
" Makasih Angkasa, Gue enggak nyangka Lo bakalan berantem karena masalah yang seharusnya gue selesain sendiri, " Roni Masih berdiri di depan Angkasa
" Lo itu Temen gue dari lama Ron Mana mungkin gue diem aja Lo di gituin sama David, "
" Sekali lagi Makasih Angkasa. Gue seneng Punya temen kayak Lo Gue enggak tahu harus gimana balesnya. Lo temen terbaik gue Tau sendiri kan banyak yang enggak suka sama gue, "
" Siapa yang enggak suka sama Lo. Bilang sama gue biar gue Hajar itu Orang,"
Roni Tersenyum lalu menepuk Punggung Angkasa, " Sekali lagi Makasih Angkasa, "
" iya sama-sama Ron, "
...••••...
Jam Pelajaran baru saja berganti Angkasa baru saja kembali ke kelasnya setelah berdiam diri di ruang guru dan Sungguh saat membosankan baginya berada satu ruangan dengan David
" Angkasa, Please dong. Jangan berantem lagi Gue ngeri lihat Lo berantem terus setiap hari kebiasaan Lo yang ini bisa bikin Lo di Keluarin dari sekolah, " kata Kirana
" Ya gue tahu Kirana Makasih, "
Perempuan itu sedang memegang sebelah tangan Angkasa. jarak mereka berdua saat dekat di depan kelas. Jackie yang sedang memainkan Pulpen dengan dua jarinya tak sengaja melihat Bulan baru saja melewati kelasnya dengan rambut menutupi wajahnya
Namun, laki-laki itu tahu kalau Bulan melihat Angkasa dan Kirana
...••••...
Bulan baru saja membuka Pintu ruang Paskibra Ketika melihat David tiba-tiba memanggilnya. David Pun menutup Pintu yang sudah sedikit terbuka itu agar Pembicaraan Privasi yang akan ia sampaikan kepada Bulan tidak sampai terdengar keluar.
" Kenapa, David "
David tidak menjawab ia malah memberikan sebuah kartu undangan berwarna merah dan berpita kuning kepada Bulan, " ini undangan Khusus buat Lo. Gue bakalan seneng banget kalau Lo dateng ke acara ulang tahun gue, Bulan. "
Bulan mengerutkan sedikit dahinya. Lalu dia menerima Undangan David
" Dateng ya Bulan, "
ini sebuah Permohonan. Suaranya persis terdengar seperti itu di telinga Bulan
" Gue Usahain, ya. " Bulan berkata demikian. ia berusaha bicara dengan hati-hati karena takut mengecewakan David. Bukannya Bulan Pasti tidak bisa datang. Hanya saja dia tidak bisa berjanji
David yang semulanya sudah yakin Bulan Pasti akan datang karena ia mengundangnya dengan cara seperti ini Pun akhirnya menyembunyikan wajah sedikit ragunya. David mengangguk
" Thanks ya Bulan, "
Bulan pun membuka Pintu dan keluar dari sana dengan Undangan simpel dari David di tangan kanannya
" Lama Banget. Ngomongnya, "
Bulan Sontak menoleh Terkejut. seperti melihat hantu di Siang bolong
Angkasa yang sedang duduk di dekat ruangan Paskibra melempar botol air mineral yang ia Pegang. Lemparannya tidak meleset dan berhasil masuk ke tempat sampah dengan sempurna
" Lo udah lama di situ ? Tanya Bulan begitu melihat Angkasa berdiri di sampingnya
" Lumayan. " Angkasa menipiskan bibirnya, seperti marah
Otak Bulan Pun mencerna kata-kata Angkasa. itu artinya Angkasa menguping Percakapannya dengan David ? Apa mungkin terdengar sampai keluar ?
" Kenapa, "
Bulan menyembunyikan Undangan David di belakang tubuhnya
" Enggak usah disembunyiin. Mana sini gue lihat, "
" Menurut Lo,"
" Lihat bentar doang. Enggak bakalan gue robek kali, " Angkasa Pun langsung mengambilnya tanpa mau menunggu lama-lama, " jelek banget design-nya," Ujarnya sambil membolak-balik Undangan di tangannya
" Katanya Khusus buat Lo Tapi kok jelek banget, " Kata Angkasa
" Terus, Kenapa "
" Palingan juga harganya murah, "
" Apanya yang murah, "
" Undangannya, "
Mendengar hal tersebut. Bulan naik darah. ia langsung merampas Undangan dari tangan Angkasa bahkan hampir sobek olehnya Angkasa terkejut atas gerakan tiba-tiba itu Pun mengerutkan keningnya.
" Gue tahu Lo Orang kaya, Angkasa Tapi bisa enggak Lo enggak usah ngehina apa yang orang kasih ke gue ? Bulan benar-benar terdengar tersinggung. Angkasa yang masih kebingungan tidak menyangka Bulan akan seamarah ini terhadapnya.
" Kalau murah emang kenapa Ngaruh sama Lo,"
" Maksud gue bukan gitu Bulan ... "
Bulan membalikkan badannya dan meninggalkan Angkasa yang belum sempat menuntaskan Pembicaraannya
" Bulan, maksud gue bukan gitu. " Angkasa mengejar Cewek itu yang sudah berjalan menjauh
" Terus maksud Lo apa, "
" Bulan, diem dulu gue mau ngomong,"
" Kalau mau ngehina mending enggak usah. jauh-jauh sana. "
Angkasa menarik tangan Bulan sehingga Perempuan yang sudah naik tangga Pun menoleh ke belakang
" Bisa dengerin gue sebentar aja, " Kali ini Angkasa terdengar serius. Bulan yang mendapati murid-murid yang sedang melewati tangga memperhatikan mereka langsung melepas tangan Angkasa yang memegang tangannya
" Apa, "
" Gue butuh ngomong, tapi enggak di sini,"
" Terus di mana, "
" Ntar aja Pas Pulang sekolah, "
" Enggak bisa gue ada latihan Paskibra Kalau enggak Penting mending enggak usah, "
" Jangan sok jual Mahal, " Ungkapan kesal dari mulut Angkasa. Bulan yang Mendengarnya pun langsung memelotot. Angkasa masih persis menyebalkan seperti laki-laki itu menggendongnya di lorong sekolah. sebuah peristiwa yang bahkan saat ini masih bulan ingat dengan lekat di kepalanya
" Pokoknya Pulang sekolah, "
" Lo enggak bisa seenaknya gitu dong Gue ada latihan, "
" Gue enggak mau tahu Ntar Pulang sekolah Lo harus ikut gue,"
" Maksa banget sih ! Dasar Nyebelin, "
Angkasa Pun Pergi darinya. Laki-laki itu menghilang di balik tembok tangga. Bulan berdecak melihat Tingkah Angkasa yang semena-mena dan kembali berjalan. Saat menaiki tangga Kirana menabraknya dari arah berlawanan sehingga Bulan hampir saja Jatuh kalau tidak menopang tubuhnya di dinding tangga. Aura Permusuhan terlihat nyata dari Kirana untuknya
" Dasar genit, " katanya Kirana lalu melewati Bulan