
Jam Makan Siang sudah waktu nya tiba. bel kantor telah berbunyi tanda para karyawan kantor sudah waktu nya beristirahat untuk makan siang dan melepas lelah setelah mereka bekerja. beberapa karyawan dari laki-laki dan perempuan muda itu saling berkasak-kusuk ketika mereka sedang berada di kantin di luar sebelah kantor itu.
Dua karyawan kantor perempuan muda yang bernama Resi dan Ratna sedang duduk berbincang sembari memakan makanan yang ia pesan kepada ibu kantin. Resi berkata kepada teman nya yang bernama Ratna itu tentang pemilik perusahaan CV.Group Perkasa yang baru.
"aneh gak sih Rat, pemuda yang awal nya aku mengira hanya orang yang akan melamar bekerja menjadi satpam bareng pak Yono itu, langsung bisa naik jabatan menjadi seorang CEO pewaris tunggal milik mendiang pak Randi..?!!." ucap Resi kepada teman nya.
"apa nya yang aneh sih res..?! nama nya juga sudah rezeki anak itu, lagi pula. pak Yaris juga sudah mengumumkan kepada kita bahwa anak yang bernama Doni itu adalah anak tunggal dari mendiang pak Randi." ujar Ratna meluruskan ucapan teman nya yang keliru itu.
Resi menatap Ratna sambil berkata.
"iya aku tahu anak itu adalah pewaris tunggal nya mendiang pak Randi, tetapi kau tahu sendiri kan. kita bekerja bareng di perusahaan pak Randi hampir sepuluh tahunan. ketika kita melamar kerja dari umur dua puluh tahun sampai umur kita sekarang tiga puluh tahunan, apa pernah mendiang pak Randi menceritakan ia mempunyai anak tunggal..??? tidak pernah kan..?? setahuku, beliau sudah menikah dan belum mempunyai anak." ucap Resi menyergah hal yang tak masuk akal bagi nya itu.
Ratna yang sedang makan indomie itu tersedak mendengar ucapan konyol dari pertanyaan teman seperjuangan nya itu.
"sudahlah berisik.! makanan kamu basi tuh. dah makan saja dulu, soal rasa heran kamu itu kau tanyakan saja kepada pak Yaris orang yang paling dekat dengan mendiang pak Randi..!" tegas Ratna karena kesal kepada Resi yang selalu tak percaya dengan omongan nya.
"iya iya bawel..!!" ucap Resi dengan ketus dan ia melanjutkan makan indomie rebus nya bersama rekan kerja nya itu.
Sedangkan di meja lain nya, ada tiga karyawan laki-laki yang umur nya sama berumur tiga puluh lima tahun. mereka juga sedang memperbincangkan Doni yang sedang panas-panas nya di gosipkan oleh para karyawan kantor yang hobi nya menggosip itu. ketiga laki-laki itu sebenar nya bukan orang yang suka menggosip. mereka hanya tertarik dengan obrolan tentang pemuda yang bernama Doni itu di angkat menjadi pemilik perusahaan mendiang pak Randi.
"aku percaya enggak percaya dengan ucapan pak Yaris tentang pengumuman nya itu, anak yang baru melamar kerja itu bisa-bisa nya diangkat sebagai pewaris nya perusahaan pak Randi." ujar karyawan kantor yang bernama Toni.
"iya Ton. aku pun iri kepada anak itu, kita-kita saja yang sudah bekerja hampir tahunan pun tidak naik-naik jabatan. huh.!" ujar teman Toni yang bernama Burhan menggerutu.
"kalian ini bicara apa sih. sudah jelas-jelas anak itu adalah anak tunggal nya mendiang pak Randi." ujar teman nya yang satu lagi bernama budi berkata meluruskan ucapan kedua teman nya yang sudah diracuni perasaan iri dan dengki di dalam sikap nya.
Kedua teman budi yang sudah selesai makan dan kemudian merokok itu melirik ke arah budi yang sejak tadi sedang memainkan ponsel nya sambil merokok.
Toni berkata kepada budi tentang ucapan nya lagi terhadap anak bos nya.
"emang kamu enggak merasakan hal yang janggal ya Bud..?? menurut ku, enggak ada bukti yang kuat untuk membenarkan anak itu adalah anak tunggal nya pak Randi atau anak pungut nya." ucap Toni menyangkal ucapan Budi sebelum nya.
Burhan pun sepemikiran dengan ucapan Toni dan membuat Budi menjadi tersenyum dongkol atas perkataan dari kedua teman nya itu. Budi yang sejak tadi sedang mengotak-atik handphone nya segera memperlihatkan apa yang ada di layar handphone nya kepada kedua teman nya itu.
"nih kalian lihat.! ini adalah poto keluarga mendiang Pak Randi dan istri nya yang bernama ibu Dewi. anak kecil berumur lima tahun yang digendong pak Randi inilah anak yang bernama Doni itu sewaktu anak itu masih kecil." ucap Budi menegaskan tentang kebenaran nya.
