
" apa Lo enggak niatan buat Laundry jaket gue, "
" Laundry aja sendiri !"
" Perasaan bau badan gue enggak gini-gini amat, "
" Diem Kenapa sih, "
" Bercanda doang. Serius amat, "
Seseorang Memanggil Bulan, hingga mereka berdua menghentikan pembicaraan. Mereka menoleh ke kiri menemukan David di lorong yang berbeda, Ketika melihat Angkasa yang ada di sebelah Bulan, David memelankan langkah kakinya
" Lo bisa ikut gue sekarang enggak Lo sama gue Panggil sama Bu Maya, "
saat David menatap Angkasa, laki-laki itu sudah lebih dahulu menantang Pandangannya. Tatapan Angkasa seolah-olah memberi tahu kalau David mengganggunya. jelas sekali kalau David tidak menyukai kehadiran Angkasa. kemungkinan karena masalah Roni berserta Teman-temannya atau bisa jadi Karena Bulan
" Angkasa Gue Pergi dulu, ya. "
Angkasa mengangguk, " Oke, "
Hanya itu jawaban dari Angkasa setelah David dan Bulan Pergi, Angkasa memasukkan jaketnya ke dalam tas lalu menuju kelas
...••••...
" Beli nasi di warung Bu Ani
Makannya di rumah Leo
Eh Neng Marissa dateng ke sini
Udah Pasti mau nyariin Abang lagiiii
Marissa yang sudah bosan mendengar segala macam jenis Pantun Roni hanya mengabaikannya. Perempuan yang sudah Pasti Penerus Kirana itu masuk ke kelas Angkasa mengabaikan tatapan tidak suka perempuan perempuan yang ada di sana setelah melihatnya diarea senior
" Kak Angkasa mana, "
" Ngapain sih Lo bolak-balik nyari Angkasa dari tadi, " tanya Dylan
" Apa sih Lan. Gue ada Perlu sama Angkasa kenapa jadi Lo yang sewot, "
" Tadi gue lihat Angkasa di deket lapangan, " kata Kirana sambil memainkan Ponselnya
" Oh gitu, Thanks ya, " Marissa lalu keluar kelas. saat ia menuju lapangan sekolah, ia melihat Angkasa sedang duduk di tepi lapangan. ketika Marissa hendak mendekat untuk melihat lebih jelas, ia menyadari bahwa Angkasa sedang memperhatikan Bulan yang sedang melipat bendera bersama David dan Austin di lapangan
" Lo ngapain diem di sini ? Gak jadi nyari Angkasa, " Kirana yang baru saja keluar kelas langsung berhenti di sebelah Marissa. Marissa terlihat sangat serius dengan arah Pandang yang Jatuh kepada Angkasa dan Bulan. Nama Bulan sudah tidak asing lagi bagi mereka. karena akhir-akhir ini mereka selalu membicarakannya
" Lama-lama itu Cewek ngeselin banget sih Dia makin deket sama Angkasa lagi Gue Pernah liat dia di anterin sama Angkasa, " kata-kata Marissa membuat Kirana menoleh
" Mereka emang deket Gue udah Pernah ngelabrak dia. kalau ngelabrak Terus ketahuan guru, gue Pasti masuk BK lagi Gue udah mau lulus, jangan sampe gue dikeluarin dari sekolah, "
" Lo takut sama Bulan Mana Kirana yang dulu ? Pertanyaan Marissa membuat Kirana menoleh
" Gue enggak takut, Oke bisa diatur, "
...•••••...
