KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
BERMIMPI ANEH


SEJAUH Ia berlari mengejar perempuan itu, hasil nya hanya kesia-siaan saja dan membuat nya kini berpikir.


"apakah orang itu hantu? atau hanya hayalan ku saja?" ketika Doni berpikir begitu, tiba-tiba perempuan itu menghilang dari pandangan nya dan membuat nya kaget. di saat itu juga diri nya tersentak bangun dan napas nya ngos-ngosan. peluh telah membasahi pakaian yang ia kenakan dan ia hanya berkata 'Istigfar' dalam hati nya secara terus menerus. ia tak habis pikir akan Bermimpi Aneh seperti itu lagi, padahal ketika ia sudah menempati ruko kantor nya. ia tak pernah bermimpi yang macam-macam dan di dalam tidur nya pun jarang sekali ia bermimpi yang seperti itu.


Di saat yang bersamaan, Dona pun bermimpi dalam tidur nya. ia bermimpi berada di sebuah rumah mewah dan besar. diri nya terlihat sedang tertidur di ranjang yang empuk dan berada di dalam kamar yang bagus. hati nya membatin dan berkata.


"aku dimana? seingatku kamar ku tak sebagus ini?" ucap nya dalam hati. ia kini beranjak bangun dari berbaring nya dan mata nya menatap kesana kemari mencari sesuatu. ia turun dari ranjang nya dan menuju pintu kamar tersebut. ketika ia membuka pintu nya, terlihat seorang lelaki sedang duduk di sofa rumah itu.


Lelaki itu terlihat setengah tua dan menatap dengan senyuman kepada Dona. anak gadis itu tersentak kaget dan mulai sadar bahwa apa yang ia lihat itu adalah ayah nya yang telah tiada. Dona menjerit memanggil ayah nya dan berlari ke arah lelaki yang di anggap ayah nya itu. tetapi Dona tak bisa menjangkau nya dan semakin ia mendekati, sosok yang ada di depan nya semakin jauh untuk di gapai. ia hanya berteriak memanggil-manggil nama ayah nya dan seketika itu juga Dona terperanjat bangun dari tidur nya.


Ibu nya ternyata sudah ada di samping nya dan Dona langsung memeluk ibu nya dan sedikit menangis terisak. ibu nya telah menenangkan nya dan bertanya.


"sudah sayang jangan menangis. kamu mimpi apa barusan? kenapa kamu berteriak memanggil-manggil ayahmu??? ibu kaget dan langsung terbangun, takut kamu kenapa-kenapa nak." Dona segera meredakan tangis nya dan berkata menjawab pertanyaan tersebut.


"tadi Dona bermimpi bu. Dona berada di dalam kamar yang bagus dan ketika Dona keluar kamar itu, ada ayah yang sedang duduk di sofa rumah itu dan tersenyum memandangi Dona."


"apakah ayahmu mengatakan sesuatu nak?"


"tidak ibu. padahal Dona sudah berlari mendekati nya, tetapi tak kunjung sampai. bahkan Dona berteriak memanggil nama nya pun tak dijawab sama sekali. apa arti mimpi itu sebenar nya bu? Dona takut jika terjadi yang bukan-bukan." ucap Dona sembari memeluk ibu nya dengan erat.


Ibu nya hanya mengusap punggung anak nya saja dan berkata.


"mungkin mendiang ayah mu rindu kepada mu nak. bisa saja ayah mu hadir di dalam mimpi mu itu untuk mengabarkan sesuatu. entah itu baik atau buruk, ibu tak bisa memastikan nya." ujar ibu Asih dan Dona berkata lagi.


"tapi bu, Dona bermimpi seperti ini sudah dua kali dan kali ini yang kedua bu." ujar Dona dan membuat sang ibu berkerut dahi dan bertanya.


"memang nya kapan kamu pertama mimpi yang seperti itu lagi nak?"


"semalam sebelum pagi nya nenek meninggal, Dona bermimpi hal yang sama bu. tetapi kala itu raut wajah ayah sedikit murung dan terlihat menunduk sedih. kala itu Dona juga merasakan kesedihan itu dan ternyata apa yang ada di mimpi Dona, terjadi kepada nenek yang meninggal di esok hari nya. maka nya Dona sangat takut terjadi apa-apa kepada kita bu." ujar Dona dan ibu nya hanya bisa berkata untuk berdoa saja agar mereka di jauhkan dari segi marabahaya.


Setelah Dona agak tenang, ibu nya berkata menyuruh Dona untuk tidur lagi karena ia harus masuk kuliah pagi-pagi. Dona lalu menuruti saran tersebut dan ibu nya kembali ke kamar nya sendiri. di dalam ruangan salah satu rumah sakit, terlihat Doni sedang memegang kartu nama sebesar KTP. kartu nama seorang anak kuliahan yang bernama Dona Pratiwi itu terus saja diperhatikan poto nya. pikiran nya terbayang lagi dan menerawang jauh ketika peristiwa ia ikut memakamkan kakek Sarkim.


