
" NGAPAIN Lo ke SMA Arwana Mau Cari gara-gara sama gue lagi, " Tanya Angkasa. Angkasa tak melepaskan cengkeramannya di kerah jaket Rio. Rio sesak nafas karena Cengkeraman Angkasa yang sangat kuat. Bulan mematung berdiri di depan Plang SMA Arwana. Perempuan itu persis Patung Pajangan yang sedang menatap ke arah Angkasa dan Rio
Dengan gerakan kuat, Rio menyentak tangan Angkasa lalu mendorong Cowok itu menjauhkannya. Rio mengambil nafas dalam Angkasa memang lebih bertenaga darinya
" Mana Citra, " Tanya Rio the Point. Cowok itu seperti sedang marah jika dilihat dari wajahnya, " Mana dia, "
" Ngapain Lo nanya sama gue, " Angkasa balik bertanya dengan nada tak kalah tinggi, " Emang gue ini bapaknya, "
" Di bilang sama gue dia mau nyari Lo ke sini, "
" Mana gue tahu, " Angkasa menjawab jengkel, " Makanya Lo kalau jadi Cowok Jangan semena-mena sama cewek. Kabur kan Mantan Lo itu, "
" Enggak usah banyak omong mana Citra ? Tanya Rio
" Mana gue tahu. Lo kan satu sekolah sama dia Masa Lo enggak tau dia ke mana, "
" Kalau gue tahu enggak mungkin gue nyari dia ke sini, "
" Gue enggak tahu. Enggak usah sangkut Pautin gue sama Lo, " Angkasa menjauh," Pergi sana Dia enggak ada di sini, " Angkasa mengusir Rio secara gamblang ia mencari Bulan. Perempuan itu masih diam Tidak ada tanda-tanda bahwa Bulan akan menghampirinya Cowok itu menarik Bulan, mengajaknya ke sepeda motornya yang berada di tengah jalan. di depan sekolah yang sudah ramai. Bukan hanya murid yang menunggu Pulang saja yang menonton mereka, tetapi juga satpam sekolah yang baru saja mau melerai
" Minggirin motor Lo, "
" Awas Lo kalau gue denger Citra sama Lo, " Rio memperingatkan Angkasa membenarkan kaca spionnya untuk memperhatikan Bulan yang duduk di belakang Badannya
" Lo nantangi gue Lo salah orang, " Angkasa membalas, " Minggirin motor Lo sebelum gue tendang, "
...••••...
sebentar lagi akan gelap. Tinggal menunggu matahari terbenam di ufuk barat saja maka gelap akan sepenuhnya menelan langit warna-warna jingga telah Pudar berganti dengan warna biru bercampur kemerahan yang transparan. Menit-menit berikutnya, langit sudah berubah menjadi biru keruh. Gedung-gedung pencakar langit yang sudah di bangun sekian rupa di kota tua ini terasa semakin banyak lampu-lampu remang di tiap jalan pun sudah mulai hidup. Angkasa dan Bulan memasuki jalan raya. Meski masih saja berada di luar rumah menggunakan baju sekolah. keduanya hanya diam. Angkasa yang sejak tadi sudah berusaha mengajak mengobrol, tetapi Bulan hanya menanggapi dengan singkat obrolan mereka Pun habis disapu angin
" Laper enggak ? Makan yuk, "
" Enggak, " Bulan berbohong. Padahal dia lapar sekali karena belum makan sejak sekolah tadi, " Sebenarnya Lo mau ngajak gue, makan ke mana sih, "
" Enggak tahu, Gue males Pulang. Gue Pulang malem aja biar enggak ketemu Papa, " Penjelasan Angkasa membuat Bulan terdiam memandangnya dari kaca spion, Angkasa sedang serius mengendarai sepeda motornya, " David ke rumah Lo kan sekarang, "
" Enggak tahu, "
" kenapa dia tahu rumah Lo, "
" Dia Pernah nganterin gue Pulang karena belum dijemput, " Bulan menjelaskan dengan jujur. Angkasa tidak bersuara lagi setelah mendapat apa yang mengganjal Pikirannya. Cowok itu membawa kendaraannya menuju warung Pinggir jalan yang menjual ayam lalapan. Bulan turun dengan wajah bingung Tujuan Angkasa ke sini Pasti mau mengajaknya makan. Uang Bulan sudah habis untuk membayar uang kas hari ini karena sudah menunggak selama tiga Minggu, sekarang, dia tidak punya uang untuk makan. itu alasannya kenapa Bulan tidak mau makan di kantin bareng dengan teman-temannya atau Angkasa
" Gue laper. Mau makan Gue tahu Lo juga laper kan, " Angkasa menaruh helmnya di spion sepeda motor. Cowok itu memperhatikan Bulan yang memegang tali tasnya. Laki-laki itu mengajak Bulan ke tenda kecil berwarna hijau itu. Perempuan ini sejak tadi hanya diam Angkasa tahu kalau Bulan masih kesal kepadanya karena hampir berkelahi dengan Rio
" Mau makan apa ? Tanya Angkasa Pada Bulan. Perempuan itu malah melamun," Bulan, " Bulan terkesiap mendengar Panggilan Angkasa kepalanya Pusing karena belum makan
" Lo aja yang makan, Gue enggak makan," Bulan menjawab lesu.
