KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PERGI KE BANDARA


PAGI Hari itu Doni sedang mandi di kamar mandi rumah ibu Asih. taksi online akan tiba jam delapan pada pagi itu dan jadwal Doni dan Dona berangkat dari bandara ke bali sekitar nanti jam sembilan pagi. Dona sudah bersiap-siap mengemas pakaian yang akan ia bawa nanti ke bali di dalam koper nya. ia sekarang sedang menemani bayi imut itu sembari menonton televisi. sedangkan ibu Asih sedang menyapu halaman rumah nya sembari melihat para pekerja bangunan yang baru sampai di lokasi tersebut. pembangunan rumah Doni mulai diteruskan lagi oleh para pekerja itu dan mandor nya terlihat sedang berjalan mendekati ibu Asih untuk berbincang-bincang sejenak.


"permisi ibu Asih. memang nya pemilik lahan yang akan dibuat rumah ini, siapa sih bu? kok saya belum mengenal orang nya sama sekali?" ujar Mandor itu dan ibu Asih menjawab nya.


"orang itu calon menantu ibu pak. orang nya sedang ada di rumah ibu, masak pak Yusup tak tahu siapa pemilik lahan kebun itu?" tanya ibu Asih lagi yang sudah mengenal mandor yang bernama pak Yusup itu ketika kemarin pagi nya.


"saya cuman tahu dari pak Yaris saja, bahwa pemilik nya pemuda ganteng dan oh iya saya baru ingat!." seketika itu juga ibu Asih berkerut dahi dan bertanya.


"pak Yusup ingat apa???" pak Yusup lalu menatap ibu Asih dan berkata.


"saya ingat waktu kemarin siang, pemilik mobil hitam itu memang seorang pemuda ganteng dan berarti kemarin memang saya sudah bertemu dengan nya bu. tetapi, mengapa ia tak berkata bahwa ia pemilik lahan luas yang akan dibangun rumah besar bertingkat dua itu kepada saya bu???" ibu Asih hanya tersenyum mendengar nya dan menjawab nya.


"mungkin den Doni sengaja menutupi identitas nya pak. sudah tak perlu dipikirkan hal itu, saya masuk dulu ya pak. masih ada pekerjaan yang belum selesai." setelah berkata begitu ibu Asih pergi menuju rumah nya dan mandor itu hanya mengangguk kepada ibu Asih. lalu ia berjalan mendekati para anak buah nya yang sedang bekerja itu untuk memantau pekerjaan nya.


Di sisi itu Doni sudah selesai mandi dan sedang berganti pakaian di kamar nya Dona. ibu Asih sudah berada di dapur nya dan sedang merendam pakaian kotor untuk ia cuci nanti. Doni kini sudah keluar dari dalam kamar Dona dan sudah berpakaian rapi. sekarang bergantian tinggal Dona yang masuk ke dalam kamar nya untuk merias diri nya dikamar nya. Doni sekarang yang menemani buah hati nya itu sembari berkata pelan kepada bayi yang sedang tertidur itu.


"bodoh sekali orang tua yang telah membuang mu itu nak. dibalik kelucuan dan imut nya wajah mu ini, masih tersimpan segudang misteri tentang asal-usul mu. andai aku tahu orang yang nekat membuang mu itu, pasti aku akan memarahi orang tua mu itu dan bertanya kepada orang tua mu tentang alasan nya kamu dibuang ke tempat sampah." ucapan Doni tadi hanya di dengar oleh nya saja dan setelah itu Dona lalu keluar dari dalam kamar nya dan bertanya.


"kapan kita berangkat sayang? sudah hampir jam delapan nih!?"


"sebentar lagi sayang, supir taksi online masih dalam perjalanan. mungkin sebentar lagi tiba sayang."


"yasudah kalau begitu." ujar Dona dan kini ia mendekati Doni yang sedang duduk bersila sembari mengusap-usap rambut halus bayi itu.


"pak bos mau pergi kemana bawa koper begitu?" Doni yang ditanya seperti itu menjawab nya.


"oh ini saya mau pergi ke bandara dan ada urusan pekerjaan di luar kota pak. jadi wajar saya membawa pakaian untuk ganti baju nanti nya di sana."


"oh begitu." ucap Mandor itu manggut-manggut dan ucap nya lagi.


"semoga selamat sampai tujuan ya pak bos."


"baik pak terima kasih." ujar Doni lagi dan ia segera beranjak menuju rumah ibu Asih setelah berkata bahwa dirinya sedang buru-buru dan mandor itu hanya menatap kepergian Doni dengan kagum karena menurut nya bos besar pemilik lahan pembangunan rumah itu orang nya sopan dan tidak sombong terhadap orang seperti nya.


Di dalam rumah nya ibu Asih, Dona sudah bersiap-siap mau berangkat dan Doni sudah berada di dekat nya. lalu Doni dan Dona salim kepada ibu Asih dan kemudian kedua nya mencium bayi imut itu sembari mengatakan ucapan perpisahan. setelah itu Doni dan Dona keluar dari dalam rumah ibu Asih menuju mobil taksi yang terparkir dan ibu Asih hanya menatap kepergian Dona dan Doni itu di teras depan rumah nya. mobil taksi sudah berjalan menuju bandara berada dan Doni serta Dona tak banyak bercakap di dalam mobil taksi itu karena mereka sibuk dengan ponsel nya masing-masing. setelah agak lama mobil taksi itu berjalan, kini telah berhenti dan tujuan Dona dan Doni Pergi Ke Bandara sudah sampai.


Kedua nya sudah turun dari taksi tersebut dan Doni sudah membayar taksi online itu. kedua nya kini berjalan sembari masing-masing membawa koper menuju antrian tiket pesawat. setelah Doni mengobrol sebentar dengan petugas tiket tersebut, ia dan Dona masuk ke dalam kursi tunggu penumpang yang akan pergi ke bali. jam baru menunjukan pukul sembilan kurang seperempat menit dan pada saat itu suara operator terdengar menggema dan berkata mengingatkan bahwa pesawat akan segera berangkat. Dona dan Doni kini berjalan lagi bersama para penumpang lain nya menuju pesawat dan Dona berkata kepada Doni.


"baru kali ini aku melihat pesawat sedekat ini, ternyata besar juga."


"apakah kamu belum pernah naik pesawat sebelum nya sayang?" tanya Doni tiba-tiba dan Dona hanya mengangguk saja.


Kemudian mereka menaiki tangga pesawat dan setelah masuk kedua nya duduk di kursi yang sudah tersedia. Dona duduk di dekat jendela dan Doni duduk di sebelah Dona. keadaan di dalam pesawat itu tak terlalu ramai karena hanya ada beberapa saja kursi yang terisi oleh para penumpang. setelah para penumpang mendapat pengarahan dari pramugari sebagai pemandu perjalanan di dalam pesawat tersebut, kini pesawat tersebut mulai mengudara dan membuat Doni yang baru melihat Dona menaiki pesawat itu, tersenyum senang melihat Dona yang terlihat sedang menatap kaca pesawat dengan rona wajah terkagum-kagum akibat ia melihat pemandangan daratan yang indah itu dari dalam pesawat tersebut.