" Lo ikut Paskibra enggak takut item apa ? tanya Angkasa setelah Bulan duduk di sebelahnya di dekat sebuah kelas. Lapangan yang sudah sepi, Tidak ada satu Pun Orang di bawah terik matahari
" Ya enggak lah jadi anak Paskibra itu udah Cita-cita gue sejak SMP, "
" jadi Lo seneng Panas-panasan gitu, "
" Itu udah jadi risikonya kali, " Bulan mengusap tangannya sendiri, " Paskibra emang harus kuat Panas Enggak boleh gampang Capek Enggak boleh manja apalagi sakit-sakitan Anak Paskibra itu harus kuat, "
" Lo kurus gini bilang tenaga Lo kuat, "
" Eh enak aja ! kurus-kurus gini gue kuat,"
" Kuat dari mana ? Udah kurus, Pendek lagi, "
" Lo ngejek, "
" Gue ngomong sesuai Fakta, "
" Apa sih ? kening Bulan mengerut, menujukkan sikap kalua ia tidak suka dengan kata-kata Angkasa.
" Udah jangan diambil hati. Gue cuma bercanda, "
" Berisik, banget deh. "
" Baper banget sih Lo Bulan, "
" Emang ya semenjak ada kata baper Orang-orang jadi enggak menghargai kata Maaf, "
Angkasa menghela nafas, " Ya udah iya Maaf, "
Mereka dilanda keheningan. Saling menatap ke arah depan Meskipun ada yang mereka Pikirkan, mereka tetep diam seperti kehabisan topik Pembicaraan
Angkasa bersandar dan menatap Bulan. Tatapan itu tidak seperti biasanya
" Lo enggak ke kelas, "
" Ntar aja deh, "
setelah itu mereka terdiam lagi. Padahal mereka sebelumnya tidak begini ada yang berbeda kali ini situasi ini membuatnya hendak pergi dan menjauh dari Angkasa
" Bulan, " Panggilan itu membuat Bulan menoleh Angkasa berdehem Pelan karena sedikit membuatnya grogi, " Lo lagi deket sama Cowok, "
Ada jeda yang cukup lama dari pertanyaan itu dan jawaban Bulan, Bulan menggeleng, " Enggak kenapa Lo nanya kayak gitu, "
Angkasa berdehem, "Apa Gue boleh jadi yang Pertama. buat Lo , "
Bulan Pikir ia salah denger, tetapi ketika Angkasa duduk mendekat tingkah laku Angkasa membuatnya sadar bahwa Angkasa sedang serius Padahal tadi mereka tidak dalam suasana yang aneh seperti ini.
" Gue enggak tahu kapan dan di mana. Gue juga enggak tau kapan gue ngerasain ini ke Lo, " Angkasa menaruh tangannya ke atas tangan Bulan, " Aku mencintai kamu Bulan aku mencintaimu dengan Cara ku sendiri Maafkan aku kalau aku enggak tahu Bagaimana Cara mencintai seorang Cewek itu kayak gimana yang Perlu Lo tahu gue Cinta dan sayang tulus sama Lo Gue bingung nyatainnya kayak Gimana gue enggak Pernah sebingung ini kalau untuk urusan Cewek Gue nyaman sama Lo, Lo beda dari Cewek-cewek yang Pernah gue kenal Gue Cuman mau bilang kalau gue sayang dan Cinta sama Lo, "
Bulan mengerjapkan kedua matanya. Berikut dengan tatapannya yang turun menuju ke atas Pahanya. Di sana tangan Cowok itu sedang menggenggamnya laki-laki itu menatapnya dalam-dalam seolah-olah hanya ada Bulan di sana
" Gue Cuman nyatain Perasaan gue sama Lo kayak gini aja sama Lo gue udah seneng, "
Angkasa Tersenyum membuat Bulan sedikit merunduk. Perempuan itu sama sekali tidak menduga kalau Angkasa akan menyatakan Perasaannya dengan cara seperti ini.
" Angkasa, " Bulan menghirup nafas sampai- sampai ia lupa Caranya bernafas, " Gue bingung harus jawab apa, "
" Gue ngerti mungkin ini terlalu Cepat nyatainnya tapi yang terpenting Lo udah tahu kalau gue sayang sama Lo, "
...••••...
