengan keadaan yang menyedihkan di sudut kiri rumahnya. Dan setelah melihat bekas asbak yang Hancur di lantai Barulah Angkasa tahu apa yang terjadi


" Bulan, " Sapa Angkasa lembut setelah dia berhasil berjongkok di depan Bulan


Bulan Terkejut. Dia menoleh , " Ngapain kamu di sini, " tanya Bulan dingin


Bukannya menjawab. Angkasa malah mengulurkan tangannya. Hal itu membuat Bulan Kaget dan terenyuh karena Angkasa malah menyentuh lukanya. Diujung kanan dahi Bulan. Bulan menepis tangan Angkasa namun sekali lagi Angkasa malah membawa tangannya Pada Pipi Bulan lalu mengusapnya dengan lembut


Darah Angkasa berdesir hebat. Dia tidak tahu sudah berapa kali ia jatuh cinta Pada Bulan


" Sakit, " Tanya Angkasa Pada Bulan wajah sendu cowok itu membuat Bulan memalingkan wajahnya. Dia tak akan menangis di depan Angkasa. Dia tidak selemah itu


" Mau diobatin, " tawar Angkasa


" Enggak usah, " jawab Bulan cepat. Tampak tidak mau Angkasa berlama-lama di sini


" Kenapa, "


" Kenapa kamu tanya, " Bulan berbalik bertanya


" jangan sok Peduli, " Ucap Bulan Pada Angkasa


" Tapi gue emang Peduli, " Ucap Angkasa saat Bulan berdiri


" Kenapa kamu di sini Bukannya kamu sibuk sama Kinan, " Ucap Bulan


" Ada yang harus diperbaiki, " Ucap Angkasa. Pandangannya meneguh Pada Bulan


" Apa yang mau kamu Perbaiki Angkasa semuanya Udah hilang. semuanya udah Hancur Gimana kamu bisa memperbaiki yang sudah hancur, " tanya Bulan


" aku emang salah Bulan, Aku udah nyakitin kamu berkali-kali Tapi kamu tetep ada di samping aku. Nemenin aku Padahal aku dengan kurang ajarnya gak ngeliat kamu. aku sama kinan kamu masih bisa nerima itu Aku kasar Tukang berantem aku enggak bisa bela kamu. Aku yang enggak pernah bisa liat gimana kamu, " Ucap Angkasa membuat Bulan semakin sesak baru kali ini setelah semua yang telah terjadi Baru kali ini Bulan mendengar Angkasa berkata seperti ini Padanya. Hari ini baru Bulan merasa Angkasa yang dulu telah kembali kepadanya


" Baru kamu sadar sekarang kemarin-kemarin kamu ke mana Angkasa, " Tanya Bulan dingin


" Aku emang enggak Pantes dapet maaf kamu setelah apa yang aku lakuin ke kamu. Apa boleh aku meluk kamu kali ini, " tanya Angkasa