Toni dan burhan menatap ke arah layar ponsel nya Budi dan mereka masing-masing berkata.
"kau dapat dari mana poto keluarga pak Randi itu Bud..??" tanya Toni penasaran.
"aku kan berteman dengan akun sosmed nya mendiang pak Randi. sekarang akun sosmed nya sudah di blokir semenjak pak Randi sakit-sakitan." ujar Budi.
Toni hanya manggut-manggut saja dan masih menatap gambar poto keluarga di layar ponsel Budi.
"cantik juga ya istri nya bos Randi..ck..ck..ck. aku jadi ingin menikah lagi kalau lihat perempuan yang memiliki paras yang cantik dan badan nya yang aduhai." ucap Burhan dan segera ditegur oleh Toni.
"dasar mata keranjang kau burhan.! ngaca sana.! otak mu itu perempuan terus.! padahal diri mu sudah beristri.!" kecam Toni kepada Burhan. dan yang dikecam itu hanya cengengesan malu dan berkata.
"wajar enggak sih kalau laki-laki terpesona melihat perempuan cantik dan berbodi aduhai seperti itu..??"
"ya boleh saja burhan.! tapi kan kau sudah beristri dan punya anak. sadar kau.!" kecam Toni lagi.
Budi yang menatap perdebatan kedua teman nya itu hanya geleng-geleng kepala dan berkata.
"kalian ini ku suruh melihat anak kecil di poto ini malah saling ribut membahas istri bos.! hadeh kalian ini. kita masing-masing sudah menikah dan mempunyai anak. berpikirlah yang dewasa jangan mirip bocah berumur lima tahun.!" ujar Budi dan membuat kedua teman nya menjadi malu sendiri.
Ketiga orang yang sedang berbincang itu berada di pojokan kantin dan tidak ada yang mendengar obrolan mereka karena suasana kantin sudah sepi karena para karyawan kantor sudah masuk kembali. bunyi bel kantor terdengar oleh ketiga orang yang tadi sedang berbincang-bincang di kantin itu.
Ketika mereka sudah membayar uang makan mereka masing-masing kepada pemilik kantin dan akan keluar kantin itu untuk segera masuk ke kantor lagi, orang yang sejak tadi mereka perbincangkan muncul dan akan masuk kedalam kantin itu. mereka bertiga mau tak mau harus memberi hormat walaupun terlihat sangat kaku.
Doni hanya tersenyum dan berkata kepada ketiga karyawan itu.
"tak perlu menghormat seperti itu abang-abang. saya pun sama seperti kalian yaitu seorang karyawan yang bekerja di kantor mendiang ayah saya." ujar Doni penuh kesopanan. Ketiga karyawan itu hanya tersenyum dan menganggukan kepala kepada Doni. ketiga nya kemudian pamit kepada Doni untuk masuk bekerja lagi ke kantor ayah nya Doni.
Doni hanya mengangguk mengiyakan ucapan permisi yang sopan itu dari ketiga karyawan kantor nya dan kemudian ia masuk ke dalam kantin itu untuk memesan makanan. Doni hanya tertidur sekitar tiga jam dilantai tiga kamar ayah nya. ia terbangun karena perut nya lapar dan ketika ia membuka kulkas yang ada di kamar itu, ia tidak menemukan apa-apa.
Kulkas itu kosong belum di isi apa-apa dan ketika Doni mencoba membuka lemari baju di kamar itu, pakaian model jas mewah dan bagus terpampang menggantung di dalam lemari tersebut.
Doni sudah bisa menebak jas-jas mahal itu milik mendiang ayah nya semasa masih hidup dan mengelola perusahaan nya.
Rasa lapar Doni membuat nya turun ke lantai dua untuk menemui pak Yaris untuk meminta uang makan kepada sekertaris ayah nya itu. pak Yaris memberikan kartu debit kepada Doni dan berkata.
"pakai kartu ini kalau kamu mau makan di kantin sebelah kantor ini ya nak Doni."
"tapi saya tak mengerti cara memakai nya pak." ujar Doni karena memang dirinya tak mengerti dengan apa itu kartu debit atau kartu atm.
Pak Yaris hanya tersenyum dan berkata.
"kamu bilang saja kepada pemilik kantin itu dan membayar nya memakai kartu debit ini. lalu kau berikan kode pin kartu debit ini kepada pemilik kantin itu yang bernama ibu Yani agar dia sendiri yang melakukan pembayaran nya." ujar pak Yaris dan kemudian Doni menerima kartu debit berwarna hitam dan pin kode nya.
Datang nya Doni ke kantin itulah niat nya ingin makan siang dan terpaksa harus bangun dari tidur siang nya karena rasa lapar nya. suasana kantin sudah sepi dan hanya ada pemilik kantin saja yang seorang diri dan bernama ibu Yani sedang membereskan piring kotor bekas makan para karyawan kantor tadi.
...*...
...* *...