" Mas ayam lalapannya. tiga Makan di sini Pake nasi, " Angkasa berkata Pada Pedagang laki-laki yang ada sebelah Bulan, " Minumannya teh hangat aja Pak, " Pedagang itu akhirnya Pergi untuk menyiapkan makanan yang Angkasa Pesan. laki-laki itu memperhatikan Bulan. ia mengambil tisu yang ada di atas meja seperlunya lalu mengelap wajah Bulan yang sedikit berkeringat dan kusam
" Muka Lo Pucet banget. Pasti gara-gara belum makan ya, " Angkasa bertanya Padanya sehingga Bulan mengangkat wajah dan menggeleng, " Terus kenapa ? Lo sakit, "
" Enggak. kepikiran aja karena tugas sekolah gue banyak, "
" Udahlah Bulan Lo enggak usah kepikiran sampe segitunya, "
" Enggak ah, Gue kan enggak kayak Lo," Bulan sudah duduk dengan benar, " Lo mesen tiga ayam lalapan buat siapa, "
" buat Lo dua, Gue satu Tiga kan, Pas kan, " Angkasa berkata enteng sambil membuang tisu tadi, " Gue tahu Lo laper. enggak usah enggak enakan gitu sama gue. sama Pacar sendiri aja masih sungkan. kalau gue jadi Lo. Punya pacar tajir Ya gue Porotinlah sampe habis duitnya "
Bulan mengerutkan keningnya tidak setuju, " Matre dong gue kalau gitu, "
" Ngapain Matre, wajar cewek minta ini itu sama cowoknya Yang bilang Ceweknya matre karena selalu nuntut buat minta dibeliin barang sama cowoknya itu pasti karena si cowoknya yang enggak bisa menuhin permintaan Ceweknya. Bukan karena ceweknya matre itu tandanya dia enggak bisa ngasih apa yang ceweknya mau, "
" jangan ngomong kayak gitu deh kalau Lo masih Pake uang orangtua Lo, "
" kata siapa, " Angkasa terkekeh mendengar nada judes Bulan, " Sorry-sorry aja ya. Gue Pake uang gue sendiri, nih "
" Dapet dari mana ? Tanya Bulan bingung, " Lo kan enggak kerja, "
Angkasa tersenyum simpul yang membuat Bulan makin ingin tahu ada apa di balik senyuman itu
" Pas liburan, gue kerja di supermarket Ngangkat barang Lumayan gaji satu juta lebih Daripada gue diem di rumah atau kumpul sama anak-anak Tiger Mendingan gue kerja, " Angkasa menuturkan
Bulan tertegun ia benar-benar kaget, Angkasa kerja, Masa iya anak orang kaya kerja
" Enggak usah kaget kayak begitu mukanya. Bukan cuma gue aja jackie juga pernah. Dia emang butuh uang makanya kerja Buat bayar uang bayar sekolah Waktu itu dia ngajakin gue makanya gue bisa kerja di situ " Angkasa mengamati keadaannya. Angkasa lebih suka datang ke tempat-tempat seperti ini buat makan daripada di restoran mahal. Lebih membuat Perut kenyang dan harga terjamin untuk anak-anak Pelajar Selain itu, juga lebih sederhana
" Uangnya gue tabung di bawah kasur,"
Bulan masih kaget. Bibirnya setengah terbuka mendengar Penuturan Angkasa. kalau di saat-saat seperti ini Angkasa terlihat lebih dewasa Ada banyak yang tidak diketahui tentang cowok ini. Mungkin saat dahulu. Bulan akan terus mengecapnya sebagai cowok biang onar yang hanya meminta uang orangtua, Tapi semua anggapan itu sirna Sekarang. sudut Pandang Bulan yang selama ini di tanam di Pikirannya telah terkikis oleh Penuturan Angkasa Mungkin ini yang disebut jangan menilai orang dari luarnya saja
