KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
ORANG KETIGA


TERLIHAT Dona baru saja selesai memakai pakaian seragam kantor nya yang baru ia beli bersama Doni. seragam kantor pilihan Doni itu nampak cocok sekali ketika di pakai Dona dan sesuai dengan lekuk tubuh nya yang langsing. setelah Dona merias diri di kamar nya, ia lalu keluar kamar nya dan terlihat ibu nya sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi Dona.


Dona segera mendekati ibu nya dan berkata.


"memang nya tadi pagi ada Avril ya datang kemari bu?"


"ada tadi sayang. anak itu cuman mengambil bingkisan cemilan saja dan menanyakan kamu, ibu bilang kepada nya bahwa kamu masih berganti pakaian."


"ouh begitu bu."


"iya sayang. sudah nih sarapan dulu, ibu sudah siapkan makanan untuk kamu sarapan." lalu Dona pun ikut duduk di kursi meja makan untuk ikut sarapan bersama ibu nya.


Di pagi yang lumayan cerah itu juga, Doni terlihat sedang lari pagi mengelilingi halaman luas dan panjang nya ruko pinangsia. jam masih menunjukan pukul tujuh pagi dan kini Doni segera menyudahi olahraga lari pagi nya. kini ia berjalan ke ruko kantor nya sembari mengunyah sepotong roti. di jalan menuju ruko kantor nya, Doni sedang memainkan ponsel nya untuk menghubungi kekasih nya itu. baru saja Doni menghidupkan data internet nya, ada pesan masuk dan itu bukan dari Dona melainkan dari mbak Yuni.


"selamat pagi bos Doni, jangan lupa mandi dan sarapan pagi ya." isi pesan tersebut membuat Doni geleng-geleng kepala saja dan berkata kepada diri nya sendiri.


"dasar wanita tak tahu diri! masih saja ingin mencoba mencuri perhatian ku seperti dulu!? padahal sudah bersuami, apa wanita ini berniat ingin menjadikan ku sebagai Orang Ketiga dalam hubungan suami istri nya itu???" ucap Doni bertanya-tanya pada diri nya sendiri karena ia heran dengan tingkah laku mbak Yuni yang tak wajar kepada nya itu.


Doni hanya membalas nya dengan berkata berterima kasih saja kepada mbak Yuni dan setelah itu ia menghapus pesan percakapan tersebut seraya membatin.


"tumben nih anak belum membuka pesan yang tadi pagi." ujar Doni ketika ia membuka isi pesan percakapan dengan Dona. poto Dona yang ia kirim ketika pagi buta tadi ia hapus kembali karena ia baru sadar bahwa tindakan nya itu pasti akan membuat nya dikecam habis-habisan oleh pacar nya nanti.


Setelah Doni sampai di depan ruko kantor nya dan kini sudah masuk ke dalam nya, ia langsung bergegas naik ke lantai tiga untuk mandi lagi dan setelah itu memakai seragam kantor dan mulai bekerja lagi untuk memimpin perusahaan tersebut. di samping itu, Dona terlihat sedang salim kepada ibu nya di depan rumah nya. lalu ia berjalan menuju jalan umum sembari memainkan ponsel nya. ia sedang menghubungi Avril untuk berangkat bersama, tetapi Avril belum membalas isi pesan dari Dona tersebut.


Kemudian Dona membuka isi pesan dari Doni yang isi nya hanyalah 'Selamat Pagi Dan Jangan Lupa Sarapan Ya Sayang, Muachh'. hanya itu yang Dona terima dari pesan Doni dan ada satu pesan terhapus di atas nya. di sela berjalan, ia menebak-nebak dalam hati nya dengan ucapan.


"maksud nya apa pakek di hapus segala??? apa jangan-jangan dia mau kirim pesan ke wanita lain dan malah salah kirim kepada ku??? wah kalau begitu benar ada nya, aku harus segera bertanya kepada nya!!" ucapan hati Dona yang menerka-nerka dan sebenar nya bernada cemburu itu, membuat nya semakin gelisah dan tak membalas isi pesan dari pacar nya itu.


Tiba di halte bis tempat biasa nya Dona menunggu angkutan umum tiba, di saat itu juga mobil yang ia tunggu datang dan Dona langsung masuk ke dalam mobil angkutan umum tersebut. diperjalanan hati nya mulai resah memikirkan perasaan hati nya terhadap hubungan nya dengan Doni. keresahan hati nya itu hanyalah orang ketiga saja yang sampai saat itu membuat nya berpikiran yang macam-macam. lama nya ia melamun, suara kendektur angkutan umum tersebut menggungah lamunan Dona dengan ucapan tempat tujuan Dona sudah tiba.


