
Bulan ingin turun tadi di jalan saking kesalnya. Angkasa tidak main-main. Dia benar-benar mengebut di jalanan Bahkan ada banyak mobil yang ia salip begitu saja. Ada juga yang menyembunyikan Klason panjang untuk mereka karena ugal-ugalan di jalan
" Kenapa Lo ?
" Pake nanya lagi Lo !"
Angkasa Terkekeh sambil menaruh helmnya di spion motor. ia melihat rambut Bulan yang berantakan karena ulahnya
" Lo tuh ngajak cewek. Bukan ngajak Cowok Naik motor kok ugal-ugalan banget, sih "
" Yang Penting kan udah sampe. selamat Lo Harusnya bersyukur, "
" Ya enggak gitu juga kali, "
" Mau masuk enggak, nih ?
Bulan memalingkan wajah dan berjalan di sebelah Angkasa Perlakuan Bulan yang seperti itu membuat Angkasa meraih kepala Bulan, mendekatkannya lalu merapikan rambutnya, Bulan terkejut ia merasa jantungnya menabrak tulang rusuknya saat ia menoleh, hanya wajah datar Angkasa yang ia lihat.
" Pantes ribut-ribut. Mama kira ada apa ? suara Saphira itu menghentikan mereka berdua. kening Saphira terlipat menyadari perempuan yang berada di sebelah Angkasa, " Dia siapa, Angkasa ?
" Teman Angkasa, Ma. "
" Teman kamu, "
" iya Tante saya Bulan, " Bulan memperkenalkan diri
" saya Saphira, Mamanya Angkasa. Makasih udah mau dateng sama Angkasa ke sini, " Katanya dengan wajah penuh gembira. " Ayo duduk. Mama bikin minuman dulu, ya, "
" Eh enggak usah Tante, Ngerepotin. "
" iya haus, " Ujar Angkasa
Bulan mendelik kepada Angkasa, " Enggak sopan banget sih Lo, " Bulan Berbisik
" Gue Jujur, "
" Kalian Enggak usah ribut, Tunggu ya,"
Bulan merasa bersalah karena Saphira mendengarnya. Saphira memanggil Bi inah menyuruh pembantu rumah tangganya untuk membuatkan minuman. Bulan masih melirik Angkasa yang malah dengan Santainya bersandar di sofa sambil memeluk bantal empuk merah di Pangkuannya
" Mama seneng banget kamu mau ke sini lagi, Angkasa. " Angkasa hanya cuek setelah Perkataan itu meluncur keluar dari mulut Saphira. Bulan mengerti suasana mulai berbeda mencoba bersikap biasa aja. ia tidak mau terlihat terlalu kaku karena terjebak antara situasi ibu dan anak yang telah renggang. Angkasa bahkan tidak menjawab, " Angkasa sudut bibir kamu kenapa, "
" Enggak Kenapa-kenapa, "
" Coba Mama lihat, "
" Nggak usah, Ma. " Angkasa menolak mentah-mentah saat Saphira baru beranjak dari tempat duduknya, " Cuma luka kecil, "
Bulan Tersenyum canggung, " Maafin, Tante. Angkasa memang rada aneh. "
Saphira yang awalnya merasa sedih jadi Tersenyum geli kepada Bulan, " Kamu tahu banyak tentang Angkasa, ya. "
sebelum Bulan menyahut Angkasa langsung bertanya, " Siapa yang aneh ? Gue, "
" Ya itu Lo Nyadar. "
" Lo juga aneh "
" Anehan Lo kan ?"