" Kaget banget, Bulan tenang aja. Gue yang bayarin, "
" Besok gue ganti Uangnya, Lo tenang aja,"
" Ngapain di ganti, " Tanya Angkasa Kepada Bulan, " Enggak usah diganti cuman makan segini doang Lo beli sepuluh juga uang gue enggak habis, "
" Ya udah terserah aja, "
Makanan mereka datang. Bulan benar-benar tidak tahan kepalanya sudah Pusing. Belum lagi suara radio yang memutar lagu-lagu lama di tenda di Pinggir jalan ini tambah membuatnya Pusing. Perutnya keroncongan tetapi ia masih tidak mau makan Padahal makanan di depannya
" Ayo makan. kenapa malah lihatin gue, sih " Tanya Angkasa saat Bulan tidak menyentuh sama sekali makanan di depannya, " Enggak suka ya Bulan makanannya, "
" Eh, oh bu ... bukan gitu !" Bulan berteriak gagap yang membuat para pembeli memperhatikannya. Bulan meringis karena telah mereposns seperti itu, " Eh maksudnya .... suka, "
" Ya udah makan. Minum teh hangat dulu biar Perut Lo enggak kaget. Dari tadi di sekolah Lo kan belum makan Gue tawarin Lo makan Lo malah enggak mau," Angkasa mendorong gelas berisi teh hangat itu Kepada Bulan.
" Ayo minum apa Perlu gue Pegangin, biar gak jatuh " Bulan langsung terburu-buru mengangkat gelas itu dan meminum airnya hingga habis Angkasa Tersenyum geli. cewek di depannya ini ternyata haus
" Haus banget Kayaknya Lo enggak bawa minum emangnya, " Dengan sengaja Angkasa menaruh tangannya di Punggung tangan Bulan sehingga Perempuan itu sedikit terkejut, Bulan mau menarik tangannya, tetapi Angkasa menahannya agar tangan Bulan tidak bisa ke mana-mana
" Udah habis Dihabisin Dion di kelas tadi Pagi, "
" Kalau besok-besok dia gangguin lo kayak gitu. Bilang aja ke gue Atau enggak Lo ancem aja mau bilang ke gue biar dia enggak seenaknya kayak gitu lagi, "
" Tapi jangan sampe keterusan. Enak di dia enggak enaknya di Lo, " Angkasa menggaruk Pelipisnya
" Angkasa, " Bulan memanggil Angkasa setelah berhasil menarik tangannya dan mencuci tangan di mangkuk kecil di Plastik yang sudah berisi air dengan Potongan setengah jeruk nipis itu, " Besok Lo ada PR enggak, " Tanyanya
" ada. kenapa tiba-tiba nanya, "
" Banyak enggak, "
" Lumayan Cuma nanti gue nyontek sama Sagara aja. Dia akan Pinter, tuh "
" Coba Lo buat sendiri. Nanti gue bantuin, deh "
" Yakin mau bantuin gue Tugas Lo kan Pasti banyak juga, "
" iya enggak apa-apa Lo buat aja dulu setengah sebisa Lo deh Besok Pagi-pagi buat bareng-bareng PR apa emangnya,"
" PR bahasa Indonesia kayaknya tentang iklan, " Ujar Angkasa
" Oh itu gue udah lewat Gue udah sampe bahasan novel, "
" Kalau gitu besok inget bangun Pagi Pasang alarm Gue telepon deh biar Lo bangun Hape Lo jangan silent, "
" Perhatian banget jadi makin suka deh, " senyuman Angkasa membuat Bulan mendengus
" Jangan mulai deh, " Bulan mewanti-wanti, " Awas aja Lo telat, "
Angkasa menaikkan sebelah alisnya lalu seimbang dengan sudut bibir kanannya terangkat
" Siap Bos, "
...••••...