Bulan masuk ke kelasnya. Masih terngiang kejadian tadi di kepalanya. Banyak sekali pertanyaan yang bergumul di kepalanya yang tidak bisa ia jawab, ia ingin bertanya Pada Angkasa, tetapi ia sendiri sudah susah berbicara
" BULAN, tadi Dion minum air Lo Minumannya nempel di botol ! Bahkan Pengaduan dari Amanda tidak bulan hiraukan Teman-temannya dan Dion masih terus berdebat mempermasalahkan Persoalan air minum yang dihabiskan Dion. Bulan berjalan dan duduk di bangkunya yang membuat teman-temannya saling Pandang. Perempuan itu bergeming di tempatnya
" Bulan Lo Kenapa ? tanya Aluna. Aluna batal bertanya lagi karena ia Pikir akan lebih baik membiarkan Bulan ternggelam dengan Pikirannya sendiri
...••••...
Suara bel Pulang berbunyi yang membuat semua murid menghela nafas lega. Bulan pun begitu Rasanya jam pelajaran terakhir berlangsung terlalu lama baginya. Dia jadi tidak bisa fokus. Belum lagi tadi minumannya sudah dihabiskan oleh Dion sehingga ia jadi tambah tidak bisa berkonsentrasi
" Gue ke kantin dulu deh Mau beli minuman, " Ujar Bulan setelah mereka keluar kelas
Aluna dan Amanda memilih langsung Pulang sedangkan Loli menemui Dylan untuk Pulang bersama. sesampainya di kantin masih ada satu Pedagang yang buka. Pedagang yang lainnya sudah Pulang Bulan beruntung karena biasanya seluruh Kantin sudah tutup saat Pulang sekolah
" Mang saya mau beli minuman, " kata Bulan kepada Mang Ujang yang sedang menyapu
" Ambil sendiri aja Neng di kulkas, Nanti taruh uangnya di sana Neng, saya mau buang air cucian dulu, "
setelah menutup Pintu kulkas. Bulan menaruh uang yang ia bawa deket keranjang yang ada di atas meja. keadaan kantin jadi sepi setelah Mang Ujang Pergi. Terdengar suara Pintu besi kantin di tutup. Bulan menoleh lalu melihat Kirana dan Marissa Bulan pikir mereka akan membeli sesuatu, tetapi dugaannya salah ketika Kirana mendekatinya
Bulan mundur begitu kejadian waktu itu terulang di otaknya kembali
" Gue udah pernah bilang ke Lo soal, Angkasa kan sekarang sedeket apa Lo sama dia, " kata-kata Kirana terdengar Penuh ancaman yang membuat Bulan memegang erat-erat botol minuman yang ia beli. Botol yang ia Pegang sekarang seperti satu-satunya Penguat untuknya saat ini
" Kenapa, "
" GAK USAH NANYA BALIK, " Kirana membentak. Bulan terkejut dan makin hilang nyalinya. Berurusan dengan Kirana seperti ini membuat jantungnya berdebar-debar takut. Kirana mempunyai banyak backing Punya teman-teman yang siap membantu kalau ia terkena masalah
" Lo bisa ngomong enggak ? Di tanya tuh jawab ! Bukan diem, " kata Marissa
" Biar gue, " kata Kirana membuat Marissa mundur
" jadi Lo bisa kasih tahu gue. Lo sedeket apa sama Angkasa, " tanya Kirana
" Gue mau Pulang, Minggir, " kata Bulan hendak Pergi. Kirana menarik tangannya ke belakang dan semakin memojokkannya, membuat Bulan tahu kalau dia tidak akan bisa lepas Dea mereka
" sekarang enggak ada kata ampun buat Lo ! jauhi Angkasa, " Kirana menatap tajam Bulan. jemari Kirana bermain di rambut yang terurai lalu melemparnya ke wajah Bulan yang membuat cewek itu refleks menutup mata
