KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
MENANGIS PILU


DONI Dan Pak Ilham serta pak Sarto dan juga ibu Yanti, terlihat sedang berdiri memperhatikan area lahan kebun pisang yang sudah resmi di beli oleh Doni. ke empat orang itu kini mulai berbincang-bincang dan di mulai dari pak Sarto.


"nak Doni ini berniat membeli tanah ini untuk dijadikan apa sebenar nya?" pak Ilham dan ibu Yanti masih diam menunggu Doni menjawab pertanyaan dari pak Sarto tersebut sembari memperhatikan kebun pisang yang beberapa pohon nya sudah mulai berbuah dan ada juga yang sudah siap di panen. lalu di saat itu juga Doni menjawab pertanyaan dari pak Sarto tadi.


"saya sebenar nya berniat ingin membangun rumah di lahan kebun ini pak." pak Sarto hanya manggut-manggut paham dan kini ibu Yanti yang bertanya.


"apakah nak Doni ini pacar nya Dona anak nya ibu Asih itu?" pak Sarto langsung menatap Doni yang berkata mengiyakan dan pak Ilham lalu berkata kepada suami istri itu.


"kata nak Doni ini, ia akan membuat rumah di lahan kebun ini nanti jika ia mau menikah bersama pacar nya yang bernama Dona itu." Doni pun membenarkan apa kata pak Ilham tadi dan pak Sarto langsung berkata.


"baik sekali nasib si Dona bisa mendapatkan lelaki yang tampan dan tajir pula."


"nama nya sudah rezeki anak itu pak." timpal ibu Yanti dan pak Sarto membenarkan ucapan istri nya itu. Doni tak banyak berkata akan siapa asal-usul diri nya dahulu yang berkaitan dengan ibu Asih.


Setelah perbincangan singkat itu selesai, Doni lalu bertanya kepada sepasang suami istri itu.


"apakah bapak dan ibu tahu kemana pergi nya ibu Asih dan Dona?"


"memang nya kenapa nak? apakah di rumah nya tak ada siapa-siapa?" tanya pak Sarto.


"sepi pak. saya panggil pun tak ada sahutan dari dalam." ujar Doni sedikit lesu. lalu ibu Yanti langsung berkata.


"kalau ibu tak salah lihat tadi pagi, kayak nya ibu Asih tadi pergi ke arah rumah ibu Jubaedah yang mau mengadakan acara hajatan deh." ucapan tersebut langsung di timpali oleh pak Sarto.


"oh iya bapak baru ingat akan hal itu. coba kamu datang saja ke rumah nya pak Kosim dan ibu Jubaedah itu nak, siapa tahu ibu Asih ada di rumah itu sedang membantu memasak hidangan untuk acara hajatan itu."


"baiklah kalau begitu, nanti saya akan kesana. sekarang saya pamit dulu ya pak Sarto dan ibu Yanti."


"saya pun ikut pamit juga ya." ujar pak Ilham menimpali dan sepasang suami istri itu mengizinkan nya. kini ke empat orang itu sudah berpamitan dan pak Sarto serta ibu Yanti sudah kembali masuk ke dalam rumah nya.


"uang sebanyak ini untuk apa Don?"


"terima saja pak. ini adalah imbalan untuk bapak karena telah membantu saya membereskan perkara jual beli lahan tanah ini."


"tapi ini kebanyakan Don. nanti untuk kamu sehari-hari bagaimana?"


"sudah tak perlu memikirkan hal itu pak. ini uang terima saja atas rasa terima kasih ku kepada bapak. lagi pula untuk merubah isi sertifikat itu, membutuhkan biaya juga kan pak?"


"iya Doni, tak seberapa besar sih biaya nya." ujar pak Ilham lagi dan kemudian ia menerima uang tersebut dari Doni. pak Ilham lalu berkata berterima kasih banyak kepada Doni dan pemuda tampan itu pun menerima ucapan terima kasih dari pak Ilham itu. kini Doni segera mengemudikan mobil nya untuk mengantar pulang pak Ilham ke rumah nya.


Sedangkan di dalam kamar nya Dona, gadis itu sejak tadi mengintip di balik gordeng jendela kamar nya. sejak tadi ia melihat Doni yang serius akan membeli tanah kebun itu, ada rasa haru dan sedih yang Dona rasakan terhadap apa yang dilakukan Doni demi diri nya itu. Dona pun tahu bahwa alasan Doni membeli tanah kebun itu untuk nanti membuat rumah bagi mereka nanti ketika mau menikah. Dona yang sudah merasakan indah nya di cintai oleh Doni, kini perlahan mulai kandas dengan kehadiran sosok orang ketiga yaitu mbak Yuni. kehadiran mbak Yuni di dalam hubungan nya itu memicu timbul nya rasa benci Dona terhadap Doni dengan bukti yang sebelum nya di kirimkan oleh mbak Yuni kepada nya.