Setelah Dona membayar ongkos tumpangan nya, ia langsung buru-buru bergegas untuk menuju tempat kerja nya berada. waktu baru jam setengah delapan pagi, ketika Dona melintasi ruko restorant cabang satu yang baru saja di buka pintu gerbang rolling nya. mbak Yuni ternyata sudah ada di depan kantor itu dan segera mencegat Dona. langkah kaki Dona terhenti ketika diri nya di hadang oleh mbak Yuni dan di saat itu juga mbak Yuni berkata kepada Dona.


"untuk apa kau menanyakan nama ku hah???" tanya Dona dengan tatapan aneh dan ia segera tahu bahwa wanita yang mencegat nya itu adalah wanita yang ia lihat sedang berduaan dengan Doni diruangan kerja nya Doni.


Mbak Yuni lalu bertolak pinggang dan berkata ketus menuding Dona.


"sopan sedikit kek jadi bawahan! aku bertanya pada mu wanita penjilat!" gertak mbak Yuni.


"jangan asal bicara kamu! apa maksud mu berkata jelek begitu kepada ku hah?!! apa salahku sebenar nya kepada mu hah?!!" ujar Dona tak mau kalah gertak. mbak Yuni lalu tersenyum sinis menatap Dona seraya berkata mengancam.


"jangan mencoba berani-berani nya kau mendekati bos Doni!! pemuda itu adalah calon suami ku!!"


"bohong!! jangan membual di depan ku kau wanita brengsek!!!" gertak Dona dan membuat mbak Yuni semakin melebarkan senyum sinis nya seraya berkata lagi.


"kau lihat perut ku yang sedikit buncit ini??? ini adalah calon bayi dari benih bos Doni yang ditanamkan ke dalam rahim ku ketika aku dan bos Doni sedang bercinta di kamar hotel."


"cukup kau berdusta di depan ku!! aku tak mengenal mu sama sekali wanita brengsek!!" setelah berkata kasar seperti itu, Dona langsung pergi dari hadapan mbak Yuni sembari menitikan air mata nya.


Mbak Yuni yang menatap kepergian Dona itu segera berseru kepada Dona.


"jangan coba-coba kau mendekati calon suami ku itu perempuan lacur!! kau akan ku buat menyesal jika terus menggoda nya!!" setelah mbak Yuni berseru dengan nada mengancam seperti itu, ia masih tersenyum sinis menatap Dona yang berjalan cepat dan sudah lumayan jauh dari pandangan mbak Yuni. lalu mbak Yuni kembali berjalan menuju ruko restorant pratama dengan perasaan hati yang puas dan penuh kemenangan karena telah berhasil mempengaruhi Dona yang ia pikir Dona adalah sebuah ancaman yang dapat menghalangi nya untuk merebut hati Doni kembali.


Dona terus saja berjalan cepat dan kedua lengan nya segera mengelap air mata nya yang berjatuhan di pipi nya. tiba ia di depan ruko CV.Group Perkasa, ia langsung masuk ke dalam nya dan menghiraukan para karyawan yang baru masuk juga ke dalam ruko kantor tersebut sembari menatap Dona dengan tatapan aneh. tiba di lantai dua, Dona langsung masuk ke dalam ruangan tempat kerja nya berada. ia lalu menutup pintu nya dan segera mengambil tisue yang selalu tersedia di dalam tas nya. tangisan Dona semakin tersedu-sedu ketika teringat kata-kata mbak Yuni yang membuat hati nya cukup pedih untuk membayangkan nya.


Kejadian yang tak di sangka datang nya dari mana oleh Dona itu, membuat semangat kerja nya menjadi menurun dan ia hanya bisa duduk saja di kursi kerja nya sembari mengelap air mata nya yang terus saja berjatuhan. di lantai tiga kantor tersebut, Doni baru saja turun dari ruangan itu menuju lantai dua. di depan ruko kantor tersebut, pak Yono baru saja tiba dan memarkirkan sepeda motor matic nya. terlihat Avril yang baru turun dari jok belakang pak Yono dan kini Avril langsung bergegas masuk ke dalam kantor itu setelah ia salim kepada pak Yono.


Dona kini sudah meredakan tangis nya dan mencoba tersenyum dalam tangis nya. ia ingat akan pesan ibu nya agar tetap sabar dan tegar dalam menghadapi permasalahan segala macam apapun bentuk nya itu. setelah Dona menenangkan diri nya dengan berucap kata 'Istigfar', pintu ruangan kantor itu terbuka dan nampak lah Avril sembari tersenyum kepada Dona seraya berkata.


"tumben kamu tampil sekali datang nya Dona???" ucapan Avril tersebut hanya di balas senyuman oleh Dona. Avril yang sedang berjalan mendekati Dona itu, hanya menatap aneh kepada Dona. karena bias raut wajah Dona terlihat sangat kaku ditambah kelopak mata nya terlihat sedikit membengkak dan bola mata nya yang sedikit kemerahan. membuat Avril semakin kebingungan dengan wajah Dona yang tak biasa nya berpenampilan seperti itu.