" jadi cewek itu jangan ganjen Tukang cari Perhatian Dari awal sejak di lapangan itu. Gue tahu Lo sengaja mancing Angkasa marah kan Gue udah tahu tipe-tipe cewek cari muka kayak Lo,"
Bulan sama sekali tidak pernah berpikir dari sana
" Gue apa Lo yang ganjen ? Gue enggak pernah kayak Lo Bilang, " Bulan memutar balik Perkataannya dan bulan tahu betul apa yang sedang ia ucapkan
" Oh jadi Lo nantangin gue, "
" Gue Cuma bilang gue enggak kayak Lo bilang tadi Kirana, "
" Udah, sih kasih Pelajaran aja Kirana, Kasarin aja, "
" Gue mau Pulang, " Bulan masih mencoba Pergi, tetapi Kirana dan Marissa sama sekali tidak membiarkannya kabur begitu saja. Kirana merampas botol minuman yang di pegang Bulan lalu membuka dan menyiraminya di atas kepala Bulan yang membuat Perempuan itu langsung merunduk bentuk perlindungan diri yang bisa ia lakukan saat ini
Marissa dan Kirana melihat Angkasa serta Dylan membuka pintu kantin dan masuk, " Lo ngapain, " tanya Angkasa setelah melerai kejadian tadi ia saksikan
Mang Ujang yang sudah kembali hanya bisa berdiam diri. Takut ikut Campur. Loli dan Dylan melihat dari belakang Angkasa yang sudah berada di tengah-tengah Bulan dan Kirana. sehingga Kirana dan Marissa terpaksa mundur, tetapi Angkasa malah maju dan mendekatinya
" Minta maaf, " Angkasa menyuruhnya
" Enggak, "
" Minta maaf sekarang Kirana, "
" Gue enggak mau ! kata Kirana Penuh Penekanan. ia tetep Pertahan dengan Pendiriannya
Angkasa menaikkan sebelah alisnya, " Lo minta maaf atau Lo keluar dari Tiger,"
Mata Kirana memelotot setelah mendengarnya. ia tidak pernah menyangka Angkasa akan Perkata seperti itu. Ke mana lagi dia kan berkumpul dengan teman-temannya kalau bukan di Tiger
" jangan bawa-bawa Tiger, ".
" Gue ketua dan gue enggak suka sama anggota gue yang berbuat seenaknya. apalagi cuma masalah kecil kayak gini. Minta maaf sebelum gue Laporin Lo berdua ke BK, "
setelah mendengar kata BK Kirana pun berpikir dua kali
" Oke gue minta maaf, tapi kejadian ini enggak boleh sampe ketahuan guru,"
Perempuan itu memandang Bulan yang sudah mengangkat wajahnya. Rambut dan seragamnya basah dengan air dingin. Meski enggan, Kirana meminta maaf dan mengatakannya dengan ketus. Angkasa menarik Bulan mendekatinya lalu berdiri di depan Kirana dan menatapnya lalu Pandangannya tertuju Pada Marissa
" Kalau enggak mau guru BK sampai tahu mulutnya Enggak usah ember Lo juga Marissa kalau sampe bocor Lo yang gue Salahin, " Angkasa menunjuk Marissa sehingga membuat adik kelasnya merunduk. Angkasa mengajak Bulan keluar kantin. ia menarik tangan cewek itu yang dingin Perpaduan yang sangat berbeda dengan suhu tangannya
" Kedinginan, " kata Angkasa setelah keduanya dekat dengan ruang guru
" Bulan, Mendingan Lo Pake jaket gue, " Loli membuka jaketnya dan memakainya, " Lo Pake dulu aja Jaket gue, "
" Gue Pergi dulu, Lo ikut gue, " Angkasa menarik tangan Bulan
" Enggak deh gue Pulang sendiri aja, " Tolak Bulan menolak
" Bulan, Mendingan Lo Pulang sama Angkasa Gimana kalau Kirana sama Marissa cegat Lo di jalan, " kata Loli
" Bener itu kata Loli Lo lebih baik Pulang sama Angkasa biar aman, " Dylan menimpali
Bulan hanya diam lalu akhirnya setuju