" Kalau diinget-inget, muka Lo Pas habis ngelempar sepatu itu lucu, " Angkasa memulai percakapan mereka. saat mereka ada di sebuah taman dekat makan tadi. kapan lagi Angkasa menikmati waktu berdua bersama Bulan seperti ini
" Gue enggak tahu apa yang ada di otak Lo karena berani ngelempari gue sepatu Untung Lo Cewek coba lo Cowok enggak bakalan gue lepasin, "
" Lo sih kertelaluan, " Bulan mengingat hal itu, " Orang diem-diem dihina makanya kontrol dikit kalau punya mulut jangan nyakitin orang aja tahunya,"
" Lagian dia yang salah. Aldi tuh tukang adu domba Tiger sama The Calm. Makannya sampe sekarang enggak pernah akur. Dia bilang Tiger suka jelek-jelekin The Calm dari belakang Padahal kita semua enggak pernah jelek-jelekin The Calm, " Angkasa berucap sambil berjalan di sebelah Bulan
" Dia bilang kalau gue suka jelek-jelekin The Calm Padahal gue enggak Pernah ngomong kayak gitu. Deket aja enggak sama si Aldi, "
" iya tapi cara Lo ngebales dia itu salah,"
" Lo enggak Pernah bakalan ngerti Cowok, Bulan Coba sekarang Puter balik keadaan. Lo di Fitnah Apa Lo bakalan diem, itu udah mending gue sama yang lainnya enggak ajak dia berantem, "
" Gue Cuma ngasih tahu Lo aja, Angkasa kurangin berantem kayaknya hidup Lo itu berantem aja kalau enggak berantem ya kayak tadi Pagi. Gue udah sering ngasih tau Lo ya jangan bilang gue enggak pernah kasih tahu, "
" iya nanti gue coba, " Angkasa menjawab sambil mengusap kepalanya Cowok itu lantas meringis Pelan, " Pasti susah Udah kebiasaan soalnya, "
" Pasti bisa kalau Lo ada niatan buat enggak berantem lagi kalau ada masalah, jangan apa-apa berantem Coba diem mikir. enggak Semuanya Lo harus selesaiin Pake cara berantem masih ada solusi lain, " Kata Bulan
" Bulan, Dengarin gue, " Angkasa mencoba menghadap Bulan yang ada di sampingnya, " Cowok itu lahir Buat jadi Pelindung. Cowok dilihat dari aksinya. Bukan dari kata-katanya sebagai laki-laki kita wajib melindungi semua orang yang kami sayang Termasuk diri kami sendiri cowok itu memang sudah ditakdirkan buat berkelahi bukan buat gaya-gayaan, tetapi buat menjaga apa yang kami punya. apalagi menjaga orang yang kami Sayang, "
" Cuma Cowok yang otaknya rusak yang suka mukul cewek apalagi ceweknya sendiri. cowok yang suka berkelahi itu enggak seburuk apa yang Lo bayangin setelah itu baru Lo bisa menilai sendiri, " Angkasa melanjutkan
" Ntar inget Pulang jangan keluyuran,"
" Nanti kalau udah Pagian gue Pulang,"
Bulan menghela nafas mendengar tanggapan Angkasa
" Angkasa, Coba lihat deh itu yang lagi duduk di sana jualan koran Masih kecil ya, " Bulan berucap tiba-tiba membuat Perhatian Angkasa tertuju Pada Bulan lalu Pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas trotoar sambil mengipasi dirinya dengan koran
" Tadi di sekolah Lo bilang lo enggak mau Punya keluarga kaya yang Lo Punya sekarang kan, Angkasa Lo tuh hidup enak apa-apa langsung minta Harusnya Lo tuh beruntung, "
" Bersyukur, " Tanya Angkasa
" iya Bersyukur. siklus hidup itu kaya candramawa Hitam sama Putih Biarpun berliku-liku kayak labirin enggak bakalan selamanya manusia itu hidup dalam fase hitam. Enggak selamanya juga hidup itu berliku-liku Lo harus Percaya Tuhan udah nyiapin sesuatu yang indah buat Lo jadi, biarin aja semuanya mengalir kayak air, " jarak antara angkasa dan Bulan semakin dekat