" Anehan Lo kali, "
" Lo kali, "
" Lo, "
" Kenapa kalian jadi berantem, " Saphira menggeleng-geleng melihat kelakuan mereka
Bulan Tersenyum tak enak, " Maaf. Tante saya enggak tahu banyak tentang Angkasa, Kok. Dia cuma temen saya,"
" Teman, ya. " Saphira bergumam penuh arti. " Angkasa enggak pernah ngajak teman ceweknya ke sini. "
Bulan menelan ludahnya, sementara Angkasa tampak cuek. seperti ada kupu-kupu menari di dalam perutnya saat ini. Bulan merasa pipinya panas terbakar karena Angkasa malah bersandar Kepadanya
" Angkasa, Papa kamu masih kerja yang jam segini, "
" Masih lah. Papa kan emang Fokus kerja Bukan macem-macem. " sindiran Angkasa membuat Bulan menghela nafas heran. matanya melirik Saphira yang menyesal karena bertanya seperti itu anaknya. " itu dulu sekarang. dia sering ngajak cewek-cewek ke rumah, " lanjut Angkasa
Bulan masih menjadi Pendengaran setia. Apa maksudnya ngajak cewek-cewek ?
Saphira terus tersenyum meski susah baginya untuk tenang. " kalau nanti malem. Mama ke rumah gimana. "
" Terserah "
" Oh, iya. Kalian tunggu sebentar di sini ya. "Saphira berdiri lalu menuju kamar yang ada di dekat mereka. tiga menit kemudian Saphira datang membawa kantong plastik putih beserta baju yang terlipat di tangan kanannya
" Tante mau kasih ini ke Bulan. Kali aja kamu suka. " kata Saphira setelah duduk kembali di sofa
" Eh, ya ampun, Tante ... "
" Tante enggak punya anak perempuan. Dari dulu Tante pengin punya anak perempuan cuma mau Tante udah dapet dua jagoan yang bandelnya minta ampun. " Katanya sambil menatap Angkasa lalu tertuju Kepada Bulan. " ini masih baru. Tante buat udah lama. "
" Beneran ini buat saya. "
" iya buat kamu. "
" ini ada gaun juga Bagus-bagus deh Pasti pas di badan kamu. "
" Tapi Tante saya enggak ..... "
" Enggak usah merasa enggak enak. Tante bakalan senang kalau kamu terima. "
Bulan memberi senyum canggung kepadanya
" Ya udah ayo Makan Citra sama Bara sudah di dalem. "
" Citra ? Angkasa langsung mengerutkan keningnya
" Citra dijemput sama Bara di sekolahnya, " Saphira dan Angkasa berdiri membuat Bulan melalukan hal yang sama
" Tante Aku mau masak lagi boleh enggak ? Teriak Citra sambil berlari menuju ruang tamu. kedua bola matanya membulat sempurna ketika memberi tahu Angkasa datang bersama dengan Perempuan
" Eh, udah ada Lo Angkasa. sama Bulan, ? Citra sempat memberi Pandangan tak suka kepada Bulan yang berdiri di samping Angkasa
" iya emang kenapa. Gue sama Bulan. "
" Oh enggak apa-apa, Angkasa. " Citra tampak menujukkan bahwa ia tidak suka dengan keberadaan Bulan di sini sebagai perempuan Bulan bisa merasakannya. Namun, bukan hanya Bulan yang merasakan seperti itu, melainkan Bulan juga. Saphira lalu mengamit tangan Bulan
" Enggak usah Tante kan udah selesai masak bareng kamu tadi Ayo sekarang kita makan. " Saphira melirik ke meja makan. Bara sudah mengisi kursinya sendiri, tidak banyak bicara seperti biasanya kalau Angkasa ada di rumah ini. " Udah ditungguin Bara di meja makan, "
" Ayo Bulan. jangan malu-malu Anggep aja rumah sendiri. " Saphira menarik tangan Bulan lebih dekat yang membuat Bulan tersentak kecil lalu mengikuti Saphira. Hal itu membuat Angkasa diam-diam Tersenyum kecil.