Diri nya sempat bertemu lagi dengan perempuan itu dan posisi nya saja yang tak sesuai. kala itu Doni sedang berada di seberang jalan kanan dan Dona berada di seberang jalan kiri. kedua nya hanya saling tatap di kejauhan karena Doni sedang memanggul keranda mayat nya kakek Sarkim. sedangkan Dona, ia sedang buru-buru pulang ke rumah nya karena teringat akan nenek nya yang sakit dan khawatir ibu nya kerepotan mengurus rumah sendirian.


Di pagi hari itu juga, pak Yaris dan keluarga nya yaitu istri nya yang bernama ibu Susi dan ketiga anak nya datang ke rumah sakit itu. mereka sudah membawa bingkisan untuk Doni dan setelah pak Yaris berbincang sebentar dengan teller rumah sakit bahwa ia akan menjenguk pasien yang bernama Doni, kini mereka langsung menuju tempat ruangan Doni di rawat. ketika mereka masuk, Doni masih terbaring tidur.


Pak Yaris dan keluarga nya kini sudah berada di dalam ruangan tersebut dan Doni tiba-tiba saja langsung membuka mata nya dan menatap ke arah samping kanan nya. di sana ada pak Yaris beserta istri dan ketiga anak nya. pak Yaris hanya tersenyum dan berkata.


"bagaimana kabar mu nak? sudah baikan kah?"


"sudah pak alhamdulilah." ujar Doni menjawabnya. ibu Susi langsung berkata kepada Doni saat itu juga.


"maaf ya nak Doni, ibu baru sempat menjenguk mu sekarang bersama ketiga adik mu ini." Doni yang mendengar hal itu hanya berkerut dahi dan berkata.


"adik? maksud ibu saya adalah kakak dari ketiga anak ibu dan pak Yaris?" tanya Doni dan ibu Susi hanya mengangguk saja. ketiga anak perempuan nya ibu Susi dan pak Yaris hanya mengucapkan kata kepada Doni agar cepat sembuh dan bisa main ke rumah mereka lagi.


Doni hanya tersenyum dan berkata nanti akan main lagi ke rumah mereka. di saat itu juga Doni langsung menatap pak Yaris yang sejak tadi sedang melihat betis Doni yang masih di perban dan terlihat sedikit membengkak. ia lalu berkata kepada pak Yaris saat itu juga.


"pak Yaris, apakah saya boleh pulang saja dan tinggal di kantor? saya sudah jenuh jika harus terbaring di sini."


"tetapi kamu kan masih belum sehat nak? kaki mu masih belum bisa dipakai berjalan, apalagi naik ke atas tangga ruko yang lumayan tinggi? bisa-bisa luka mu tak akan sembuh dan yang ada semakin parah nanti nya." ujar pak Yaris dan Doni kemudian hanya mengeluh dan membenarkan ucapan tersebut.


Tiba-tiba ibu Susi berkata kepada Doni dan suami nya.


"bagaimana jika kamu tinggal di rumah kami saja nak. kamar di rumah kami masih ada yang kosong kok, iyakan pah?"


"setuju mah.." ucap ketiga anak mereka dan pak Yaris berkata mengiyakan saran tersebut kepada Doni. Doni awal nya ragu dan berkata tak mau merepotkan keluarga pak Yaris, tetapi pak Yaris berkata bahwa Doni sudah ia anggap anak sendiri dan ibu Susi pun telah menganggap Doni sebagai anak nya sendiri.


ketiga anak ibu Susi dan pak Yaris itu berkata kepada Doni untuk tinggal di rumah mereka saja dengan cara memaksa. Doni mau tak mau harus menuruti nya dan lagipula ia juga sudah menganggap pak Yaris dan ibu Susi sebagai orang tua angkat nya sejak peristiwa ia pulang dari berziarah bersama pak Yaris.


Kini Doni telah memutuskan nya untuk ikut tinggal di rumah pak Yaris sampai keadaan diri nya sembuh total. barang-barang milik Doni yang ada di ruangan rumah sakit itu sudah dikemas ke dalam mobil nya pak Yaris dan Doni kini duduk di kursi roda dan didorong oleh pihak rumah sakit menuju mobil nya pak Yaris. semua tagihan biaya rumah sakit dan obat yang diberikan untuk Doni, kini sudah pak Yaris bayar semua nya. pada hari itu, Doni akan tinggal di rumah nya pak Yaris sampai ia sembuh total dan bisa memimpin perusahaan nya lagi nanti.


...*...


...* *...