Dona kini duduk kembali di tepian ranjang nya sembari merenungi kejadian tadi.


"mengapa Doni sampai berniat sekali membeli tanah kebun itu untuk dijadikan rumah untuk ku dan diri nya nanti setelah menikah? apakah dia akan terima dengan langkah nya yang sudah membali tanah itu, jika tak sesuai dengan keinginan ku yang telah berubah pikiran akibat kelakuan bejat nya itu? jika aku memutuskan hubungan dengan nya, apakah ibu akan mengizinkan nya?" ucapan batin Dona terus saja berkecamuk seperti itu dan sesekali ia menatap cincin yang terpasang di jemari jari manis tangan kiri nya.


Cincin perak itu ia lepas dari jari nya dan menaruh nya di meja rias nya. ia sudah tak memikirkan bagaimana hubungan nya nanti dengan Doni. ia kini berbaring lagi di ranjang nya dengan air mata mulai merembes dari kelopak mata nya. ia sedang mengenang kenangan kebersamaan nya dengan Doni dari awal masih bocah sampai sebesar itu dan sampai resmi berpacaran. ia sempat memaki-maki diri nya bahwa ia adalah wanita yang bodoh yang mudah terpengaruh akan ucapan laki-laki yang manis di depan nya dan ternyata busuk di belakang nya.


Lama nya Dona terbaring sambil menangis itu, tak menyadari bahwa ia tertidur lagi dengan lelap nya. waktu hampir menunjukan pukul sebelas siang hari dan Doni sudah sampai mengantarkan pak Ilham ke rumah nya. setelah itu Doni pamit lagi karena ia mulai khawatir akan Dona dan yang tak kunjung di ketahui kabar nya. Doni kini sudah mengemudikan mobil nya lagi menuju kampung duren dan di saat itu juga, ibu Asih baru pulang dari membantu memasak dari rumah tetangga nya yang akan menyelenggarakan acara hajatan itu. ibu Asih sudah lebih dulu tiba di rumah nya dan terlihat sedang membuka pintu nya. rasa heran ibu Asih adalah pintu yang masih terkunci dan lampu depan rumah nya masih menyala.


"mengapa lampu depan rumah belum di matikan oleh Dona? lalu mengapa pintu pakai di kunci segala dari dalam?" ujar batin ibu Asih dan kini ia memanggil nama Dona anak nya itu secara berkali-kali dengan seruan.


Dona yang awal nya tertidur itu, kini terperanjat mendengar ibu nya memanggil nama nya. anak itu langsung bangun dan membuka pintu kamar nya. setelah itu ia langsung bergegas menuju pintu depan rumah nya dan membuka pintu rumah itu. setelah dibuka, nampaklah ibu Asih yang menatap heran kepada wajah anak nya yang serba berantakan itu. di saat itu juga Dona langsung memeluk ibu nya seraya menangis sejadi-jadi nya. ibu nya heran dengan keadaan Dona yang seperti itu dan segera membawa anak nya itu masuk ke dalam rumah nya dan segera menutup pintu rumah nya.


Di perjalanan Doni sebentar lagi tiba di depan rumah nya ibu Asih dan di dalam ruang tamu rumah ibu Asih, Dona masih Menangis Pilu terisak-isak memeluk ibu nya dan membuat ibu Asih semakin bingung akan sikap anak nya yang tiba-tiba berkelakuan tak wajar seperti itu. ibu Asih lalu bertanya kepada anak nya akan keheranan nya itu.


"kamu kenapa sih sayang?! coba cerita sama ibu?!" Dona terus saja menangis dan lidah nya bagai kaku tak bisa berkata apa-apa selain suara tangisan yang keluar dari mulut nya. pada saat itu mobil Doni berhenti di jalan umum depan rumah ibu Asih dan seketika itu juga, ibu Asih menatap ke arah jendela nya dan segera mengetahui bahwa yang datang adalah mobil Doni. Dona masih saja menangis dan tak menyadari bahwa Doni telah datang kembali ke rumah itu. Doni kini sudah keluar dari dalam mobil nya dan telah berjalan menuju teras depan rumah itu dengan tatapan yang aneh karena ia melihat ada sandal yang biasa di pakai ibu Asih di tanah teras rumah itu.