" Bulan ini Bara Kakaknya Angkasa, " Saphira memperkenalkan Bara Pada Bulan
Bara sudah berdiri lalu mengulurkan tangan. Bulan membalas dengan senyum manisnya. " Saya Bulan. Kak, "
Bara tersenyum. " Gue sama Angkasa Cuma beda Beberapa tahun Panggil aja gue Bara. " Bara melepaskan tangannya dari Bulan karena sadar Angkasa terus memandangnya dengan tatapan tajam. " Gue alumi SMA Arwana juga lho. "
" Oh, ya ? Bulan Tertawa hingga kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit
Angkasa berdehem keras membuat Bara geleng-geleng kepala, " jadi enggak nih makan. " Angkasa bertanya ketus
" Jadi Dong ! Udah laper banget nih, " sahut Citra
" Ayo Duduk, " Saphira duduk di dekat Citra sementara Bara duduk tepat di depan Bulan dan Angkasa
Acara makan mereka kebanyakan diisi oleh suara Citra. Bulan menanggapi dengan ramah Citra memang Pintar berakting bahwa ia juga menyukai Bulan. Angkasa menggenggam sebelah tangan Bulan di bawah meja makan. Bulan menoleh dan melihat Angkasa yang hanya menampilkan wajah sedingin es. Bulan urung berkata-kata
Angkasa terlihat terluka saat Saphira hanya sibuk mengobrol dengan Bara tentang cowok itu yang cuma makan sedikit. Angkasa tidak mendapat Perhatiannya sama sekali. Saphira jelas-jelas sempat menoleh kepadanya tetapi matanya kembali lagi kepada Bara dan bertanya tentang seputar kampusnya
" Gimana lomba di Kampus kamu Bara Kamu menang, "
" Bagus itu baru anak Mama, "
Genggaman Angkasa semakin erat semakin kuat hingga Bulan rasa Angkasa mau meremukkan tangannya
...••••...
senja baru saja menyapa langit ketika burung-burung terbang tanpa beban di sana. sepeda motor berwarna hitam besar milik Angkasa bawa Bulan menuju jalanan Panjang yang sedang ramai
" kita mau ke mana sih, " Bulan bertanya setelah mereka diam terlalu lama
" Ke Panti asuhan, "
" Panti asuhan, "
Angkasa tahu Bulan akan terkejut mendengarnya karena Angkasa berjanji untuk mengajak Bulan makan ke rumah ibunya
" Pokonya ikut aja. Mau gue kenalin juga ke Tante gue. "
" Tante Lo, "
" iya Dia Mama kedua bagi gue, "
Bulan mulai bertanya-tanya tetapi ia memilih menyimpannya karena mereka masih berada di jalan
Mereka tiba di sebuah Panti asuhan yang sederhana. Masih ada Anak-anak kecil yang bermain lepas di taman. mereka saling berkejar-kejaran, saling tangkap dan tertawa Tawa Polos tanpa Kepalsuan Tawa yang belum mengerti Permasalahan orang dewasa
" KAK ANGKASA, "
" KAK ANGKASA, "
seketika Angkasa dan Bulan diserbu oleh mereka yang memanggil-manggil Angkasa. Angkasa bahkan menggendong salah satu anak perempuan yang Paling kecil. kedua tangan mungilnya melingkar di leher cowok itu. ia juga mencium Pipi Angkasa
Angkasa tertawa karena kelakuannya Tawa yang Pasti membuat semua orang tua mendengarnya langsung jatuh cinta. Bulan tersihir oleh senyum Angkasa yang menghipnotis. Bulan terenyuh Tidak ada yang lebih membanggakan bagi Bulan ketika ia melihat Angkasa seorang Pembuat onar di sekolah ternyata sangat sayang terhadap anak-anak
" Kak Angkasa ke mana aja Niko kangen tahu sama Kak Angkasa, "
" Kak Angkasa kan sekolah, "