" Lo enggak boleh terus-terusan mengeluh tentang hidup Lo Gimana pun mereka, itu orangtua Lo Orang yang udah ngebesarin Lo susah payah dari kecil. Yang banting tulang buat Lo sampai sekarang supaya kebutuhan Lo tercukupi supaya Lo bisa sekolah, supaya Lo bisa makan supaya Lo bisa beli apapun yang Lo mau, " Mata Bulan terarah Pada anak lelaki itu, " Coba Lo lihat dia Angkasa Bandingin gimana hidup Lo sama kayak langit Dia di atas langit masih ada langit. Di setiap orang susah masih ada orang yang lebih susah jadi Lo enggak boleh kayak tadi lagi karena itu artinya Lo enggak menghargai apa yang udah Tuhan kasih buat Lo,"
" Bayangin, Dia kepanasan tiap hari. kehujanan cuma buat makan sehari Mungkin aja dia enggak sekolah kan Harusnya dia sekarang ada di rumah Belajar, Nonton TV, tapi dia malah di sini Ngitungin uang hasil jualannya, "
" Angkasa, "
Angkasa sudah melangkah menuju sepeda motornya. anak laki-laki itu buru-buru memasang helmnya. Bulan menghampirinya di Perhatikanya Cowok itu lekat-lekat
" Naik Buruan Gue mau nganterin Lo Pulang, "
Bulan menurutinya. perempuan itu mengintip dari kaca spion motor. Cowok itu menutup kaca spion
" Tapi Bilang dulu Lo enggak marah, kan,"
" Enggak, "
" Mulai sekarang kalau Lo Punya masalah Lo harus cerita ke gue, ya ? Bulan berkata itu di balik Punggung Angkasa yang membuat Angkasa menoleh ke belakang
" kenapa Lo sepeduli ini sama gue Bulan ? Tanya Angkasa Nada suaranya merendah seperti heran karena Bulan terlalu Peduli Padanya
" Karena ... "
" karena apa, "
" Gue cuma mau yang terbaik buat Lo. itu aja, "
" Bukan karena Lo udah mulai Sayang sama gue, " Tanya Angkasa membuat Bulan meneguk ludahnya. sekarang ia harus menjawab apa
" seumur hidup gue. Yang selalu khawatir sama gue itu cuma Bi Asri Pembantu gue. Orangtua gue enggak Pernah Peduli Dulu Pagi-pagi banget, Orangtua gue udah Pergi kerja, Bahkan enggak nyiapin apa-apa buat gue. Nasi buat gue makan pun enggak. sementara Bara ? Kakak gue yang selalu aja dapet bekal dari Mama. Dianterin Papa ke sekolah Padahal Papa bilang ke gue selalu sibuk dan enggak bisa nganterin gue olahraga ke lapangan. Bara sering di jemput Mama di sekolah Sementara gue harus naik sepeda kalau berangkat sama Pulang sekolah dulu. Gue korban bully di SD karena itu, semuanya bilang Kalau orangtua gue lebih sayang Sama Bara ketimbang gue bertahun-tahun gue selalu sabar karena diejek sama temen-temen kalau bukan karena kebal gue enggak bakalan mungkin bertahan sekolah sampe sekarang, "
" Gue iri sama Bara. dia bisa dapet kasih sayang Mama sama Papa tanpa tahu harus capek-capek berusaha kayak gue belajar mati-matian biar gue Pinter kayak Bara tetapi hasilnya tetep sama Gue tetep Bego. Gue iri sama dia Pinter dan Papa selalu sayang dia. Gue iri sama dia karena Papa selalu manggil dia buat ngelakuin tugas apapun. Gue selalu didik keras sama Papa dia sama sekali enggak pernah ngerasain itu. Kami satu darah tetapi kenapa cuma gue yang diperlakuin kayak gitu karena Cuma gue yang dibedain, Bulan kenapa apa bedanya gue sama dia ?
Hati Bulan mencelus. ia tergugu. Bulan terhanyut kedua mata Angkasa. Cowok itu membalikkan badan lalu menghidupkan mesin motornya dan membawa Bulan Pergi dari sana kedua mata yang sudah semerah darah.