" Putri juga mau sekolah kayak kak Angkasa ! kata Putri, semua orang boleh sekolah jadi Putri harus sekolah kan Kak Angkasa ? sekolah itu kayak apa sih Kak Angkasa, " anak itu mencerocos imut. Angkasa mengusap rambutnya. Bulan masih terpesona di sebelah Angkasa. sosok yang biasanya ia lihat keras, Pembangkang dan juga suka marah-marah jadi sirna begitu saja ketika Angkasa berinteraksi dengan anak-anak Panti ini
Angkasa tersenyum, " Nanti juga Niko sekolah kayak Kak Angkasa sekolah itu seru tahu kita bisa ketemu temen-temen, " Angkasa melihat ke dalam rumah, " Bunda Mona ada di dalem, "
" Ada, Kak "
" KAK ANGKASA INI CEWEKNYA KAK ANGKASA, " Niko menatap Bulan, " Cieee Kak Angkasa Udah Punya Pacar,"
Bulan jadi kikuk sendiri saat mendengarnya
Angkasa tertawa mendengarnya, " Bukan ini temen Kak Angkasa kenalin dulu, "
Niko langsung menyambut Tangannya Bulan Penuh suka cita. Bulan mengernyit karena Niko mencium tangan Bulan, " Wah Wanginya, "
Angkasa tertawa melihat respons Niko yang membuat Bulan malu
" udah sana Kalian mau lanjut main kan Kak Angkasa mau ketemu Bunda Mona dulu, " Angkasa langsung menurunkan Putri dari gendongannya, " Ayo Bulan ikut gue, "
Bulan memasuki rumah Putih itu
" Kalau mereka manggilnya Bunda Mona kalau gue manggilnya Tante Mona, " Angkasa memberi Penjelasan Pendek
" Mereka manggil Lo Kakak, "
" iya dari Juga gitu, Gue kasih aja mereka manggil gue Kak Angkasa Mereka juga orang-orang yang paling spesial di hidup gue. Yang buat gue bertahan sekolah sampe sekarang yang cuma mereka, "
" Kenapa gitu, "
" karena gue beruntung masih bisa sekolah, enggak kayak mereka, " Angkasa berhenti, " Kecuali kalua ada yang mau adopsi mereka bisa sekolah kayak kita, " Untuk kesekian kalinya, Bulan harus akui bahwa ia terpesona dengan Angkasa. Angkasa memang mempunyai pesona yang hebat
" Biasanya Cuma ada tetangga, guru SMP yang ngajarin mereka secara sukarela ke sini Pas hari Minggu atau libur anak-anak Pasti belajar menghitung atau membaca, " Angkasa menjelaskan
" Gue ngajak Lo ke sini buat ketemu sama Tante Mona. Dia yang udah ngejaga sama ngerawat gue waktu masih SD. Zaman- zaman Mama sama Papa sibuk kerja ngelupain gue, " Angkasa tiba di depan kamar ia mengentuk Pintu. Terdengar sahutan di balik sana yang membuat Angkasa berani membuka Pintu
" Assalamualaikum, Apa kabar Tante, " Angkasa masuk ke dalam
" Waikumsalam, Siapa. "
" ini Angkasa Tante, " Angkasa menyalaminya, Namun Bulan melihat pandangan wanita itu hanya terus ke depan
" Kamu sendiri ke sini Angkasa, "
" Angkasa ke sini bawa temen. Namanya Bulan, " Angkasa berjongkok di depan Tante Mona yang duduk di atas kasur. Angkasa menyuruh Bulan mendekat, " Tante Mona buta, Bulan, " Bisikan Angkasa membuat Bulan Terkejut
" Kenalin saya Bulan, Tante. "
" Kamu Pacarnya Angkasa, ya. "
Angkasa dan Bulan saling lirik, " Enggak Tante, Kami cuma temen, " jawab Bulan
...••••...
sisa-sisa senja kala yang hampir tenggelam tampak terlihat. Masih ada detik-detik untuk mereka bisa menikmati Pohon-pohon, tinggi taman bermain dan juga Pemandangan kota dari atas sini. Angkasa mengajak Bulan berjalan di taman belakang Panti yang begitu luas dan indah. Penuh dengan kebun bungan Mereka di beri kesempatan Untuk duduk di taman berdua.
" Tahu enggak kenapa gue ngajak Lo ke sini, "
" Kenapa, "
Angkasa memiringkan kepalanya, " Karena gue juga besar di sini. Gue pengin Lo tahu tempat gue ngehabisin waktu pas masa kecil Dulu biasanya gue ke sini naik sepeda sendirian Padahal jaraknya cukup jauh dari rumah gue, Dulu Papa enggak ngasih izin gue Pake supirnya jadi gue setiap pulang sekolah nekat ke sini bawa sepeda, "
" Tante Mona yang suka ngelindungin gue kalau Papa Udah marah ke gue. lucu ya bukan Mama gue sendiri yang ngelindungin gue tapi Tante Mona. " Angkasa Terkekeh malang secara pelan," Mama gue mana pernah. Mungkin kalau ngebela Bara lebih sering, "
" Cuma anak-anak Panti ini yang ngajak gue main Pas SD Temen-temen di sekolah gue enggak. Makannya gue lebih sering ke sini. Beruntung gue susah dulu jadinya gue tahu mana yang beneran tulus sama gue dan mana yang enggak,"
" Semenjak kecelakaan mobil bareng Mama setahun lalu, Tante Mona jadi buta setahun yang mengubah segalanya, "
Kerongkongan Bulan terasa kering
" Udah gue bujuk Tante Mona buat berobat Tapi Tante Mona enggak mau Dia takut ngerepotin orangtua gue. Waktu itu gue marah sama Mama karena Mama Penyebab kecelakaan itu karena kecelakaan itu penyebab Tante Mona jadi buta Padahal itu semua gara-gara gue. kalau gue enggak kekanak-kanakan minta Mama sama Tante buat dateng ke pertandingan silat gue, Tante Mona enggak bakalan buta,".
Baik Bulan maupun Angkasa sama-sama membisu
" Jangan nyalahin diri sendiri, " Bulan merapatkan jaketnya, " Boleh tanya tentang Citra, "
" Citra itu Temen sama kecil gue, "
Bulan mengangguk, " Lo kenapa kasih tau semua ini ke gue, "
" karena bagi gue Lo berhak tahu, " Angkasa tersenyum, " Ketua Tiger yang sering marah-marah ini punya juga hati. semua yang diomongin Orang-orang kalau gue enggak Punya hati enggak bener sama sekali, "
Bulan tahu banyak menilai Angkasa sebagai manusia tanpa hati karena selalu tega terhadap orang-orang
" Lo tau monster ? Gue ini monster Bulan. monster banyak yang nggak suka sama gue, Banyak juga yang pura-pura suka sama gue, " Angkasa meneguk ludahnya
" Lo Bukan monster Lo manusia sama kayak gue Angkasa Lo nggak boleh ngomong kayak gitu, "
Angkasa terpana Pada wajah Bulan yang memandangnya. Lalu Angkasa tertawa, " Kenapa gue enggak kenal Lo dari dulu aja ya ?
Bulan tersipu
" Dunia ini Penuh dengan monster berwajah ramah dan malaikat penuh dengan bekas luka, "
Bulan tahu maksud dari Angkasa. Bulan juga sendiri bagaimana Cowok ini. Apa yang selalu buat lihat selama ini adalah topengnya. Bukan jati diri Angkasa
Angkasa berdiri, " Ayok bangun udah malem gue mau nganterin Lo Pulang,"
" Gue mau nanya lagi, " Bulan berdiri, " Kenapa sih Lo bilang gue ini salah satu kelemahan gue, "
Angkasa menerawang lalu menatap Bulan, " Karena Lo Mirip Mama gue, "